Setelah Putri Zhiping menempati ruangan baru sebagai kamarnya, kedatangannya ke rumah istana mulai dibicarakan oleh anggota dewan kerajaan. Meski ia tahu menjadi bahan omongan, ia cuek saja yang terpenting kedepannya akan membuat kejutan. Dia sedang mengemasi pakaian yang usang dan tak layak pakai, mengganti semua dengan pakaian yang baru. Pelayan Wei mendapatkan tugas untuk mengepak barang - barang miliknya dan akan menyumbangkan pada kaum fakir miskin didaerahnya berasal.
Sebagai putri yang terlahir dari seorang wanita buangan membuatnya terasa disudutkan. Ia harus merubah cara pandang orang - orang. Dan akan membawa ibunya untuk tinggal bersamanya di istana setelah berhasil membawa perubahan pada kerajaan ini yang kabarnya sudah mengalami kemerosotan di bidang perekonomian.
Banyak dewan istana mencerca kedatangan putri Zhiping dan mereka mengganggap sebagai pembawa sial bagi kemaslahatan istana. Salah satu yang paling menonjol adalah Perdana menteri Xii, ia tahu ramalan tentang dinasti Qing dimasa depan, ia tidak setuju tunduk di bawah pimpinan seorang wanita yang ia anggap sebagai kaum yang lemah. Untuk itu ia mendesak agar raja Qing mengusir putri Zhiping dari istana.
Raja tetap pada komitmen, bagaimanapun juga Putri Zhiping adalah putri kandungnya yang telah lima ia abaikan keberadaannya.
Dan karena kesalahannya beberapa puluh tahun lalu, membuat Yiyin diusir oleh keluarganya karena hamil diluar nikah.
Keputusan raja tidak bisa diganggu gugat. Perdana menteri Xii akhirnya bersekongkol dengan Selir Huan untuk melenyapkan putri Zhiping yang diramalkan sebagai pewaris raja selanjutnya.
Putri berusia 24 tahun itu memang terlihat lemah dan tidak punya sekutu untuk melawan sebuah bentuk pemberontakan, tapi mereka para musuh tidak tahu jika putri Zhiping yang sekarang bisa membaca pikiran orang yang justru akan meninggikan derajatnya dari seorang putri yang terbuang.
Putri Zhiping bersama pelayan Wei sedang jalan - jalan di pusat kota X. Ia melihat kerumunan dan bergegas menghampiri kerumunan itu.
Dilihatnya seorang wanita yang sebaya dengannya tengah dirundung dan hampir saja dipukul karena dituduh mencuri. Tidak ada saksi yang berani menyampaikan kebenaran karena mereka takut dengan putri Jian. Putri yang begitu arogan dan sombong.
Putri Zhiping berteriak, "Hentikan!" lalu menghampiri wanita yang tengah dirundung.
Putri Jian menoleh lalu menurunkan tangannya, "Putri Zhiping, apa yang dia lakukan di luar istana?" batinnya.
"Apa urusan mu! Dia telah mencuri gelang giok milikku." ujar putri Jian menunjuk wanita tadi.
Seseorang yang dirundung tadi hanya bisa menggeleng sambil terisak. "Aku tidak mencuri, ini fitnah !" bantahnya.
Putri Zhiping mendengar batin dari salah satu diantara mereka, jika pencuri yang sebenernya adalah pelayannya putri Jian.
Wanita tadi tidak sengaja menyenggol tubuh putri Jian, dan pelayan itulah yang mencurinya. Zhiping menahan amarah putri Jian yang hendak melayangkan pukulan ke arah wanita itu. Putri Zhiping mengangkat tangannya. "Tahan!"
Putri Jian menurunkan tangannya menatap tajam ke arah putri Zhiping yang telah mengganggu.
"Aku tidak percaya jika gadis ini adalah pencuri gelang giokmu!" tukas Putri Zhiping.
"Kamu hanya orang asing, jangan ikut campur, pergi kamu !" usir putri Jian sambil mendorong tubuh putri Zhiping.
"Bagaimana jika ada yang mengetahui kalau gelang giok putri Jian ada bersamaku?" batin pelayan San yang terdengar oleh Putri Zhiping, ia tahu pelaku yang sebenernya.
"Aku akan pergi setelah mengusut perkara ini." Putri Zhiping berkata dengan tegas karena keadilan harus ditegakkan.
"Apa maksud kamu ?" Putri Jian memiringkan kepala nya menatap remeh seorang putri buangan.
