Sekelompok berandal menghadang kereta yang dikendarai oleh Zan Zizi.
Putri Zhiping tak memiliki keahlian dalam berperang dan hal ini membuatnya sedikit takut.
"Wah, gadis itu sangat cantik sekali!" ujar penjahat yang pertama.
"Sayang sekali jika harus dibunuh." ujar penjahat yang kedua.
"Turun kalian semua, jika tidak, akan kami bunuh!" teriak penjahat yang ketiga nampaknya orang itu tidak terpengaruh oleh penampilan Putri Zhiping yang cantik.
Pelayan Wei sangat panik dan mencemaskan keadaan tuan putrinya. "Putri, bagaimana ini, kita harus turun agar bisa selamat !"
Putri Zhiping terpaksa mengikuti perintah. Ia mendengar isi hati salah satu perampok itu rupanya mereka menginginkan harta dan benda yang ia bawa. Lalu dengan lantang ia berkata, "Ketahuilah kalian bertiga ! Kami sedang melakukan perjalanan ke kerajaan Timur dan bisa - bisanya kalian datang menghadang kami. Kami tidak punya harta benda yang kalian inginkan."
Mereka bertiga tertawa dengan lantang, bagaimana bisa tahu tujuan mereka ? Lalu tanpa banyak bicara mereka menggeledah kereta kuda. Sebelum itu terjadi Zan Zizi bergerak dengan cepat dan dengan kemampuan bela diri yang ia miliki ia menghadang para perampok.
"Tak kan kubiarkan kalian bertindak sesuka hati kalian."
Dan terjadilah pertempuran. Putri Zhiping dan pelayan Wei menepi mencari tempat bersembunyi.
"Apakah pengawal itu bisa diandalkan?" Putri Zhiping mengintai pergerakan mereka.
"Saya tidak tahu pasti Tuan Putri, penjaga kuda bernama Zan Zizi itu baru seminggu tinggal di istana dan dia sangat tertutup." sahut Pelayan Wei yang merasa ketakutan.
Zan Zizi terlihat begitu cekatan gerakan saltonya, ke kiri, kanan. Meninju dan menendang, bahkan kurang dari 5 menit saja ia berhasil menaklukkan para perampok itu. Para perampok dibuatnya pingsan. Putri Zhiping berteriak kagum lalu keluar dari persembunyian.
"Kamu hebat!" serunya yang membuat Zan Zizi tersipu malu.
"Apa mereka semua mati ?" tanya pelayan Wei.
"Aku rasa tidak. Mereka hanya pingsan saja. Mari, kita lanjutkan perjalanan !" ujarnya mempersilahkan Putri Zhiping untuk naik.
Perjalanan kurang separuh lagi dan mereka akan tiba di lokasi. Putri Zhiping tak pernah sebelumnya bertemu dengan pendekar yang menyita perhatian nya seperti pemuda di depannya ini. Bahkan ia tidak mendengar apa pun lagi dari isi hati seorang penjaga kuda. Nampaknya benar, Zan Zizi sangat tertutup.
Kini mereka telah tiba di kerajaan Timur. Penjaga gerbang menahan mereka dan menanyakan tujuan mereka untuk datang.
"Aku Putri Zhiping, aku ingin bertemu dengan Pangeran Liang Zee." ujar Putri Zhiping menyampaikan maksud hatinya.
"Putri Zhiping ?"mereka sebelumnya pernah mendengar tapi belum pernah bertemu secara langsung. Mereka mempersilahkan Putri Zhiping dan rombongan untuk masuk istana.
Kebetulan istana sedang ada acara jadi banyak pelayan yang berlalu lalang menyiapkan jamuan.
...****************...
Raja Qing datang bersama ketiga putrinya untuk menyambung ikatan persaudaraan. Putri Jian duduk lebih dulu dan menempati tempat yang sudah disediakan. Kemudian disusul oleh dua saudarinya yang lain yang juga menempati tempatnya.
Putri Jian berdandan sangat cantik tentu saja itu hasil riasan pelayan San. Ia yakin pangeran akan memilihnya sebagai calon istri.
Putri Yihua dan putri Dazhong tak kalah cantiknya, mereka berdua juga memiliki pemikiran yang sama jika pangeran Liang Zee akan memilih diantara mereka berdua.
Permaisuri Jian Li dan Raja Hans menyambut tamu mereka dengan ramah dan mengacak bicara santai sambil menunggu kedatangan Pangeran Liang Zee yang cukup lama sekali.
"Dimana Pangeran Liang Zee, kenapa lama sekali!" teriak Raja Hans yang mulai kesal tidak enak dengan tamu mereka.
