Berkebun

Putri Zhiping dan Zan Zizi sudah puas berbelanja, hari juga sudah siang. Mereka segera mengemasi barang belanjaan lalu mengangkat belanjaan tersebut ke atas gerobak.

"Hati - hati, Putri!" seru Zan Zizi mengingatkan.

"Ah, iya." Putri Zhiping mengangkat beberapa benih tanaman sayur yang ditata diatas kotak kayu. Benih itu seperti, lobak, sawi hijau, tomat dan cabai.

"Putri membeli benih semua ini untuk apa ?" tanya Zan Zizi heran.

"Aku pikir kamu sudah cukup cerdas hanya dengan melihat saja, mengapa masih kamu tanyakan? Ya tentu saja untuk ditanam." sahutnya sedikit sewot, bukannya jengkel hanya saja ia sedikit lelah. Namun hal itu tak membuat Zan Zizi merasa sakit hati, justru baginya ia sangat menggemaskan.

Setelah semua barang masuk ke dalam gerobak, Zan Zizi membantu Putri Zhiping naik. "Aku sangat lelah, aku akan tidur sebentar."

"Baik Putri."

Lalu, Putri Zhiping terlihat sudah terpejam.

"Sangat cantik." batin Zan Zizi.

"Aku ingin tidur, Zan Zizi, berhenti menatap dan memujiku." tegur Putri Zhiping namun masih dalam keadaan terpejam. Zan Zizi langsung memalingkan muka sangat malu dan bergumam dalam hati, "Bagaimana bisa dia tahu."

Sepanjang perjalanan, Zan Zizi tidak berani menatapnya lagi. Ia fokus mengendalikan kuda dan memperhatikan jalan.

Saat tiba di istana, Putri Zhiping sudah bangun, ia mengenakan masker untuk mengelabuhi para penjaga agar tak mengenalinya. Beruntungnya mereka tidak curiga dengan penampilan putri yang menyamar menjadi pelayan.

Zan Zizi menurunkan semua barang belanjaan tadi beserta bibit - bibit tanaman milik Putri Zhiping. Ia tahu Putri itu kelelahan, Zan Zizi merasa bersalah telah mengajaknya pergi ke pasar, bisa saja tadi sepulang dari tepi sawah ia mengantarnya ke istana.

"Zan Zizi, kamu pasti lelah. Aku bisa sendiri menurunkan bibit - bibit itu." tahan Putri Zhiping namun tak diindahkan olehnya.

"Tidak Putri, Anda pasti sangat lelah sebaiknya Anda segera beristirahat." tolak Zan Zizi dan terus menurunkan bibit tanaman.

"Kalau kamu yang memaksa, baiklah. Aku pergi. Terima kasih." Putri Zhiping merasa senang ia pun menurunkan bibit sawi terakhir ditangannya lalu berbalik menuju kamarnya.

Zan Zizi tersenyum simpul, ada getaran halus yang membuatnya begitu nyaman berada di samping sang putri. Entah, ia sendiri tidak tahu rasa apa itu. Setiap kali melihatnya, jantungnya juga tidak karuan.

Putri Zhiping berjalan mengendap menyusuri jalan. Betapa kagetnya ia ketika melihat para dayang istana bersama raja berada di luar kamarnya dan hendak masuk.

"Hah, raja ! Bagaimana ini ?" Putri Zhiping begitu panik, ia mencari cara agar pelayan Wei bisa selamat dari amarah raja jika sampai tahu ia kabur dari istana.

Raja masuk ke dalam kamarnya. Didapatinya putri Zhiping sedang memunggunginya. "Putri Zhiping, bagaimana kabarmu ?" tanya raja bermaksud menanyakan keadaan anaknya.

Pelayan Wei menelan kasar ludahnya, "Aku harus jawab apa, bagaimana ini, putri dimana kamu ? Aku masih sayang dengan kepalaku." gumamnya, pelayan Wei ingin sekali menangis. Ia mengusap pelan keringat di dahinya. Lalu berdehem untuk menyamarkan suaranya. Ia tidak punya pilihan lain selain membohongi raja menjadi Putri Zhiping. Meski berbohong itu sangat berdosa.

"Saya baik, Yang Mulia!" sahut pelayan Wei dengan suara dibuat lain.

Raja Qing mengerutkan dahi seperti ia mendengar suara lain, "Putri, apakah kamu sedang kurang enak badan ?" tanya raja memastikan.

Pelayan Wei menjadi pucat pasi, ia merem melek bingung untuk menjawabnya.

"Ayah sudah datang, tidak kah kamu bisa menghadapku?" pinta raja berharap Putri Zhiping berbalik ke arahnya.

