Walaupun Devano menjanjikan rumah itu untuknya namun untuk sementara waktu Inayah harus tetap pindah dari rumah itu, mengingat ia belum menjadi istri dari pria itu. Inayah berlalu menuju kamarnya untuk mengemas barang-barangnya.
Dari ambang pintu Inayah menyaksikan kondisi kamarnya yang sebentar lagi akan di tinggalkannya untuk sementara waktu. tak ingin membuang waktu, Inayah kembali melanjutkan langkahnya mengambil dua buah koper dari atas lemari kemudian mulai memasukkan pakaian serta barang-barangnya.
"Untuk sementara waktu Inayah harus pindah dulu dari rumah ini ya, mah!!. tapi mama jangan khawatir, Inayah janji tidak akan lama karena setelah Inayah menikah dengan Devano, Inayah akan kembali lagi ke rumah ini." gumam gadis itu di hadapan foto mendiang ibunya, sebelum kemudian memasukkan benda tersebut ke dalam koper bersama barang-barangnya yang lain. Inayah tak kuasa membendung air matanya, ketika selesai mengemas semua barang-barangnya.
Entah secara kebetulan atau memang tuhan sengaja mengirim Ayu untuk membantu Inayah yang sedang kebingungan memikirkan tempat tinggal untuk sementara, tiba-tiba saja sahabatnya itu menelepon.
"Lo baik-baik saja kan, Nay????." tanya Ayu dari seberang sana, mendengar suara Inayah yang terdengar serak seperti habis menangis.
"Rumah peninggalan nyokap gue sudah laku terjual Yu, dan gue nggak tau harus tinggal di mana untuk sementara ini." Sebenarnya Inayah tidak ingin merepotkan Ayu tetapi ia tidak punya pilihan lain selain mencurahkan isi hatinya pada sahabatnya itu.
"Ya tuhan....Lo nggak usah khawatir Nay, Lo bisa tinggal bareng gue di apartemen!!!." sebagai sahabat baik Inayah tentu saja Ayu tidak habis pikir dengan tindakan tidak tahu diri ayahnya Inayah yang tega menjual rumah peninggalan orang tua dari ibunya Inayah.
"Makasih, Yu, gue janji kalo semua urusan gue udah kelar, gue bakal pindah secepatnya dari apartemen Lo."
"Ngomong apa sih Lo, Nay... Gue malah senang kalo Lo betah tinggal bareng gue. Ya udah, pokoknya gue tunggu Lo di apartemen sekarang!!!." kata Ayu sebelum pamit menyudahi panggilannya.
Dengan langkah gamang Inayah menyeret dua buah koper besar miliknya keluar dari rumah itu, rumah di mana ia tumbuh dan dibesarkan hingga sedewasa sekarang.
Inayah semakin tak kuasa membendung air matanya ketika ia hendak masuk ke mobilnya.
Jika Inayah harus merepotkan sahabatnya guna menampung dirinya sementara waktu, Laura justru tengah bersantai menikmati kamar di rumah baru mereka. rumah baru yang dibeli oleh ayahnya Inayah dari hasil penjualan rumah peninggalan ibunya Inayah. Sangat tidak tahu diri bukan???.
"Rumah ini bagus banget ya mah, ukuran kamarnya pun jauh lebih luas ketimbang kamar aku di rumah yang lama." ujar Laura dengan wajah sumringah sembari mengelus lembut tempat tidur berukuran king size yang kini menjadi tempat tidurnya.
"Jelas dong sayang... Kalau ukuran rumahnya sama saja dengan rumah lama, lalu untuk apa mama susah-susah membujuk papa buat ngejual rumah itu dan membelikan kita rumah ini." ibu dan anak sama-sama tidak tahu diri.
Malam harinya.
Tuan Harianto yang tengah bersantai di ruang tengah, kedatangan tamu yang tidak diundang. siapa lagi kalau bukan Devano dan kedua orang tuanya.
Jujur, papa Riza tidak menyangka jika Inayah adalah putri dari tuan Harianto yang juga merupakan salah seorang pengusaha di tanah air. Pasalnya, Inayah bekerja sebagai pegawai biasa di perusahaan galaxy group sementara ayahnya sendiri merupakan seorang pengusaha yang memiliki perusahaan cukup besar di tanah air, meski tak sebesar galaxy group.
"Mohon maaf sebelumnya tuan Rizaidan, jika menurut anda pertanyaan saya ini kurang sopan. kalau saya boleh tahu, apa maksud dan tujuan tuan beserta keluarga sudi berkunjung ke rumah kami???." dengan hati-hati tuan Harianto bertanya, tidak ingin sampai lawan bicaranya sampai merasa tersinggung.
