Rumah Kutukan Istri Pertama ²⁰

Lain rumah, lain lagi cerita. Jika Gio dan Mona sedang beradu argument dan mengusap-usap kenangan menjijikkan di dapur dan mendapati isi lemari pendingin tidak mencerminkan hidup sehat lima sempurna, Miranda telah bersiap menyambut baik Arik di kantornya.

Wanita dengan tuksedo merah, lipstik merah dan sepatu hak tinggi klasik dengan warna merah merona itu tersenyum kenes. Ah kegenitannya bahkan dapat di rasakan Arik ketika pemuda tanpa tanda curiga itu memasuki ruangannya.

“Aku tinggal atau ikut nimbrung, Bos?” tanya Haikal yang mengantar pemuda desa pemilik kulit sawo matang itu.

Miranda sejatinya hanya ingin berduaan dengan Arik yang terlihat sungkan berdiri dua meter darinya itu, tetapi Haikal yang terlihat menertawakannya lewat sorot mata menyuruhnya tetap di tempat. Miranda agaknya ingin melihat seberapa lama pria itu bertahan menahan tawanya.

“Mobilku sudah beres?”

Haikal bahkan belum sempat duduk, pertanyaan tanpa basa-basi itu sudah terlontar begitu lembut dari Miranda yang hanya menatap Arik seorang.

“Arik aku culik dari gudang sortir, Pak Broto bakal mampir ke sini buat tanya kenapa anak magangnya sudah kamu panggil-panggil!” Haikal mendengus, “Anak orang ini, lagi cari rezeki!” Dia mengingatkan.

Miranda memikirkan kembali saat-saat dia merencanakan kegiatannya di samping Gio yang kesusahan semalam. Begitu seru, muak, dan pastinya sekarang apa yang dia harapkan sedang terjadi. Sebuah pertengkaran. Dan itu patut dia rayakan dengan senyuman lepas.

Arik melirik Haikal dengan ekor mata. Ada yang ganjil dari sikap bosnya itu. Senyumnya, sorot matanya dan tingkahnya, tapi pengalaman terdahulu membuatnya mengerti, terlalu sok kenal sok dekat dengan bos akan membuatnya susah sendiri. Jadi dia diam saja sampai jantungnya berdebar-debar seolah mimpi buruk ada di depan mata. Takut di pecat. Ganti rugi perbaikan mobil. Gila gak sih? Gaji juga baru turun masa’ langsung hilang.

Arik kelihatan tidak senang, begitu pun Haikal. Permainan Miranda agaknya bukan kopi darat biasa, gelagatnya sungguh-sungguh menggelikan untuk seorang wanita yang akan menjanda dalam waktu yang belum ditentukan.

Miranda menyuruh mereka berdua duduk di kursi ergonomis setelah dia memahami dengan baik situasinya. ‘Aku sepertinya berlebihan.’

Miranda tersenyum biasa-biasa saja. “Jadi bagaimana mobilku, Rik?”

Arik meluruskan punggungnya, sensasi dari jantung berdebar-debar itu membuat suaranya gugup. “Ada di bengkel, Bu.”

“Bu?” Miranda tampak keberatan di panggil Bu, memang lebih tua dan sebagai bos, tapi tidak perlu dipertegas. “Panggil Mbak atau Kak Mira! Selain itu aku akan menganggapmu tidak sopan.”

Tidak sopan bagaimana? Mungkin begitu arti kerutan di kening Arik sekarang, dan sebagai anak magang yang masih di nilai kinerjanya, Arik mengangguk. Cari aman. “Baik kak Mira. Mm...”

“Mm... Apa, Rik?” Goda Miranda. “Kamu kelihatan kikuk, kenapa sih?”

“Kenapa sih?” Haikal berdecak-decak. “Siapa pun yang masuk ruanganmu pasti kikuk, Mir. Gak ada kaca emangnya di sini?”

Kalimat sarkasme itu hanya Miranda tanggapi dengan cengiran kucing. “Di mana bengkelnya, Rik?”

Arik mengatupkan bibirnya lagi, dan perlu jeda yang mengherankan sampai dia sanggup menjawabnya dengan jujur dan tidak gugup.

“Bengkel dekat rumah, Kak. Bengkel tetangga.” Arik tersenyum malu. Cari yang bisa di nego dan bisa hutang dulu adalah kecerdasan yang dipilihnya agar bisa makan sampai akhir bulan.

Miranda mengangguk, tidak keberatan dengan pilihan Arik, bagaimanapun tampilan pemuda itu sudah cukup menjawab rasa tentang bagaimana kondisi sosial ekonominya.

“Boleh kamu bawa aku ke sana?” tanya Miranda, dan buru-buru memberi penjelasan kenapa dia mau ke sana selagi Arik tercengang, “ada lipstik yang ketinggalan di mobil!”

Baik Haikal, Arik, dan Miranda sendiri tercengang dengan alasan tidak masuk akal itu. Sebatang lipstik? Sepenting itukah barang kecil itu sementara lipstik di bibirnya sudah tebal dan merona?

