Mendatangi rumah keluarga Condro Wongso agaknya menjadi rencana utama Gio setelah membicarakan Mona terlelap dalam penjagaan Bibi Darmi. Tujuannya mencari informasi keberadaan Miranda dan menceritakan hal-hal yang tidak wajar dirumahnya. Akan tetapi, meski tekadnya kuat, raut wajahnya terlihat tidak senang ketika ia telah sampai di depan rumah klasik Jawa modern itu.
Condro Wongso? Siapa yang tidak mengenal lelaki dari keluarga besar yang disegani secara turun temurun itu? Setiap tahunnya keluarga Condro Wongso selalu membuka lowongan kerja untuk ditempatkan di usaha baru mereka dan berbagi sembako serta uang tunai untuk warga sekitar. Kepiawaiannya dalam berbisnis dan kemujuran yang melejit sungguh-sungguh mencengangkan, belum lagi sikap dermawannya menjadi buah manis di masyarakat dan kerupawanan menyembunyikan rahasia besar keluarga.
Kedengarannya seperti tidak masuk akal, tapi mengapa tidak? Ilmu hitam dengan beragam cerita mistis dan kleniknya bukankah selalu menjadi cerita yang ditunggu-tunggu, membuat penasaran, dan sebagian orang justru terikat dengannya? Terikat pada kekal dan kelamnya ilmu hitam? Keluarga Condro Wongso salah satunya.
Segelintir orang yang menjadi pekerjanya dan menjadi saksi bisu sepak terjang keluarga itu paham kematian tak wajar yang menimpa sang terpilih menjadi tumbal kemewahan keluarga Condro Wongso dan antek-anteknya.
Gio mendengus sementara angin berhembus seolah menyambutnya di pelataran rumah yang senyap seperti pemakaman. “Ini nggak ada pernah jadi topik yang gampang dibicarakan dengan Pak Wongso!”
Butuh beberapa menit baginya untuk menggampangkan perasaan takut sebelum memasuki pendopo kayu jati. Beberapa alat musik gamelan terpanjang di kanan meja tamu. Entah untuk estetika atau menghamburkan uangnya, Gio bahkan tak pernah melihat dan mendengar gamelan itu dimainkan.
Gio membunyikan lonceng, berulang kali seolah besarnya rumah itu menghalangi suara berisik dari pendopo.
Gio tersentak. Dari belakangnya tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat dengan cepat.
“Ada apa kamu ke sini?”
Dada Gio mengembang dan mengempis secara cepat, kaget, Condro Wongso sudah dibelakangnya dengan mimik wajah penasaran. Senyumnya cerah seperti matahari kala musim panas.
Gio meringis. Ekspresi itu menyebalkan seolah-olah seluruh perhatiannya kini terpaku padanya.
“Selamat malam, Pak.” Dalam semenit, Gio telah berhasil mengambil tangan kanan Condro Wongso yang beraroma minyak kesturi. Ia mencium punggung tangannya dengan lembut sebelum Gio digiring ke tempat duduk.
“Tumben kamu datang sendirian, mana cucuku?”
Gio otomatis berusaha cepat-cepat menunjuk mobilnya. “Alita tidur, Pak. Kecapekan.”
Condro Wongso berdecak-decak sambil menggelengkan kepala. “Bawa Alita masuk sekarang!” ucapnya tegas. “Tidak kasian kamu dia sendirian di dalam sana?”
Pada saat itu, Gio hampir kehilangan keseimbangannya saat kepanikan menamparnya bertubi-tubi ke arah mobil. Alita, meski bukan cucu pertama Condro Wongso, paras cantiknya turun dari Miranda hingga menjadi kesayangan kakeknya yang mirip malaikat maut saat memarahinya.
“Kita sudah sampai rumah kakek, Lita.” ucap Gio pelan selagi Alita tersentak dan terbangun dari tidurnya.
Alita menoleh saat dibopong ayahnya, ia memandangi kakeknya yang melambaikan tangan dan berwajah ceria. Bagi Gio itu mencengangkan. Sebentar dengannya menyeramkan, sebentar dengan cucunya menyenangkan.
“Apa kita mau nginap di rumah kakek, Pa? Apa Mama juga di sini?”
Sebaliknya Gio justru menanyai Alita. “Lita mau menginap di sini sama kakek?”
Pertanyaan itu terdengar Condro Wongso. Senyum bulan purnamanya terlihat. “Alita pasti mau. Di sini ramai, ada kakek, ada nenek, ada Om Pras. Ada...” Dengan gemas Condro Wongso mencubit manja pipi cucunya. “Ada banyak teman.”
