Bab 20

"Senin yang melelahkan ..." lirih Uswa, yang baru selesai melaksanakan salat asar.

Uswa kembali duduk di kursinya. Ia menatap jam kecil yang menunjukkan pukul 15.50. Uswa merapikan mukenah dan berkas-berkas di mejanya. Ia kemudian meraih mouse, menjelajahi laman komputer di hadapannya. Uswa menyelesaikan pekerjaan, mengirim e-mail, dan menyimpan data-data yang telah selesai.

"Sore, Bu Uswa." Suara Yadi terdengar riang, yang jelas Uswa tahu apa penyebabnya.

"Bahagia akhir bulan ya, Pak Yadi," seloroh Uswa, yang masih berfokus pada layar komputernya.

"Iya dong, Bu. Gaji dah masuk, apalagi? Hahaha ..." tawa Yadi sangat riang, mengingat hari itu adalah tanggal mereka gajian.

"Berbahagialah, Pak Yadi, sebelum angka di bank account kita tinggal saldo," timpal Rahman, yang baru datang.

"Aduuuhhh ... kacau Pak Rahman ini, malah diingatkan. Aahh ... langsung menangislah rekening saya, Pak."

Keluhan Yadi membuat kelakar orang-orang ya mendengar. Meski itu hanya kelakar, tapi itulah yang terjadi. Bagi kedua rekan kerja Uswa itu, gaji mereka yang berhak mengatur adalah istri. Dan Uswa, ia sudah cukup memahami Yadi dan Rahman, beserta istri mereka.

"Itu tandanya sayang istri, Pak," ucap Uswa, menatap Yadi, yang langsung menyetujui kalimat Uswa.

"Sayang istri, sih, sayang istri, Bu. Tapi, saya minta untuk rokok aja, beh ... harus mendengarkan omelannya 30 menit. Kacau ... kacau ...," gerutu Rahman, yang disambut dengan tawa dan perbandingan cerita dari rekan yang lain.

"Jangan gitu, Pak Rahman. Selain jadi Spt, bu Uswa ini jadi intel istri kita," seloroh Yadi, yang dibenarkan Rahman.

Dan mereka, hanya tertawa menanggapi kalimat Yadi. Uswa memang sering jadi tempat bertanya istri para rekan kerjanya. Ia juga tidak segan-segan menegur rekan kerjanya, jika apa yang mereka lakukan bisa menimbulkan kekacauan rumah tangga. Oleh karena itu, Uswa banyak dekat dengan istri mereka.

"Closing, Guys."

Suara Uswa menggelegar dengan tegas. Mereka langsung menuju ke meeting room, untuk melaksanakan rapat evaluasi kerja harian. Dalam rapat itulah, mereka menyampaikan sejauh mana pekerjaan mereka, selesai atau belum. Bukan itu saja, rapat yang diadakan sore, juga untuk menyampaikan rencana kerja hari esok.

Sesampainya di meeting room, mereka langsung duduk di tempatnya masing-masing. Yadi duduk di samping kiri Uswa, dan Rahman duduk di seberang mereka, yang di sebelah kirinya ada kursi kosong. Kursi milik rekan mereka yang resign.

"Eh, dengar-dengar dari orang HR, hari ini gantinya pak Santoso masuk. Saya pikir jadi, tapi sampai sore belum datang," celetuk Yadi, yang selalu update berita di seluruh Departemen.

"Mungkin besok," jawab Uswa.

Ceklek ....

Suara handle pintu terbuka menampakkan Manajer dan seseorang yang berjalan dengan tegas. Uswa yang menunduk, sibuk dengan berkasnya, tidak menyadari ada yang datang bersama Manajer mereka. Hingga suara Manajer membuat Uswa menaikkan pandangan, menatap seseorang yang masih berdiri di samping Manajer.

Pandangan kedua insan itu saling beradu. Ada gurat keterkejutan di wajah Uswa, namun ia berusaha menyembunyikannya. Akan tetapi, ekspresi terkejut Uswa bisa ditangkap oleh Yadi, yang bergantian menatap Uswa dan pria di samping Manajer.

"Ini pak Ardian, yang akan menempati posisi pak Santoso," tegas Manajer itu, membuat mereka menganggukkan kepala. "Silakan perkenalkan diri anda," imbuh Manajer, yang langsung dilaksanakan oleh pria itu.

"Terima kasih atas waktunya, Pak. Baiklah, saya Ardian, yang akan menggantikan posisi pak Santoso. Sebelumnya saya bekerja di perusahaan pengolahan CPO juga, di Kalimantan Barat. Saya memilih pindah ke sini, karena saya ingin kembali menetap ke kota asal. Terima kasih."

Perkenalan yang tidak bertele-tele. Mereka yakin, bahwa pria yang berdiri itu adalah pilihan Manajer. Karena pria itu, jujur dengan alasan memilih perusahaan yang ia tempati sekarang. Dan itu dibuktikan dengan senyum tipis di wajah Manajer.

"Ada yang ingin bertanya soal pak Ardian?" tanya Manajer, mengedarkan pandangan, menatap satu per satu bawahannya. Dan matanya berhenti pada Uswa yang menyibukkan diri dengan berkas di hadapannya.

"Bu Uswa!" panggil Manajer itu dengan suara tegas.

"Iya, Pak?" jawab Uswa, langsung menatap atasannya.

"Pak Ardian ini masih single, loh."

