17. First Kiss

Di rumah pasutri baru, Cahyo dan Nana masih sibuk memastikan proyektor di ruangan menyala dengan sempurna.

"Ini video siapa yang ngedit, dah?" Cahyo tegak pinggang menonton tayangan di depan sana. Ada foto-foto pernikahan dua temannya dengan diiringi lagu yang suaranya persis suara Sabir sendiri sebagai latar. "Enggak mungkin Sabir, kan, Na?"

"Kalau iya, kenapa?" Bukan Nana yang membalas, melainkan Sabir yang kebetulan telah sampai di rumah.

Seraya melepas wing KA yang dikenakan, ia mendudukkan diri di sofa malas.

"Berapa lama bikin dekor beginian?"

Ada balon warna putih dengan hiasan lampu-lampu keemasan, sudah lengkap makanan dan minuman di meja. Makanan itu disiapkan oleh kedua orangtua Sabir dan Serena.

"Ada kali tiga jam-an. Mana adik iparmu enggak bantuin, lagi!"

Mendengar dirinya dibawa-bawa, Nana yang sejak tadi menikmati Es krim lantas protes, "Aku bantuin, ya! Bantu doa, he-he."

"Yeeuuu! si curut!" Cahyo melempar lilin ke arah Nana, tanpa menyadari bahwa itu adalah lilin yang nanti dibutuhkan untuk kue ulangtahun Serena. "Mampus! Patah atau enggak, Na?"

Tidak merasa khawatir, Nana menunjukkan lilin angka 2 yang kebetulannya telah patah menjadi dua.

"Hayolo, gimana ini? Masa Mbak Eren ulang tahun ke-delapan? Angka duanya enggak ada."

Melirik Sabir, Cahyo menaikkan alis bermaksud meminta saran. "Beli lagi atau enggak?"

"Capek enggak?"

Ya kalau ditanya begitu, maka Cahyo akan langsung berseru, "Banget! Capek banget, Sobat!"

"Yaudah, enggak perlu pake lilin-lilin segala."

"Enggak afdal dong enggak ada tiup lilin?"

"Yang penting niatnya udah tersampaikan, Cah. Lilin mah enggak ngaruh apa-apa juga." Sedikit mengantuk, Sabir merebahkan diri di sofa, lantas menutupi wajah dengan topi.

"Eh, tapi serius ini video Bang Sabir yang edit? Yang nyanyi juga Abang?" Sejujurnya Nana sangsi, tapi begitu mendengar iparnya berdeham, ia jadi heran sedikit. "Kok, bisa romantis? Diajarin siapa, Bang?"

"Jizzy."

Nana dan Cahyo kompak saling tatap, lalu kembali melihat Sabir.

"Ooooohh!"

"Enggak usah diragukan lagi kalau begitu!"

Keduanya tertawa-tawa.

"Ngomong-ngomong, ini sebentar lagi Serena datang, ya. Kita-kita balik dulu, deh. Mau manggil yang lain juga, kan. Nanti balik lagi pas bagian makan-makan."

Malas-malasan, Sabir mengacungkan jempol. "Jangan lupa tutup pintu."

Di lain sisi... selepas menyelesaikan pesanan Tante Yusniar, Serena dikejutkan oleh pesan yang tau-tau masuk berisikan: "Ren, nanti rotinya bawa ke rumah kamu aja, ya. Tante bakal mampir ke sana."

Tanpa ba-bi-bu, Serena balas menelpon. "Tante... ini gimana maksudnya? Arisannya enggak jadi?"

"Iya, Ren, Tante lupa jadwal arisan di rumah Tante itu Minggu depan. Tapi karena Tante udah terlanjur pesan gitu sama kamu, nanti Tante tetap ambil, kok. Kirim alamat rumah kamu sama Sabir, ya." Di rumahnya, Tante Yusniar senyum-senyum sendiri. Tidak ingin kebablasan menyebutkan bahwa pesanan roti itu hanyalah akal-akalan Sabir untuk membuat istrinya sibuk di toko.

"Oh... oke."

Sebenarnya Serena heran mengapa Tante Yusniar sampai salah tanggal arisan. Tetapi karena sekarang sudah sangat sore, Serena memutuskan pulang ke rumah dengan membawa keseluruhan roti-roti pesanannya.

Dengan langkah gontai, ia memasuki rumah. Melepas sepatu dan berganti dengan sandal. Suasana sepi, mungkin Sabir belum sampai. Namun, begitu melewati ruang keluarga, ia dikagetkan oleh suara genjrengan gitar. Suaranya dimulai dengan sayup-sayup, lalu berubah jelas.

