Seorang pria paruh baya memergokinya sedang membuat kegaduhan. "Putri ! Bukankah kamu sedang flu ?"
Semua orang yang ada di sekitar raja, menunduk hormat. Termasuk selir Huan yang masih bergidik dengan cacing tadi.
"Saya sudah agak mendingan, Ayah. Saya bosan di kamar terus. Berkebun sepertinya menyenangkan." ujar Putri Zhiping lalu mengangkat kepalanya. Menampakkan senyum ramahnya membuat raja Qian teringat dengan masa lalunya bersama Yiyin.
Terdengar sangat tidak formal ketika Putri Zhiping memanggil raja dengan sebutan Ayah di telinga selir Huan dan juga Putri Jian. Tapi bagi raja itu tidak masalah, Putri Zhiping orang baru di istana dan bisa dimaklumi.
"Berkebun?" gumam Raja sambil memperhatikan apa yang baru saja ditanam Zan Zizi.
"Iya, dengan kita berkebun sayuran maka bisa menghemat pengeluaran kita untuk memenuhi kebutuhan di dapur istana. Bahkan, saya merencanakan membuat ladang di istana. Menanam kentang dan beternak ayam, jika diizinkan." detail Putri Zhiping menyampaikan gambaran angannya.
"Pemikiran yang bagus, apakah ibumu yang mengajarkan semua ini ?" tanya raja yang secara tidak langsung ingin mendengar kabar Yiyin.
Putri Zhiping bingung untuk menjawab, karena ingatan tentang keluarga kecilnya sama sekali tidak ada. Atau mungkin karena Zhiping membenci ibunya, tapi sepenuhnya terlahirnya ia ke dunia bukanlah sebuah kesalahan. Melainkan hubungan cinta yang terlarang.
"Iya," sahutnya kemudian tidak ada pilihan jawaban lain. "Ibu juga pernah bilang, selama kita berusaha maka tidak akan menghianati hasil."
"Sepertinya ide membuat ladang itu bagus dan perlu dikembangkan. Prajurit!" Raja terkesan dengan penyampaian putri Zhiping yang seolah mengajak membawanya untuk melakukan perubahan. Selama perubahan itu tidak menyalahi aturan di istana.
"Siap Raja !" sahut mereka tegas.
"Perintah beberapa prajurit untuk menyiapkan ladang."
"Baik !" sahut mereka dan bergegas bubar.
Selir Huan tak sependapat, "Raja, bukankah itu akan menyita waktu bagi para prajurit yang setiap harinya harus berlatih."
Putri Zhiping tak ingin terkalahkan dalam urusan debat. Meski belum bisa membongkar kedok secara langsung, paling tidak bisa memberi pelajaran. Ia sempat terkejut juga dengan sikap raja yang mendukung misi nya.
"Aku rasa itu bukan suatu hal yang menyita waktu, Selir Huan. Justru para prajurit secara tidak langsung sudah berlatih. Berladang bukanlah pekerjaan yang ringan. Mereka harus membajak tanah agar gembur. Mengambil air untuk pengairan. Secara tidak langsung mereka sudah berlatih untuk ketahanan fisik."
Selir Huan sangat panas telinganya.
"Yang dikatakan Putri Zhiping ada benarnya juga. Selir Huan, kamu tidak perlu mencemaskan mereka."
"Baik, Raja." dalam hati selir Huan ingin sekali mencabik muka dan mulutnya. Putri Zhiping tahu isi hatinya dan malah menjulurkan lidah meledek ketika Selir dan Putri akan pergi.
Raja salut dengan usaha putri yang mau memikirkan kehidupan banyak orang. "Jangan terlalu lelah, jaga kesehatanmu!" pesan Raja sebelum pergi.
"Baik, Ayah!"
Zan Zizi sudah selesai menanam semua bibit lalu menyiramnya.
Putri Zhiping sangat berterima kasih padanya dan meminta Zan Zizi untuk membantu merawat tanamannya. Mendapat perintah seperti ini, Zan Zizi sangat senang.
Keesokan harinya.
Putri Zhiping menghadap raja untuk meminta izin secara langsung. "Ayahanda, saya sungguh ingin menjadi pengajar bagi mereka yang tidak mendapatkan pendidikan sebagai mana mestinya. Saya tahu bahwa pendidikan hanya untuk kalangan menengah saja. Pintu hati saya terpanggil untuk melayani rakyat jelata. Mohon izin Ayahanda agar saya bisa pergi ke tepi sawah, dimana mereka pasti akan datang untuk belajar dengan saya." ujar Putri Zhiping meyakinkan raja.
"Putri Zhiping, kamu sangat gigih dan sama sekali tidak takut meski kamu hampir saja dibunuh. Apa kamu begitu yakin bisa menjadi seorang pengajar?" tanya raja yang ingin menguji kepintaran putrinya.
