Gio membopong tubuh Alita dengan raut wajah tidak percaya akan cerita yang putrinya sebutkan, namun kecemasan jauh lebih tampak dimatanya yang lelah setelah mengarungi samudra cinta dan perjalanan yang menyenangkan di Bali bersama Mona. Istri keduanya yang sinis terhadap Bibi Darmi.
“Tidak mungkin Mama jadi hantu, Lita. Mama baru kerja. Jauh sekali dari sini. Kalau Mama pulang pasti Papa yang jemput di bandara bareng Bibi Darmi dan Alita. Ya kan, Bi?”
Bibi Darmi gelagapan, alih-alih menjawab atau membalas tatapan Gio yang penuh penekanan, ia meraih koper-koper yang terkena tempias air. ‘Aku yakin ada yang tidak beres ini...’ Matanya celingukan seakan memastikan apa yang ia lihat di kamarnya tidak pindah ke depan rumah.
“Mari masuk saja, Pak. Non Alita harus mandi biar tidak masuk angin.” ucap Bibi Darmi sambil mendahului juragannya masuk rumah.
Gio menyunggingkan senyum terpaksa. “Alita tenang saja, Papa sudah pulang dan bisa menemanimu sekarang.” ucapnya lembut sambil mengusap air di wajah putrinya.
“Sekarang kita ke kamar, Lita harus mandi terus nanti Papa buatkan susu hangat dan pancake!”
Alita menggeleng tidak mau. “Lita tetap nggak bisa tenang, Papa. Dadanya Lita masih jedug-jedug!” Gadis kecil itu membenamkan wajahnya di leher ayahnya seolah bersembunyi.
“Mama jadi hantu, Mama bisa terbang mirip kupu-kupu!”
Gio seketika melangkahkan kakinya menuju kamar Alita dengan serius. Kesabaran tampaknya hilang darinya. “Kamu kebanyakan lihat film hantu sama Bibi dan guru pianomu, Lita. Khayalanmu terlalu tinggi!”
Lampu kristal di ruang keluarga sontak berkedip-kedip, hidup-mati, hidup-mati, dan bergoyang seakan-akan ada yang menggerakkannya.
Mona memegangi lengan Gio seraya merapatkan tubuhnya. Dia mendongak. “Mas, aku juga takut. Nggak bisa peluk aku juga?” bisiknya genit.
Gio meliriknya sekilas sedang Bibi Darmi sibuk mengucapkan doa-doa dengan jantung yang masih berdetak kencang. Tapi Gio dengan entengnya berkata, “Itu pasti hanya konsleting listrik. Besok pagi Papa perbaiki.”
Gio menurunkan Alita setelah tiba di kamarnya yang bernuansa merah muda. Alih-alih langsung mandi, Alita justru memandangi Mona yang ikut ke kamarnya.
“Kenapa Tante ini ada di rumah kita, Pa? Siapa Tante ini?”
Gio mendelik ketika Mona nyaris menjawabnya. “Tante ini Tante Mona, pengasuh baru Alita.”
Alita pun terlihat senang, pengasuh baru selain Bibi Darmi di rumah sebesar itu? Siapa yang menolak?
Lain halnya dengan Alita yang menjulurkan tangan untuk berkenalan. Mona menatap Gio dengan tidak terima.
“Lakukan saja!” desak Gio pelan.
Mona mengulurkan tangannya hingga dinginnya telapak tangan Alita terpapar di kulitnya. “Panggil Tante aja, dan Tante ini pengasuh premium dari Papa buat kamu!”
“Makasih, Pa.”
Gio menghela napas dan mengangguk. “Kamu hidupkan senter hp, Mon. Dan tolong temani Alita mandi.”
Wajah keberatan tampak betul di wajah Mona, walau lagi-lagi tatapan Gio mengubah jawabannya. “Kan rencananya gak gini, Mas.” bisik Mona ketika Gio membuka lemari.
Gio menoleh. “Kita bicarakan lagi besok, situasinya baru genting.”
Mona mencebikkan bibir selagi Gio menaruh baju ganti Alita di meja.
“Kamu ikut ke atas, Bi. Tinggalkan saja kopernya di bawah!” titah Gio.
Bibi Darmi terlihat enggan untuk menurutinya, namun melihat betapa gelap dan hawa mencekam semakin meningkat di rumah itu, Bibi Darmi mengikutinya dengan langkah waspada.
Gio menatap sekeliling sambil mengikuti Bibi Darmi yang setiap langkahnya terasa ragu menginjak semakin dalam ke lantai dua.
Alita tidak boleh mengetahui pernikahanku dengan Mona. Anak itu tidak boleh membenciku.
“Apa ada orang lain di rumah ini?” tanya Gio.
“Tidak ada siapapun di rumah ini, Pak! Bu Miranda...”
Gio berdecak. Tidak mungkin Miranda di rumahnya, Miranda sudah...
Bibi Darmi mengepalkan kedua tangannya. “Apa yang terjadi, Pak. Apa yang Bapak sembunyikan?”
“DIAM!” bentak Gio dengan suara pelan. “Tidak ada yang aku sembunyikan, Bi!”
Bibi Darmi mengangguk. Kalah bukan berarti kalah, dan mengalah untuk sebuah permainan tebak-tebakan adalah taktik. “Baiklah, Pak. Sekarang ada yang bisa saya bantu?”
Gio memandangi lantai bawah dari pinggir pembatas. “Mona akan tinggal di sini sementara waktu! Tolong perlakuan dia seperti Miranda.”
Pyarr...
Gio dan Bibi Darmi terlihat kaget ketika pecahan kaca berhamburan di lantai dan udara luar menyibak tirai, mengembuskan udara dingin dan memperlihatkan kegelapan di luar rumah.
Gio menatap Bibi Darmi yang menunduk dengan tubuh gemetar. “Sejak magrib tadi situasinya tidak beres, Pak. Bibi takut ini ada apa-apa.”
Bulu kuduk Gio meremang. Suara Miranda yang memanggilnya hilang dan tenggelam dari arah jendela pecah.
“Mas Gio... Mas Gio... Mas Gio...”
Gio menepuk lehernya seolah hembusan angin yang lembut dan merayap di tubuhnya seperti untaian kata yang Miranda ucap dengan manja.
“Mas Gio... sayangku...”
“Jangan ganggu!” bentak Gio sambil berputar, mengawasi penjuru rumah yang dia pahami betul ada apa-apanya sekalipun itu sepi dan gelap. Gio menggeleng. “Jangan ganggu apapun putusanku!”
Bibi Darmi yang melihat gelagat aneh Gio semakin ketakutan. Batinnya tidak tenang.
”Allahuakbar. Ya Allah Gusti, lindungi kami.”
Bibi Darmi berusaha menuruni anak tangga sambil berulangkali menoleh ke arah belakang. “Bapak sebaiknya istighfar!”
Gio berhasil membukanya jas dan kemejanya untuk menggaruk tubuhnya yang mendadak gatal. “Temani Alita, Bi. Aku bisa mengurus ini sendiri!”
-
-next-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Umine LulubagirAwi
seprtinya gio ga sngja bnuh istrinya buat bilng klonsdh mnikh dg mona
2024-10-20
0
Tina Febbryanti
gia yang bunuh istrinya nih...
aku penasaran 🤔🤔
2024-10-04
0
Triple.1
makin penasaran... ini keknya si gio nih yang bermasalah.
2024-09-10
0