"Eh?" Deg-degan, Serena mencari sumber suara dan menemukan ruang khusus menonton film yang memang tersedia di sini, telah dipenuhi balon-balon dan lampu kecil yang membuat suasana menjadi sangat temaram.

Matanya mendelik sempurna. Terkejut melihat tayangan video yang berasal dari alat proyeksi.

Ini gambaran kita suatu hari nanti

Setelah sekian lama kita jalani

Suara itu milik suaminya. Terdengar lembut mengalun mengiringi pergantian foto-foto dan video di depan sana.

Lewati masa-masa yang berarti

Kini kusudah yakin pada satu hati

Yang kurasa tepat untuk temani

Sekarang hingga aku tua nanti

Semua dimulai dari zaman mereka SD. Ada banyak sekali gambar yang menunjukkan keababilan seorang Serena Awahita dan Ananda Sabir Bachtiar mengenakan seragam merah-putih.

Dilanjutkan dengan masa-masa SMP, SMA, dunia kuliah, foto acara-acara keluarga, dan tak lupa... momen-momen pernikahan mereka.

Ingin punya rumah tuk tempat bermesra

Kau dipanggil ibu sementara aku ayah

Bertukar cerita, di ruang keluarga, bercengkrama dan menimang buah hati kita

Sederhana... bahagia ini lengkap sudah

Sama-sama hingga nanti kita tutup mata

"Satu... dua... tiga..." Riuh. Itu adalah video yang diabadikan saat pelemparan bunga. Seorang perempuan yang merupakan sepupu Serena memeletkan lidah ke kamera seraya memamerkan bunga yang ditangkapnya. Kemudian kamera menyorot Sabir yang tergelak bersama Serena.

Syok; antara kaget dan terharu, Serena lantas menutup mulut dengan mata berkaca-kaca. Suaminya bukan seorang penyanyi, tapi suaranya berhasil menyentuh relung hati.

Sedikiiiittt membuatnya merasa dicintai dengan sungguh-sungguh.

Ingin punya rumah tuk tempat bermesra

Kau dipanggil ibu sementara aku ayah

Bertukar cerita, hingga lelap mata, lalu datang pagi, kau memasak, ku bekerja

Sederhana... bahagia ini lengkap sudah

Sama-sama hingga nanti ajal kita tiba

Semoga saja niat baik kan terwujud segera

Asal kita... percaya dia maha segalanya.

Jangan dulu lelah, yakin semua indah

Pejamkanlah mata, pada-Nya kita berserah...

Video berakhir dengan senyum merekah kedua mempelai pengantin yang mana adalah Serena dan Sabir sendiri.

Kemudian lampu utama dalam ruangan ini menyala, membuat semua terang benderang, tidak lagi remang seperti tadi. Belum selesai kekagetan Serena, di sudut ruangan itu ia menemukan Sabir duduk lesehan sembari memegang kue.

"Aku enggak tahu kamu akan suka sama semua ini atau enggak, tapi... happy birthday, Eren." Dengan tulus, Sabir tersenyum.

"Kamu bercanda? Aku suka banget!!!"

Serena berlari menuju ke arahnya. Mendudukkan diri di atas karpet bulu yang tengah diduduki Sabir pula. Suaminya itu memakai kardigan merah muda yang terasa tidak asing. Sebentar... ini sepertinya punya Serena.

Merasa ditatap, Sabir terkekeh. "Aku tadi buru-buru ambil baju, enggak sengaja keambil punya kamu."

"Pantesan..." Serena senyum-senyum. "Kamu bikin ini semua sendiri?"

"Dibantu sama Cahyo, Nana juga."

"Videonya?"

"Aku edit sewaktu di rumah dinas kemarin, terus aku kirim ke Jizzy dan... yah itu tadi diputar sesuai rencana dan saran dia."

Gemas, Serena mencolek lengan Sabir. "Kok, bisa kepikiran, sih?" Ia tidak pernah berekspektasi akan diberi kejutan semacam ini. Memang sederhana, tapi bagi Serena ini berjuta-juta makna. "Biasanya bapak enggak ada romantis-romantis begini, ya, Pak."

"Kan setiap orang bisa berubah, Ibu Eren. Emangnya salah kalau jadi romantis untuk istri?"

Ah, suaminya ini... benar kata Jizzy, dia akan mudah untuk dicintai. Tapi, Serena belum terlalu yakin.

Tidak menyahuti yang satu itu, Serena memerhatikan kue ulang tahun yang masih dipegang Sabir. "Itu kenapa lilinnya cuma angka delapan? Aku perasaan udah dua-delapan lho, bapak. Bukan bocil lagi."

"Oh... ini tadi angka duanya patah sama Cahyo. Terus enggak ada waktu buat beli lagi, kan. Jadinya... maaf, kamu ulang tahun ke delapan hari ini ya, Ibu Baker."

