Sebelum Gio dan Condro Wongso bicara empat mata, mereka tampak enggan merepotkan diri menyamarkan kegelisahan dan ketegangan mereka, membuat Gio mulai merasa sudah melakukan kesalahan fatal datang ke sana tanpa seorang teman.
Condro Wongso adalah jenis laki-laki alpha yang menebarkan sepasang mata serigala yang tajam dan memikat, agresif dan suka mengintimidasi. Suasananya hatinya mudah berubah-ubah hingga Gio tak mampu menebak dan bingung bersikap bagaimana. Perilakunya paling parah, amarahnya sanggup membuat rival bahkan seorang lelaki alpha lainnya pingsan dan bertekuk lutut kepadanya seolah kehabisan energi.
Gio membuka buntelan kain merah yang diikat dengan kain mori pemberian Condro Wongso. Di dalam ruang kerjanya yang remang dan berbau wangi-wangian tradisional, Gio mendapati ada foto Mona Alexandria yang bercampur dengan kelopak mawar merah dan putih dan secarik kertas bertuliskan bahasa Jawa Kuno. Dia tidak mengerti apa maksudnya, tapi foto Mona ada ditangan mertuanya itu memberitahunya bahwa mimpi-mimpi buruknya akan segera bangkit ke dunia.
Condro Wongso menatapnya dengan amat tersinggung. “Miranda Condro Wongso apakah pantas bersaing dengan wanita yang memberikan cinta pada laki-laki yang salah?”
Gio mengangkat wajahnya, sulit berkata, sulit menjawabnya. Otaknya hanya sanggup memikirkan permainan kata dan cara untuk berkata jujur, sedang mulutnya ingin berkata dusta untuk menghadapi cobaan itu. Tapi pada akhirnya dia kehabisan pengalih perhatian. Matanya tertuju pada Condro Wongso.
“Semua terjadi begitu cepat...”
“Begitu cepat?” sergah Condro Wongso seolah sedang menangkis lalat. “Begitu cepat katamu?” Langkahnya mendekat ke arah Gio, lantas dicengkeram kerah bajunya.
“Baru diangkat jadi kepala manager saja kamu sudah berani selingkuh di depan anakku!” Condro Wongso mengeratkan cengkeramannya, menumbuhkan rasa frustasi Gio dan menyebabkan matanya membelalak menatapnya.
“Apa sepuluh tahun pernikahanmu dengan Miranda tidak juga membuat dirimu paham siapa keluargaku?” Condro Wongso melepasnya dan menatapnya tajam.
“Kalau saja putriku tidak mencintaimu dengan tulus, aku sama sekali tidak berminat memiliki mantu bajingan sepertimu.” Ada senyum sinis yang tampak di wajahnya. “Sekarang, hidupmu hanya punya dua pilihan setelah Miranda tidak mencintaimu lagi. Dan pilihan itu sudah kamu pilih!”
Gio mengerutkan dahi, ‘Dua pilihan yang sudah aku pilih?’ Laki-laki itu tambah gelisah setelah nyaris mati kehabisan oksigen. Mengapa sepuluh tahun itu juga tidak membuatnya merasa dekat dengan keluarga Condro Wongso? Separah itukah perbuatannya atau memang jarak rumah dan kesibukan tak pernah membuat mereka akrab dan dekat?
Gio menunduk. “Aku akan memperbaiki semua kesalahan ini, Pak. Aku sungguh-sungguh, ini murni khilaf semata karena Mona...”
“Mona sering menemanimu daripada Miranda yang mengurus banyak cabang perusahaanku? Kamu juga ingin berdalih kesepian karena nafsumu tidak tersalurkan?”
Gio tercekat, alasan itu sudah pernah ia katakan kepada Miranda dan wanita itu melaporkannya ke ayahnya sekaligus bos tertinggi di kantornya? Tidak ada kemenangan di tangannya, semua kebaikan dan kepolosan Miranda terpatahkan oleh realita paling logis dan rasional. Condro Wongso tetaplah raja dan pemilik anak perempuan itu sekalipun seluruh tanggung jawab dan wewenang Miranda ada ditangannya.
