Sama seperti hari kemarin, putri Zhiping mengajar dengan keseriusan yang diimbangi semangat untuk menghapus kebodohan demi masa depan anak - anak.
Kali ini raja meminta Zan Zizi untuk mengawasi sang putri di sana. Hal ini membuat Zan Zizi sangat senang karena sudah mendapat kepercayan dari raja.
Dan pelayan Wei menjalankan tugasnya, ia mendatangi rumah warga yang anaknya bersekolah di tempatnya Putri. Setelah ia menelusuri sekian belas rumah, ia belum menemukan siapa orang yang telah mengirimi mereka uang.
Pelayan Wei menghela nafas beratnya karena kecewa, "Bagaimana ini, aku belum menemukan pelakunya. Pasti orang itu sangat kaya atau kalau tidak dia adalah seorang pejabat. Ah, lebih baik aku segera pergi. Kasihan kalau putri aku tinggal terlalu lama."
Lama berjalan menyusuri rumah warga, ia berhenti di sebuah rumah milik saudagar kaya. Di rumah saudagar itu sedang ramai oleh beberapa orang berseragam prajurit. Pelayan Wei seperti tak salah melihat. "Bukankah itu prajurit dari kerajaan Timur ? Lalu untuk apa mereka berada di wilayah kami ?" gumamnya lalu bergegas menepi mencari tempat untuk mengintai.
Sekian menit berikutnya, datang seorang pemuda tampan dan berkarisma. Semua orang menunduk hormat saat kedatangannya.
"Bukankah itu pangeran Liang Zee ?" menajamkan penglihatannya. "Benar!"
"Pesanan sesuai dengan jumlah yang Anda minta, Yang Mulia." ujar saudagar itu.
"Aku ingin memeriksa kelayakannya." ujar Pangeran Liang Zee.
"Silahkan!"
Pangeran Liang Zee memerintahkan prajurit untuk memeriksa barang itu.
"Kualitas baik, Yang Mulia."
"Bagus, segera kirim !"
"Baik !"
Kedua bola mata pelayan Wei terbelalak tak percaya menatap pemandangan di depannya. Seorang pangeran membeli meja belajar untuk apa coba ?
Para prajurit mengangkat meja satu persatu dan membawanya ke dalam gerobak.
"Mau dibawa kemana semua meja itu ?" mulai mengendap untuk mencari tahu.
Dan setelah para prajurit itu pergi meninggalkan rumah saudagar, pelayan Wei mengikuti mereka dari jauh agar tidak menimbulkan kecurigaan. Sementara itu Pangeran Liang Zee lebih memilih kembali pulang.
Pelayan Wei mengikuti mereka hingga di tempat biasa Putri mengajar.
Orang - orang itu menurunkan meja dan menatanya di tempat biasa anak - anak duduk. Barulah ia paham ternyata orang misterius yang membayar orang - orang agar anaknya bersekolah adalah calon suami dari putri Zhiping.
Pelayan Wei begitu kagum dengan kegigihan Pangeran Liang Zee yang secara tidak langsung telah mendukung niat Putri Zhiping. Ia tak melihat Putri Zhiping berada di sana.
"Dimana putri? Aku harus memberitahunya."
Di tempat lain.
Pangeran Liang Zee mengurungkan niatnya untuk segera pulang. Ia membeli sepasang sepatu untuk hadiah pada calon istrinya dan berniat berkunjung ke kerajaan Utara.
Di tengah jalan, alangkah kagetnya Pangeran Liang Zee menangkap pandang gadis yang telah menarik hatinya itu tengah berjalan berdua dengan pria lain. Sakit hatinya dan membuat kepalanya ikut berdenyut. Sontak ia memegangi kepalanya.
"Anda tidak apa-apa Yang Mulia?" tanya seorang pengawal.
"Aku butuh istirahat. Antar aku pulang sekarang."
"Lalu, bagaimana dengan sepatu ini ?"
"Aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Buang saja."
Pengawal tampak ragu, itu sepatu mahal dari pada membuangnya lebih baik ia simpan saja.
.
Putri Zhiping dan Zan Zizi sudah sampai di istana, pelayan Wei meneriaki sang putri.
"Putri, Anda kenapa menghilang dan meninggalkan saya ?"
"Ah, maaf kan aku pelayan Wei, aku dan Zan Zizi sedang jalan - jalan sepulang mengajar."
Zan Zizi pamit undur diri dari hadapan putri Zhiping.
"Terima kasih Zan Zizi, sudah menemaniku hari ini."
