Mona tersentak sambil meraba-raba lehernya yang tercekik jari-jemari berkuku hitam sedang matanya melotot melihat bukti-bukti keberadaan suster ngesot yang tidak biasa. Tanduk itu, mata satu yang menyala itu dan senyum serigalanya membuat gigi-gigi runcingnya terlihat meneteskan lendir yang beraroma menjijikkan.
Tak kuat menyingkirkan tangan yang terus menerus berusaha menghentikan napasnya, kaki jenjang Mona sekuat tenaga meronta-ronta berusaha menendang-nendang bagian ranjang sementara makhluk yang diperdaya oleh Miranda terus memberi perasaan tak karuan khas sebuah teror yang hanya dirasakan sang terpilih.
Tidak ada yang mendengar kekacauan di kamar itu seolah dinding-dindingnya telah dipagari alat kedap suara.
“Tolong...” seru Mona, suaranya pelan dan amat serak. “Bibi...” Malam itu, sekali lagi dia merasakan perasaan terancam yang sedemikian kuat dan memikirkan Bibi Darmi lebih cepat dari dugaannya sendiri. Tapi dilihat dari caranya mengatupkan bibirnya kuat-kuat, rasa mual telah merangkak ke tenggorokannya.
Mona memuntahkan isi perutnya, menjijikkan sudah kondisinya sekarang. Napasnya pun sudah tersengal-sengal. Lama kelamaan, Mona merasa lelah menghadapi ketegangan. Dia memejamkan mata hingga air matanya meleleh.
‘Mungkin aku bakal mati beneran, nggak hanya pingsan dan Mas Gio nggak akan mempercayai aku mati gara-gara setan.’
Bermenit-menit senyuman licik dari makhluk itu seperti menampilkan wajah Miranda yang asyik mendatangkan Maut untuk Mona.
“Ini yang layak kamu dapatkan, hancur berantakan dan amat menyesakkan!” Miranda menuang kendi berisi darah ayam cemani ke atas dupa. Kepulan asap yang dihasilkannya perlahan-lahan sirna, ritual mendatangkan Maut pun perlahan-lahan menghilang karena untuk menyaksikan hukumannya lebih dahsyat, kematian Mona tidak secepat itu.
Miranda tersenyum puas sambil meninggalkan ruang ritual. “Permainan kita baru di mulai maduku, apakah kamu masih bertahan dengan suamiku yang licik dan manis itu?”
Miranda memutar mata, manis apaan! Manis di mulut jahat di hati sampai-sampai menduakannya tanpa mempertimbangkan timbal baliknya.
“Kebodohan macam apa yang dimiliki Mona dan Gio sampai aku di anggap remeh?” Tiba-tiba kepercayaan diri Miranda lenyap, tatapannya beralih ke kaca besar yang menempel erat di tembok. Pesona wanita karir yang tegas dan berkharisma dengan alis rapi, hidung bangir, bibir ranum dan pipi tirus itu tidak ada apa-apanya dibanding pikirannya.
“Apa mungkin aku ini kelihatan jelek dan gampang dibohongi?”
Miranda memanyunkan bibirnya, terusik oleh rasa kecewa pada kekurangan yang disimpulkan sendiri, tapi tiba-tiba juga wajah cuek itu kembali terpampang, “Aku memang sudah ditakdirkan jelek dari lahir walaupun aku nggak minta begini!”
Sambil menahan kekesalannya pada benang merah yang dibentuk oleh keluarga Condro Wongso terdahulu, wanita itu menapaki anak tangga dengan amat cepat. Tak bohong jika Miranda sendiri juga tersiksa atas kekejian yang dilakukan keluarganya. Ingin tidak mau tahu, tapi Ayahnya sendiri yang telah mengenalkan bakat laknat itu sejak usia remaja.
“Aku mungkin masih bisa menyelamatkan Alita. Anak itu harus bahagia tanpa menanggung beban sialan ini!” Miranda mencengkeram rambutnya kuat-kuat sambil menjerit frustasi seolah-olah ada sesuatu yang tidak bisa diabaikan. Sesosok lelembut berambut hitam panjang, bertubuh lelaki dan bermahkota tanduk rusa itu menghampirinya dengan melayang.
“Jangan...” Miranda berkata lantang.
Sosok itu berhenti di depan Miranda, kekaguman dan kegeraman tergabung di tatapannya yang bertahun-tahun sering Miranda terima dan menjadi beban yang dipikulnya sendiri.
“Kau bicara sendiri seperti Tantri. Kau cukup waras?”
Mendengar nama Ibunya disebut, Miranda mendongak. Peliharaan Condro Wongso yang satu ini agaknya perlu di kurung saja di botol. Sukanya mengganggu dan ikut campur urusan pribadi.
“Kau bukankah selesai bersenang-senang dengan Mona dan si kambing itu?” Sosok berwibawa itu menjentikkan jarinya untuk menyingkirkan rambut Miranda yang menutupi wajahnya. “Wajahmu sedih.”
