"Oh, ya Zan Zizi, aku ingin minta tolong padamu." ucapnya mengabaikan pertanyaan pelayan Wei mengenai wajahnya yang bersemu merah.
"Silahkan Putri !"
"Mengapa Putri tak minta tolong saja padaku, mengapa harus Zan Zizi yang Anda suruh?" protes pelayan Wei.
"Karena ini tugas seorang pria, pelayan Wei. Jadi, kamu jangan cemburu." ujar Putri Zhiping lalu segera naik ke dalam kereta, sinar matahari semakin menyengat kulit. Kemudian disusul pelayan Wei dan Zan Zizi.
Putri Zhiping meminta Zan Zizi untuk membuatkan kandang ayam. Meski belum meminta izin pada raja, ia yakin raja setuju dan mendukung rencananya.
Setibanya di istana, Putri Zhiping istirahat sebentar di kamar sebelum beraktifitas lagi.
Di sore harinya, Zan Zizi sudah menyiapkan peralatan untuk membuat kandang. Ia juga sudah menyirami tanaman milik tuan putri.
Putri Zhiping juga sudah rapi dengan dandanannya yang sederhana tapi terkesan elegan, apalagi dengan sepatunya yang baru. Ia melangkahkan kakinya menuju kediaman raja untuk berbicara.
Sebelum sampai di tempat raja, langkahnya terhalang oleh dua wanita berbeda usia.
"Gadis bodoh ini mau apalagi mencari raja ?" batin ratu Huan menatap remeh.
"Apa nya yang istimewa darinya, sampai - sampai pria idamanku malah memilihnya menjadi calon istri. Cantik bukan ? Bodoh iya." gumam putri Jian dalam hati.
Namun semua ejekan terdengar oleh putri Zhiping. Untuk membongkar kedok selir Huan yang berambisi menjadi permaisuri dan menyingkirkan dirinya, ia belum punya rencana sekarang. Lebih tepatnya berhati - hati untuk sementara waktu sambil mencari bukti yang akurat.
"Lebih baik bodoh tapi cantik. Dari pada cantik tapi bodoh." timpal putri Zhiping sambil berlalu melewati mereka.
Keduanya terbengong dan saling melempar pandang.
"Ibu, dia mengataiku bodoh." rengek putri Jian tidak terima dengan bulian Putri Zhiping.
"Putri buangan itu semakin lama dibiarkan semakin melonjak. Kita harus memberinya pelajaran."
"Apa yang dikatakan Ibu benar. Aku ingin dia gagal menikah dengan Pangeran Liang Zee. Ibu, aku punya rencana." berbisik di telinga sang ibu.
Selir Huan mencoba memahami rencana putrinya, kemudian mengangguk sebagai pertanda mengerti dan setuju.
"Ayo, kita pergi !" ajak sang ibu.
Putri Zhiping membungkuk hormat dihadapan raja dan permaisuri. Lalu menyampaikan apa yang menjadi maksud hatinya menghadap raja.
"Ayahanda, saya ingin membuat kandang ayam di belakang istana. Kadang itu akan diisi 50 ekor ayam petelur."
"Putri Zhiping, kamu ingin berbisnis?"
"Benar Ayah."
"Lalu, apakah kamu sudah membuat perencanaan?"
"Sudah. " lalu ia menyampaikan mulai dari modal awal dan penjualan.
Raja tak keberatan dengan ide yang disampaikan putri. Setelah mendapatkan izin, putri pamit undur diri.
Beruntungnya ia masih punya tabungan untuk memulai bosnia ini. Ia tidak akan meminta sepeser pun pada raja selama ia masih bisa untuk berusaha mencari cuan sendiri.
Putri Zhiping menghampiri Zan Zizi dan para pekerja. Zan Zizi sedang sibuk mengarahkan para pekerja membuat kandang ayam. Letak kandang itu harus berada jauh dari pemukiman agar bau kotoran nanti tidak menyebar.
Pekerjaan membuat kandang itu selesai dalam waktu 2 hari. Putri Zhiping juga sudah menyiapkan 50 ekor ayam dengan jenis unggul.
Putri Zhiping sendiri yang turun tangan dibantu Zan Zizi dan pelayan Wei untuk memberi makan. Setelah itu, ia akan merekrut pekerja dari luar istana. Yang masuk dalam kategori penggangguran yang diutamakan dengan tujuan orang tersebut agar mendapatkan penghasilan.
