BAB 7 Kekhawatiran Devan

Pagi harinya Kiara seperti biasa bangun tidur lalu membersihkan badannya dikamar mandi, setelah melaksanakan kewajibannya Kiara lalu membangunkan Devan yang akan berangkat keluar kota.

"Mas,,bangun siap siap katanya mau berangkat pagi" Kiara mengguncang tangan suaminya agar cepat bangun dari tidurnya, baru kali ini semenjak menikah Kiara membangunkan suaminya dengan cara mengguncang tangannya, biasanya dia akan mencium lembut pipi suaminya itu.

Devan mendengar suara Kiara membangunkannya membuka matanya lalu mengusap kedua matanya agar menjadi jelas penglihatannya.

"Jam berapa sayang?" Tanya Devan dengan suara serak khas orang bangun tidur.

"Jam 5 mas" jawab Kiara tiba tiba telpon genggam devan berbunyi nyaring membuat Kiara menoleh ke arah layar handphone nya dan terlihat nama Sera disana, kebetulan Kiara berdiri didekat nakas dimana Devan meletakkan handphonenya.

Kiara langsung keluar meninggalkan kamar itu setelah melihat yang menghubungi Devan adalah Sera istri kedua suaminya, Devan meremas rambut dikepalanya menandakan dia sangat kesal dengan Sera, semalam sudah dikasih tau jangan menelpon dulu biar nanti Devan yang menghubunginya.

Deban mau marah tidak tau mau marah sama siapa akhirnya dia mengangkat telpon dari istri keduanya itu.

"Sera..mas sudah bilang jangan menelpon dulu biar nanti mas yabg telpon kamu" tegas Devan dengan suara yang sedikit tinggi, Sera diseberang sana langsung kaget karena baru pertama kali dibentak oleh Devan.

"Maaf mas, aku cuma mencoba membangunkan kamu, karena kamu mau berangkat pagi pagi sekali" jawab Sera takut takut, Devan menyadari suaranya yang tinggi membuat Sera menjadi takut.

"Ya sudah Ra terimakasih sudah membangunkan mas, tapi tadi Kiara melihat telpon kamu yang masuk" jelas Devan mencoba memberitahu keadaan yang terjadi.

"Maaf mas, kalau aku membuat kalian bertengkar lagi, aku tutup ya, hati hati dijalan" ucap Sera setelah itu dia pun mematikan sambungan telponnya.

Devan segera masuk kekamar mandi tidak berapa lama dia pun selesai memakai baju dan segera turun kebawah sambil membawa koper isi pakaiannya untuk 3 hari.

Kiara sudah selesai membuatkan sarapan untuk suaminya itu, walau yang memasaknya bik jum. Sekarang bik jum sedang meletakkan sarapan dimeja makan. Kiara sudah duduk dimeja makan menunggu suami pengkhianat nya untuk sarapan bersama.

Tadinya dia tidak mau menemani Devan sarapan, setelah dia pikir lagi akhirnya dia memutuskan untuk.menemani suaminya itu sarapan, dia tidak mau Devan berpikiran kalau dia merasa cemburu melihat Sera tadi menelpon suami mereka.

Devan semakin was was melihat ketenangan Kiara menghadapi masalah mereka, dia benar benar takut saat ini, ingin rasanya dia membatalkan perjalanannya keluar kota kali ini, tapi masalah di proyek harus segera diselesaikan.

"Sayang kamu hari ini mau kemana?" Tanya Devan dia ingin tau apa yang akan dilakukan istrinya selama dia keluar kota.

"Nggak kemana mana mas, lagi males keluar" jawab Kiara sambil mengambilkan sarapan untuk Devan dan untuk dirinya sendiri.

Mereka pun makan dalam diam hanya suara sendok dan piring yang beradu yang terdengar diruangan makan itu.

Kiara menoleh kearah depan karena terdengar bunyi mesin mobil yang masuk kehalaman kediaman mereka. Devan tau siapa yang datang karena kemaren dia menyuruh Ari untuk menjemputnya kesini.

"Itu Ari, aku memang suruh jemput kesini" jelas Devan pada Kiara yang hanya diam mendengar penjelasan darinya.

Tidak berapa lama mereka selesai sarapan paginya, segera Devan kedepan menghampiri Ari yang saat ini menunggunya di depan sambil duduk dikursi yang ada diteras rumahnya.

Devan berbicara sebentar dengan Ari, lalu dia pun masuk kedalam untuk mengambil koper pakaiannya dan berpamitan pada Kiara yang saat ini berada di taman belakang rumah.

