Mengunjungi rumah baru.

Rasa kantuk yang tadi dirasakan Devano sirna begitu saja. pria itu beranjak turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.

Melihat waktu telah menunjukkan pukul setengah delapan pagi, Inayah nampak menepuk jidat. "Mana gue bangun kesiangan lagi." Inayah merutuki kebodohannya. baru juga sehari tinggal di rumah mertua, ia sudah bangun kesiangan. dengan cepat Inayah mendahului langkah Devano masuk ke kamar mandi.

"Gue duluan yang mandi Dev... sudah siang nggak enak sama yang lain. Mama juga pasti sudah selesai nyiapin sarapan." ujar Inayah di depan pintu kamar mandi, tepatnya menghalau Langkah Devano.

"Gue kebelet pipis, Nay."

"Gue nggak percaya, itu pasti hanya akal-akalan Lo doang kan, biar Lo duluan ke kamar mandi." ujar Inayah sambil memicingkan mata, pertanda curiga.

" Ya ampun Nay...selain nyebelin ternyata Lo juga suka nggak percayaan ya orangnya." Devano mengacak rambutnya. "Kalau Lo masih nggak percaya, ikut aja sekalian!!!." ujar Devano sambil menarik pelan tangan Inayah, hendak ikut bersamanya masuk ke kamar mandi.

"Apaan sih Lo..." Inayah menarik lengannya dari genggaman tangan Devano.

"Abisnya Lo nggak percaya banget sih." Devano nampak mengulum senyum.

"Enak aja cowok nyebelin itu mau mencemarkan mata suci gue dengan buru_ng empritnya." kesal Inayah setelah menyaksikan tubuh Devano menghilang dibalik pintu kamar mandi. ia pikir ucapannya itu pasti tidak dapat didengar oleh Devano,.tapi sayangnya semua itu tidak sesuai dengan ekspektasi Inayah, buktinya Devano kembali membuka pintu kamar mandi dan menyembulkan kepalanya.

"Bur_ung Garuda kali, Nay...masa iya laki-laki segagah dan seganteng suami Lo ini punya bur_ung emprit, nggak masuk akal banget dong, Nay..."

"Kalo nggak percaya, Lo boleh buktikan aja sendiri!!!." sambung Devano sebelum kemudian mengulum senyum nakalnya pada Inayah yang nampak syok dengan kalimatnya.

"Sia_lan Lo, Dev." dengan gerakan spontan, Inayah menendang pintu kamar mandi hingga membuat gadis itu terdengar meringis. "Argh....sakit banget lagi..." Inayah menyentuh kakinya yang terasa nyeri, tapi untungnya hanya sekedar nyeri tidak sampai terkilir.

*

"Selamat pagi, sayang...!!." suara lembut mama Fana menyambut kedatangan Devano dan Inayah di meja makan. bukan hanya anggota keluarga inti saja yang kini telah mengisi meja makan tetapi Zena pun nampak menempati salah satu kursi di sana. demi sang pujaan hati, gadis itu bela-belain datang pagi-pagi sekali.

"Pagi mah...pagi semua." Devano dan Inayah menjawab di waktu yang hampir bersamaan.

"Kompak amat sih pengantin baru kita, pagi ini." goda Lana sambil mengulum senyum.

"Pagi-pagi rambutnya udah pada basah aja nih." sambung gadis itu yang masih tetap melontarkan kalimat menggoda yang ditujukan pada pengantin baru yang kini telah bergabung di meja makan.

"Lana..." tegur mama Fana.

Zevano yang duduk di samping Adik perempuannya itu lantas berdecak mendengar ucapan menggoda Lana. "Kayak kamu paham saja tentang orang dewasa, dek." Zevano menggelengkan kepalanya.

Lana hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. "Lana kan sering baca novel, mas, dan biasanya di cerita novel-novel pasangan pengantin baru itu pasti pada keramas usai_." Lana sengaja tidak melanjutkan kalimatnya, namun kedua tangannya terlihat nakal dengan memperagakan gerakan aneh, dan hal itu sontak saja membuat tubuh Inayah menegang seketika. Ia tidak menyangka jika kebiasaannya keramas setiap pagi tersebut justru akan memancing pikiran negatif anggota keluarga suaminya.

"Lana...ayo lanjutkan sarapannya!!!." kalau sudah ayahnya yang angkat bicara sudah pasti Lana tak berani lagi bersuara. Papa Riza menampilkan wajah datarnya, tetapi siapa sangka dalam hati pria itu pun sedang menahan senyum. bagaimana tidak, kalimat-kalimat menggoda yang ditujukan pada Devano pagi ini pernah juga ia dapatkannya di saat masih pengantin baru dahulu.