Zan Zizi tersenyum dan mengangguk lalu ia pun pergi.
"Putri, sepertinya Anda harus menjaga jarak dengan Zan Zizi."
"Kenapa, kamu cemburu?"
"Bukan begitu Putri ! Anda adalah calon istri seorang pangeran, menurut saya tidak pantas jika Anda berjalan atau pergi dengan pria lain."
Putri Zhiping tampak terdiam. "Kamu benar pelayan Wei. Terima kasih sudah mengingatkanku."
"Putri, aku tahu siapa orang yang sudah menolong putri hingga memiliki banyak murid."
"Maksudmu orang yang menyogok itu ?"
"Kurasa orang itu bukan bermaksud menyogok. Hanya saja caranya yang mungkin kurang tepat. Tapi, aku yakin orang itu punya maksud baik pada Anda."
"Kamu sudah tahu orang itu, siapa ?"
"Pangeran Liang Zee."
"Hah !"
Keesokan harinya.
Zan Zizi sudah bersiap dengan kereta kuda dan dua orang pengawal yang biasa mengantar putri mengajar.
Seperti nasehat pelayan Wei, Putri Zhiping menjaga jarak dengan Zan Zizi. Tapi ia lakukan secara alamiah agar Zan Zizi tidak tersinggung.
Sesampainya di tempat biasa, Putri Zhiping sangat terpukau dengan pemandangan yang ia lihat. Meja belajar yang tertata begitu rapi.
"pelayan Wei !" memanggil seolah bertanya apakah ini juga perbuatan Pangeran Liang Zee.
Meski Putri Zhiping tak bertanya, pelayan itu lantas tersenyum lalu mengangguk, "Benar putri."
Putri Zhiping menjadi merasa bersalah, kemarin dia enak - enak berdua dengan Zan Zizi sementara Pangeran Liang Zee sibuk memberikan fasilitas belajar untuknya.
Terbesit dalam benaknya akan berkunjung sepulang mengajar nanti.
Anak - anak begitu senang dengan meja belajar yang baru, mereka tambah semangat untuk belajar.
.
Putri Zhiping pamit pada Zan Zizi untuk diantar ke kerajaan Timur. Zan Zizi agak berat menerima permintaan sang putri namun ia tetap menjalankan perintah.
Sesampainya di kerajaan Timur.
"Pelayan Wei, bisakah kamu dan Zan Zizi berada di sini sebentar. Aku ingin bertemu pangeran seorang diri."
Pelayan Wei dan Zan Zizi mengangguk patuh.
Putri Zhiping dipersilahkan masuk dan disambut hangat kedatangannya oleh kedua calon mertuanya.
Setelah berbincang - bincang, Putri Zhiping menyampaikan maksud kunjungannya ingin bertemu dengan Pangeran Liang Zee.
"Kebetulan kamu datang, sepertinya Pangeran Liang Zee sedang kurang enak badan."
Putri Zhiping agak kaget mendengarnya, apakah karena terlalu lelah mengurus meja kemarin.
"Izin kan hamba menengok Pangeran Liang Zee !"
Permaisuri Jian Li mengantar Putri Zhiping ke kamar Pangeran Liang Zee.
"Putri Zhiping dan permaisuri telah tiba !" suara lantang pengawal memberi informasi agar Pangeran Liang Zee bersiap.
Kemudian Permaisuri Jian Li memasuki kamar duluan diikuti Putri Zhiping.
Permaisuri pernah muda juga, ia memberi ruang privasi bagi keduanya lalu pergi.
Pangeran Liang Zee tampak terdiam seperti tak berselera menerima kedatangannya.
"Ibumu bilang, kamu sakit ? Sakit apa?" tanya cemas.
Pangeran Liang Zee tak menyahut. "Sakit hati." jawabnya ketus dalam hati. "Kamu berduaan dengan pria lain di belakangku, padahal kamu adalah calon istriku."
Putri Zhiping tertawa terpingkal - pingkal mendengar isi hati sang pangeran membuat pangeran bangun dan bertanya.
"Apanya yang lucu !"
Putri Zhiping menghentikan tawanya. Ia mencerna maksud isi hati pangeran yang katanya sakit hati.
"Apakah kedatanganku tak bisa mengobati sakit hatimu?"
Pangeran Liang Zee berubah merah mukanya, malu. "Sakit hati ? Siapa yang sakit hati ?" elaknya tak mau mengaku.
"Bagaimana dia bisa tahu isi hatiku ?" gumamnya dalam diam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments
Murni Dewita
banyak2 up thor
2024-07-25
2