Tidur seranjang.

"Lagi di dapur bantuin nyokap buat nyiapin makan malam." jawab Devano ketika Alex sekedar basa-basi menanyakan keberadaan Inayah. Sebagai sahabat Devano, diseberang sana Alex dapat menyadari jika sahabatnya itu tidak senang ketika ia menanyakan keberadaan Inayah. Apalagi tidak berapa lama Devano pamit menyudahi percakapan diantara mereka dengan alasan ingin mandi.

"Kayak kurang kerjaan saja, pake nanyain bini orang segala." mood Devano berubah dongkol setelah mengakhiri panggilan telepon dari Alex.

Inayah yang baru saja selesai membantu menyajikan makanan di meja makan lantas beranjak ke kamar Devano, lebih tepatnya kamar yang akan ditempatinya bersama Devano malam nanti. Di saat yang bersamaan ketika Inayah masuk ke dalam kamar, Devano baru saja keluar dari kamar mandi dengan sehelai handuk yang dililitkan pada pinggangnya.

Untuk beberapa saat Inayah menatap kagum pada ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna dihadapannya itu. Sebagai seorang wanita, Inayah mengakui ketampanan serta keindahan tubuh pria yang kini telah berstatus sebagai suaminya tersebut. Postur dada yang terlihat bidang dan ditambah lagi dengan enam roti sobek yang tercetak jelas pada bagian perut pria itu, membuat pemuda itu terlihat begitu seksi dan juga menawan.

"Gue tau kalau badan gue emang sebagus itu, tapi nggak perlu kayak gitu juga kali ngeliatinnya, Nay...!!!." kalimat narsis Devano sontak saja memancing decak kesal dari mulut Inayah.

"Ck....pede banget sih Lo....lagian siapa juga yang bakal tergoda dengan tubuh Lo itu." tepis Inayah seraya memalingkan wajahnya ke sembarang arah.

Sambil mengulum senyum Devano melangkah ke arah lemari pakaian untuk mengambil pakaian gantinya, sadar betul ucapan istrinya tak sesuai dengan gestur tubuhnya.

Setelah memasang kaosnya, Devano menoleh pada Inayah yang tengah duduk di sisi tempat tidur sambil memainkan ponselnya. "Nay...." Devano berseru dengan raut wajah serius.

"Hem." sahut Inayah tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya. gadis itu tengah sibuk saling berbalas pesan dengan Sahabatnya, Ayu.

"Lo masih ingat nggak sama si Alex, teman SMA kita dulu???."

Inayah menengadahkan wajahnya, menatap Devano. "Masih... Si Alex sahabat kepompong Lo itu kan??." kosa kata kepompong membuat Devano berdecak mendengarnya. Menurut Devano kosa kata yang terdengar lebay tersebut sengaja diucapkan Inayah untuk meledaknya.

"Menurut Lo si Alex itu orangnya gimana sih???."

"Gimana apanya???." Inayah menunjukkan raut wajah bingung atas pertanyaan Devano.

"Lagian dia itu kan sahabat Lo, terus kenapa malah nanya ke gue." sambung Inayah.

Devano berpikir sejenak, mengingat apa yang dikatakan Inayah ada benarnya. Sangat mencurigakan jika ia menanyakan sosok sahabatnya sendiri pada Inayah.

"Maksud gue, Lo kan perempuan, nah sebagai perempuan gimana pandangan Lo tentang sosok Alex???."

Inayah manggut-manggut, sebelum sesaat kemudian menjawab. "Meskipun gue nggak terlalu mengenal sosok Alex, tapi menurut gue dia pemuda yang tampan dan juga cerdas sewaktu masih sekolah dulu."

"deg."

Entah perasaan apa yang kini hinggap di hati Devano, yang jelas ia tak suka mendengar Inayah memuji ketampanan sahabatnya, Alex.

"Lagian kenapa Lo nanyanya aneh begitu sih...??

"Nggak papa...cuma sekedar ingin tahu saja, sebenarnya seperti apa sosok sahabat gue di mata seorang wanita." Devano mencoba menepis kecurigaan di hati Inayah.

"Oh..." Inayah berohria, percaya begitu saja dengan alasan Devano.

"Aneh banget sih Lo Dev, kenapa Lo nggak suka Inayah memuji ketampanan Alex..." batin Devano.

*

Seusai makan malam serta mengobrol santai untuk beberapa saat di ruang tengah, papa Riza meminta Devano mengajak istrinya untuk beristirahat di kamar saat waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam. meski tak ada acara resepsi tetapi menurut papa Riza acara pernikahan keduanya cukup melelahkan.

Inayah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah tiba di kamar.