Jika sebelumnya saat sarapan bersama Zena terasa sangat spesial bagi Devano, tapi kali ini pemuda itu merasa perasaannya biasa saja. Dan kebiasaan Devano yang kerap kali diam-diam mencuri pandang ke arah Zena, kini seakan tak tertarik lagi untuk melakukan kebiasaannya itu. sejujurnya Devano merasa bingung sendiri dengan perasaan serta perubahan dalam dirinya saat ini.

"Gimana mas, jadi nggak hari ini mengajak istri kamu mengunjungi rumah baru kalian???." tanya mama Fana setelah beberapa saat kemudian.

"Rumah baru????." ulang Inayah. Sejenak Inayah menoleh pada Devano.

"Iya sayang...seminggu sebelum kalian menikah, mas Deva sudah menyiapkan rumah baru untuk hunian baru kalian." mama Fana yang menjawab kebingungan di wajah menantunya.

*

"Kenapa nggak tinggal di rumah peninggalan nyokap gue saja sih, Dev???." dari raut wajahnya terlihat jelas jika Inayah menginginkan mereka tinggal saja di rumah peninggalan ibunya yang kini telah resmi menjadi miliknya, setelah Devano menjadikan rumah tersebut sebagai salah satu mahar pernikahan untuknya. kini pasangan pengantin baru tersebut sedang berada di perjalanan menuju sebuah kawasan cluster.

"Nay...kalau kita tinggal di rumah itu, kesannya gue numpang di rumah Lo. apapun alasan sampai kita menikah, gue tetap berkewajiban memberikan kenyamanan terhadap Lo sebagai istri gue, dan salah satunya adalah mempersiapkan hunian yang layak dari hasil kerja keras gue sendiri, Nay...." Devano berusaha memberikan pengertian pada Inayah dan intonasi pria itu pun terdengar begitu lembut sehingga Inayah tak kuasa untuk tetap menolak. Jika seandainya pernikahan mereka berjalan sebagaimana pasangan suami istri pada umumnya, menikah atas dasar cinta, mungkin Inayah akan merasa terharu dengan apa yang telah dilakukan oleh Devano.

"Baiklah..." pada akhirnya Inayah pun pasrah dengan keputusan Devano.

Kurang dari setengah jam akhirnya mobil Devano memasuki kawasan cluster. Setibanya di depan cluster miliknya, tanpa membuang waktu Devano segera mengajak Inayah masuk ke dalam.

"Dev..."

"Hem."

"Sepertinya rumah ini terlalu besar untuk kita berdua."

"Jika menurut Lo rumah ini terlalu besar buat kita berdua, nanti kita buat anak yang banyak biar rame, gampang kan..." jawab Devano dengan entengnya.

"Omongan Lo mulai ngaco ya..." ujar Inayah sebelum berlalu menuju ke arah dapur untuk melihat-lihat suasana di sana. sementara Devano, pria itu terlihat mengikuti langkah istrinya.

"Kalo entar kita udah pisah, Lo pasti bakal ngajak istri baru Lo buat tinggal di sini kan??." sembari bergumam Inayah mengulas senyum tipis. Entah apa arti dari senyumannya tersebut, hanya Inayah yang tahu.

"Kita baru nikah dua hari Loh, Nay... Bisa nggak sih nggak perlu membahas tentang perpisahan!!!."

Inayah menolehkan pandangan. "Jangan lupa Dev...!!pernikahan kita bersyarat, dalam kurun waktu dua tahun status kita akan berubah menjadi mantan suami-istri."

Bibirnya tersenyum tetapi entah mengapa hatinya terasa nyeri ketika mengucapkan kalimat tersebut. meski sejak awal ia sudah tahu seperti apa ending dari pernikahannya bersama Devano nantinya, namun tetap saja hati Inayah terasa perih karena harus menyandang status janda diusia muda.

Devano terdiam, sebab apa yang dikatakan Inayah benar adanya. sesuai kesepakatan, pernikahan mereka akan berakhir dua tahun mendatang, tapi entah mengapa Devano tak suka saat Inayah membahas tentang perpisahan.

Terpopuler

Comments

Wirda Wati

Wirda Wati

🤣🤣🤣🤣

2025-03-14

0

rae

rae

/Facepalm//Facepalm/

2025-02-28

0

Mrs.Riozelino Fernandez

Mrs.Riozelino Fernandez

klo sama2 merasa berat ya jangan pisah...
ngomong dari hati ke hati,terutama Deva,kamu bisa mempertahankan Naya...
karena istri itu biasanya punya perasaan tersendiri pada suami...