"Sayang mas berangkat dulu ya, kamu hati hati dirumah kalau ada apa apa segera hubungi mas" pamit Devan pada Kiara yang hanya menatap wajah suaminya dan mengangguk.

"Sayang kamu kenapa, dari tadi diam saja" tanya Devan

"Terus aku harus apa, nggak mungkin juga teriak teriak dikira orang g*la" jawab Kiara

"Kamu kalau mas ajak bicara jawabnya pendek pendek kalau nggak cuma diam" ucap Devan lagi

"Aku lagi malas bicara sama kamu mas, nggak ada yang penting untuk dibicarakan, kalau mau jalan sekarang jalan aja mas nanti keburu siang" usir Kiara pada Devan yang masih berdiri didepannya.

Devan tau kalau dia sedang di usir pergi sama Kiara, dia hanya bisa menahan kesal melihat sikap Kiara yang ketus padanya. Yang bisa Devan lakukan hanya bersabar menghadapi kemarahan istrinya itu.

Devan tau kalau Kiara tidak memiliki saudara lagi karena dia anak tunggal dan kedua orang tuanya sudah meninggal, yang dipunyai Kiara hanya keluarga yang di panti ibu Kasih.

"Ya sudah mas jalan dulu ya" dia mendekat menghampiri Kiara dia ingin berpamitan seperti yang biasa mereka lakukan kalau Devan keluar kota tapi istrinya itu berusaha menghindar.

"Hati hati mas dijalan, koper kamu sudah dibawa, nanti lupa, kasian Ari menunggu sudah kelamaan" ucap Kiara dia enggan melakukan seperti biasanya.

Devan yang gregetan liat kelakuan Kiara dari semalam yang terus menghindarinya langsung menarik Kiara dan dipeluknya dengan erat serta di mencium wajah dan mengecup bibir istrinya sambil memegang kedua pipi Kiara yang membuat Kiara kaget dengan tingkah Devan padanya.

Habis mencium dan memeluk istrinya dengan paksa baru Devan beranjak pergi dari sana.

"Hati hati dirumah Kia, mas jalan sekarang, nanti mas telpon" ucap Devan sambil senyum tipis melihat muka cemberut Kiara yang tadi dia peluk dan cium dengan paksa.

Kiara yang kaget karena perbuatan Devan hanya menatap kesal pada suaminya yang sekarang berjalan kedepan sambil tersenyum.

"Iiihhh nggak sudi banget gw dicium sama manusia pengkhianat itu" gumam kiara dalam hati sambil mengusap pipi dan bibirnya dengan tissue.

Bik jum sempat melihat tingkah Devan tadi pada Kiara, dia hanya bisa berdoa untuk kebaikan mereka berdua, bik jum sudah tau akan permasalahan majikannya itu, bik jum sangat menyayangkan apa yang terjadi diantara kedua suami istri itu.

Mobil Devan sudah keluar dari halaman kediaman mereka, Kiara pun jalan menuju ruang keluarga untuk istirahat sebentar, dia segera menghubungi orang otang yang telah mengurus semua keperluannya.

Saat ini Devan sedang menghubungi Sera untuk berpamitan keluar kota 3 hari.

"Mas tadi Kiara nggak marah kan, kalau aku telpon mas devan?" Tanya Sera dia tadi hanya berniat untuk membangunkan devan nggak ada maksud lain sialnya malah Kiara melihat kalau dia yang menelpon Devan.

"Nggak kok Ra, ya sudah mas pamit ya kamu hati hati dirumah, kafi dijaga jangan sampai salah makan lagi, dia baru sembuh kemaren" pesan Devan pada Sera.

"Hati hati mas nanti kalau sudah sampai kasih kabar ya" ucap Sera.

Terpopuler

Comments

Indra Wahyu Rianti

Indra Wahyu Rianti

keliatan sih sera jahat.
dia gak peduli perasaan kiara.
udah tau lg di rmh kiara, kan ada kiara yg bangunin gak usah sok baik.
wlp devan yg ngajak nikah kl dia sahabat kiara dia gak akan mau diam diam setidaknya minta ijin.
devan jg seenaknya memutuskan menikahi sera tanpa menanyakan ke kiara. dia gak anggep kiara istri. masalah rumahtangga sebesar itu dia putuskan sendiri. jd jgn kaget kl kiara meninggalkanmu.