"Lo yakin mau tidur seranjang sama gue???." pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Devano ketika melihat Inayah hendak menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

Inayah menautkan kedua alisnya. "Terus maunya Lo gue tidur di sofa seperti yang ada di cerita novel-novel, gitu???."

"Bukannya begitu Nay...gue kan cuma nanya doang..." tak ingin malam pertama mereka dilalui dengan perdebatan panjang, Devano memilih mengalah.

"Lagian gue bukan cewek bego kali, ada tempat tidur yang empuk malah milih tidur di sofa. kalau Lo nggak mau tidur seranjang sama gue, ya udah Lo aja yang tidur di sofa!!!." ujar Inayah sambil memasang guling di tengah sebagai pembatas antara dirinya dan Devano nantinya.

Devano ikut mendaratkan bokongnya di sisi tempat tidur yang kosong. "Apa Lo nggak takut kalau sampai gue macem-macemin??."

Kalimat Devano sontak mendapat tatapan tajam dari Inayah. "Coba saja kalau Lo berani macam-macam, gue bakal laporin Lo atas tindakan pelec_ehan."

Kini giliran Devano yang tersenyum geli mendengar pernyataan istrinya itu."Memangnya pasal berapa yang mampu menjerat seorang suami jika berani menyentuh istrinya sendiri???."

"Tau ah... pokoknya awas aja kalau Lo berani macam-macam!!!." ancam Inayah dengan wajah dibuat setegas mungkin.

"Kalau Lo sendiri yang minta, gimana???." goda Devano.

"Nggak bakal....jangan mimpi deh!!." usai berkata demikian, Inayah kembali merebahkan tubuhnya memunggungi Devano.

"Dosa Loh Nay, tidur munggungin suami."

"Bodoh amat..." Inayah menunjukkan sikap tak peduli, padahal nyatanya ia juga mulai terpengaruh ketika Devano membahas tentang dosa.

Tak lama kemudian, Inayah merubah posisi tidurnya jadi terlentang, Tak ingin sampai dilaknat oleh malaikat karena tidur memunggungi suaminya, dan itu berhasil menciptakan senyum tipis di sudut bibir Devano.

Mungkin karena lelah dengan aktivitas mereka seharian, baik Devano dan juga Inayah akhirnya terlelap. di malam pertama mereka tak ada kejadian yang seharusnya terjadi antara pasangan suami istri pada umumnya, keduanya hanya tidur di tempat tidur yang sama hingga pagi menjelang.

"Aaarrrggghhhh....." kalau saja kamar Devano tidak difasilitasi kedap suara bisa dipastikan suara teriakan Inayah akan menggegerkan seisi rumah.

Bukan hanya suara teriakan Inayah saja yang membangunkan Devano tetapi juga pukulan pada lengan kekarnya. Dengan jiwa yang belum terkumpul sempurna, Devano merubah posisinya dengan duduk menghadap ke arah Inayah. "Lo kenapa sih, pagi-pagi sudah teriak-teriak nggak jelas...??."

"Gimana gue nggak teriak melihat Lo dalam kondisi seperti ini." pandangan Inayah jatuh pada dada bidang Devano yang tak tertutup sehelai benang pun. Ya, Devano yang sudah terbiasa tidur bertelan_jang dada, semalam memilih melepas bajunya di saat tidurnya kurang nyaman. Sebenarnya bukan hanya karena kondisi Devano yang bertelanj_ang dada saja yang membuat Inayah syok tapi juga posisi dirinya yang terbangun sambil memeluk tubuh Devano. "Lo pasti sengaja kan ngambil kesempatan ketika gue lagi tidur." tudingan Inayah mampu memancing decakan kesal dari mulut Devano.

"Ck...Lo itu istri gue, kalau gue mau nggak perlu nunggu Lo tidur kali." cetus Devano, tak terima dengan tudingan Inayah.

"Lagian kesalahan ada pada diri sendiri malah nyalahin orang lain." Devano memandang ke arah guling yang semalam menjadi pembatas di antara mereka, dan guling tersebut sudah teronggok tak berharga di lantai. di mana kenyataannya Inayah lah yang menjadi pelaku utama yang tak sengaja menyingkirkan benda tersebut, dan tanpa sadar pula ia memeluk tubuh Devano yang dikiranya guling.

Inayah terdiam, sadar apa yang dikatakan Devano memang benar adanya, kesalahan ada pada dirinya bukannya pada suaminya itu.