Miranda tahu-tahu mengibaskan tangannya, menganggap alasannya cuma-cuma. “Intinya aku mau lihat kondisi mobilku dan ya lipstik tadi lipstik dari luar negeri.”

Haikal memutar kedua matanya. Sebagai sahabat, alasan Miranda itu cukup bisa ditebak tujuannya. Dan tak bisa di pungkiri, dia paham wanita itu butuh pelarian di tengah masalahnya yang pelik.

“Mau di siapin mobil?” tanya Haikal.

Arik buru-buru menggeleng, mencegah Miranda berkata Ya lebih dulu daripada kecemasannya. “Saya belum izin Pak Bagyo, Kak. Nanti saja perginya.”

“Dengar tuh, Mir!” sela Haikal. “Jangan buru-buru lah, nggak bagus.”

Miranda menarik kedua sudut bibirnya. Dari penolakan itu, dia justru melihat satu sikap profesional Arik dalam bekerja. Mengalah sudah dia pada anak magang itu. Kendati begitu, sewaktu jam istirahat tiba, Miranda sendiri yang menyambangi gudang sortir.

Dia menghampiri Pak Bagyo yang tergopoh-gopoh menghampirinya lebih cepat.

Miranda tersenyum kecil melihat kepanikan pria setengah abad itu. “Bukan urusan pekerjaan ini, Pak! Urusan pribadi.”

“Waduh.” Pak Bagyo mengatur napasnya sambil mengira-ngira urusan pribadi macam apa yang Miranda inginkan. “Ini belum waktunya cari tumbal lho, Non.” bisiknya dengan hati-hati.

Miranda semakin tersenyum, dilihatnya Arik bersama teman-temannya berjalan keluar gudang.

“Aku mau bawa Arik sebentar, cek mobil!”

“Rik... Arik...” seru Pak Bagyo sambil melambaikan tangan kemudian.

Arik mempercepat langkahnya sambil memikirkan cara memunguti kepercayaan dirinya yang berceceran. Dia terlihat tidak senang, bukan karena masalahnya dengan Miranda, tapi tidak senang kekacauan itu dijadikan bahan gunjingan karyawan lain.

Arik tersenyum simpul di depan Pak Bagyo. “Iya, Pak. Bagaimana?”

“Cek mobil sama Bu Miranda!”

Arik mengiyakan dengan ragu, dengan sungkan dia memandangi Miranda. “Mari, Kak.”

Kak? Pak Bagyo hampir-hampir mengkritik Arik yang tidak sopan, tetapi Miranda tentu saja sudah lebih dulu menerjangnya dengan kata-kata penuh semangat.

“Pakai motormu, Rik!” cetus Miranda.

Keduanya pergi ke parkiran tanpa berbicara. Barulah di samping motor Arik, Miranda berdecak. “Kalo aku bawa helm orang, orang itu bakal marah nggak, Rik?”

Tentu saja Arik mengiyakan, tapi nggak masalah selagi keduanya sudah kembali ke kantor sebelum jam pulang tiba.

Di belakang tubuh Arik yang menghirup napas dengan manual, ada sesuatu yang mendorong Miranda untuk mencondongkan tubuhnya ke depan.

“Makan dulu yuk.” ucapnya.

Sekonyong-konyong Arik kaget bukan main. Wajah Miranda begitu dekat dengan dirinya sampai-sampai parfumnya terasa lebih mendominasi daripada asap kendaraan dan bau matahari.

Arik berdehem. “Kak Mira mau makan di mana?”

“Ditempat yang nggak ada pesugihannya!” celetuk Miranda, sengaja. “Kamu terlihat istimewa Arik Prambudi!”

Sentakan lembut itu menyebabkan kedua tangan Arik yang mencengkeram kemudi mengerat. Kini, semakin sulit rasanya menenangkan benaknya setelah Miranda membicarakan itu.

“Yang tahu hanya orang-orang tertentu, Kak. Orang yang sama biasanya.” ucapan itu sekaligus menjawab rasa penasarannya. Miranda juga istimewa. Mungkin lebih darinya. “Tapi sudah lama di tutup Mbah Buyut!”

Miranda tersenyum lega. “Pertama kali aku melihatmu, aku tahu kamu anak istimewa. Ada yang jaga kamu?”

Arik mengangguk pelan. Berdebar-debar lagi jantungnya. “Kenapa Kak Mira tiba-tiba bahas lelembut? Kak...”

“Setelah makan nanti aku cerita.” sahut Miranda lalu menunjuk sebuah warung ketoprak. “Kayaknya enak tuh, bersih, kamu suka gak?”

Arik terpaksa mengangguk, selain sudah lapar banget dan pingin merokok, permukaan wajah Miranda menyiratkan keseriusan dan kecantikan yang menawarkan kepatuhan.

-

next.

Terpopuler

Comments

anonim

anonim

bakal semakin seru nih.