Serena langsung tertawa.

"Balik muda dong aku."

Sabir mengangkat kuenya. "Tiup lilin?"

"Bareng?"

"Boleh..." Sabir mendekatkan diri, bersiap-siap untuk meniup juga.

Satu... dua... tiga...

Apinya padam. Dua pasutri ini kemudian saling tatap.

"Makasih banyak, ya. Untuk ucapan semalam, untuk yang sekarang, untuk semua yang kamu siapkan. Aku bahagia bangettttt."

"Aku bersyukur kamu suka." Kemudian tersadar dengan posisi duduk mereka, Sabir menyeletuk, "Serius kita lesehan di sini aja?"

"Kan kamu yang mulai dengan duduk di sini, aku ngikut." Serena lantas bangkit, memilih menuju sofa malas, dan kembali memutar ulang video tadi.

Sabir membawa kue dan meletakkan ke meja di antara makanan yang ditutupi plastik, kemudian duduk di samping istrinya.

"Foto-foto lama dapat darimana?"

"Album yang kamu ambil di gudang rumah sewaktu kita mau pindahan."

"Banyak juga, ya."

"Bejibun, Er. Ini enggak segalanya aku masukin. Masih ada sisa-sisa foto yang gambarnya udah mulai retak-retak gitu. Capek ngeditnya supaya jadi HD lagi."

"Kenapa enggak minta bantuan aku?"

"Enggak jadi kejutan dong kalau kamu tau."

"Benar juga." Mengambil salah satu air mineral di meja, Serena melanjutkan, "Suara kamu bagus. Kenapa dulu enggak jadi penyanyi aja?"

"Kamu juga cantik, kenapa dulu enggak jadi artis aja?"

Praktis, Serena terbatuk-batuk. Dengan begitu, Sabir meletakkan telapak pada dahi Serena.

"Kamu sakit, Er?"

Sekali tepis, Serena berganti menatap nyalang.

"Belajar dari siapa kamu gombal-gembel begitu, Sab? Aku kaget, jujur aja."

Sedikit memundurkan wajah; takut karena pelototan Serena, ia menjawab, "Jizzy."

Pantes!!! Serena harus mendudukkan sahabatnya itu di meja bundar dan mengancam untuk tidak mengajarkan suaminya macam-macam. Bisa-bisa runtuh jantung Serena kalau dikasih gombalan secara tiba-tiba kayak tadi.

"Lain kali jangan dengerin Jizzy."

"Tapi katanya itu cara yang benar untuk mendekatkan diri, Er. Supaya aku sama kamu bisa jadi pasutri yang sesungguhnya."

"Oh ya? Terus apa lagi caranya kata dia?" Serena menantang. Sedikit penasaran apa saja yang telah dikunyah Sabir dari Jizzy yang kadang-kadang berotak miring itu.

"Em... aku ragu kamu bakal suka dan enggak keberatan."

"Anggap aja aku suka."

"Oke, dia saranin begini..."

Sabir memajukan wajah, telinga dan lehernya nampak memerah. Hal ini membuat Serena terhenyak dan lambat-laun menyadari saran apa yang telah diberikan Jizzy.

Sabir mencium bibirnya. Kurang dari lima detik sebelum dia tertunduk.

Mata Serena berkedip beberapa kali, sebelum kemudian membiarkan hasratnya menuntun untuk mencium Sabir kembali.

Ciumannya lembut. Serena bahkan terbuai dengan belaian bibir suaminya.

Matanya terpejam selagi Sabir menelusuri dagu dan lehernya. Embusan napas hangat di bawah telinga berhasil membangunkan saraf di sekujur tubuh. Di saat yang sama Serena merasakan Sabir mendorongnya pelan untuk berbaring di sofa.

Laki-laki itu tanpa melepas ciumannya mulai membuka ikatan pita blouse yang dipakai istrinya. Dua kancing teratas terlepas. Sejurus kemudian, Serena tidak bisa menahan lenguhan saat Sabir mengecup bahu dan dadanya.

Tiba-tiba saja, terdengar suara grasak-grusuk di luar ruangan. Serena refleks menghentikan gerakan tangan Sabir yang hendak melepas kardigan di badannya sendiri. Mata Serena membeliak bersamaan dengan Sabir yang terkejut ketika pintu rumah mereka ditutup kencang-kencang.

Astaga!!! Sabir lupa telah mengundang orangtua dan antek-anteknya!!!

***

Terpopuler

Comments

Nining Chili

Nining Chili

hahahahaahahahh😂😂😂

2024-07-08

0

Mamaqilla2

Mamaqilla2

wkkwkwkkwwk ngakak di akhir 🤣

2024-06-24

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!