Sore harinya, Devano yang bersiap meninggalkan rumah sakit kembali dibuat Frustasi setelah membaca pesan dari saudara kembarnya, Zevano. Di mana pesan singkat tersebut menyampaikan pesan dari papa Riza yang meminta Devano untuk segera mengajak Inayah ke rumah malam ini juga.
Pandangan Devano beralih pada benda bermerk Vacheron Constantin yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya. dimana saat ini benda tersebut telah menunjukkan pukul setengah lima sore dan itu artinya setengah jam lagi jam kerja di perusahaan galaxy group akan segera usai.
Tanpa membuang waktu, Devano bertolak meninggalkan rumah sakit menuju gedung Galaxy group. Devano memilih melewati jalanan yang tidak terlalu padat untuk menghindari kemacetan, apalagi di jam segini para pekerja kantoran berbondong-bondong kembali ke rumah masing-masing usai berkegiatan.
Dua puluh lima menit kemudian mobil Devano pun tiba di depan gedung Galaxy group. Masih ada waktu lima menit sebelum jam pulang pegawai, itu artinya saat ini Inayah masih berada di dalam gedung.
Lima menit menunggu di dalam mobilnya, akhirnya Devano melihat Inayah berjalan keluar gedung. pemuda itu lantas turun dari mobilnya, setelah meletakkan jas kebesarannya di jok belakang mobilnya.
Tanpa meminta persetujuan dari pemilik tubuh, Devano membawa Inayah ke dalam mobilnya tak peduli dengan penolakan gadis itu. Setelah memastikan Inayah duduk di bangku samping kemudi, Devano lantas melangkah mengitari mobil lalu kemudian masuk ke mobilnya.
"Apa-apaan sih, Lo???." kesal Inayah sambil mengibaskan tangannya yang sedikit nyeri akibat genggaman tangan besar Devano.
"Lo harus ikut gue sekarang !! kalo Lo masih banyak alasan, jangan menyesal kalo gue sampai ngelakuin apa yang udah Lo tuduhin ke gue."
Ancaman Devano mampu membuat Inayah merinding mendengarnya.
"Dev....Gue kan cuma becanda kemaren, lagian Lo duluan sih yang mulai." untuk pertama kalinya Inayah memasang wajah memelas di depan Devano.
Devano menghela napas panjang mendengarnya.
"Oke, untuk yang waktu itu gue ngaku salah, gue salah karena sudah buat hubungan Lo dan Ardi putus. Tapi masalahnya, sekarang kita bukan lagi mahasiswa yang bisa menjadikan hal seserius itu sebagai lelucon, Nay. Gue dan Elo, kita sama-sama sudah dewasa sekarang, mungkin gue bisa ngerti karena gue pun pernah ngelakuin kesalahan yang sama ama Lo, tapi tidak dengan kedua orang tua gue, Nay. Mereka berpikir kalo pengakuan Lo di restoran kemarin itu benar, apalagi Lo sampai nangis." dari usia mereka masih duduk di taman kanak-kanak hingga mereka berusia dua puluh enam tahun, baru kali ini dua orang insan berbeda gender tersebut bicara baik-baik.
"Terus mau Lo, gue harus gimana sekarang???." tanya Inayah pada akhirnya.
"Lo harus ikut gue, dan jelasin semuanya ke nyokap bokap, gue!!!."
Inayah tidak punya pilihan lain selain mengiyakan ajakan Devano, dengan begitu ia pun tidak akan lagi berurusan dengan pemuda itu. "Baiklah." kata Inayah setelah berpikir untuk beberapa saat.
Setelah menempuh perjalanan kurang dari satu jam, kini mobil Devano nampak memasuki gerbang menjulang tinggi. dari balik kaca mobil, Inayah menyaksikan rumah mewah berlantai tiga dihadapannya itu. Bangunan yang jauh lebih besar dan mewah dari rumah orang tuanya.
"Ayo turun!!." ajakan Devano membuyarkan lamunan Inayah.
Inayah hanya meresponnya dengan anggukan sekilas sebelum kemudian membuka pintu dan melangkah turun dari mobil Devano.
Devano mengajak Inayah langsung saja menuju ruang tengah, di mana saat ini kedua orang tuanya telah menanti kedatangan mereka, sebab sebelumnya Devano telah mengabarkan pada ayah dan ibunya akan kedatangan dirinya dan Inayah.