Tanggapannya membuat Miranda mendengus, dan kecenderungan sensitif terhadap pengabaian Miranda itu membuat sosok itu menggeram.
“Apa?” bentak Miranda. Dia melihat tatapan itu sekali lagi. “Aku bilang jangan ganggu!”
Rasa malas membuat Miranda memanggil si kambing yang disebut-sebut lelembut bermahkota itu. Tak lama makhluk menyeramkan itu datang, dan bertekuk lutut kepadanya.
Lelembut bermahkota itu seketika menatapnya jengkel. Sungguh pertemuan yang sangat tidak menyenangkan dan menghilangkan misteri-misteri cinta. Dan, si kambing kurus itu bahkan tidak menghormati keberadaannya yang termasuk master penjaga di rumah itu.
“Mudah-mudahkan kalian bisa memahami situasiku. Aku mau istirahat.”
Keseriusan dan keheningan di rumah itu mendadak buyar ketika Gio berlari sekencang-kencangnya dari kamar.
Miranda menatapnya heran sambil berharap Gio tidak mendengar dia bicara sendiri.
“Mau ke mana kamu?” seru Miranda.
Sambil memegangi pembatas tangga, Gio menoleh dengan wajah panik dan seolah-olah tidak sadar baru ada di mana.
“Mau ke rumah sakit!” Langkah Gio ke pun tertunda lagi saat Miranda melayangkan tanya dengan cepat.
“Siapa yang sakit?”
“Mona kerasukan!”
Kutukan Miranda kelihatannya tidak mencegah mereka tercerai-berai, hanya pikirannya saja yang terdampak keterpurukan mental, meski begitu senyuman konyol Miranda berikan.
“Hati-hati ya.”
Jika bukan karena efek panik dan cinta yang bersemi itu, kemungkinan Gio tidak mengangguk sebelum kabur dari rumahnya di tengah malam.
Miranda berdecak. Dari semua kekasih yang pernah dikoleksinya dulu, cuma Gio yang paling parah egonya, bodohnya dan kurang pekanya. Dan itu membuat perasaan malu di depan Condro Wongso semakin menyala seakan takdir tidak menghindarkannya dari hinaan itu.
“Tidak perlu berkomentar apapun, kerjakan saja tugas kalian!”
Sebagai peliharaan yang diberi makan dan diasuh oleh Condro Wongso, dua makhluk halus itu tak berdaya di hadapannya.
“Kau menginginkan apa?” ucap lelembut bermahkota.
“Mobilnya macet, jalannya nyasar, apa bannya kempes.” sebut Miranda sambil berjalan ke arah kamar. Hatinya sudah terombang-ambing emosinya sendiri. “Aku mau dia tidak menemuinya!”
“Di mengerti.” Lelembut bermahkota itu segera menyuruh si kambing kurus melakukan tugasnya sebagai tukang menakut-nakuti. Sementara dia menyusup ke kamar Alita, berdiam diri sambil memandangi Miranda yang terduduk lesu di kursi rotan.
“Terus terang aku sudah capek hidup begini, tapi banyak orang yang bergantung sama keluarga ini, banyak yang bisa kita bantu dari uang haram ini. Apalagi waktu lihat senyum mereka yang lega rasanya...”
Ada sentuhan haru yang merembet ke dada Miranda meski kegelisahan terus mencengkeramnya. Dia tahu dia tidak bisa lepas secara sepihak, tapi ada lagi yang perlu dikorbankan dan jauh lebih besar sekaligus berisiko tinggi. Kemarahan dari mereka-mereka yang bergantung kepada keluarganya, termasuk para peliharaan bawah tanah itu.
“Apa semuanya ini bisa selesai di aku?”
Pertanyaan itu menampar kewibawaan lelembut bermahkota yang telah berpuluh-puluh tahun mendampingi keluarga Condro Wongso. Dia tidak sanggup menjawab, tidak sanggup berbohong pula atau mengelabuinya.
“Tanyakan kepada ayahmu. Namun jika boleh berpesan, kau tidak mungkin bisa menjadi penutup. Kami sudah mendarah daging dalam keluargamu, Miranda.”
Miranda membelai rambut putrinya dengan kasih yang tulus. Menyesal telah mengirim teror lebih cepat dari kedatangan Gio dan Mona di rumah kutukan itu.
“Aku mau Alita besar tanpa menanggung beban keluarga ini.”
-
next
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Umine LulubagirAwi
Smoga Alita ga jd pnrus ilmumu utu, mir..mngerikan..
2024-10-20
0
bunda dad
semoga Alita ngk dilibatkan dalam dunia hutan keluarga Miranda 🤧
2024-08-18
0
Wahyu
hahhhh.....si gio ini ya stres....udah tau Miranda keturunan orang yg nggak bisa diajak main2 malah punya pikiran mau nguasai hartanya... selingkuh juga😏😏😏
2024-08-17
0