Takkan pernah ada kebaikan yang diperoleh dalam perjanjian iblis dan setan. Semua yang megah semu semata, dan neraka menunggu dengan sabar calon penghuninya!
-
Gio mungkin seperti memegang asap dengan tangan, tak pernah bisa. Begitu pun usahanya mencari Miranda di megahnya rumah itu. Tiadanya petunjuk menjadikan lorong-lorong sunyi yang ia lewati bagaikan labirin yang memusingkan. Gio menunggu beberapa menit di ujung lorong untuk menyaksikan foto pernikahannya yang seperti pangeran dan putri sejagat dalam dua hari dua malam.
Raut wajahnya mendadak menunjukkan perasaan melankolis. “Aku harusnya lebih pengertian dan menyembunyikan Mona rapat-rapat daripada harus menceraikanmu Mir.”
Suwe ora jamu mas, jamu godhong telo
Suwe ora ketemu, temu pisan gawe gelo
“Miranda?” Gio menoleh, menjadi tidak tenang, tapi sungguh lagu itu hilang-timbul saat ia berusaha mencari sumber suaranya. “Miranda...” Ada sesuatu yang tumbuh di hatinya sekarang, perasaan takut dan khawatir dengan situasi di dalam ruangan yang sudah ia lewati dua kali.
Suwe ora jamu mas, jamu godhong meniran
Wis suwe ora ketemu, temu pisan dadi pikiran
Gio mendorong pintu tanpa permisi. Terpampang jelas dimatanya seorang wanita yang ia inginkan sedang duduk di tepi ranjang dan baru menyisir rambutnya. Dalam hati, ia harusnya tahu ke mana lagi Miranda pergi jika tidak ke rumah keluarganya. Miranda Condro Wongso adalah anak bungsu perempuan dari lima saudara laki-lakinya.
“Miranda...” ucap Gio terbata-bata. Langkahnya tiba-tiba berhenti saat wanita itu menoleh dan berteriak, “Berhenti!”
Untuk pertama kalinya Gio mendengar teriakan dari wanita karir yang pertama kali membawanya pada dunia bisnis dan mencemplungkannya, membuatnya . Wanita yang dulu begitu manja dan manis tutur katanya, wanita yang sabar dan pengertian itu sekarang telah menjadi macan. Siap mengaum dan mengeluarkan cakar-cakarnya.
“Kita bisa bicara baik-baik, Miranda. Kita bisa selesaikan ini tanpa marahan!”
Miranda tertawa nyaris seperti bukan tawa wanita karir banyak duit. Tawa itu terdengar menyakiti telinga dan lebih egois dari suara gamelan yang dimainkan oleh Condro Wongso.
“Kamu memintaku membicarakan perselingkuhanmu secara baik-baik? Begitu sabar kah aku di mataku?” Miranda melempar sisir besinya ke lantai seraya berbalik. Dahinya mengernyit seolah-olah menelan jeruk nipis.
“Aku sudah memintamu melepas Mona, tapi katamu semua sudah terjadi dan keparat itu meminta pertanggungjawabanmu. Hamil dia?” tanya Miranda keras.
Mendengar itu, Gio pun menggeleng keras.
“Pikiranmu terlalu jauh, Mir...”
“Pikiranmu juga terlalu sempit, Gi!” sahut Miranda, bahunya tegap menantang seolah-olah tidak ada takut-takutnya dengan pria itu. Pria yang pernah membuatnya mabuk kepayang dan menolak mentah-mentah saran Condro Wongso untuk mencari yang sepadan dengan keluarganya.
“Kesibukanku sekarang untuk masa tua yang lebih tenang, Gi. Bukan semata-mata untuk memburu uang dan uang!” Miranda kini tepat berada di depan tubuh Gio, menatapnya tanpa ampun.
“Ke mana kamu selama ini? Kenapa baru hadir dan lenyap dari kantor?”
Gio menunduk sementara samar-samar aroma tubuh Miranda memasuki tubuhnya. Aroma yang khas seperti biasa, minyak zaitun yang melembutkan kulitnya dan minyak rambut cemceman yang menjaga rambutnya tetap sehat dan lembut. Miranda tetap dengan bahan-bahan alami tanpa terlihat keputusasaannya sekalipun perselingkuhan amat sangat membolak-balikkan hati dan membuatnya jahat.
“Mona tidak hamil.” Miranda menangkis uluran tangan Gio yang hendak menyentuh bahunya. Gio menghela napas, benar-benar kehilangan si manis pengertian. “Aku bisa jelaskan kondisinya.”