Seloroh Manajer mengundang tawa riang -tidak menggelegar, masih tahap sopan- seisi ruangan. Mereka tidak segan-segan tertawa, karena sebenarnya Manajer mereka bukan sosok yang kaku. Manajer mereka sosok yang fleksibel. Namun, tetap dengan ketegasan. Pemimpin yang diharapkan para karyawan.

"Aduuh, gaslah, Bu Uswa. Apalagi ya, kan?" goda Yadi, yang memang sangat-sangat suka bergurau. Uswa mengulas senyum ramah. Ia tidak tersinggung, karena itu salah satu mereka rileks, dari lelahnya pekerjaan. Ia mengangguk-anggukkan kepala.

"Bisa diatur, Pak."

Jawaban Uswa kembali mengundang tawa rekan-rekannya. Alhasil, menimbulkan senyum di wajah pria itu. Pria yang jelas mengenal Uswa, dan Uswa juga mengenalnya. Ardian. Sahabat Fajar yang baru datang dari luar kota, sekarang satu departemen dengan Uswa.

Sesi perkenalan Ardian selesai. Suasana hening seketika. Mereka pun mulai fokus pada rapat sore, yang memang rutin diadakan. Untuk sesaat, Ardian hanya terdiam, menyimak jalannya rapat. pikirannya menganalisis apa yang didengar.

Sesekali keningnya mengkerut, sesekali ia tersenyum menatap Uswa. Sedangkan Uswa, ia berusaha menghindari tatapan Ardian yang duduk di sebelah Rahman, tatkala pandangan mereka bertemu. Dan Yadi, menangkap gelagat yang tersembunyi antara Uswa dan Ardian. Yadi pun mengembangkan smirk.

"Bu Uswa ..." panggil Manajer. Uswa pun langsung menatap pria paruh baya itu. "Sore ini ataupun besok, Ibu serahkan pekerjaan pak Santoso yang ibu pegang. Untuk adaptasi pak Ardian, saya serahkan pada Ibu," ujar Manajer, membuat Uswa menaikkan alis kanannya.

"Maaf, Pak. Bukannya masalah adaptasi karyawan baru itu jobdesc pak Rahman ya, Pak?" sanggah Uswa, yang heran pada atasannya.

Bukan tanpa sebab Uswa heran. Pasalnya, atasannya tidak pernah memberikan pekerjaan pada mereka, yang tidak sesuai jobdesc. Kecuali, dalam keadaan darurat. Itupun, atasannya pasti memilah, siapa yang cocok dengan pekerjaan yang akan ia berikan.

"Tidak masalah. Khusus pak Ardian, saya serahkan ke Bu Uswa." jawab Manajer itu, tersenyum penuh arti, hingga mengundang tawa bawahannya.

"Tapi, Pak ...."

"Sudahlah, Bu. Sesekali Bu Uswa mencoba pekerjaan saya," goda Rahman, membuat seisi ruangan semakin riuh.

Uswa mencibir kesal pada Rahman. Ia juga menatap kesal Yadi, yang paling tertawa bahagia. Yadi hanya menjawab dengan mengelus dadanya, mengisyaratkan Uswa untuk sabar. Uswa memutar malas bola mata. Ia kembali menatap Manajer, yang menyimpan senyum penuh rencana yang tersembunyi.

"Baiklah, Pak," jawab Uswa, dengan getar suara penuh kekesalan, sehingga kembali mengundang tawa.

"Kalau bu Uswa setuju, rapat ini berakhir. Terima kasih atas kerja hari ini."

Selesai dengan ucapan terima kasih, Manajer itu pun berdiri. Pria itu langsung meninggalkan kursi, menuju pintu dan keluar dari meeting room. Masih dengan tawa yang tertunda, mereka satu per satu meninggalkan ruangan.

Begitu juga dengan Uswa. Ia langsung menuju meja kerjanya. Ia ingin sesegera mungkin menghilang dari ruangan departemennya. Akan tetapi, saat ia hendak menggendong tasnya, aktivitasnya itu pun terhenti. Ia menatap Ardian yang berdiri di hadapannya.

"Ada apa?" ketus Uswa, membuat heran Yadi dan Rahman.

"Bagaimana dengan pekerjaan saya, Bu?" tanya Ardian.

"Besok akan saya sampaikan!" tegas Uswa.

"Mau ke mana buru-buru, Bu?" tanya Yadi, yang mengundang rasa penasaran Rahman.

"Dermaga. Saya duluan," pamit Uswa, tanpa menunggu persetujuan dan jawaban, Uswa langsung melangkah, meninggalkan ruang departemennya.

"Tumben kali bu Uswa ke Dermaga hari senin. Biasanya weekend," celetuk Yadi.

"Nggak biasanya dia ketus gitu," imbuh Rahman, yang dibenarkan oleh Yadi.

Dan Ardian, ia hanya menatap ke arah di mana Uswa menuju. Ada rasa cemburu yang terpantik dalam hatinya. Karena ia tahu, Uswa ke Dermaga karena pria yang memberinya hadiah.

'Segitu enggannya kamu berbicara denganku ...' lirih Ardian, dalam batinnya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...Begitu besarkah asamu padanya? Hingga aku tidak terlihat di matamu....

...~Titik Kedua~...

...****************...

Terpopuler

Comments

Dewi Payang

Dewi Payang

Sulit bagimu utk masuk ke hatinya Uswa Ardian...

2024-10-03

1

Dewi Payang

Dewi Payang

Manager ada udang dibalik bakwan

2024-10-03

1

Dewi Payang

Dewi Payang

Yadi curigahhhhh😂

2024-10-03

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!