Ibarat dihujam ribuan jarum.

"Iya, Devano memang calon suami aku." jawaban lugas diberikan oleh Inayah atas pertanyaan dari mantan kekasihnya itu.

Ardi tersenyum kecut. "Jadi perselingkuhan kalian dulu itu benar adanya." ucap Ardi pada Inayah sebelum sesaat kemudian melirik sinis pada Devano yang berdiri tepat di samping Inayah.

"Benar atau enggak, sekarang bukan lagi urusan kamu. dan jangan lupa Ardi, dulu kamu sendiri yang sudah memutuskan hubungan kita secara sepihak tanpa mau mendengar penjelasan apapun dari aku, jadi lupakan masa lalu !!!. Lagi pula sekarang kamu sudah ada Alia, lalu untuk apa meminta kesempatan dariku???."

Tak lama setelah Inayah mengucapkan kalimat itu, seorang gadis turun dari mobilnya kemudian menghampiri mereka bertiga.

"Sayang..." seru gadis yang tak lain adalah Alia, kekasih Ardi. "Kamu ngapain di sini???." pertanyaan gadis itu ditujukan pada kekasihnya, tapi lirikannya tertuju pada Inayah.

Bukannya menjawab pertanyaan Alia, Ardi justru mendengus kesal menyadari kedatangan calon istrinya itu. Ya, rencananya dua Minggu lagi mereka akan segera menikah. Lucu kan, di saat dua Minggu lagi ia akan menikahi Alia, Ardi justru meminta kesempatan dari Inayah untuk memperbaiki hubungan mereka. Dasar pemuda serakah....

Ya, Setelah persiapan pernikahan mereka hampir sembilan puluh persen, Ardi baru menyadari jika perasaannya terhadap Alia hanya sebatas rasa penasaran, bukannya perasaan cinta seperti yang dirasakannya terhadap Inayah. dan siapa sangka ketika ia berusaha mencari kabar tentang mantan kekasihnya itu, secara tidak sengaja ia melihat Inayah bersama dengan Devano ketika mendatangi sebuah resto di mana ia dan Alia janjian siang ini.

"Ayo, sayang!!!." Devano merangkul pinggang Inayah, mengajak gadis itu beranjak menuju mobilnya berada.

Jika saja tidak dalam situasi terjepit seperti ini, bisa di pastikan Inayah sudah menghempas tangan Devano dari pinggangnya, apalagi pemuda itu memanggilnya dengan panggilan sayang, terdengar sangat menggelikan di indera pendengaran Inayah.

Sadar akan sandiwara Devano, Inayah lantas mengiyakan ajakan pria itu tanpa banyak protes, berlalu meninggalkan Ardi yang masih menatap kepergian mereka, tak peduli dengan sorot kekecewaan di mata indah Alia.

"Lo masih sayang ya sama mantan kekasih Lo itu???." tanya Devano setelah mobilnya bergerak meninggalkan resto.

"Ngomong apa sih Lo....lagian gue bukan tipikal cewek yang mau menerima barang bekas." bagi Inayah mantan tak berbeda dengan barang bekas, dan barang bekas tempatnya di tong sampah bukannya untuk di terima lagi.

"Bagus deh kalo gitu. Lagian calon suami Lo jauh lebih ganteng dari mantan kekasih terkutuk Lo itu." tukas Devano dengan penuh percaya dirinya.

"Pede banget sih Lo..."

"Lah, emang gue ganteng kan."

Inayah tersenyum, lebih tepatnya senyum meledek. "sayangnya kegantengan Lo nggak mampu menaklukkan hati, Zena." ujar Inayah di sisa senyumnya.

"Serius amat." tukas Inayah, menyaksikan raut wajah Devano berubah datar seketika.

" Lo nggak perlu khawatir, gue nggak bakal ngomong ke siapa-siapa kok kalo Lo naksir sama si Zena." imbuh Inayah. Ya, sejak duduk di bangku sekolah menengah atas Inayah sudah tahu tentang perasaan Devano terhadap Zena, dan Inayah pun tahu jika pria yang disukai oleh Zena bukannya Devano melainkan saudara kembarnya, Zevano. Tetapi Zena yang tidak tahu menahu tentang perasaan Devano terhadap dirinya bersikap biasa saja, bahkan tak jarang gadis itu meminta bantuan dari Devano, mengingat sejak kecil hubungan antara ia, Devano, dan juga Zevano sangat dekat.

Sampai mobil Devano tiba di depan gedung Galaxy group, pria itu tak banyak bicara lagi. Kalimat Inayah tentang perasaannya terhadap anak dari sahabat baik ibunya tersebut mampu membungkam mulut Devano. Tidak dapat dipungkiri, hingga detik ini belum ada seorang gadis pun yang mampu menggeser nama Zena di hati Devano.

Tanpa di sadari Inayah ternyata Ayu melihatnya turun dari mobil Devano.