Terpopuler

Comments

Wirda Wati

Wirda Wati

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2025-03-14

0

Rini

Rini

🤣🤣🤣

2024-08-16

0

nuraeinieni

nuraeinieni

devano pintar,,,,ambil kesempatan,guling jadi pembatas di singkirkan,,,akhirx mereka tidur berpelukan,,,😃

2024-08-16

0

lihat semua
Episodes
1 Putri Inayah.
2 Kekecewaan orang tua Devano.
3 Akhirnya menemukannya.
4 Tamparan Inayah.
5 Bertemu dengan kedua orang tua Devano.
6 Keputusan orang tua Devano.
7 Iba pada gadis itu.
8 Kontrak pernikahan.
9 Ibarat dihujam ribuan jarum.
10 Melamar.
11 Kedatangan Zena.
12 Kepergok oleh sahabat.
13 Berterus terang pada sahabat.
14 Pengakuan mengejutkan Alex.
15 Pernikahan Devano dan Inayah.
16 Berada di dalam satu kamar.
17 Menyambut menantu baru.
18 Perasaan aneh.
19 Tidur seranjang.
20 Mengunjungi rumah baru.
21 Reuni.
22 Merasa ada yang tidak beres.
23 Sesuatu yang sudah seharusnya terjadi.
24 Menjalani rumah tangga yang sesungguhnya.
25 Perkelahian antara Devano dan Pandu.
26 Pengakuan Laura tentang hubungan Devano dan Inayah.
27 Ketakutan Inayah.
28 Kecurigaan Devano.
29 Profesionalitas kerja.
30 Ular berbisa.
31 Misteri dibalik seorang Diana Larasati.
32 Berniat merebut.
33 Kecurigaan Inayah terhadap Laura.
34 Pegawai baru.
35 Luka dibalik sikap ceria seorang Inayah.
36 Di bayang-bayangi kejadian di masa lalu.
37 Di Landa Frustasi.
38 Perlahan terungkap.
39 Akhirnya terkuak.
40 Memupus dendam.
41 Perjodohan Zena.
42 Tindakan Zevano.
43 Ujian berbalas kebahagiaan.
44 Ungkapan perasaan.
45 Berita bahagia.
46 Menyadari perubahan sikap Zena.
47 Abimana Putra Sanjaya.
48 Keputusan Zevano.
49 Rencana konferensi pers.
50 Calon istri.
51 kedatangan Pandu.
52 Kebaikan memang selalu mampu menyentuh hati.
53 Malu bukan main.
54 Saling menerima.
55 Cemburu????
56 Hari pernikahan Zevano dan Zena.
57 RESEPSI PERNIKAHAN.
58 Malam pertama.
59 Baby girl.
60 Menjalani kehidupan yang damai.
61 Episode terakhir.
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Putri Inayah.
2
Kekecewaan orang tua Devano.
3
Akhirnya menemukannya.
4
Tamparan Inayah.
5
Bertemu dengan kedua orang tua Devano.
6
Keputusan orang tua Devano.
7
Iba pada gadis itu.
8
Kontrak pernikahan.
9
Ibarat dihujam ribuan jarum.
10
Melamar.
11
Kedatangan Zena.
12
Kepergok oleh sahabat.
13
Berterus terang pada sahabat.
14
Pengakuan mengejutkan Alex.
15
Pernikahan Devano dan Inayah.
16
Berada di dalam satu kamar.
17
Menyambut menantu baru.
18
Perasaan aneh.
19
Tidur seranjang.
20
Mengunjungi rumah baru.
21
Reuni.
22
Merasa ada yang tidak beres.
23
Sesuatu yang sudah seharusnya terjadi.
24
Menjalani rumah tangga yang sesungguhnya.
25
Perkelahian antara Devano dan Pandu.
26
Pengakuan Laura tentang hubungan Devano dan Inayah.
27
Ketakutan Inayah.
28
Kecurigaan Devano.
29
Profesionalitas kerja.
30
Ular berbisa.
31
Misteri dibalik seorang Diana Larasati.
32
Berniat merebut.
33
Kecurigaan Inayah terhadap Laura.
34
Pegawai baru.
35
Luka dibalik sikap ceria seorang Inayah.
36
Di bayang-bayangi kejadian di masa lalu.
37
Di Landa Frustasi.
38
Perlahan terungkap.
39
Akhirnya terkuak.
40
Memupus dendam.
41
Perjodohan Zena.
42
Tindakan Zevano.
43
Ujian berbalas kebahagiaan.
44
Ungkapan perasaan.
45
Berita bahagia.
46
Menyadari perubahan sikap Zena.
47
Abimana Putra Sanjaya.
48
Keputusan Zevano.
49
Rencana konferensi pers.
50
Calon istri.
51
kedatangan Pandu.
52
Kebaikan memang selalu mampu menyentuh hati.
53
Malu bukan main.
54
Saling menerima.
55
Cemburu????
56
Hari pernikahan Zevano dan Zena.
57
RESEPSI PERNIKAHAN.
58
Malam pertama.
59
Baby girl.
60
Menjalani kehidupan yang damai.
61
Episode terakhir.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!