Miranda menarik setiap sudut bibirnya hingga membentuk senyum bodoh. “Nggak perlu dibicarakan, aku sudah tahu tanpa kamu beri tahu!”
Gio tahu ini adalah bagian paling sulit dari permasalahannya. Menjelaskan dan mendapatkan ampun dari Miranda. Dan, anggapannya mengenai penerimaan istri kedua dari Miranda yang dia pikir sebaik dewa-dewi lenyap. Miranda tetaplah wanita pada umumnya, yang terluka karena perselingkuhan dan tidak menerima adanya poligami sekalipun Ayahnya berpoligami dengan adil. Condro Wongso memiliki empat istri dan banyak anak meskipun beberapa telah mati. Dalam pikiran Gio mereka mati karena takdir bukan mati sebagai tumbal.
“Kamu tahu dari mana?” tantang Gio. “Aku belum menjelaskan dan kamu sudah menyimpulkan sendiri dari gosip-gosip yang kamu terima?”
Miranda memutari tubuh Gio sambil menautkan kedua tangan di belakang tubuh. “Kamu menikah dengan Mona di Bali setelah kita bertengkar. Kalian bulan madu di hotel yang dikelilingi hutan dan membiarkan Alita hanya dengan Bibi? Enak?”
Gio terkesima dengan pemaparan detail besar yang harusnya tidak terendus oleh siapapun. Pemilihan tempat menikah dan bulan madu sudah di bagian Bali paling jarang dikunjungi wisatawan. Tapi mengapa wanita ini bisa mengetahuinya? Siapa buntutnya?
“Aku bukan Miranda yang dulu, Gi. Jangan membuang-buang waktuku sekarang, sebut apa maumu?”
Dalam beberapa menit mereka hanya saling tatap-tatapan. Padahal kalau dipikir-pikir semua masalah itu takkan terjadi jika Gio bersabar sebentar saja sampai Miranda menyelesaikan urusan perusahaan. Meski begitu kesalahan Gio tidaklah seratus persen salahnya. Hidup Miranda yang diselimuti kesalahan besar dan kekalnya janji gaib telah membuatnya tidak pernah merasakan kebahagiaan yang hakiki. Kebahagiaannya hanya sebatas memiliki banyak harta benda yang menimbulkan iri hati.
“Beri aku waktu, Miranda.”
Tidak ada sahutan, Miranda hanya menyipitkan mata, namun terlihat dari wajahnya dia tidak yakin kesimpulan apa yang harus dia sampaikan sekarang.
“Aku yakin kamu sudah bertemu dengan Bapak. Apapun sarannya, aku sudah tidak menjamin adanya keajaiban untukmu dan Mona. Maafkan aku.” Miranda membuka pintu kamar adiknya yang telah wafat, anak dari istri kedua Condro Wongso.
“Aku tidak akan pulang ke rumahku, pakailah sampai mati!”
Gio cepat-cepat mencengkeram lengan tangannya, mencegah Miranda pergi lebih cepat darinya.
Miranda menatapnya. Kuda liar bernama Gio ini masih tidak mengerti juga apa yang dialaminya tidak normal dan dia tidak tahu juga dalangnya siapa.
“Kamu tidak ingin menemani Alita?” ucap Gio.
“Untuk apa?” Miranda menyentuh tangan Gio, berusaha menyingkirkannya. Sementara Gio tetap mempertahankan pertemuan mereka dengan menahan Miranda.
“Untuk membuatnya baik-baik saja, untuk memperbaiki salahku dengan memberinya keutuhan malam ini. Keluarga kecilnya.”
Miranda dilanda kebimbangan yang dibangun laki-laki bodoh yang harus membayarnya dengan nyawa itu, meski begitu ada perubahan yang tetap bisa dia lakukan sebagai pertolongan dan itu tergantung pada sikap Gio sendiri. Memperbaiki atau merusak.
“Untuk malam ini saja.” Miranda mengalihkan tatapannya selagi Gio tersenyum lega. “Singkirkan tanganmu!”
Gio cepat-cepat menurutinya, dan setiap detik akan sangat berharga bersama Miranda dan Alita di atas ranjang empuk sekarang, melupakan sesaat Mona dan kengerian yang terjadi kemarin.
-
next
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Umine LulubagirAwi
Gio2, ga sadar apa kalau mona dan kmu bkal jd tumblnya
2024-10-20
0
bunda dad
duhhh ngerik kali 🙈
2024-08-13
0
choowie
duh😬
2024-08-12
0