Mona kerasukan. Itulah yang disampaikan oleh perawat yang telah bertukar nomer dengan Gio sebelum lelaki sinting itu pergi dari rumah sakit. Kini hati kecilnya tak tahan lagi merespon beragam kejanggalan yang diterimanya.
“Bibi Darmi jadi setan lah, Miranda jadi hantu lah, mana Mona jadi-jadian yang tidur bareng aku bikin gatel!” Gio menggosok tubuhnya dengan kasar seolah celananya sudah lama tidak di cuci. “Mona jadi-jadian itu apa juga setan? Mustahil!”
Di tengah rasa panik dan rasa tidak percaya yang bercampur dengan harmonis itu. Tak ada hujan, tak ada angin, malam yang damai tanpa banyaknya kendaraan bermotor itu. Gio memandang langit sekilas. Rombongan kelelawar berputar-putar di atas mobilnya.
“Apa lagi ini!” Gio berdecak sedang kakinya segera menekan pedal gas. Sesekali kepalanya menoleh ke belakang, rombongan kelelawar masih melonjak-lonjak girang mengikutinya sampai satu persatu kelelawar itu membenturkan diri ke kaca mobilnya.
Ketegangannya mencapai puncak. Gio pucat, tangannya berkeringat, jantungnya berdebar-debar. Situasi gila yang susah dipercaya dan susah dimengerti itu justru membuatnya semakin getol melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, berkelok bak pembalap ugal-ugalan.
Gio berkelahi dengan rasa cemas. Kaca-kaca mobilnya mulai tidak kuat menahan serangan, di kaca mobilnya pula banyak darah hitam dan meleleh.
“Bangsat! Aku salah apa?” Gio membanting setir ke arah yang mudah dilewati mobilnya yang melaju cepat. Di sisa malam itu dilewatkan Gio yang idealis, egois, dan kurang peka itu dengan melewati jalan yang salah.
Jalan lebar yang terbuka perlahan-lahan menyempit, aspal rusak menyambutnya, Gio terguncang-guncang, tak lama tanpa mengalihkan tatapan tajamnya makhluk bertanduk yang mengganggu Mona muncul tak jauh dari mobilnya.
Mereka bertatap-tatapan. Sosok itu diam meski moncong hidungnya mendengus-dengus. Gio pun sama, napasnya ngos-ngosan, tapi dengan cekatan dia mengubah gigi mobil ke belakang.
Mobil perlahan-lahan mundur ke belakang. Terguncang-guncang lagi tubuhnya, tapi rupanya cara agar secepatnya bisa keluar dari tempat itu bukan hal yang gampang. Sosok itu mengejarnya seperti seekor kambing ngamuk. Tajam matanya menyiratkan hakikat permusuhan dan langkahnya cepat memunculkan perasaan ngeri.
Gio menelan ludah. Benturan keras berulang kali kembali dia rasakan, mati-matian dia tidak terkecoh oleh keberadaannya dengan berusaha melajukan mobilnya terus menerus sampai ke titik putar setelah menerjangnya berulang kali sampai makhluk itu tersungkur ke tanah.
Gio menoleh ke belakang, makhluk itu berdiri. Tubuhnya kembali menyerupai manusia yang berbulu lebat dengan kaki dan kepala menyerupai kaki kambing.
Sekuat tenaga Gio menenangkan dirinya sambil menggelengkan kepala.
“Kenapa sejak aku pulang dari Bali dan menikahi Mona, banyak banget teror dari setan?” Gio semakin mencengkeram setir mobilnya. “Gak masuk akal! Gak mungkin mereka ada hubungannya sama pernikahan keduaku. Gak mungkin!”
Berkali-kali penyangkalan Gio lakukan sebagai tameng untuk melindungi diri dari kesalahan. Tapi berkali-kali pula setan-setan itu tidak mungkin menerornya jika tidak ada yang mengirimkan.
Gio manggut-manggut, mulai mencerna realitas setelah berulangkali enggan mengait-ngaitkan kejadiannya dengan hal itu. Dan sepanjang perjalanan ke rumah sakit yang diiringi oleh adzan subuh, dia paham pernikahannya dengan Mona adalah penyebabnya.
“Miranda mungkin sakit hati, tapi mungkinkah dia sampai tega mengirim setan-setan itu ke rumah sampai Alita pun kena getahnya?” Gio tampak tak habis pikir dengan Miranda, namun menuduhnya langsung tidaklah mudah.