2024-12-03

6

Kembarr Kembaarr

Kembarr Kembaarr

keliatan banget tuh seberapa jahatnya si sera. eeeh... namanya juga lakor kalau ga jht dn super tega bkn lakor nmnya. tp sayang ga dpt karma bahkn mlh panjang umur .mulia sentosa

2025-01-21

0

Ranny

Ranny

semoga saat pergi dr rumah Kiara dlm keadaan hamil ya biar si mokondo itu menyesal lebih sayang sama anak orang dr pada anak nya sendiri thor

2024-11-30

2

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 Rahasia Devan
2 BAB 2 Kiara
3 BAB 3 Kemarahan Kiara
4 BAB 4 Pertengkaran
5 BAB 5 Rencana Kiara
6 BAB 6 Menahan Diri
7 BAB 7 Kekhawatiran Devan
8 BAB 8 Pergi
9 BAB 9 Memulai Hidup Baru
10 BAB 10 Kepanikan Devan
11 BAB 11 Devan Pulang
12 BAB 12 Menyesal
13 BAB 13 Kecolongan
14 BAB 14 Tuan Kalandra Menemukan Kiara
15 BAB 15 Tuan Kalandra Melindungi Kiara
16 BAB 16 Membawa Kiara Pergi
17 BAB 17 Devan kalah cepat
18 BAB 18 Devan Curiga
19 BAB 19 Rahasia Sera
20 BAB 20 Dokter Kandungan
21 BAB 21 Baby kembar
22 BAB 22 Papa Terlibat
23 BAB 23 NAMA SI KEMBAR
24 BAB 24 Pulang Ke Kediaman Kalandra
25 BAB 25 Sera Sakit lagi
26 BAB 26 Sera Kritis
27 BAB 27 Devan Pusing
28 BAB 28 Bertemu
29 BAB 29 Berbicara
30 BAB 30
31 BAB 31
32 BAB 32 Nasehat
33 BAB 33 Mencintai Kia
34 BAB 34 Cerita Barra
35 BAB 35 Kado dari Barra
36 BAB 36 Bertemu Barra
37 BAB 37 Pilihan Cerai
38 BAB 38 Surat Gugatan
39 BAB 39 Gelisah
40 BAB 40 Rencana
41 BAB 41
42 BAB 42
43 bab 43 saat pergi
44 bab 44 hidup baru
45 bab 45 Devan sakit
46 bab 46 rumah sakit
47 bab 47 Wanda
48 bab 48 Ke kantor Barra
49 49 Barra Menolak
50 BAB 50 usaha Barra
51 BAB 51 Perasaan Kiara
52 BAB 52 Menyatakan cinta
53 BAB 53 Meyakin kan Kiara
54 BAB 54 Rasa percaya Kiara
55 BAB 55 Sedih nya Devan
56 BAB 56 Resmi Cerai
57 BAB 57 Video Zayn dan Zara
58 BAB 58 Berdebat
59 BAB 59 Mencari tau
60 BAB 60 Pindah dan pertengkaran
61 BAB 61 Barra bertengkar
62 BAB 62 Ketenangan Kia
63 BAB 63 Persiapan pernikahan
64 BAB 64 Memantapkan hati
65 BAB 65 Mau mendatangi Kiara
66 BAB 66 Bertemu Tuan Roderick
67 BAB 67 Memberi Kabar
68 BAB 68 Sah
69 BAB 69 Bahagia
70 BAB 70 Keresahan Devan
71 BAB 71
72 BAB 72
73 BAB 73
74 BAB 74
75 BAB 75
76 BAB 76
77 NOVEL BARU
78 BAB 77
79 BAB 78
80 BAB 79
81 BAB 80
82 BAB 81
83 BAB 82
84 BAB 83
85 BAB 84
86 BAB 85
87 BAB 86
88 BAB 87
89 BAB 88
90 BAB 89
91 BAB 90
92 BAB 91
93 BAB 92
94 BAB 93
95 BAB 94
96 BAB 95
97 BAB Episode Terakhir
98 BC 1
99 Pengumuman NOVEL BARU
100 BC 2
101 BC 3
102 BC 4
103 BC 5
104 BC 6
105 BC 7
106 BC 8
107 BC 9
108 BC 10
109 BC 11
110 BC 12
111 BAB 13
112 BC 14
113 BC 15
114 BC 16
115 BC 17
116 BC 18
117 BC 19
118 BC 20
119 BC 21
120 BC 22
121 BC 23
122 BC 24
123 BC 25
124 BC 26
125 BC 27
126 BC 28
127 BC 29
128 BC 30
129 BC 31
130 BC 32
131 BC 33
132 BC 34
133 BC 35
134 BC 36
135 BC 37
136 BC 38
137 BC 39
138 BC 40
139 BC 41
140 BC 42
141 Sumpah Wanita Tersakiti
142 BC 43
143 BC 44
Episodes