2024-08-21

0

lihat semua
Episodes
1 Putri Inayah.
2 Kekecewaan orang tua Devano.
3 Akhirnya menemukannya.
4 Tamparan Inayah.
5 Bertemu dengan kedua orang tua Devano.
6 Keputusan orang tua Devano.
7 Iba pada gadis itu.
8 Kontrak pernikahan.
9 Ibarat dihujam ribuan jarum.
10 Melamar.
11 Kedatangan Zena.
12 Kepergok oleh sahabat.
13 Berterus terang pada sahabat.
14 Pengakuan mengejutkan Alex.
15 Pernikahan Devano dan Inayah.
16 Berada di dalam satu kamar.
17 Menyambut menantu baru.
18 Perasaan aneh.
19 Tidur seranjang.
20 Mengunjungi rumah baru.
21 Reuni.
22 Merasa ada yang tidak beres.
23 Sesuatu yang sudah seharusnya terjadi.
24 Menjalani rumah tangga yang sesungguhnya.
25 Perkelahian antara Devano dan Pandu.
26 Pengakuan Laura tentang hubungan Devano dan Inayah.
27 Ketakutan Inayah.
28 Kecurigaan Devano.
29 Profesionalitas kerja.
30 Ular berbisa.
31 Misteri dibalik seorang Diana Larasati.
32 Berniat merebut.
33 Kecurigaan Inayah terhadap Laura.
34 Pegawai baru.
35 Luka dibalik sikap ceria seorang Inayah.
36 Di bayang-bayangi kejadian di masa lalu.
37 Di Landa Frustasi.
38 Perlahan terungkap.
39 Akhirnya terkuak.
40 Memupus dendam.
41 Perjodohan Zena.
42 Tindakan Zevano.
43 Ujian berbalas kebahagiaan.
44 Ungkapan perasaan.
45 Berita bahagia.
46 Menyadari perubahan sikap Zena.
47 Abimana Putra Sanjaya.
48 Keputusan Zevano.
49 Rencana konferensi pers.
50 Calon istri.
51 kedatangan Pandu.
52 Kebaikan memang selalu mampu menyentuh hati.
53 Malu bukan main.
54 Saling menerima.
55 Cemburu????
56 Hari pernikahan Zevano dan Zena.
57 RESEPSI PERNIKAHAN.
58 Malam pertama.
59 Baby girl.
60 Menjalani kehidupan yang damai.
61 Episode terakhir.
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Putri Inayah.
2
Kekecewaan orang tua Devano.
3
Akhirnya menemukannya.
4
Tamparan Inayah.
5
Bertemu dengan kedua orang tua Devano.
6
Keputusan orang tua Devano.
7
Iba pada gadis itu.
8
Kontrak pernikahan.
9
Ibarat dihujam ribuan jarum.
10
Melamar.
11
Kedatangan Zena.
12
Kepergok oleh sahabat.
13
Berterus terang pada sahabat.
14
Pengakuan mengejutkan Alex.
15
Pernikahan Devano dan Inayah.
16
Berada di dalam satu kamar.
17
Menyambut menantu baru.
18
Perasaan aneh.
19
Tidur seranjang.
20
Mengunjungi rumah baru.
21
Reuni.
22
Merasa ada yang tidak beres.
23
Sesuatu yang sudah seharusnya terjadi.
24
Menjalani rumah tangga yang sesungguhnya.
25
Perkelahian antara Devano dan Pandu.
26
Pengakuan Laura tentang hubungan Devano dan Inayah.
27
Ketakutan Inayah.
28
Kecurigaan Devano.
29
Profesionalitas kerja.
30
Ular berbisa.
31
Misteri dibalik seorang Diana Larasati.
32
Berniat merebut.
33
Kecurigaan Inayah terhadap Laura.
34
Pegawai baru.
35
Luka dibalik sikap ceria seorang Inayah.
36
Di bayang-bayangi kejadian di masa lalu.
37
Di Landa Frustasi.
38
Perlahan terungkap.
39
Akhirnya terkuak.
40
Memupus dendam.
41
Perjodohan Zena.
42
Tindakan Zevano.
43
Ujian berbalas kebahagiaan.
44
Ungkapan perasaan.
45
Berita bahagia.
46
Menyadari perubahan sikap Zena.
47
Abimana Putra Sanjaya.
48
Keputusan Zevano.
49
Rencana konferensi pers.
50
Calon istri.
51
kedatangan Pandu.
52
Kebaikan memang selalu mampu menyentuh hati.
53
Malu bukan main.
54
Saling menerima.
55
Cemburu????
56
Hari pernikahan Zevano dan Zena.
57
RESEPSI PERNIKAHAN.
58
Malam pertama.
59
Baby girl.
60
Menjalani kehidupan yang damai.
61
Episode terakhir.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!