“Agak aneh jika sekelas Miranda main dukun! Apa kata bestie-bestienya nanti dan rekan kerja?” Gio menghela napas, betapa getir apa yang terjadi barusan dan betapa getir kenyataannya yang akan dia ketahui kelak.
“Nanti aku cari tahu di kantor dan Bibi Darmi, mereka pasti tahu sesuatu!”
***
Kemunculan Gio dengan mobil yang berbau bangkai di pelataran parkir tak ubahnya seperti bintang tamu yang mengejutkan. Banyak orang yang melihatnya mobilnya. Tak terkecuali satpam yang segera menahan kedatangannya di lobi rumah sakit itu sambil merentangkan tangan.
“Maaf Bapak tidak diperbolehkan masuk!” ungkapnya sambil merentangkan tangan.
Gio berkacak pinggang sambil menghela napas. Kelelahan membuatnya enggan bertengkar, walau rasa tidak nyaman itu membuatnya emosi jiwa.
“Saya tidak bau bangkai, Pak. Saya cuma belum mandi!” akunya berang.
Satpam rumah sakit itu pun mengendus bau badan Gio yang bau badan. Dia mendengus jengkel. Tengik. Belum mandi sungguhan.
“Bapak tetap tidak diperbolehkan masuk sebelum memindahkan mobil itu dari parkiran! Itu mengganggu, Pak. Lagipula Bapak ini habis nabrak bangkai apa?”
Gio menghela napas sambil menyerahkan kunci mobilnya. Enggan menceritakan hal yang dialaminya daripada dianggap sinting juga. “Istriku baru gawat, tolong pengertiannya!” Dia meraih tangan satpam tersebut dan menaruh kunci mobilnya dengan cepat.
“Anda bekerja di bidang pelayanan, jadi lakukan saja!” ucap Gio serius.
Satpam bertubuh tegap dan berpakaian serba hitam itu tak menciut, dia malah menggiring Gio ke ruang disinfeksi dengan serius dan mengintimidasi.
“Mau jenguk istri minimal mandi dan tidak bawa bakteri atau virus dari luar!” Satpam itu menghidupkan mesin disinfektan yang langsung membuat Gio terkena tempias air.
Barulah setelah itu, tergopoh-gopoh Gio pergi ke kamar inap Mona.
Bibi Darmi tercengang dengan kehadiran Gio yang dramatis, nyaris terpeleset di ambang pintu. Begitu pula Mona yang tidak tidur semalaman karena takut.
Mona melambai-lambaikan tangan. “Aku mau pulang dari sini, Mas! Aku mau pulang.” rengeknya sambil memelas.
Gio melirik Bibi Darmi yang langsung menunduk kepala sungkan.
“Kenapa Mona bisa kerasukan, Bi? Bukannya kemarin aku sudah bilang, jangan tinggalkan Mona sendirian!”
“Maaf, Pak.” Bibi Darmi mengatupkan kedua tangannya sambil menatap Gio sekejap. “Saya keluar dari sini atas permintaan Non Mona! Itu pun hanya sebentar.”
“Mau sebentar, mau lama. Tetap saja perintahnya tidak boleh pergi dari sini kan?” bentak Gio.
Bibi Darmi mengangguk, tidak lagi membela diri. Dia hanya diam sambil menonton Gio memeluk Mona sebelum membelai rambutnya dengan mesra.
“Aku ketemu dokter sebentar sebelum kamu pulang, ya.”
Mona cepat-cepat menggeleng sambil menahan tangan Gio erat-erat. Wajahnya yang memelas dan matanya yang menghitam dan bengkak sungguh melunturkan kecantikannya.
Gio memang akhirnya mengalah dengan menemani Mona dan menyuruh Bibi Darmi memanggilkan dokter yang menanganinya.
Diceritakan, Mona mengalami gangguan psikis setelah kecelakaan ganjil yang dialaminya di rumah. Gio mau tak mau mengiyakan saja, meski wajahnya menunjukkan ketidaksukaan.
“Kalau bisa pasien jangan di tinggal sendirian, Pak. Sama jadwal terapinya jangan lupa.” Dokter mengingatkan sambil menyerahkan resep obat dan surat kontrol serta surat rujukan ke poli kejiwaan.
Gio mengucapkan terima kasih, dalam benak dia sungguh-sungguh ingin mencari informasi mengenai teror yang menimpanya.
***
next
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
anonim
ng e r iiiiiiiiiiii
2024-09-22
0
Wahyu
berarti si gio belum tau betul keluarga Miranda yaaa.....
2024-08-19
1
choowie
kayanya s Mona akan dibuat mati perlahan ya😬
2024-08-19
0