Aroma harum mentega menguar di ruangan. Loyang berbagai ukuran tertata di meja, menunggu giliran untuk masuk panggangan. Detik jarum jam paling pendek yang terpajang di dinding masih menunjuk angka tiga. Dari cahaya remang lampu-lampu di luar sana, akan diketahui kalau sekarang adalah tiga dini hari.
Serena memerhatikan oven di hadapan. Meskipun mata mulai lelah, tatapnya berusaha fokus pada sourdough yang perlahan-lahan menjadi kuning keemasan.
Ini adalah percobaan ke sekian yang Serena buat untuk mendapatkan resep sourdough seperti yang pernah dimakannya di negara Eropa. Ia menyayangkan hasil sebelumnya tidak sesuai harapan dan berakhir di tong sampah. Semoga yang kali ini bisa berakhir di pencernaannya.
Suara dentingan oven barangkali merupakan apa yang telinganya tunggu. Jadi begitu mendengarnya, Serena segera mengenakan sarung tangan untuk mengeluarkan roti asam itu dari sana.
Setelah mendinginkan roti kurang lebih satu jam, ia meraih pisau untuk mulai mencaritahu hasil kali ini. Ada dua sourdough yang masing-masing diberi ragi berbeda jenis. Kalau dari tampilan, Serena pikir yang menggunakan fresh yeast lebih baik dibanding dry yeast. Tapi apalah gunanya penampilan jika yang dicari persoalan rasa, bukan?
Serena memotong kedua roti. Gesekan pisau terdengar menenangkan manakala bercumbu dengan roti yang kering.
Setelah sibuk menilai rasa yang tengah dikecap, Serena melemaskan bahu. Lagi dan lagi, apa yang didapat tidak sesuai selera. Padahal Serena sudah banyak kali mencoba dan terus mencoba, hasilnya tetap sama. Dua sourdough buatannya malah terasa seperti roti yang sedikit manis.
"Dan selamat bergabung dengan temanmu, Sayang." Satu kali hempas, roti itu berpelukan dengan kantong plastik; siap untuk dibuang.
Tong sampah telah menganga, tapi nampaknya benda mati ini wajib menutup mulut kembali sebab Serena mengurungkan niat membuang roti saat getar ponsel di meja membuatnya berpaling.
"Kenapa nelpon?" Langsung ke inti, mulutnya enggan berbasa-basi. Apalagi dengan pria di seberang sana.
"Kamu masih di toko?"
"Enggak lagi."
"Kalau mau bohong jangan lupa matiin lampu. Aku bisa lihat bayanganmu dari sini, Eren."
Ah, dasar pria ini. Serena bergegas menuju bagian depan toko dan membukakan pintu untuk tamu yang memilih muncul di jam-jam iblis berkeliaran.
Hal pertama yang dilihatnya tentu saja Ananda Sabir Bachtiar. Berdiri dengan mata menyipit karena tersenyum; menggenggam telepon seluler di depan telinga; dengan seragam dinas yang masih melekat sempurna.
"Ngapain ke sini? Enggak diterima di rumah ayah?" Walaupun berteman, Sabir bukan golongan orang yang bisa membuat Serena menyambut dengan ramah apabila didatangi.
Pria berseragam masinis yang dilapisi jaket kulit hitam itu menggeleng singkat.
"Mau mengetuk pintu rumah takut mengganggu ayah sama emak." Lantas dengan begitu saja, Serena mengerutkan kening.
"Terus kamu pikir mengetuk pintu toko ini adalah jalan yang tepat?"
Sabir dapat merasa jika teman kecilnya tidak suka keberadaannya. Serena memang selalu begitu. Bukan berarti dia angkuh dan sombong sehingga tidak mau menyambut Sabir dengan ramah. Melainkan Sabir tahu dia sudah terlalu lelah untuk diganggu. Apalagi Sabir bisa menebak perempuan ini belum sempat tidur.
"Seenggaknya Eren-ku mana mau membiarkan temannya menjadi gelandangan beberapa jam, kan?"
Matahari jelas belum mau terbit. Biar ditipu pakai perapian yang dinyalakan di balik bukit sekali pun, Sabir tidak akan serupa Bandung Bondowoso yang terpaksa menyerah membuat seribu candi.
Pria ini mau diusir oleh Serena dengan cara apa pun, pasti enggan beranjak. Makanya, yang wanita lah memutuskan menerima kehadirannya dengan keikhlasan setebal lapis legit.
"Mau minum ambil sendiri. Mau makan, kayaknya nasi masih ada. Semur ayam di kabinet boleh dipanasin."
