Setibanya waktu makan siang, semua anggota keluarga Devano hadir di meja makan, kecuali Zevano, yang sengaja menyibukkan diri di kantor meskipun sedang weekend. Apa lagi tujuan pria itu kalau bukan untuk menghindari gadis bernama Zena. Jika sedang berkunjung seperti itu biasanya Zena baru akan pulang ke rumah orang tuanya pada sore hari, itulah mengapa Zevano lebih memilih berangkat ke kantor meski aktivitas di gedung Galaxy group sedang libur.
"Nay mau mahar apa dari Mas Deva???." tanya papa Riza di sela makan siang mereka. Papa Riza sengaja menggunakan sebutan Mas Deva kala berbicara pada Inayah, seolah mengajarkan pada gadis itu untuk merubah panggilannya terhadap Devano, dan Inayah cukup peka untuk memahami maksud dari calon ayah mertuanya itu.
"Apa saja Om, asal tidak memberatkan mas Deva dan juga tidak merendahkan Inayah." mendengar kalimat bijak yang diucapkan oleh Inayah mampu membuat papa Riza takjub atas jawaban bijak Inayah.
Mendengar Inayah memanggilnya dengan sebutan mas, membuat Devano tersedak dibuatnya.
"Uhukuhukuhuk."
"Pelan-pelan dong makannya mas!!!." mama Fana menyodorkan segelas air ke hadapan putra sulungnya itu.
Sementara Inayah, gadis itu tahu betul penyebab Devano sampai tersedak, Apa lagi kalau bukan karena sebutan mas yang terucap dari bibirnya. Ingin rasanya Inayah menggetok kepala Devano yang terlihat mengulum senyum padanya, setelahnya batuknya mulai reda.
"Rencananya mau ngasih mahar apa buat calon istri, mas???." kini giliran Devano yang mendapat pertanyaan dari ayahnya.
"Mas sudah bertanya perihal mahar sama Nay, pah, tapi Nay tetap bilangnya apa saja asal mas Ikhlas memberinya. Karena jawaban Nay seperti itu, mas berinisiatif untuk memberikan satu unit rumah, satu buah mobil serta satu set perhiasan serta uang tunai sebesar dua ratus sembilan puluh juta rupiah, Sesuai dengan tanggal pernikahan kami nanti, pah." beritahu Devano tentang rencana mahar yang akan di berikan pada calon istrinya nanti.
"Papa setuju, mas." ujar ayahnya.
Kalau saja tidak sedang bersama dengan kedua orang tua Devano serta Zena di sana, mungkin Inayah sudah berteriak histeris mendengar mahar yang akan di berikan oleh Devano untuknya nanti, sangat fantastis untuk ukuran gadis sepertinya. Pasalnya cantik banget, Inayah tak merasa. Berpenampilan yang sangat menarik perhatian, apalagi, lalu kenapa Devano sampai berniat memberikan mahar yang cukup fantastis untuk dirinya, apalagi pernikahan mereka hanya akan berlangsung selama dua tahun, ingat....dua tahun.
Mendengar pembahasan di meja makan saat ini membuat pikiran Zena sudah kemana-mana.
"Zena jadi nggak sabar menunggu hari pernikahan mas Deva dan Inayah, aunty. Apalagi kalau mereka sudah punya anak nanti, anak-anaknya pasti lucu-lucu dan mengemaskan." Zena terlihat antusias, membayangkan menggendong keponakannya, buah cinta Devano dan Inayah.
Kini giliran Inayah yang terdesak mendengar komentar Zena. Inayah segera mengambil segelas air putih dihadapannya kemudian meneguknya hingga tersisa setengahnya.
"Ayahnya ganteng, ibunya pun cantik, ada lesung pipinya lagi. Zena yakin nantinya cucu-cucu aunty pasti cantik dan ganteng." Zena yang berpikir pernikahan Devano dan Inayah adalah pernikahan yang biasa terjadi pada umumnya, di mana setelah menikah pasangan suami istri akan memadu kasih hingga lahirlah buah cinta di antara mereka, terus membayangkan bagaimana visual anak-anak Devano dan Inayah kelak.
