Rencana Baru 2

Orang - orang sedang sibuk dengan pengerjaan sawah. Benih jagung juga sudah disiapkan. Petani lain sedang menyiapkan kompos sebagai penutup benih.

Aliran sungai juga sudah siap digunakan untuk mengairi sawah.

Para petani yang sudah lama menganggur seperti mendapat semangat dan energi baru untuk bercocok tanam lagi setelah dua bulan lamanya menganggur. Tidak terpikirkan oleh mereka jika jagung bisa bertahan lama di musim kemarau. Yang mereka tahu semua tanaman itu sama yang hanya bisa ditanam di musim penghujan.

Ketika hari hampir siang, para istri datang untuk memberikan makan pada suami mereka.

Putri Zhiping tersenyum geli melihat keromantisan yang mereka ciptakan secara alamiah. Ada yang makan dalam satu wadah. Ada yang minta disuapi karena tangan suaminya kotor. Ada yang belum makan karena pekerjaan yang nanggung. Terlihat juga anak - anak yang kepanasan berlarian ke bawah pohon untuk berteduh. Mereka bermain sejak pagi tanpa lelah.

Seketika batinnya tercubit menatap mereka. "Apakah mereka tidak sekolah di pagi hari?" gumamnya karena melihat mereka rata - rata sudah berusia 7 tahun ke atas.

"Apa Putri ?" pelayan Wei menajamkan pendengarannya.

"Anak - anak tidak belajar di sekolah?"

"Anda tidak tahu ? Jika pendidikan hanya diperuntukan untuk mereka kalangan anak pejabat pemerintah saja, Tuan Putri Zhiping."

Mendengar itu Putri Zhiping tidak sependapat dengan tata pemerintahan di negara ini. "Ini tidak adil namanya. Aku akan bicara pada Raja." Putri Zhiping segera beranjak tak berselera menatap sawah lagi. Ia tak hanya memberikan gebrakan baru tapi juga akan menuntut keadilan pada mereka yang berhak mendapatkan keadilan.

Pelayan Wei ikut beranjak, "Tunggu Putri Zhiping ! Anda tidak tahu masalahnya."

"Siapa bilang aku tidak tahu. Mereka juga berhak mendapatkan pendidikan yang layak."

Pelayan Wei merutuki nasibnya yang menjadi bawahan putri keras kepala itu. Yang ia khawatirkan jika putri menentang pemerintahan maka akan membuat raja menjadi marah.

Di dalam istana.

"Kamu sangat lancang !" sentak permaisuri Qian secara langsung ketika mendengar Putri Zhiping mengadu tentang ketidakmerataan pendidikan di wilayah utara ini. Semakin hari tindakan Putri Zhiping kian melunjak saja.

Berbeda dengan raja Qian, ia masih menyimak dengan pemikiran sang putri. Sebenarnya pemikiran itu tidak salah tapi mau bagaimana lagi ini sudah menjadi suatu keputusan yang tidak bisa dirubah.

Thalita yang dulunya memperoleh gelar S1 itu sangat tidak terima dengan bentuk pendidikan di zaman dulu yang membedakan kasta. Untuk itu ia akan berdemo menuntut hak para anak - anak sebagai cikal bakal negara dan jika pemikirannya ditolak ia yang akan terjun langsung ke lapangan. Saat masih perawan dulu ia terbiasa sudah menjadi guru tutor di sebuah lembaga belajar. Jadi ada bekal sedikit.

"Maaf Yang Mulia. Pendidikan itu harusnya merata di semua kalangan tidak memandang status mereka apa di negara ini. Bahkan saya pernah mendengar sebuah syair yang saya akui kebenarannya yang haq. Tuntutlah ilmu mulai dari buaian hingga liang lahat. Bukankah itu sebuah kewajiban? Lantas, pemerintahan di negara ini yang hanya memberikan pendidikan pada kalangan tertentu saja bukankah itu termasuk menghalangi kewajiban mereka untuk mendapatkan pendidikan?"

Putri Zhiping tidak berhenti sampai disitu. Raja dan permaisuri dibuat terperangah tak percaya karena Putri Zhiping begitu fasih berbicara.

"Jika pendidikan hanya diberikan pada kalangan tertentu, maka bagaimana dengan kehidupan rakyat yang hanya menggantungkan dari pemerintah ? Mereka hanya berkembang secara sosial tapi tidak dengan mental dan pikiran. Saya yakin peradaban akan semakin maju. Jika dibiarkan seperti ini mereka akan menjadi sebuah bangsa yang tertinggal." imbuhnya yang membuat permaisuri Qian bungkam.