"Nggak salah Nay...barusan Lo turun dari mobil Deva???." pertanyaan pertama yang didengar Inayah ketika ia tak sengaja bertemu dengan ayu di depan pintu masuk utama gedung.

Inayah sampai salah tingkah, harus memberikan jawaban seperti apa pada sahabatnya itu. Tapi untungnya dalam situasi dan kondisi tertentu otaknya bisa di ajak kerja sama dengan baik sampai sebuah alasan pun tiba-tiba terlintas di pikirannya.

"Tadi kebetulan dia nemuin gue lagi jalan kaki di depan, terus bareng deh... mungkin karena nggak mau gue nyampenya telat terus makan gajih buta, makanya dia ngasih gue tumpangan." Inayah mengucapkan apa yang terlintas di pikirannya saat ini.

Ayu manggut-manggut, sepertinya percaya dengan alasan logis Inayah. Setelahnya, Inayah pun mengalihkan topik pembicaraan seraya berjalan melintas di lobby menuju ke arah lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai di mana ruangan mereka berada.

Tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul lima sore. Inayah bersiap untuk pulang.

Setelah beberapa saat menempuh perjalanan, kini kereta besi berwarna putih hadiah dari ibunya sewaktu Inayah berulang tahun yang kedua puluh tahun tersebut memasuki gerbang rumahnya.

Seandainya Devano tidak menyampaikan padanya jika rumah tersebut telah dibeli oleh Pria itu, mungkin saat ini Inayah sudah mengamuk melihat semua barang-barang di rumah tersebut diangkut oleh biro jasa angkutan barang. bahkan guci-guci kesayangan ibunya pun turut di angkut ke dalam mobil atas perintah ibu tirinya. selain munafik ternyata istri baru ayahnya itu juga serakah.

Cukup lama Inayah berdiri terpaku menyaksikan aktivitas beberapa orang pria yang mengangkut keluar barang-barang dari dalam rumah hendak menaikkannya ke dalam sebuah truk, hingga ucapan pedas ibu tirinya menarik kesadaran Inayah dari lamunannya. "Cepat kemasi barang-barang kamu, rumah ini sudah laku terjual!!!. dan satu lagi, sekarang kamu sudah bekerja dan punya penghasilan sendiri akan lebih baik jika kamu mencari tempat tinggal sendiri, lagi pula kamu sudah dewasa jangan terus-terusan bergantung pada orang tua!!!." dengan wajah judesnya wanita itu berkata demikian, setelah menjual rumah peninggalan ibunya Inayah.

Inayah diam saja, tak berniat merespon kalimat judes ibu tirinya.

Melihat mobil suaminya memasuki gerbang rumah, ibu tiri Inayah lantas melangkah menghampiri.

"Pah..." wanita itu menyalami suaminya. bagaikan seekor rubah betina, wanita itu kini berubah lemah lembut, jauh berbeda ketika bersikap pada Inayah beberapa saat yang lalu.

"Inayah tidak mau ikut bersama kita pindah ke rumah baru, pah. mama sudah memaksa tapi Inayah tetap saja ingin tinggal terpisah dari kita, alasannya rumah baru kita jaraknya terlalu jauh dari tempatnya bekerja." dengan gaya manjanya ibu tiri Inayah menyampaikan kebohongan itu pada suaminya tepat dihadapan Inayah, dan yang lebih menyakitkan lagi bagi Inayah, ayahnya percaya begitu saja kepada istri barunya itu tanpa mencari tahu kebenarannya lebih dulu dari Inayah.

"Jika itu sudah menjadi keputusan kamu, papa tidak akan melarangnya Nay. Lagi pula kamu sudah dewasa, sudah bisa menentukan jalan hidup kamu sendiri!!." kalimat ayahnya bagaikan seribu jarum yang menusuk jantung Inayah di saat yang bersamaan sekaligus, hingga gadis itu tak dapat berkata apa-apa. menangis pun rasanya percuma, belum tentu ayahnya akan peduli dengan air matanya.

Memang Inayah tak pernah berniat ikut pindah bersama ke rumah baru tersebut, tetapi sebagai seorang anak, Inayah berharap ayahnya masih punya hati nurani untuk mengajaknya bersama walaupun hanya sekedar basa-basi. sepertinya ayahnya memang sudah tidak peduli lagi pada Inayah, mungkin jika suatu saat nanti ia tak lagi ada di muka bumi ini sekalipun tidak akan ada pengaruhnya bagi pria itu.

Terpopuler

Comments

Dewi Sariyanti

Dewi Sariyanti

bapaknya itu bodoh apa gimana sih, moga2 cepet sadar trus bakal nyesel nanti nya.

2025-01-05

0

nuraeinieni

nuraeinieni

jgn berkecil hati inayah,,,toh kamu sebentar lagi menikah dan pnx keluarga sendiri,,;biarkan papamu hidup senang dgn ibu tiri,suatu saat nanti papamu akan menyesal.