2024-09-24

0

choowie

choowie

ternyata😬

2024-09-09

0

choowie

choowie

sabar ya Rik 😬

2024-09-09

0

lihat semua
Episodes
1 Rumah Kutukan Istri Pertama ¹
2 Rumah Kutukan Istri Pertama ²
3 Rumah Kutukan Istri Pertama ³
4 Rumah Kutukan Istri Pertama ⁴
5 Rumah Kutukan Istri Pertama ⁵
6 Rumah Kutukan Istri Pertama ⁶
7 Rumah Kutukan Istri Pertama ⁷
8 Rumah Kutukan Istri Pertama ⁸
9 Rumah Kutukan Istri Pertama ⁹
10 Rumah Kutukan Istri Pertama ¹⁰
11 Rumah Kutukan Istri Pertama ¹¹
12 Rumah Kutukan Istri Pertama ¹²
13 Rumah Kutukan Istri Pertama ¹³
14 Rumah Kutukan Istri Pertama ¹⁴
15 Rumah Kutukan Istri Pertama ¹⁵
16 Rumah Kutukan Istri Pertama ¹⁶
17 Rumah Kutukan Istri Pertama ¹⁷
18 Rumah Kutukan Istri Pertama ¹⁸
19 Rumah Kutukan Istri Pertama ¹⁹
20 Rumah Kutukan Istri Pertama ²⁰
21 Rumah Kutukan Istri Pertama ²¹
22 Rumah Kutukan Istri Pertama ²²
23 Rumah Kutukan Istri Pertama ²³
24 Rumah Kutukan Istri Pertama ²⁴
25 Rumah Kutukan Istri Pertama ²⁵
26 Rumah Kutukan Istri Pertama ²⁶
27 Rumah Kutukan Istri Pertama ²⁷
28 Rumah Kutukan Istri Pertama ²⁸
29 Rumah Kutukan Istri Pertama ²⁹
30 Rumah Kutukan Istri Pertama ³⁰
31 Rumah Kutukan Istri Pertama ³¹
32 Rumah Kutukan Istri Pertama ³²
33 Rumah Kutukan Istri Pertama ³³
34 Rumah Kutukan Istri Pertama ³⁴
35 Rumah Kutukan Istri Pertama ³⁵
36 Rumah Kutukan Istri Pertama ³⁶
37 Rumah Kutukan Istri Pertama ³⁷
38 Rumah Kutukan Istri Pertama ³⁸
39 Rumah Kutukan Istri Pertama ³⁹
40 Rumah Kutukan Istri Pertama ⁴⁰
Episodes

Updated 40 Episodes

1
Rumah Kutukan Istri Pertama ¹
2
Rumah Kutukan Istri Pertama ²
3
Rumah Kutukan Istri Pertama ³
4
Rumah Kutukan Istri Pertama ⁴
5
Rumah Kutukan Istri Pertama ⁵
6
Rumah Kutukan Istri Pertama ⁶
7
Rumah Kutukan Istri Pertama ⁷
8
Rumah Kutukan Istri Pertama ⁸
9
Rumah Kutukan Istri Pertama ⁹
10
Rumah Kutukan Istri Pertama ¹⁰
11
Rumah Kutukan Istri Pertama ¹¹
12
Rumah Kutukan Istri Pertama ¹²
13
Rumah Kutukan Istri Pertama ¹³
14
Rumah Kutukan Istri Pertama ¹⁴
15
Rumah Kutukan Istri Pertama ¹⁵
16
Rumah Kutukan Istri Pertama ¹⁶
17
Rumah Kutukan Istri Pertama ¹⁷
18
Rumah Kutukan Istri Pertama ¹⁸
19
Rumah Kutukan Istri Pertama ¹⁹
20
Rumah Kutukan Istri Pertama ²⁰
21
Rumah Kutukan Istri Pertama ²¹
22
Rumah Kutukan Istri Pertama ²²
23
Rumah Kutukan Istri Pertama ²³
24
Rumah Kutukan Istri Pertama ²⁴
25
Rumah Kutukan Istri Pertama ²⁵
26
Rumah Kutukan Istri Pertama ²⁶
27
Rumah Kutukan Istri Pertama ²⁷
28
Rumah Kutukan Istri Pertama ²⁸
29
Rumah Kutukan Istri Pertama ²⁹
30
Rumah Kutukan Istri Pertama ³⁰
31
Rumah Kutukan Istri Pertama ³¹
32
Rumah Kutukan Istri Pertama ³²
33
Rumah Kutukan Istri Pertama ³³
34
Rumah Kutukan Istri Pertama ³⁴
35
Rumah Kutukan Istri Pertama ³⁵
36
Rumah Kutukan Istri Pertama ³⁶
37
Rumah Kutukan Istri Pertama ³⁷
38
Rumah Kutukan Istri Pertama ³⁸
39
Rumah Kutukan Istri Pertama ³⁹
40
Rumah Kutukan Istri Pertama ⁴⁰

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!