"Bagaimana jika aku memberi tahumu jika sebenarnya gelang giokmu tidak dicuri oleh dia ?" Lalu Putri Zhiping berkacak pinggang.
Semua orang yang berada di kerumunan saling berbisik.
"Apakah benar itu putri Zhiping?"
"Apa benar putri itu tahu siapa pencuri yang sebenernya?"
"Tidak seperti rumor yang ada, penampilan putri ini lebih elegan."
Putri Zhiping menunjuk seorang pelayan di samping putri Jian. Seketika semua mata menoleh ke arahnya, raut muka Jian bersemu merah menahan malu karena tuduhan itu.
"Kau. Gelang giok putri Jian ada bersama mu kan ?"
"Jangan asal menuduh, kamu !" bentak putri Jian tak percaya.
"Aku tidak mengambilnya!" elak pelayan San ketakutan.
"Bagaimana putri Zhiping bisa tahu kalau aku yang mengambil gelang itu !"
"Pelayan Wei, geledah dia !" titah putri Zhiping.
Pelayan Wei mengangguk, "Baik." lalu segera memeriksa pelayan San.
Putri Jian menghadang, "Kamu tidak berhak menyentuh pelayan pribadiku !"
"Kamu takut ? Dasar maling teriak maling!" seru putri Zhiping yang tak dimengerti perkataannya oleh semua orang yang berada di sana.
Pelayan San mer3mas ujung pakaiannya sambil menunduk, ia percuma jika mengelak, kabur pun juga tidak mungkin. Semua orang telah mengerumuni nya.
"Sangat tidak tahu malu, jika terbukti benar, kamu harus meminta maaf pada wanita yang telah kamu fitnah tadi. Reputasimu akan jatuh setelah kebenaran ini terungkap, putri Jian !"
"Aku sendiri yang akan menggeledah dia." putri Jian mulai mer4ba pakaian pelayan San. Tak begitu lama ia menemukan gelang giok miliknya berada di kantong sakunya. Putri Jian mengambilnya dan semua orang tahu kebenaran yang terjadi.
Putri Jian sangat malu dan marah, ia menampar wajah pelayan itu. Lalu pergi tanpa mengatakan apa pun. Ia begitu kecewa dengan pelayannya. Pelayan yang sudah sangat lama ia percayai dan sudah tinggal bersamanya.
Pelayan San berteriak memanggil putri Jian lalu mengejar langkahnya. "Putri Jian, maafkan aku, aku bisa menjelaskan semua ini pada Anda!"
Wanita tadi langsung menghampiri putri Zhiping dan mengucapkan banyak terima kasih.
"Putri Zhiping, kedatangan Anda memberikan pertolongan besar pada hidupku. Jika saja Anda tidak datang, sudah pasti aku tinggallah nama saja. Sekali lagi terima kasih, Putri!" Wanita itu hormat berkali - kali.
Putri Zhiping menahan tubuh wanita itu, "Sudahlah, jangan berlebihan seperti ini !"
Adegan tadi tertangkap pandang oleh seorang pangeran yang sedang memilih sandal bersama para pengawal tak jauh dari tempat putri Zhiping berada. "Bukankah itu putri Zhiping, putri buangan yang terkenal bodoh dan kumal." batinnya memperolok.
Tentu saja putri Zhiping tidak terima dengan bullian yang merendahkan dirinya. Meski itu diucapkan dari dalam hati. Putri Zhiping langsung menoleh lalu menatap tajam pada sosok pangeran itu, ingatan tentang siapa pangeran ini tak ada di dalam pikiran Zhiping yang asli. Hidup Thalita sudah bagaikan asam garam jika menghadapi emak - emak yang mencemooh dirinya, tapi di dunia kuno ini seorang pria juga mencibir menatap rendah dirinya baru ia rasakan.
"Buang pikiranmu yang hanya menilai seseorang dari sampulnya saja!" seru putri Zhiping yang langsung membuat pangeran dan pengawalnya terkejut.
"Hah !" pangeran itu meletakkan sandal tak jadi membeli. "Kamu berani berkata kasar padaku !"
Pelayan Wei menutup mulutnya yang menganga tak percaya bisa bertemu dengan pangeran dari kerajaan Timur.
"Putri Zhiping, apa yang Anda katakan!" Pelayan Wei menegur tuannya.
"Apa salahku, dia yang mulai duluan!"
"Putri, dia adalah...."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Frando Wijaya
HA! dsr tua bangka busuk....lo emng gk layak sebut raja... melainkn tua bangka busuk!
2024-08-29
1