Pelayan Wei reflek menunduk tapi masih berada pada posisinya membelakangi raja, "Ampuni saya Yang Mulia !"

Putri Zhiping bergegas menyelinap ke dapur untuk mengambil lada serbuk dan segera kembali ke kamar, ia sengaja menutup muka memakai cadar agar orang lain tidak melihat wajah aslinya.

Begitu masuk ia hormat pada raja dan memberi salam. Karena serbuk lada yang ia ambil, ia menjadi bersin - bersin. "Maaf, yang mulia saya sedang flu. Dan sepertinya Putri Zhiping juga tertular. " Putri Zhiping menghampiri pelayan Wei, ia merasakan aura ketakutan di wajahnya. Putri Zhiping menabur serbuk lada tepat disekitarnya hingga membuat pelayan Wei bersin - bersin.

"Putri, kamu benar sakit ? Aku akan panggilkan tabib istana." Raja berbalik hendak melangkah pergi,

Putri Zhiping menahannya.

"Tidak perlu Ayah, aku akan minum obat ramuan pelayan Wei saja, lalu akan segera istirahat."

Raja berbalik lagi, sepertinya untuk mengajak Putri Zhiping berbicara ia urungkan, bisa bicara lain waktu. "Ah, baiklah. Kamu istirahatlah yang cukup." Lalu raja bergegas keluar kamar menghidari tertularnya flu.

Pelayan Wei bisa bernafas lega sekarang, "Untunglah Anda datang tepat waktu, Putri. Lain kali aku tidak mau menjadi Anda lagi. Ini sangat berat. Lebih baik aku dipecat saja jadi pelayan dari pada aku mati ditangan raja." kesal pelayan Wei.

"Jangan, jika kamu pergi, lalu siapa yang akan merawatku !" Putri Zhiping merayu wanita itu yang pada dasarnya hati pelayan Wei tak tegaan lalu mengampuni dosa majikan yang mengajaknya untuk berbohong.

Sore hari, Putri Zhiping meminta izin untuk menemui Zan Zizi. Bagaimana tidak, meski di dalam istana, ia tetap mendapatkan penjagaan ketat.

Kebetulan Zan Zizi tengah menyirami tanaman bibit yang baru dibeli oleh putri.

Putri Zhiping menghampirinya lalu meminta bantuan untuk menanam semua bibit. Berkebun sangat menyenangkan, sudah lama ia tidak berkebun karena sibuk menjadi wanita kantoran. Mengingat kehidupannya yang kelam, ia jadi sedih sendiri. Untuk itu ia menyibukkan diri dengan berkebun sayur bersama Zan Zizi melupakan rasa sakit itu.

Dari jauh, pergerakan putri Zhiping terpantau oleh selir Huan dan Putri Jian. Karena penasaran apa yang dilakukan, mereka berdua pun datang mendekat.

Putri Zhiping sudah mendengar apa yang telah mereka katakan. " Orang buangan sangat pantas bergaul dengan orang rendahan."

Rasanya ia ingin membalas ucapan pedas itu, tapi ia harus menjaga kemampuan membaca pikiran sebagai senjata untuk membocorkan kejahatannya.

"Selamat sore Selir Huan dan Putri Jian, apakah kedatangan kalian ingin membantuku menanam bibit sayuran ini ?" sapa Putri Zhiping ramah.

"Cih, tanganku sangat tak pantas untuk menyentuh sesuatu yang kotor." cerca putri Jian.

Putri Zhiping tak ingin kalah, "Apa kamu lupa dari apa manusia diciptakan, dari sari pati tanah liat. Tak perlu mungkir karena itu adalah kodrat manusia. Memang terlihat jijik tapi siapa sangka hal yang kalian anggap jijik ini bisa bernilai setelah mendapat polesan." Putri Zhiping mengambil genggaman tanah lalu memperlihatkannya.

Putri Jian seperti mendapat tusukan tajam meski tak terlihat. Ia melotot tajam tak terima dengan ucapannya.

"Selamat bersenang - senang Putri, gunakan waktu bahagiamu sebelum datang masa sedihmu." imbuh selir Huan sebelum pergi.

Putri Zhiping mengabaikan ucapan yang sama sekali tidak penting baginya.

Karena kesal, Putri Zhiping mengambil cacing lalu melemparkan ke arahnya.

Selir Huan menjerit ketakutan.

"Hanya binatang lemah saja kamu takut, lalu keberanian dari mana kamu ingin melenyapkan ku."

"Putri!"

Terpopuler

Comments

Yurniati

Yurniati

lanjut terus update nya thorr

2024-07-19

1

Yurniati

Yurniati

balas putri biar mereka tau kamu siapa,,,

2024-07-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!