Selir Huan dan putri Jian terlihat sangat marah dengan ide inovatif terbaru dari Putri Zhiping. Rencana untuk menggagalkan pernikahan sementara dipending dulu. Mereka berencana menggagalkan bisnis sang putri.
Pelayan San mendapatkan tugas lagi. Ia mengendap memasuki kandang lalu menyebarkan semacam virus. Selesai melakukan itu, ia bergegas pergi.
Keesokan paginya, ketika putri Zhiping sedang mengajar di tepi sawah, dikejutkan dengan kedatangan seorang pekerja.
"Gawat Putri!" pekiknya dengan nafas tersenggal.
"Ada apa ?" tanya putri menjadi cemas.
"Semua ayam mati, Putri."
"Apa ! Ba-gaimana bisa ?" kemudian putri Zhiping membubarkan pelajaran dan bergegas menuju kandang ayam.
Sesampainya di sana, alangkah terkejutnya ia mendapati puluhan ekor ayam yang ia beli dengan uangnya sendiri telah menjadi bangkai. Satu pun tak ada yang tersisa. Putri Zhiping terduduk lesu. Uangnya tinggal sedikit dan tidak cukup jika harus membeli lagi. Satu pekerja menemukan botol dengan aroma menyengat lalu memperlihatkan pada sang putri.
"Semua ayam mati karena disengaja. Pelayan Wei !" panggil putri dan harus segera bertindak tegas.
"Saya Putri," pelayan Wei datang menghadap.
"Bawa botol ini dan simpan sebagai barang bukti. Aku akan menangkap siapa pelakunya."
"Kalian semua segera bakar semua bangkai ayam ini ! Setelah itu ikut aku pergi !"
"Baik Putri."
Butuh satu jam melakukan proses evakuasi bangkai - bangkai ayam itu.
Beruntunglah berita ini belum sampai terdengar oleh raja. Jika sampai terdengar, ia akan merasa malu karena gagal. Sebenarnya bukan gagal secara alamiah, tapi karena gagal oleh ulah seseorang.
Putri Zhiping mengajak kelima pekerja itu untuk membeli bibit ayam petelur dengan varietas biasa yang sesuai dengan uang di kantong. Tidak banyak ayam yang ia beli, hanya mendapatkan 30 ekor ayam.
Kemudian ayam - ayam itu dimasukkan ke dalam kandang. Setiap pekerja mendapatkan giliran berjaga malam. Karena putri yakin pelaku itu akan datang lagi untuk beraksi.
Malam ketiga.
Selir Huan mengira jika pelayan San tidak becus melakukan tugasnya menaburkan racun, untuk itu ia bergerak sendiri pergi ke kandang ayam milik sang putri.
Dengan penampilan seperti ninja, selir Huan mengendap, menyelinap masuk ke dalam kandang.
Seorang pekerja yang mengintai dari jauh segera melaporkan pada putri jika ada seseorang yang memasuki kandang.
Putri Zhiping yang masih terjaga segera memberi perintah untuk menjaga pintu keluar dan bersiap di sana sampai ia memberi komando.
Selir Huan menaburkan banyak racun di setiap ayam. Anehnya ayam itu sama sekali tidak terusik dengan kedatangannya. Mungkin karena tidur, pikir selir Huan dan bergegas pergi sebelum ada yang melihat pergerakannya di dalam kandang.
Seorang pekerja memberi kode kalau pelaku sedang berjalan menuju pintu keluar.
Putri Zhiping memberi aba - aba dengan hitungan jari, satu, dua, tiga.
Selir Huan keluar dan langsung mendapatkan kejutan. Tubuhnya diringkus dan dimasukkan ke dalam karung.
Karena orang di dalam karung itu terus saja berteriak, Putri Zhiping dengan keras memukul tengkuknya hingga pingsan.
"Tunggu sampai matahari terbit, kita bawa dia ke hadapan raja agar diadili !"ujar Putri Zhiping.
"Orang ini sudah pingsan, apakah putri tidak ingin melihat siapa pelakunya?" tanya pelayan Wei.
"Untuk apa, aku sudah tahu wajah orang ini. Wajah yang membuatku muak dan ingin sekali mencongkel matanya karena terus mendelik setiap menatapku."
Orang - orang disekitar putri menjadi seram mendengar ucapan putri yang terkesan mengerikan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Sribundanya Gifran
lanjut up yg bnyak thor💪💪💪💪
2024-07-30
0
Yurniati
semangat terus thorr
2024-07-30
0
Yurniati
terus update nya thorr
2024-07-30
0