2024-08-06

0

Badelan

Badelan

nggak semua tiri jahat, contohnya ashanty

2024-07-31

1

lihat semua
Episodes
1 Putri Inayah.
2 Kekecewaan orang tua Devano.
3 Akhirnya menemukannya.
4 Tamparan Inayah.
5 Bertemu dengan kedua orang tua Devano.
6 Keputusan orang tua Devano.
7 Iba pada gadis itu.
8 Kontrak pernikahan.
9 Ibarat dihujam ribuan jarum.
10 Melamar.
11 Kedatangan Zena.
12 Kepergok oleh sahabat.
13 Berterus terang pada sahabat.
14 Pengakuan mengejutkan Alex.
15 Pernikahan Devano dan Inayah.
16 Berada di dalam satu kamar.
17 Menyambut menantu baru.
18 Perasaan aneh.
19 Tidur seranjang.
20 Mengunjungi rumah baru.
21 Reuni.
22 Merasa ada yang tidak beres.
23 Sesuatu yang sudah seharusnya terjadi.
24 Menjalani rumah tangga yang sesungguhnya.
25 Perkelahian antara Devano dan Pandu.
26 Pengakuan Laura tentang hubungan Devano dan Inayah.
27 Ketakutan Inayah.
28 Kecurigaan Devano.
29 Profesionalitas kerja.
30 Ular berbisa.
31 Misteri dibalik seorang Diana Larasati.
32 Berniat merebut.
33 Kecurigaan Inayah terhadap Laura.
34 Pegawai baru.
35 Luka dibalik sikap ceria seorang Inayah.
36 Di bayang-bayangi kejadian di masa lalu.
37 Di Landa Frustasi.
38 Perlahan terungkap.
39 Akhirnya terkuak.
40 Memupus dendam.
41 Perjodohan Zena.
42 Tindakan Zevano.
43 Ujian berbalas kebahagiaan.
44 Ungkapan perasaan.
45 Berita bahagia.
46 Menyadari perubahan sikap Zena.
47 Abimana Putra Sanjaya.
48 Keputusan Zevano.
49 Rencana konferensi pers.
50 Calon istri.
51 kedatangan Pandu.
52 Kebaikan memang selalu mampu menyentuh hati.
53 Malu bukan main.
54 Saling menerima.
55 Cemburu????
56 Hari pernikahan Zevano dan Zena.
57 RESEPSI PERNIKAHAN.
58 Malam pertama.
59 Baby girl.
60 Menjalani kehidupan yang damai.
61 Episode terakhir.
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Putri Inayah.
2
Kekecewaan orang tua Devano.
3
Akhirnya menemukannya.
4
Tamparan Inayah.
5
Bertemu dengan kedua orang tua Devano.
6
Keputusan orang tua Devano.
7
Iba pada gadis itu.
8
Kontrak pernikahan.
9
Ibarat dihujam ribuan jarum.
10
Melamar.
11
Kedatangan Zena.
12
Kepergok oleh sahabat.
13
Berterus terang pada sahabat.
14
Pengakuan mengejutkan Alex.
15
Pernikahan Devano dan Inayah.
16
Berada di dalam satu kamar.
17
Menyambut menantu baru.
18
Perasaan aneh.
19
Tidur seranjang.
20
Mengunjungi rumah baru.
21
Reuni.
22
Merasa ada yang tidak beres.
23
Sesuatu yang sudah seharusnya terjadi.
24
Menjalani rumah tangga yang sesungguhnya.
25
Perkelahian antara Devano dan Pandu.
26
Pengakuan Laura tentang hubungan Devano dan Inayah.
27
Ketakutan Inayah.
28
Kecurigaan Devano.
29
Profesionalitas kerja.
30
Ular berbisa.
31
Misteri dibalik seorang Diana Larasati.
32
Berniat merebut.
33
Kecurigaan Inayah terhadap Laura.
34
Pegawai baru.
35
Luka dibalik sikap ceria seorang Inayah.
36
Di bayang-bayangi kejadian di masa lalu.
37
Di Landa Frustasi.
38
Perlahan terungkap.
39
Akhirnya terkuak.
40
Memupus dendam.
41
Perjodohan Zena.
42
Tindakan Zevano.
43
Ujian berbalas kebahagiaan.
44
Ungkapan perasaan.
45
Berita bahagia.
46
Menyadari perubahan sikap Zena.
47
Abimana Putra Sanjaya.
48
Keputusan Zevano.
49
Rencana konferensi pers.
50
Calon istri.
51
kedatangan Pandu.
52
Kebaikan memang selalu mampu menyentuh hati.
53
Malu bukan main.
54
Saling menerima.
55
Cemburu????
56
Hari pernikahan Zevano dan Zena.
57
RESEPSI PERNIKAHAN.
58
Malam pertama.
59
Baby girl.
60
Menjalani kehidupan yang damai.
61
Episode terakhir.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!