Raja dengan bijak menyampaikan sebuah komitmen yang sudah temurun. "Aku akui pemikiranmu sungguh luar biasa Putri, tapi ketahuilah, ini sudah menjadi tradisi yang tidak bisa di rubah. Guru hanya boleh mengajar pada mereka keturunan para bangsawan saja."

Putri Zhiping mengerti dan tidak akan membantah, ia tahu batasannya tapi tidak akan berhenti di sini. Ia akan berusaha dengan caranya agar pendidikan bisa merata tidak hanya kalangan pejabat saja. "Baik Yang Mulia, saya mengerti." Meski dengan perasaan yang kecewa ia tidak menyerah. Ia yang akan menjadi guru bagi mereka para anak yang tidak mendapatkan haknya. Lalu Putri Zhiping segera undur diri bergegas ke kamar.

Pelayan Wei sangat cemas dengan apa yang baru saja Putri Zhiping lakukan. "Putri, Anda sungguh melewati batas. Saya takut jika akan berdampak buruk pada pemikiran putri yang berkeinginan keras menjadi seorang guru."

"Kamu meremehkanku pelayan Wei !" Putri Zhiping membuang muka.

"Ampuni saya Putri Zhiping, bukan begitu maksud saya. Anda tidak akan bisa bekerja sendiri tanpa campur tangan orang lain jika niat Anda ingin terpenuhi."

Putri Zhiping mengerutkan alisnya, "Maksud kamu ?"

"Putri, pendidikan di negara ini bagi kalangan ke bawah sangatlah tidak menarik. Bagi mereka, makan dan mendapatkan penghasilan sudahlah cukup. Akan sulit jika Anda secara langsung meminta anak mereka untuk mendapatkan pendidikan."

"Miris. Kenapa mereka berpikiran sempit sekali."

"Karena mereka hanya tahu cara mencari makan."

Putri Zhiping terdiam sambil berpikir, maka terlintas di benaknya untuk membuat sebuah gebrakan baru. Apa yang dikatakan pelayan Wei benar, ia tidak bisa bekerja sendiri.

Setelah lama berpikir tiba - tiba saja ada burung merpati putih datang dari luar jendela. Pelayan Wei segera menangkap burung itu,mengambil surat yang terikat di kaki merpati. Lalu membukanya. Betapa terkejutnya ia. "Surat ini dari Pangeran Liang Zee."

Putri Zhiping berubah masam, disaat pemikirannya sedang ruwet pengacau datang. Dengan enggan ia meminta pelayan Wei membacakan isi surat itu. "Bacakan!"

"Baik Tuan Putri." Pelayan Wei berdehem lebih dulu. "Putri Zhiping calon istriku," baru membaca pelayan Wei sudah tidak sanggup, begitu syahdu. Ia menyerahkan surat itu tapi Putri Zhiping menolak nya memintanya untuk melanjutkan membaca.

"Putri Zhiping, sesuai dengan kesepakatan diantara kita berdua, maka aku menagih janji pada permintaanku yang kedua. Mengikuti kemauanku. Besok aku akan pergi ke Shanghai, maka dari itu ikutlah bersamaku. Pangeran Liang Zee, calon suamimu."

Begitu mendengar kalimat yang terakhir, Putri Zhiping sampai muntah udara. "Sangat menggelikan. Aku tidak suka cara dia memanggilku."

"Bukan kah itu terdengar sangat romantis Putri?" goda pelayan Wei.

"Romantis gundulmu !" umpat Putri Zhiping yang seketika membuat Wei menyebik sembari menyentuh kepalanya.

Mata - mata permaisuri Qian mendengar semuanya, ia segera pergi dan menyampaikan laporan. "Aku harus memberi tahu permaisuri."

Putri Zhiping tahu jika ada orang diluar sana yang menguping pembicaraannya. Dahinya berkerut membuat ia penasaran lalu mengorek informasi dari Wei.

"Pelayan Wei, menurutmu permaisuri Qian itu bagaimana?"

"Hah, mengapa tiba - tiba putri bertanya demikian?"

"Tidak apa. Aku hanya ingin tahu saja."

"Permaisuri Qian itu sangat tidak suka disaingi dalam hal apa pun. Karena dia belum bisa memberikan keturunan pada raja, maka posisinya menjadi incaran para selir termasuk selir Huan."

Mengingat selir Huan, Zhiping harus berhati - hati terhadapnya karena orang itulah yang ingin membunuhnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!