Kedatangan Inayah di sambut senyuman ramah dari sepasang suami istri yang tak lain adalah kedua orang tua Devano. melihat wajah ayahnya Devano, Inayah jadi tahu ketampanan Devano dan Zevano ternyata menurun dari ayahnya. Ya, meskipun menurut Inayah, Devano adalah pria paling menyebalkan di muka bumi ini tapi diakui Inayah jika pemuda itu memang memiliki paras yang tampan, postur tubuh yang tinggi dan tegap, serta kulit yang putih bersih. Mungkin jika dibandingkan dengan dirinya, kulit Devano lebih putih ketimbang dirinya yang rajin perawatan.
Bukan hanya ayahnya Devano yang masih terlihat gagah di usianya yang hampir memasuki lima puluh tahun, tapi ibunya Devano pun masih terlihat cantik dan awet muda di mata Inayah. Dari tatapan ayahnya Devano terlihat jelas betapa besarnya cinta pria paru baya tersebut terhadap istrinya. benar-benar keluarga Cemara menurut Inayah, sangat jauh berbeda dengan keluarganya. Di mana ayahnya memutuskan menikah lagi dengan seorang janda beranak satu di saat kuburan ibunya masih basah, dan selalu mempersalahkan dirinya yang notabenenya anak kandung demi membela istri barunya.
"Assalamualaikum, Om...Tante...." Inayah menyalami kedua orang tua Devano. Inayah selalu mengedepankan adab terhadap orang tua, bukan hanya kepada kedua orang tua Devano tapi kepada kedua orang tua Ayu pun Inayah selalu seperti itu.
"Waallaikumsalam, sayang...." jawab Mama Fana. Sementara Inayah, dipanggil dengan sebutan sayang membuat rasa bersalah semakin mencuat di benak Inayah, dikarenakan keisengannya membuat ibu kandung Devano tersebut jadi kepikiran.
"Waallaikumsalam." papa Riza pun turut menjawab salah Inayah.
Inayah yang duduk berdampingan dengan Devano duduk bagaikan terdakwa di depan kedua orang tua Devano.
"Jika ada yang ingin kamu sampaikan jangan sungkan untuk menyampaikannya dihadapan kami, nak!!!." ujar papa Riza ketika melihat Inayah seperti ingin menyampaikan sesuatu.
Kesepuluh jemari Inayah terlihat sibuk memilin ujung kemejanya, seperti sedang mengurangi ketegangan yang kini dirasakannya. "Sebelumnya Inayah memohon maaf pada Om dan Tante atas tindakan Inayah kemarin." sejenak Inayah menjedah ucapannya untuk menelan ludah, situasi saat ini membuat tenggorokannya tiba-tiba terasa kering.
"Mengenai pengakuan Inayah di restoran kemarin, sebenarnya semua itu tidak benar, Om.... Tante.... sekali lagi Inayah mohon maaf pada Om dan Tante karena tindakan Inayah sudah membuat Om dan Tante jadi kepikiran." kedua mata Inayah sudah berkaca-kaca, bukan karena takut tapi karena perasaan bersalahnya pada kedua orang tua Devano.
Papa Riza menghela napas mendengar pengakuan Inayah. papa Riza sama sekali tidak memalingkan pandangannya dari gadis dihadapannya itu. "Apa anak Om yang memaksa kamu untuk berbicara seperti ini kepada kami???."
pertanyaan ayahnya berhasil menciptakan kerutan halus di kening Devano.
"Papah...." Devano seperti tak terima dengan tudingan ayahnya.
Papa Riza mengangkat tangannya di udara pertanda putranya itu tidak diizinkan untuk melakukan pembelaan apapun, pasalnya siang tadi ia melihat Inayah turun dari mobil putranya itu.
Inayah menepis tudingan papa Riza pada putranya dengan gelengan kepala serta wajah tertunduk. bukan apa-apa, sorot mata ayahnya Devano itu seperti membuat sekujur tubuhnya membeku.
Mama Fana pindah ke sisi kiri Inayah sedangkan di sisi kanan Inayah ada Devano yang terlihat tak habis pikir dengan tudingan ayahnya, berpikir jika ia telah mengancam Inayah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
siti siti
terimalah jodoh mu devano,
2024-12-11
0
Wirda Wati
jodoh ngga kemana
2025-03-14
0
nuraeinieni
terima nasib devano,,mama sama papamu sdh terlanjur percaya dgn keisengan inayah,,jd siap2 aja di nikahkan,,😃
2024-08-06
0