Gio tidak melakukan apa-apa sementara Mona terus berteriak ada setan di rumah ini, setan perempuan, matanya berdarah-darah sambil berjalan ke sana kemari dan menautkan kedua tangannya di depan dada. Jantungnya berdebar-debar, dan pemikiran paling logis mengacak-acak benaknya.
“Ayo kita keluar dari sini, Mas. Aku takut.” seru Mona di depan Gio.
Gio membuka mulut untuk memprotes, tapi Mona menggeleng seraya meraih tangan Gio, menggenggamnya kuat.
“Di rumah ini ada hantunya, Mas. Ada setan gentayangan. Apa jangan-jangan luka ini gara-gara dia? Dia bisa masuk rumah?” Kepolosan Mona seketika membuatnya menjauh dari Gio, dia celingukan ke sana-kemari dengan wajah pucat dan takut. Situasi itu memilin-milin perutnya, menjadi tegang tak karuan.
Gio beranjak dari tepi ranjang. “Ngaco kamu, Mon. Kamu itu kecapean, banyak halusinasi mirip Alita!” Ia merasa sedikit iba pada Mona, bagaimanapun juga ia istri barunya, seorang wanita yang memberinya semangat dan hiburan di tengah kehampaan yang diberikan istri pertama yang sibuk tiada tara. Bahkan kerupawanan Miranda jauh lebih biasa.
“Sebaiknya kita bersih-bersih sebentar sebelum tidur.” Gio meraih tangan Mona, “kamu mau membantunya?”
Mona menghirup napas panjang. “Aku takut, Mas. Aku takut.” Tiba-tiba dia melepas tangan Gio. Matanya kini dengan sengit menatapnya, seolah-olah tidak berniat memberikan bantuan yang diminta Gio dengan mesra itu.
“Kenapa Mas berani bawa aku ke sini? Di mana Mba Miranda sekarang? Kenapa waktu kita nikah kemarin Mas nggak jawab pertanyaanku? Mba Miranda tau nggak kamu nikah lagi?”
Sejenak Gio berhenti bernapas. Urusan itu? Mustahil jika dia meminta izin pada Miranda untuk menikah lagi, lebih-lebih hal ganjil yang terjadi di rumah itu tidak mungkin ada kaitannya dengan hilangnya Miranda seusai pertengkaran mereka.
“Aku akan cari tau apa yang terjadi besok pagi, tapi mencemburui Miranda atau curiga sama aku hanya akan membuatmu stres sendiri.” Lagi-lagi Gio meraih tangan Mona, mengambil kepercayaannya dengan bujuk rayu.
“Aku janji keadaan ini akan membaik, dan yang terbaik itu tetap kamu, Mona.”
“Kenapa kita gak pulang aja ke rumahku, paling tidak selama beberapa hari sebelum ke sini.”
Tidak mudah meyakinkan Mona untuk tetap di rumah itu sekalipun Gio telah menyampaikan pesan dengan perhatian. Wanita itu tetap mempunyai argumen-argumen tentang mengapa harus begitu.
“Semua sudah terlanjur, Mona. Keputusanku pulang ke sini karena aku punya Alita dan mengambil dokumen penting! Kamu jangan egois, aku kepala rumah tanggamu.”
Mona agaknya harus menjadi pihak yang berhati baja, lagi pula akan sulit baginya meninggalkan tempat itu tanpa Gio.
Gelisah, Mona mengepalkan tangannya, menguatkan diri. “Aku cuma takut hal buruk menimpa kita, Mas. Bagiku ini janggal, mirip uji nyali! Mas...”
Gio menggelengkan kepala cepat-cepat. Ungkapan Mona terus saja membombardir keberaniannya. “Cukup, Mona. Anggap tadi hanya sambutan.”
“Sambutan?” Mona menatap Gio seraya menatap jendela. “Bagaimana kalo dia muncul lagi? Kenapa juga harus aku yang dikasih sambutan setan seperti itu?”
“Mungkin dia mau kenalan sama kamu.” Goda Gio, dia tersenyum jahil untuk menghiburnya. “Besok aku cari tahu penyebab sambutan di rumah ini. Ayo mandi.”
Mona menatap genggaman tangan mereka sesaat sebelum langkahnya yang tertunda karena rasa takut bergerak mengikuti langkah Gio ke kamar mandi.
“Kemungkinan besar kita nggak bisa tidur bareng.” ucap Gio sambil mengangkat Mona ke atas meja wastafel dari semen yang berlapis marmer hijau. “Aku janji nemenin Lita tidur tadi.”
Mona mengerut, tidak ingin Alita menjadi pengalih perhatian untuk semalam saja dan berharap ia tidak datang ke kamar malam ini. “Bibi Darmi pasti udah handle Lita!”
Mona menangkup kedua pipi Gio yang memiliki rahang tegas dan pipi tirus. Sedikit ada kumisnya, berkulit sawo matang dan itulah yang membuat Mona tergila-gila padanya.
“Perasaan lunglai karena setan tadi belum ilang, Mas. Malam ini kita tidur bareng, aku yakin Bibi Darmi udah sama Alita. Dan... mereka pasti kecapean! Mereka nggak akan tau kita bareng sekarang.” ucapnya menggebu.
Gio melihat tatapan itu lagi sekarang, tatapan menyedihkan dan berharap tak pernah menunjukkan kecenderungan berpihak pada Alita. Ia pun paham, bahwa Mona adalah semua kesalahan yang dia inginkan.
“Aku yakin malam ini lebih baik buat kamu bisa tenang ada di sini sampai urusanku selesai, Mona.” Gio membelai anak rambut di keningnya dengan pelan.
“Tapi sepertinya luka-luka ini nggak akan bikin kita seneng.”
Kesedihan menghiasi wajah Mona. “Terus terang, aku nggak mikir akan sejauh ini kita.” Tersenyum ia setelahnya. “Habis mandi aku obati.”
Perasaan gamang yang sangat mendalam itu mengejutkan Gio. Bagaimana bisa dia terusik oleh Alita sementara sudah sering ia meninggalkan bocah itu untuk perjalanan bisnis dan healing? Gio terlihat muram ketika memikirkan perubahan perasaan itu sehingga dia tampak tidak merespon bagaimana tubuh Mona yang telah tampak sepenuhnya.
“Sayang.” Mona mengamati Gio dengan curiga, “Kamu kenapa sih diam aja? Ayo, aku sudah siap.”
Mata Gio seketika berpindah ke wajah Mona sambil tersenyum. Akan tetapi senyumnya cengengesan.
Mona tercekat, ia menatap mata Gio yang seolah-olah seperti bukan mata suaminya. Mata itu begitu cerdik mengamatinya, berpindah-pindah. Dari dagu, mata, hidung, pipi namun yang terakhir ketika mata itu menatapnya lekat-lekat, pupil mata itu seketika mengecil dan menjadi putih. Gio menatap dirinya dengan sorot mata dingin.
“Apa sayang...”
Mona seketika meronta dari cengkeraman tangan Gio yang begitu kuat memegangi lengannya. Suara itu, suara perempuan.
“Lepas... Lepasin mas!”
Perlahan-lahan siluet wajah lain muncul di belakang tubuh Gio. Berambut panjang dan bertubuh kurus.
-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Umine LulubagirAwi
bkin hror d setiap bab nya
2024-10-20
0
Triple.1
ampon dah, disetiap bab nya bikin ketar-ketir... keren thor 😘
2024-09-10
0
Triple.1
wkwkwkwkk...mau ketawa takut dosa...
2024-09-10
0