Mona membuka mata dan mendapati dirinya telah berbaring di ruangan yang sunyi dan minim cahaya. Sebuah ruang yang berbeda dari tong setan semalam. Akan tetapi sebuah pengalaman mengerikan yang muncul dan saat itu juga rasa leganya menghilang membuat dirinya mendadak panik dan cemas.
Perban terlihat di mana-mana, perih terasa di sekujur tubuh. Mona terlihat hanya bisa menggerak-gerakkannya dan menoleh ke kanan kiri seolah-olah tubuhnya yang tinggi ramping itu berat untuk bangkit dari pembaringan.
“Di mana aku sekarang?” teriaknya serak. Perasaan panik dan pengalaman mengerikan semalaman tak mau hilang, terus membayang dibenaknya. Setan perempuan itu... Bibi Darmi palsu...
“TOLONG...” Tiada usaha yang bisa ia lakukan selain menjerit. Dengan rajin pula ia berusaha menemukan petunjuk, memeriksa kondisi sekelilingnya. Selang infus? Mona mengangkat tangan kirinya, “Aku di rumah sakit?”
Berusaha mengacuhkan rasa sakit, Mona berkeras bangkit dari ranjang. “Mas Gio... Mas Gio... Kamu di kamar mandi?” Tertatih-tatih dia membawa tiang infus ke kamar mandi yang terbuka sedikit. Kamar mandi sepi, hanya tetesan air ke dalam bak yang menyambut kehadirannya.
Mona berbalik dengan sedikit putus asa. Ke mana Gio sekarang? Mengapa dia ditinggalkan seorang diri dalam keadaan tidak berdaya? Ulu hatinya ikut sakit.
“Mungkinkah dia lagi cari makan?” Mona membuka pintu ruang inapnya dan tak sabar ingin cepat-cepat pergi menemukannya di kantin atau di sudut manapun rumah sakit daerah itu.
Lorong panjang menyambutnya, sunyi. Pasti ada orang di balik pintu-pintu tertutup itu. Mona tersenyum kecil, benaknya mulai melantur akan hal-hal yang melegakan hati di rumah sakit itu, jauh dari rumah yang memberinya malapetaka dan trauma.
Tak lama kemudian, setelah ia melewati lorong dan beberapa ruang tak berpenghuni. Mona mendengar beberapa percakapan dan samar-samar suara tawa riang dan bebas. Mona semakin tidak sabar, langkah pelannya tampak dia percepatan untuk menghampiri tawa yang tidak asing itu. Tawa Alita.
Dia terpana ketika sekejap halilintar menyambar di langit-langit yang membumbung tinggi di atasnya. Begitu pun Alita, Gio dan Bibi Darmi yang menghabiskan waktu di taman kecil yang dikelilingi bangunan.
“Papa ini mau hujan lagi.” seru Alita.
Gio tergesa-gesa membopongnya. Alita menjerit gembira, dirangkulnya leher sang ayah dengan rekat ketika meninggalkan taman mini yang terletak di samping ruang inap. Bibi Darmi tersenyum melihat kembalinya keromantisan Ayah dan anak itu sebelum teror datang merenggut rasa nyaman dan aman mereka.
“Mona...” Gio terlihat heran, tapi senyumnya tetap tampak seolah tidak ada sesuatu yang terjadi. “Kenapa kamu di sini? Bukannya seharusnya kamu masih tidur?”
Mona memegangi kepalanya yang masih teramat pening dan mengganggu keseimbangannya. Lebih-lebih, Bibi Darmi yang muncul dan benar-benar nyata menatapnya itu membuat kakinya mundur cepat-cepat, membuatnya terjungkal.
Gio tergelak, meski dia buru-buru mendekatinya seraya meminta Alita turun dari gendongan.
“Papa bantu Tante Mona dulu.”
“Okey...” Alita beralih ke Bibi Darmi, sementara Mona tak peduli sakitnya terjungkal, malunya menjadi tontonan, ia lebih takut sekali pada wanita paruh baya yang memakai daster dan jaket rajut longgar itu.
“Bibi Darmi itu setan, Mas! Dia setan yang ganggu aku semalam. Dia... dia...” Mona merangkak mundur, tidak mau di bantu Gio berdiri, bahkan suster yang mampir pun terkena penolakannya seolah segalanya teramat menakutkan dan tak dapat dipercaya.
“Bibi Darmi penuh misteri. Aku nggak mau dekat-dekat dia!” serunya, siap menangis sampai tersedu-sedu jikalau Gio tetap mempersilahkan pembantunya berada di sekitarnya.