"Tentu!" sahut Putri Zhiping tegas. Ia harus bisa mengambil hati raja, untuk mendapat izin agar bisa pergi keluar istana.
Untuk mengetahui kemampuan putri, raja meminta guru besar istana memberi kuis sebagai tes kelayakan menjadi seorang guru. Dan Putri Zhiping tidak takut sama sekali, menyanggupi dengan tegas.
Disebuah ruangan perpustakaan istana, Pria tua bertubuh tambun sedang mengeluarkan selembar kertas lalu membacakan soal satu persatu. Dan dijawab begitu mudah olehnya. Guru besar itu sampai takjub. "Putri, bagaimana bisa kamu menjawab soal yang begitu sulit?"
"Ini mata pelajaran SD, sudah pasti aku bisa." sahut Putri Zhiping dengan santainya.
"Pelajaran SD ? " Pria tambun itu tercengang tak mengerti dengan ucapan Putri Zhiping. "Putri buangan seperti dia tidak mungkin bisa menguasai materi aritmatika." batinnya yang terbaca oleh Putri Zhiping.
Ia menepuk jidatnya karena keceplosan. "Em, itu aku sering baca buku. Jadi semua ilmu masuk termasuk aritmatika."
Guru besar itu tak mau menyerah dan mencari soal yang paling sulit yang bahkan ia belum tahu pasti jawabnya. Tentang teorima pytagoras. Lagi, putri itu menjawab dengan benar dan cepat. Guru besar sampai menghela nafas berat, ia menyerah dan meminta putri itu untuk menerangkan bagaimana bisa menemukan jawaban yang pas.
Lalu tanpa mengurangi rasa hormat nya, ia berdiri dan menjelaskan menggunakan rumus yang pernah ia hafal.
Guru besar mengaku kalah dan meminta maaf karena telah merendahkan putri dan menyebutnya sebagai putri buangan.
Putri Zhiping tersenyum sebelum pergi dan berpesan, "Tidak selamanya sesuatu yang terlihat baik belum tentu baik, yang terlihat buruk belum tentu buruk."
Guru besar menunduk dan akan mengingat pesan itu sebagai teguran bahwa kita tidak boleh menilai seseorang dari luarnya saja.
Karena lolos dari kuis, Putri Zhiping diizinkan pergi. Putri Zhiping hanya ingin pergi sendiri dan pelayan Wei lah satu - satunya orang yang menemaninya.
Sesampainya di tepi sawah, Putri Zhiping agak kecewa karena tak ada satu anak pun yang datang ke sana. Padahal sebelumya mereka sangat asyik bermain di tepi sawah.
Atau mungkin cara penyampaiannya yang kurang tepat hingga masyarakat belum bisa menerimanya.
Hampir sejam, Putri Zhiping menunggu. Ada seorang anak kecil yang datang diantar ayahnya. Lalu orang pria itu berkata dengan santun, "Ibunya sudah lama meninggal ketika melahirkan, aku tidak bisa mengajarkannya cara membaca yang baik. Agar ketika aku pergi nanti, dia bisa menjaga diri dan tidak mudah ditipu orang. Putriku sekarang berusia 6 tahun, apakah sudah terlambat jika ingin belajar, Putri ?"
Putri Zhiping menyambut murid barunya dengan begitu ramah, "Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Kemarilah, aku akan mengajarimu membaca !"
Anak kecil bernama Zun Bhao itu sedikit canggung, namun ia merasa nyaman ketika putri yang cantik itu menggandeng tangannya.
Biarpun hanya seorang saja, Putri Zhiping sangat senang dan semangat untuk mengajar. Lambat laun anak - anak bertambah, Putri Zhiping bersyukur sekali karena mereka para orang tua sadar begitu pentingnya pendidikan.
Di sisi lain, seorang pria berkarisma yang sedang mengintai dari jauh bergumam, "Besar sekali jasamu, aku ingin melihat seberapa gigihnya kamu dalam berjuang."
"Lapor, kami sudah meminta warga untuk mengantar anak mereka mendaftar sekolah dengan imbalan yang sesuai Anda minta." ujar seorang prajurit.
"Kerja bagus."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
sahabat pena
jgn2 zan zi pangeran dari Kerajaan lain yg sdg nyamar ya?
2024-08-21
0
⎯⎯꯭ᷤ💕Sisk𝚊⃤𝐊𝐔ˢ⍣⃟ₛ꙳❂͜͡✯:≛꯭➛
pangeran apa zhan zizi kah??
sumpah aku penasaran siapa Zhan Zizi sebenarnya,, sepertinya dia hanya menyamar disana,,tapi apa tujuannya??
2024-07-28
1
Lismawati
putri Zhiping benar" ingin penyetaraan pendidikan dan ingin rakyat tdk kekurangan pangan ,dia benar" membagikan ilmu yg ia miliki 👍👍👍 ceritanya menarik lanjuuut thor💪💪💪💪💪🔥🔥
2024-07-22
0