Seakan menunjukkan bahwa Sabir bukanlah tamu yang diharapkan bertandang subuh-subuh kelam, Serena kembali menyibukkan diri dengan kegiatan memanggang roti.
Tanpa sungkan, Sabir benar-benar melakukan apa yang diucapkan Serena barusan. "Ada pesanan berapa banyak?"
"Mau kamu hitung pakai jari tangan dikali dua belas pun enggak akan mendekati jumlah Bluder yang harus dikirim besok."
Berdamai dengan sour dough yang gagal terus, fokus Serena kembali pada roti yang kaya akan mentega.
Selagi Sabir menikmati makanannya, dua-duanya memilih diam. Yang laki-laki memilih duduk sembari menonton yang perempuan menguleni adonan. Lamat-lamat terdengar suara adzan berkumandang di kejauhan. Kokok ayam yang entah peliharaan siapa pun turut menyertai. Dengan begitu saja, Serena memilih untuk menata roti-rotinya dalam kemasan.
Sesekali melirik teman prianya, Serena mengesah lelah. Sedikit kasihan menilik wajah yang kusut itu.
"Kamu ke sini bukan tanpa alasan, kan? Ada yang mau diomongin?"
Boleh dikata bahwasanya Sabir jarang berkunjung ke toko sebab jadwal dinasnya yang gila-gilaan. Wajar Serena merasa ada yang perlu disampaikan temannya sehingga muncul bak siluman kelelawar di depan pintu satu jam yang lalu.
Dikarenakan sudah ditanya, maka tidak ada alasan bagi Sabir untuk menunda cerita kali ini. Lantas setelah menenggak cukup air, ia berkata, "Shella selingkuh."
Hanya dengan mendengar itu, Serena menghentikan gerak jemari. Memilih menatap lurus-lurus pada pria yang telah dikenal selama dua-puluh-tujuh tahun hidupnya. Tidak ada kesedihan yang berarti. Sabir memang sulit ditebak isi hatinya, dan itu jelas membuat Serena semakin merasa klop karena ia sendiri juga tidak mudah menunjukkan apa yang dirasa.
"Dan kamu tahu siapa selingkuhannya?"
Yang laki-laki kontan menggeleng. Masih tidak bisa mempercayai jika informasi yang dibeberkan langsung oleh pacar-yang sekarang berstatus mantan-di gerbong eksekutif kemarin adalah benar. Bisa-bisanya seorang Shella Anggraini berkhianat dari Sabir yang berusaha untuk setia kepadanya.
Baru saja pria ini memesankan cincin khusus untuk melamar sang kekasih, malah ternyata kekasihnya lebih dulu dilamar oleh yang lain. Sungguh luka mana lagi yang sanggup Sabir dustakan?
Maka dengan menarik napas panjang, Serena dengan mata menunjukkan kilau air yang memantulkan remang lampu pun bersuara lirih.
"Selingkuhannya adalah pacarku."
Tatap keduanya sama terpaku, sekadar memperlihatkan sorot yang kompak menjadi pilu. Si laki-laki lantas mendongak, yang perempuan lekas menunduk. Hening mengecam keadaan, membuat ruangan semakin dingin meski telah dibantu pemanas suhu.
Bagaimana mungkin hal ini terjadi? Kemarin Serena mengaku akan pengajuan nikah bersama Adrian, kemarin pula Sabir masih sempat senang satu kereta dengan pacar. Lantas, kenapa akhirnya seperti ini? Dua orang yang mereka sayangi malah sama-sama mengkhianati.
Tidak ingin bersedih, Sabir pun menatap Serena dengan senyuman menenangkan.
"Eren, enggak mungkin sesuatu terjadi tanpa penyebab. Kekecewaan yang kita dapatkan dari orang yang kita kasihi ialah bentuk cobaan. Tuhan tahu nilai kita tinggi, sedangkan mereka tidak layak standar. Jadi, daripada meratapi pengkhianatan, bukankah lebih baik jika kita merelakan?"
Di sana, Serena memilih memainkan kemasan Bluder yang baru saja ditata rapi. Dengan tatapan yang sama, ia pun berucap, "Ada banyak sekali jenis roti yang sulit dibuat karena butuh waktu yang lama dan merelakan akan jauh lebih sukar dilakukan dari sekadar membuat roti-roti itu, Sabir. Tapi, aku punya cara untuk membalas dua orang itu."
Ini terdengar seperti Serena ingin membuat suatu permainan demi mengalahkan dua orang yang telah mengecewakan. Atau Sabir salah tangkap maksudnya? Lantas ia bertanya,
"Apa caranya?"
Perempuan itu tanpa berpikir panjang menumpahkan isi kepala dalam sekali pergerakan. "Kita menikah."
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments