04. Masinis muda idaman

Selama menjadi seorang masinis, Sabir telah banyak menerima berbagai pertanyaan orang. Seperti bagaimana caranya supaya bisa punya profesi serupa; bagaimana rasanya ketika mengendalikan lokomotif kereta; bagaimana rute-rute perjalanan yang telah ia lewati.

Jawaban Sabir barangkali sederhana. Kalau mau jadi masinis, ya usaha; ya belajar; ya berdoa. Perasaan tatkala berhasil membawa penumpang dengan selamat sampai tujuan dengan lokomotif yang dikendalikan, tentunya bangga; tentunya bahagia. Rute-rute perjalanan yang telah dilewatkan semuanya rata-rata mempesona. Apalagi kalau menempuh area persawahan di mana padi para petani lagi hijau-hijaunya. Mata Sabir benar-benar dimanjakan.

"Rileks ya, Mas."

Sabir mengangguk. Saat ini sedang melakukan cek kesehatan yang rutin dilakukan sebelum dinas.

"Barusan katanya ada yang nabrak, ya?"

"Benar, Mas. Di petak mana katanya itu, saya agak lupa. Salah orang yang bawa mobil sih, Mas. Padahal palang udah mau turun, dia tetap aja nyelonong. Mau mundur udah nggak bisa, maju apalagi! Hancur sudah mobilnya."

"Yang punya mobil, gimana keadaannya?"

"Katanya sih selamat, Mas. Soalnya dia udah lari duluan."

"Merelakan mobilnya, ya."

"Iya, sampai trending di X, ngeri saya lihatnya."

Petugas medis pun menyudahi proses check-up. "Seperti biasa, Mas Sabir. Hasilnya semua aman, Mas bisa berdinas hari ini. Tapi saya sarankan untuk banyak-banyak minum air putih, ya. Masnya dehidrasi."

Jadwal tidur pria ini memang tidak menentu. Kalau diingat-ingat, ia lebih sering terlelap di waktu pagi saat-saat selesai bertugas dan terjaga terus di malam hari. Dengan begitu saja, wajar kalau dehidrasi.

"Terima kasih, Dok." Kemudian tanpa berlama-lama, Sabir menuju Depo Lokomotif untuk sekadar bertemu teknisi yang telah lama dikenal.

"Katanya ada asisten masinis baru ya, Mas Sabir?" Yang ditanya kontan mengangguk.

"Sebenarnya enggak baru-baru juga. Sudah dinas sejak bulan lalu, tapi di Daop 6. Terus dipindahin ke Daop 1 karena daerah operasi sebelumnya sudah terlalu banyak as-mas." Seraya menjawab, Sabir mengisi surat-surat dinas.

Si penanya praktis manggut-manggut. Mata kelamnya menilik ekspresi masinis muda satu ini. "Wajah dilihat-lihat makin berseri, Mas. Ada berita gembira, kah?"

Sabir mesem-mesem. Jujur, ia memang sedang sangat senang. Karena menurut pesan yang dibaca dari kekasihnya-Shella, dia akan satu kereta dengannya. "Nanti bakalan satu perjalanan sama pacar. Pastinya bahagia, kan?"

Laki-laki tadi membulatkan mulut dengan mata melebar. "Oalah, pantas bersemu sekali itu pipinya." Sabir tergelak. Memangnya siapa yang tidak akan senang jika bertemu kekasih yang jarang ditemui?

"Gimana performanya, Yo? Bisa dipakai, kan?" Mengabaikan Deo yang masih meledek pipi yang merona, Sabir mempertanyakan lokomotif yang hendak digunakan.

Lantas dengan begitu, Deo tidak lagi menjahili dengan alis naik-turun. Ia beralih menuturkan hasil pengecekan.

"Semua terjamin oke, lokomotif sudah di-start-up. Rangkaian suci tanpa noda alias sudah dibersihkan dan ada di tempat biasanya. Nanti dilangsir jam enam, masuk ke jalur 3, ya, Mas Sabir."

"Oke, terima kasih."

Selepas menandatangani surat dinas atas-bawah, pria ini menarik ponsel dari saku celana manakala terasa sebuah getaran.

Lengkung bibirnya membentuk sabit kecil; matanya menyipit begitu benda pipih tadi dibawa ke telinga kanan. Suara lembut perempuan menyambutnya dengan tanya,

"Lagi sibuk?"

"Sebentar lagi mau dinas. Tumben nelpon sore-sore? Ada hal penting?" Tidak terdengar sahutan dari seberang. Sabir lantas mengecek ponsel, panggilan masih tersambung dengan kontak Serena Awahita. "Eren? Masih di sana? Aku sebentar lagi harus naik kabin."

Langkah kakinya terburu mengejar waktu untuk melangsir kereta. Sampai di lokasi, ternyata sudah ada Angga yang kali ini satu crew dengannya.

"Ga, tolong langsir gerbong jalur 3, ya." Dalam kabin masinis, Angga sedikit tersentak linglung. Pasalnya ia hanyalah as-mas. Jadi merasa segan untuk menolak tapi juga sedikit khawatir apabila menyanggupi.

"Serena Awahita, halo, kenapa ibu diam saja? Lagi cosplay Limbad, ya?" Sabir kembali fokus pada ponsel. Membiarkan juniornya yang lulus dari Balai Pelatihan Teknik Traksi Yogyakarta sejak beberapa bulan yang lalu itu melangsir kereta.

"Santai, Ga, nggak usah panik gitu. Kamu nggak lagi dikejar zombi."

Angga kontan cengar-cengir begitu Sabir menegurnya.

"Kapan baliknya?" Pergi saja belum, kembalinya sudah ditanya. Memang sahabatnya ini lumayan berbeda.

"Kemungkinan aku baru kembali ke sini besok lusa. Memangnya ada apa, Er?" Serena tidak biasanya menelpon lebih dulu. Kalau mau bertanya kabar, Sabir yang akan melakukan dengan sukarela. Sebab perempuan itu terkenal dengan gengsi yang melebihi tinggi air terjun Niagara. Iya, cetek. Tapi dipaksa tinggi karena Serena malas menghubungi.

"Ada yang mau aku bahas sama kamu. Tapi nanti aja sewaktu sudah selesai tugasnya. Semangat, bapak masinis. Jangan lupa minum susu beruang. Kata Emak, akhir-akhir ini kamu terserang pilek."

"Korelasi antara susu beruang dan pilek itu apa, ya, ibu Baker?" Sabir handal dalam mengingat segala semboyan dan ketentuan dalam pekerjaan masinis. Namun, apabila dihadapkan dengan isi otak Serena Awahita, Sabir tidak cukup hebat mencernanya.

"Virusnya bakal mati dibunuh sama beruangnya, Bapak...."

Maka teman seperti apa lagi yang bisa Sabir dapatkan? Yang satu ini lebih dari cukup. Serena mudah sekali menggelitik humornya dengan kata-kata yang sebenarnya tidak seberapa. Nadanya bahkan datar. Yang aneh, Sabir malah menyukai suara datar itu. Dalam tanda kutip, menyukai sebagai sahabat.

"Tadi katanya mau pengajuan nikah ke kesatuan pacarmu, kan? Sudah selesai?" Deham singkat menjadi respon dari seberang. "Cerita lah, Er. Aku mau tau gimana rasanya minta izin nikah kayak gitu."

"Coba saja sendiri."

"Ya enggak bisa, dong. Aku bukan TNI." Sembari tertawa, Sabir mengenang perjuangannya yang sempat tes abdi negara untuk sekedar dibanggakan seragamnya. Niatnya memang kurang baik, sehingga ia gagal dan malah berakhir jadi masinis. Kalau mengingatnya, ia akan menertawakan pikiran yang kekanakan itu.

"Jadi gimana rasanya menghadap pejabat-pejabat itu? Terintimidasi? Pasti enggak, dong. Aku tau banget kamu nggak gampang ciut nyalinya." Serena hanya menjawab acuh tak acuh. Hal ini membuat Sabir tersenyum tipis seraya geleng-geleng.

"Mau oleh-oleh atau nggak?"

"Mau, yang banyak, ya." Giliran begini saja, dia semangat meresponnya.

"Uang saku bawanya cuma sedikit. Nanti transfer aku, ya, ibu."

Tentu saja Sabir bercanda. Sekadar memberi buah tangan untuk Serena tidak ada apa-apanya. Bukan bermaksud berkata bahwa ia kaya-raya, bukan! Melainkan gajinya memang mencukupi. Kalau urusan kaya, setiap orang punya standar berbeda.

"Ah, bapak masinis nggak modal. Percuma dong segala sertifikasi itu."

Tawa kecil diberikan sebagai tanggapan.

Tak lama, lokomotif sampai juga di stasiun keberangkatan. Kepada Angga, Sabir menepuk pundaknya sekali lagi tanda mengapresiasi.

"Eh, Angga, siapa yang nyuruh kamu duduk di kursi masinis?" Detak jantung Angga praktis terpacu akibat kaget dan takut. Bisa-bisanya masinis muda ini malah membuatnya nyaris terhantam angin duduk.

"Kan, Mas Sabir yang suruh. Aku cuma mengikuti."

"Emang iya?"

Contoh senior yang pantas dilaknat? Sabir salah satunya.

Tidak, Angga hanya bercanda.

Berada di posisi junior, jelas serba salah. Angga tidak akan bisa membalas ucapan Sabir barusan walaupun seniornya ini tampangnya baik sekali. Tidak hanya tampang, kata orang hatinya memang sangat baik-lupakan perihal jahil. Makanya Angga juga merasa nyaman begitu tahu akan satu crew dengan Ananda Sabir Bachtiar, masinis yang jam terbangnya sudah cukup tinggi dan diakui mirip orang Jepang-garis-miring-sangat disiplin.

"Er, aku akan satu kereta sama Shella." Hening. Suara napas pun bahkan tidak terdengar. Lagi, ia memerhatikan layar ponsel dan melihat sambungan telepon masih terhubung. "Eren? Masih dengar?"

"Sudah dulu, ya. Aku lagi sibuk, nih." Meskipun sedikit bingung, Sabir mengiakan saja. Hanya dengan begitu, ponselnya ia letak kembali ke dalam saku.

"Tunggu ya, Ga. Saya ada urusan sebentar." Sabir berjalan menuju peron stasiun sembari melihat-lihat sekitar, mencari keberadaan kekasihnya.

Lamat-lamat di kejauhan muncul sosok perempuan yang ditunggu. Berjalan dengan celana jins membalut kaki jenjang dipadu mantel coklat, selaras dengan warna rambutnya.

Tidak peduli dengan sekitar, Sabir merengkuh tubuh itu dalam satu pelukan hangat.

"Kamu di gerbong mana?"

"Eksekutif, seat 2A."

"Enggak bawa syal? Leher kamu agak dingin." Shella menarik diri sebab risi mendengar bisik-bisik manusia kurang kerjaan yang hobi mengomentari orang.

"Nggak perlu syal. Aku juga nggak kedinginan."

"Yakin?" Yang ditanya mengangguk.

Sejujurnya Shella mau mengatakan sesuatu pada kekasihnya yang nampak rapi dengan seragam, namun ia urung. Setidaknya, butuh beberapa saat lagi agar bisa berani menyampaikan hal yang pasti akan mengejutkan.

"Sudah sana, keretanya nggak akan jalan kalau kamu masih di sini, Mas."

"Oh iya, benar." Dengan begitu saja, Sabir tersenyum kemudian bergegas memasuki Lokomotif.

Setelah segala halnya dipastikan aman; kondektur memberi semboyan 41 yang dibalas masinis dengan semboyan 35; perjalanan menuju Malang pun dimulai di jam enam lebih lima belas.

***

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!