"Aamiin.... kita doakan saja!!!." ujar mama Fana. Meski ia sangat mengharapkan kehadiran seorang cucu dari pernikahan Devano dan Inayah, tapi mama Fana sama sekali tidak berniat untuk membuat menantunya merasa tertekan dengan kehadiran seorang anak di dalam pernikahan mereka nanti, karena wanita itu tahu betul bagaimana tersiksanya jika batin tertekan. Sebelum bertemu dan menikah dengan papa Riza, mama Fana pernah merasakan hal itu dan ia tidak ingin sampai menantunya merasakan hal yang sama dengan dirinya dulu. Baginya putra dan menantunya menjalani biduk rumah tangga yang bahagia saja sudah cukup baginya.
Tatapan teduh serta harapan mama Fana membuat rasa bersalah kembali mencuat di benak Inayah. "Maafin Inayah Tante....tapi Inayah tidak punya pilihan lain. Jika Inayah tidak menerima tawaran Devano untuk menikah, Inayah pasti akan kehilangan rumah peninggalan mamah untuk selamanya." batin Inayah dilanda perasaan bersalah pada ibunya Devano.
Pukul satu siang Devano mengantarkan Inayah kembali ke apartemen Ayu.
"Jangan ngeliatin gue kayak gitu, entar Lo jatuh cinta beneran lagi ke gue!!!." tegur Devano ketika menyadari Inayah yang sejak tadi terus meliriknya dengan Ekor mata, ketika mereka diperjalanan kembali ke apartemen Ayu.
"Jatuh cinta???? jangan mimpi Lo!!!." Inayah memutar bola matanya dengan malas mendengar statement Devano. "Justru gue merasa prihatin sama Lo, mencintai seorang gadis, eh.... gadis itu malah sukanya ke Zevano. Miris banget sih nasib percintaan Lo, cinta bertepuk sebelah tangan." statement Inayah ibarat menghempas Devano dari langit ke bumi.
"Ck...kayak nasib percintaan Lo baik-baik aja. Ingat...nasib kita nggak jauh berbeda." sahut Devano tak terima dengan omongan Inayah.
"Nasib percintaan gue masih lumayan ketimbang nasib percintaan Lo. Setidaknya gue pernah saling sayang ama mantan gue, nggak kayak Elo jatuh cinta sendirian." sepertinya aura permusuhan masih sulit dielakan di antara keduanya.
"Cerewet banget sih Lo, nggak kebayang kalo anak-anak gue punya nyokap kayak Lo." cetus Devano.
"Pede amat Lo ...Emangnya siapa juga yang mau ngelahirin anak-anak Lo." sahut Inayah tak mau kalah.
Perdebatan tak berfaedah antara Devano dan Inayah berakhir setelah mobil Devano tiba di depan gedung apartemen Ayu. Setelah menyaksikan Inayah memasuki pintu utama gedung apartemen, Devano lantas kembali melajukan mobilnya menuju rumah sahabatnya yang baru saja kembali ke tanah air setelah menyelesaikan studinya di Amerika.
Sepertinya kedatangan Inayah sudah di nantikan oleh Ayu. Buktinya gadis itu sudah berdiri di depan pintu apartemen ketika Inayah baru saja membuka pintu dari arah luar.
"Gue ganti baju dulu, setelah itu gue janji bakal cerita semuanya ke Elo." ujar Inayah, seolah paham akan sorot mata sahabatnya itu.
"Ok." sahut Ayu. Ia memilih menunggu Inayah di sofa ruang tengah apartemen.
Tak lama kemudian Inayah kembali dari kamarnya dengan mengenakan kaos oversize berwarna putih serta hot pant sebatas paha.
Inayah mendaratkan bobotnya di sofa, berhadapan dengan ayu yang tengah duduk menyilangkan kedua kakinya sambil menatapnya tak sabar.
Inayah menghela napas dalam untuk sejenak, sebelum kemudian mulai berbicara.
"Gue nggak bakal menepis apa yang udah Lo lihat di mall tadi. Tadi Devano emang ngajakin gue buat beli cincin." ada jedah beberapa saat sebelum kemudian Inayah kembali melanjutkan ceritanya. Sementara Ayu masih setia mendengarkan tanpa berniat untuk menyela.
"Kami mencari cincin pernikahan, karena rencananya bulan gue dan Devano bakalan menikah, Yu." mau tak mau Inayah harus berterus terang pada Ayu, tak peduli bagaimana reaksi serta komentar sahabatnya itu nantinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
nuraeinieni
jgn gitu inayah,,jgn ungkit terus tentang cintax deva yg bertepuk sebelah tangan,,ntar sama2 bucin loh
2024-08-06
0
secret
nexttt💪🏻💪🏻
2024-07-19
0