Updated 143 Episodes

1
BAB 1 Rahasia Devan
2
BAB 2 Kiara
3
BAB 3 Kemarahan Kiara
4
BAB 4 Pertengkaran
5
BAB 5 Rencana Kiara
6
BAB 6 Menahan Diri
7
BAB 7 Kekhawatiran Devan
8
BAB 8 Pergi
9
BAB 9 Memulai Hidup Baru
10
BAB 10 Kepanikan Devan
11
BAB 11 Devan Pulang
12
BAB 12 Menyesal
13
BAB 13 Kecolongan
14
BAB 14 Tuan Kalandra Menemukan Kiara
15
BAB 15 Tuan Kalandra Melindungi Kiara
16
BAB 16 Membawa Kiara Pergi
17
BAB 17 Devan kalah cepat
18
BAB 18 Devan Curiga
19
BAB 19 Rahasia Sera
20
BAB 20 Dokter Kandungan
21
BAB 21 Baby kembar
22
BAB 22 Papa Terlibat
23
BAB 23 NAMA SI KEMBAR
24
BAB 24 Pulang Ke Kediaman Kalandra
25
BAB 25 Sera Sakit lagi
26
BAB 26 Sera Kritis
27
BAB 27 Devan Pusing
28
BAB 28 Bertemu
29
BAB 29 Berbicara
30
BAB 30
31
BAB 31
32
BAB 32 Nasehat
33
BAB 33 Mencintai Kia
34
BAB 34 Cerita Barra
35
BAB 35 Kado dari Barra
36
BAB 36 Bertemu Barra
37
BAB 37 Pilihan Cerai
38
BAB 38 Surat Gugatan
39
BAB 39 Gelisah
40
BAB 40 Rencana
41
BAB 41
42
BAB 42
43
bab 43 saat pergi
44
bab 44 hidup baru
45
bab 45 Devan sakit
46
bab 46 rumah sakit
47
bab 47 Wanda
48
bab 48 Ke kantor Barra
49
49 Barra Menolak
50
BAB 50 usaha Barra
51
BAB 51 Perasaan Kiara
52
BAB 52 Menyatakan cinta
53
BAB 53 Meyakin kan Kiara
54
BAB 54 Rasa percaya Kiara
55
BAB 55 Sedih nya Devan
56
BAB 56 Resmi Cerai
57
BAB 57 Video Zayn dan Zara
58
BAB 58 Berdebat
59
BAB 59 Mencari tau
60
BAB 60 Pindah dan pertengkaran
61
BAB 61 Barra bertengkar
62
BAB 62 Ketenangan Kia
63
BAB 63 Persiapan pernikahan
64
BAB 64 Memantapkan hati
65
BAB 65 Mau mendatangi Kiara
66
BAB 66 Bertemu Tuan Roderick
67
BAB 67 Memberi Kabar
68
BAB 68 Sah
69
BAB 69 Bahagia
70
BAB 70 Keresahan Devan
71
BAB 71
72
BAB 72
73
BAB 73
74
BAB 74
75
BAB 75
76
BAB 76
77
NOVEL BARU
78
BAB 77
79
BAB 78
80
BAB 79
81
BAB 80
82
BAB 81
83
BAB 82
84
BAB 83
85
BAB 84
86
BAB 85
87
BAB 86
88
BAB 87
89
BAB 88
90
BAB 89
91
BAB 90
92
BAB 91
93
BAB 92
94
BAB 93
95
BAB 94
96
BAB 95
97
BAB Episode Terakhir
98
BC 1
99
Pengumuman NOVEL BARU
100
BC 2
101
BC 3
102
BC 4
103
BC 5
104
BC 6
105
BC 7
106
BC 8
107
BC 9
108
BC 10
109
BC 11
110
BC 12
111
BAB 13
112
BC 14
113
BC 15
114
BC 16
115
BC 17
116
BC 18
117
BC 19
118
BC 20
119
BC 21
120
BC 22
121
BC 23
122
BC 24
123
BC 25
124
BC 26
125
BC 27
126
BC 28
127
BC 29
128
BC 30
129
BC 31
130
BC 32
131
BC 33
132
BC 34
133
BC 35
134
BC 36
135
BC 37
136
BC 38
137
BC 39
138
BC 40
139
BC 41
140
BC 42
141
Sumpah Wanita Tersakiti
142
BC 43
143
BC 44

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!