Bibi Darmi yang merasa terpanggil menyunggingkan senyum kikuk, orang-orang yang keluar dari ruang inap menatapnya dengan sepenuh hati.
“Mending saya dan Non Alita beli jajan dulu, Pak.” ucap Bibi Darmi. Sikap Mona yang ketakutan dan lumayan kasar itu hanyalah bentuk pertahanan diri.
Gio mengangguk. “Jangan pergi jauh-jauh, dan kembali segera.”
“Okey Papa.” Alita tampak ceria setelah tadi pagi dia dan Bibi Darmi berhasil membantunya keluar dari rumah Kutukan Miranda.
“Aku tau kamu nggak percaya sama aku, Mas. Tapi mau percaya atau tidak, semalam di kamar mandimu ada setan! Bibi Darmi itu juga setan.” ucap Mona setelah Alita dan Bibi Darmi pergi dengan serius, wajahnya sudah frustasi.
Gio berdecak-decak sambil membantunya berdiri. “Kepalamu mengalami banyak benturan keras, Mona. Sebaiknya kamu istirahat lagi.”
Mona menggeleng. “Nggak mau, Mas. Aku mau pulang ke rumah orang tuaku! Tapi nggak tanpa kamu!”
Gio memberi isyarat kepada suster agar mengikutinya untuk mengurus Mona karena separuh hatinya masih memikirkan keganjilan semalam dan kondisinya sekarang. Benang merah itu menancap di benaknya, menggerogoti logika dan membingungkan. Parahnya lagi Miranda yang menghilang setelah memergokinya selingkuh masih bercampur dalam kuali yang sama.
“Aku janji Bibi Darmi tidak ketemu kamu dulu, tapi Alita tetap ikut aku.” Gio membopong Mona agar berbaring di ranjang pasien. “Biar suster periksa kondisimu sebentar.”
Mona tahu kondisinya hancur lebur, tapi melihat Gio yang tenang, tidak panik atau mengkhawatirkan kondisinya seperti saat malam penuh rasa di kamar pengantin itu ulu hatinya tambah sakit.
“Aku mau pulang. Firasatku bilang ada yang gak beres di rumahmu!”
“Urusan itu gampang, Mona. Sekarang kamu harus sembuh dulu baru kita pulang!” Harapan itu serius, Gio tidak mungkin membawa Mona pulang ke rumah orang tuanya dalam keadaan sengsara dan lecet-lecet. Apa kata mereka nanti?
Mona mengangguk, suasana hatinya mulai cerah saat Gio membelai rambutnya dengan tulus berperasaan. Sementara itu, suster membetulkan infus dan memeriksa luka-lukanya.
“Sudah suster?” tanya Gio. Jelas dari tatapannya ada isyarat.
Suster mengangguk. Baik menerima isyarat semanis madu atau sepahit kopi asli itu atau tidak, baginya pekerjaannya hanyalah jujur dan berbuat baik. “Melihat kondisi pasien, ada baiknya istri Bapak memperbanyak minum air putih dan makan sebelum minum obat.” Ia tersenyum.
Minum obat pastinya akan membuat Mona terlelap lagi. Itu yang ia tunggu-tunggu.
Gio tersenyum. “Kalau begitu tolong persiapkan obatnya, Suster.”
Mona gegas memegangi tangan Gio yang hendak mengambil dompet yang dia ambil bersamaan kunci mobil.
“Jangan jauh-jauh dariku, Mas. Jangan tinggalin aku sendirian.” Sepasang mata Mona berkaca-kaca, harapannya hanya ditemani. Lebih jauh lagi, ditemani rasanya jauh lebih bagus sekalipun Gio begitu.
Gio membungkuk untuk mencium keningnya. “Aku akan selalu di sisimu.” dustanya dengan lembut. “Kamu istirahat dulu, dan kita bisa membicarakan apa saja besok setelah kamu membaik.”
“Tapi luka-luka di badan Mas gimana?”
Gio dengan sengaja meredam kekhawatiran Mona untuk waktu yang cepat. Ia membuka bajunya. “Sudah diobati.”
Mona merapikan bajunya dengan lemah. “Janji ya tatap di sini.”
Gio membungkuk untuk kedua kali, dan ketika dia menegakkan tubuh, susunan rencana sudah lengkap dibenaknya.
-
next... selamat membaca.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
Umine LulubagirAwi
Gio ada pnyakit kah?
2024-10-20
0
bunda dad
Gio, penuh misteri 🤔
2024-08-09
0
Gendis
Sepertinya Gio ini punya rencana jahat untuk mona 😒 bisa jadi meninggalnya miranda karena gio
2024-08-08
0