"Begini tuan, maksud dan tujuan atas kunjungan kami malam ini adalah untuk melamar anak gadis anda untuk anak sulung kami." jawaban papa Riza sontak saja mengejutkan tuan Harianto, begitu pun dengan istrinya. pandangan ibu tiri Inayah spontan beralih pada pemuda tampan yang kini duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya.
Senyum bahagia seketika tercipta di bibir ibu tiri Inayah. tentu saja wanita itu berpikir jika gadis yang dimaksud oleh papa Riza adalah putrinya, Laura.
"Suatu kehormatan bagi kami tuan, jika tujuan kedatangan tuan serta keluarga ingin melamar putri kami." masih dengan wajah secerah mentari pagi ibu tiri Inayah berbicara.
"Kalau begitu tunggu sebentar...saya akan memanggil anak kami." istri tuan Harianto gegas beranjak untuk memanggil putrinya, Laura.
Tak lama kemudian wanita itu kembali bersama seorang gadis muda yang sangat asing di mata kedua orang tua Devano.
Dengan senyum malu-malu Laura menyalami papa Riza serta mama Fana, sebelum kemudian mendaratkan bokongnya di tengah-tengah kedua orang tuanya. Laura yang nampak malu-malu sepertinya belum menyadari jika pemuda dihadapannya itu adalah pemuda yang pernah lihatnya bersama Inayah di restoran tempo hari.
"Maaf tuan, sepertinya telah terjadi kesalahpahaman di sini. Maksud kami adalah putri anda yang bernama Putri Inayah." papa Riza mencoba meluruskan kesalahpahaman yang terjadi.
"Inayah????." ulang istri tuan Harianto tak menyangka, senyum di bibirnya pun perlahan surut. ternyata anak gadis yang dimaksud bukanlah Laura, melainkan Inayah. sebagai seorang suami, tuan Harianto sadar betul akan perubahan sikap istrinya.
"Betul sekali Nyonya. boleh kami bertemu dengan Inayah???." kini mama Fana yang berbicara.
"Maaf Nyonya, tapi mulai hari ini putri kami Inayah, memutuskan untuk tinggal terpisah dari kami. sebagai orang tua kami harus menghargai keputusannya.
Mendengar jawaban ayahnya Inayah, Devano kontan memandang ibu tiri Inayah. Melihat raut wajah wanita paru baya tersebut entah mengapa Devano tak yakin jika Inayah yang ingin tinggal terpisah.
"Kebetulan saya sudah melamar Inayah secara pribadi dan Inayah menerima lamaran saya. Maksud dan tujuan Kedatangan saya serta kedua orang tua saya kesini hanya ingin melamar Inayah secara resmi pada anda selaku orang tua Inayah." seakan bisa membaca pikiran ayahnya Inayah, Devano lantas memberi penjelasan, sehingga tuan Hardianto tidak dapat berbicara apa-apa lagi selain menerima lamarannya.
Percakapan di antara keluarga papa Riza dan ayahnya Inayah terus berlanjut, hingga kedua belah pihak sepakat dengan hari pernikahan Devano dan Inayah yang akan dilangsungkan bulan depan.
Tepat pukul sepuluh malam, papa Riza dan keluarganya pamit meninggalkan kediaman tuan Hardianto.
Setelah kepergian papa Riza dan keluarganya, Laura kembali ke kamarnya dengan wajah uring-uringan. Tak terima rasanya jika Inayah akan menikah dengan putra dari seorang pengusaha kaya. apalagi selain tampan, calon suami Inayah berprofesi sebagai seorang dokter spesialis, semakin besar saja rasa iri dan dengki di hati Laura terhadap saudari tirinya itu.
"Bisa-bisanya pria setampan dokter Devano tertarik sama Inayah??? Apa jangan-jangan dugaan aku bener lagi, dokter Devano sudah ketagihan dengan service yang diberikan Inayah makanya memutuskan untuk menikahi gadis murahan itu???." seperti kata orang, seseorang yang benci terhadap kita pasti akan menggunakan pandangannya sendiri dalam menilai kita, dan itu pastinya adalah penilaian buruk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Wirda Wati
dasar Mak lampir
2025-03-14
0
martina melati
rumah baru lho... koq tahu ortu Devano ? seandainy drumah lama kn wajar...
inaya aja blm tahu lho alamat rumah baru ayah dan ibu tiriny (tmsk sodara tiri, laura)
2024-09-01
1
nuraeinieni
ini si laura gila,,,selaly aja iri sama inayah
2024-08-06
0