Alita tertawa-tawa, sementara Gio merasa beban yang sangat berat menembusnya saat mereka bercanda-canda sampai Alita meronta geli.
“Ayo pergi ke dapur, kalian pasti belum makan!” titah Condro Wongso setelah memindahkan bocah itu ke permukaan tanah dan menggandengnya.
Gio hanya bisa mengangguk. Di rumah itu, sejak menginjakkan kaki di sana, berbicara terlalu vokal tidak pernah bisa ia lakukan. Selain takut dan rikuh. Mereka adalah master dan ia hanyalah karyawan yang Miranda kencani sepuluh tahun lalu.
Condro Wongso membuka kulkas dua pintu. Mengambil telur ayam kampung dan beberapa sayur pelengkap untuk membuat bakmi rebus komplit.
“Mau pakai sosis tidak ini?” ucap Condro Wongso, berusaha membujuk Alita.
Alita mengucek matanya. “Mau kakek, tapi sedikit ajah... Lita udah makan di kantin.”
“Di kantin?” Raut wajah Condro Wongso terlihat heran. “Memangnya kamu sudah sekolah lagi?”
Alita menggeleng. “Lita makan di kantin rumah sakit, kakek.”
Condro Wongso menatap Gio penuh selidik hingga tubuh menantunya itu bergidik ngeri.
Kejujuran Alita berdampak buruk, padahal tidak perlu dibicarakan perihal rumah sakit. Apalagi Mona.
“Kami memang dari rumah sakit, Pak.” ucap Gio sambil duduk kembali. “Ada temannya Bibi Darmi yang mendadak sakit, kepeleset tangga.”
Condro Wongso menghidupkan kompor, ia piawai dalam memasak tradisional. Dan terkhusus Alita, resep masakannya ditambahi dengan cinta.
“Darmi membawa teman tanpa seizin Miranda?” ucap laki-laki tua itu sambil memecah dua cangkang telur.
Gio memperhatikan Condro Wongso dengan heran. Perselingkuhannya dengan Mona dan pertengkarannya dengan Miranda apakah tidak sampai ke telinganya? Bukankah dinding kantor dan seluruh usahanya adalah kuping dan ember bocor yang dapat mengalirkan informasi secara cepat?
Gio tak bisa membayangkan bagaimana jika Alita tidak ada sekarang. Apakah kepura-puraan Condro Wongso sirna dan memarahinya tanpa ampun?
Gio teringat pesan Bibi Darmi sebelum berangkat ke rumah itu. ‘Jangan macam-macam sama Pak Wongso, bersikap yang sopan!‘
“Saya belum ketemu Miranda lagi, Pak. Tidak tahu dia di mana, ponselnya tidak aktif.”
“Oh... tidak aktif.” Condro Wongso mengaduk-aduk isi wajan dengan lincah. Aroma bawang merah dan bawang putih serta miri tersebar di udara.
“Apakah Miranda memberi sesuatu kabar ke sini, Pak?” Suara Gio terdengar kaku karena takut. “Terakhir ketemu di kantor.”
Condro Wongso menoleh sekejap, matanya yang tajam menyorot sedih. “Miranda baik-baik saja. Dia nggak mau ketemu kamu paling-paling kamu sudah menghancurkan hatinya sekali lagi!”
Gio terhenyak, tak tahu harus menjawab apa karena Condro Wongso sudah memancingnya.
“Aku tidak bermaksud menyakiti hati Miranda, Pak. Semua kejadian...”
Condro Wongso menaruh piring klasik dengan corak bunga-bunga berwarna biru di meja. “Untuk makan malam!” Ia menatapnya serius. “Alita akan tinggal di rumah ini beberapa hari dan kamu... sudah di mulai dan tidak bisa berhenti!”
Gio merasa ucapan Condro Wongso penuh teka-teki. Apa yang sudah di mulai dan tidak bisa berhenti? Perselingkuhannya? Rasa sakit Miranda? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat jantungnya berdebar-debar di balik dada. Cara duduknya pun menjadi gelisah, dan jauh lebih dari itu, Condro Wongso menambah ketegangannya dengan mencincang daging ayam secara cepat di atas nampan kayu.
-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Aya
buset dah, tuh kake2 omongannya horor bgt dah 😱
2024-11-27
0
Umine LulubagirAwi
tryta, krywan mnikhi anak bos, eh skrg ngelunjak, smpai selingkuhin miranda.
jgn2 miranda jd tumbl bpknya sndri. krn thu miranda sdg skit hati.
2024-10-20
0
Triple.1
kok aku jadi curiga sama bapaknya Miranda, ya.
2024-09-10
0