Pengawal yang diutus menjemput Pangeran Liang Zee menjawab jika pangeran sedang bersiap.
Tak lama kemudian Pangeran Liang Zee datang. Dengan pesonanya yang tampan rupawan ia melangkah dengan begitu arogan. Tatapannya begitu dingin. Jujur ia tidak tertarik dengan ketiga putri itu.
Pangeran Liang Zee sudah menempati tempatnya, demi menghormati perintah kedua orang tuanya terpaksa ia menatap satu persatu ketiga putri itu. Sungguh, tidak ada ketertarikan sama sekali di hatinya.
Raja Hans mengambil suara, "Bagaimana Pangeran Liang Zee, siapa diantara mereka bertiga yang kamu pilih?"
Sorotan mata pangeran itu begitu tajam. Meski sikapnya ya dingin justru menjadi daya tarik kaum hawa untuk bisa menaklukkan dirinya.
Putri Jian yang paling berambisi pun tersenyum lalu membuka suaranya, " Pangeran Liang Zee, keputusan Anda sangat kami nantikan."
Pangeran Liang Zee tersenyum kecut lalu menyampaikan apa yang menjadi keputusan nya. "Aku tidak tertarik sama sekali dengan kalian bertiga."
Jawaban itu menusuk hati ketiga putri terutama putri Jian.
"Pangeran Liang Zee !" sentak Permaisuri Jian Li tak suka dengan perilaku putra bungsunya yang tidak sopan itu.
"Sudah berapa kali aku katakan pada Ibu, aku belum mau menikah."
"Usiamu sudah sangat matang untuk berumah tangga, mau sampai kapan kamu akan sendirian !"
"Aku tetap pada keputusanku." kekeh Pangeran Liang Zee.
"Anak ini, membuatku malu saja." geram raja Hans yang tidak bisa menahan malu.
Raja Qing sangat lapang dada dan tidak marah atas apa yang diputuskan oleh Pangeran Liang Zee. "Kami hargai keputusan Anda, kalau begitu kami pamit undur diri."
"Ayah, " rengek Putri Jian yang tidak terima.
"Sudah, kita pulang saja. Mungkin Pangeran Liang Zee bukan jodoh kalian."
"Tapi Ayah, aku ingin menjadi istrinya," Putri Jian sangat kesal meski ia berdandan begitu cantik nyatanya tak bisa menyentuh hati pangeran dingin itu.
Seorang pengawal datang dengan tergesa. "Ampuni hamba Tuan Raja dan Permaisuri, wanita diluar sulit untuk dikendalikan dan terus meminta untuk masuk."
"Siapa?" tanya raja Hans penasaran.
"Wanita itu mengaku bernama Putri Zhiping, Yang Mulia."
Semua orang tersentak mendengar nama Putri Zhiping disebut terlebih Pangeran Liang Zee. Pangeran Liang Zee langsung memberi izin. "Biarkan dia masuk."
Semua orang menoleh ke arah Pangeran Liang Zee dan bertanya bagaimana Pangeran Liang Zee bisa semudah itu membiarkan orang lain masuk. Apakah mereka berdua sudah saling mengenal satu sama lain ?
Pengawal tadi segera keluar untuk menggiring Putri Zhiping dan pelayan Wei masuk.
"Salam hormat hamba Yang Mulia!" ujar Putri Zhiping membungkukkan tubuhnya.
Putri Zhiping mengangkat kepalanya dan barulah ia tersadar jika anggota keluarganya ada di sini juga. Ia berdiri kikuk harus memulainya dari mana. Niatnya untuk meminta maaf hampir saja lupa dengan kebodohan yang telah ia ciptakan.
"Putri Zhiping, kenapa kamu bisa kemari?" tegur Ayahanda.
Putri Jian dan yang lain menatap tak suka dengan kedatangannya yang tiba - tiba.
"Putri Zhiping ?" Tanya Permaisuri Jian Li heran.
"Ah, iya, dia juga putriku." sahut raja Qing begitu malu.
Pangeran Liang Zee punya ide untuk terbebas dari perjodohan orang tuanya.
"Ya, Ayah , Ibu, aku bersedia menikah dan memilih Putri Zhiping untuk menjadi calon istriku." ujar Pangeran Liang Zee dengan senyum jahatnya.
"Kau !" Putri Zhiping mendelik dengan keputusan Pangeran Liang Zee yang sepihak itu.
"Aku akan membuatmu menyesal karena telah berurusan denganku." batin Pangeran Liang Zee yang terbaca oleh Putri Zhiping.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Krislin Meeilin
ceritanya begus sekali Klau boleh doubel up ya setiap hari 🥰🥰🥰🥰
2024-07-08
1