Jantung Gio berdebar-debar, ia sudah mendengar reputasi kejam Condro Wongso di kantor dan sangat tahu permintaan maafnya akan mustahil diterima. Dia menggeleng samar, mengusir tekadnya. Toh Ayah siapa yang tidak murka dan mengasihi anaknya jika anak perempuannya disakiti, diselingkuhi?
Gio menunduk, pasrah. Ditangannya masih ada foto Mona. Sekarang mungkin dia sedang ketakutan dan menolak adanya Bibi Darmi di sisinya. Tetapi itu tak penting lagi, Mona akan mendapatkan banyak bantuan di rumah sakit, sedangkan dia? Satupun penghuni rumah itu tak ada yang bisa menerima kesalahannya apalagi meloloskannya dari ruang kerja Condro Wongso.
Gio dengan tiba-tiba turun dari sofa dan bersujud di depan Condro Wongso. “Aku tahu ini sulit termaafkan dan butuh waktu lama untuk melupakan semuanya, Pak. Aku minta maaf, semua ini salahku dan aku terima dua pilihan yang Bapak katakan tadi.”
Condro Wongso tergelak, ia sudah sering mendengar kalimat seperti itu, mengiba-iba sambil menyembah untuk mendapat kemudahan sebelum terpaksa dia tendang karena kekecewaannya. Sayang, kasus Gio berbeda dari biasanya, putrinya adalah korban dan dia tidak mungkin menendangnya!
Condro Wongso menyentuh kedua bahu Gio,
“Kamu bahkan tidak tahu dua pilihan apa yang sudah kamu pilih!” Suaranya mulai tenang.
Gio beranjak setelah diminta Condro Wongso, hal itu lumayan meringankan bebannya. Sementara laki-laki paruh baya yang harusnya ringkih dan mudah dia kalahkan secara fisik, duduk di meja kerjanya dengan congkak sekaligus tenang.
“Jangan harap terlalu tinggi dan menyepelekan keluargaku!” ucap Condro Wongso.
Gio mengangguk. “Apakah Bapak bisa menjelaskan dua pilihan itu?” tanyanya gelisah, sudah tidak mampu mencerna realitas karena bagaimana pun juga firasatnya sudah buruk.
“Miranda ada di rumah ini, di suatu kamar. Itu jawaban dari kehadiranmu sekarang!” Condro Wongso memulai sambil bersedekap. “Ceraikan dia dan pergilah sejauh-jauhnya dari sini, kalau perlu wajahmu dioperasi plastik!”
Gio ragu-ragu saat menyahutnya. “Kenapa harus operasi plastik, Pak?”
“Agar Miranda tidak sakit lagi saat melihat wajahmu!” dusta Condro Wongso seraya tertawa-tawa. Permintaan itu hanya canda. Gio tak kan pernah berhasil menceraikan Miranda sebelum hadiah tak terduga yang diperoleh dari perselingkuhan Gio dan Mona berhasil dipersembahkan sebagai tumbal perusahaan. Gio tidak tahu, Mona adalah incaran pertama.
“Carilah Miranda dan bicarakan masalahmu. Aku... sebagai mertuamu hanya bisa menurunkan gajimu dan jabatanmu, selebihnya keputusan masalah rumah tanggamu ada pada putriku!”
Gio kini bertanya-tanya, di kamar mana Miranda berada dan apa yang dilakukannya hingga tak satupun pesan terbalas olehnya.
-
next.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Umine LulubagirAwi
waduhh...misterii sklii ini. ngiranya itu, ini, lah kok bpknya bgtu.
next
2024-10-20
0
bunda dad
Miranda masih hidup....
si hantu, apakah itu hantu kiriman
2024-08-13
0
choowie
nah lhooo....kalian beneran bakalan dijadikan tumbal 😬
tapi apa benar Miranda masih hidup🤔
2024-08-11
0