13. Kenangan Sabir

Sejak tahu bahwa Janu Baskara akan kembali ke Jakarta, Sabir sungguhan merasa tidak tenang. Ia khawatir Serena akan memungkiri perjanjian dan memilih untuk mengganti menjadi hubungan pernikahan yang bebas; di mana Serena pulih dari patah hati dengan caranya sendiri (misal: mencintai orang lain selain Sabir, dan kandidat yang tepat adalah Janu, itu pun kalau dia belum punya istri) karena dulu... Serena teramat mengagumi Janu Baskara.

Tahun terakhir di SD.

Sabir terpaksa menemani Serena mengintip seseorang yang dia suka tengah bermain futsal di lapangan umum komplek.

"Bang Janu ganteng banget, kan?" Deham singkat ia beri sebagai balasan. Malas rasanya berpanas-panasan hanya untuk menonton pertandingan biasa ini. Lebih baik Sabir pulang dan membangun robot dari Lego bersama Saman.

"Waktu itu ya, dia pernah bantuin aku cari belalang."

"Belalang buat apa?"

"Umpan pancing Papa. Terus dia banyakan dapatnya daripada aku, dong. Tapi pas bilangin ke Papa, dia ngomong kalau yang banyak itu hasil carianku, yang dikit punya dia. Sama Papa aku dikasih hadiah, deh. Dibeliin jajan yang banyak, yang sempat aku kasih ke kamu itu. Aku juga kasih Bang Janu sebagai ucapan terimakasih karena udah bantuin."

Demi Tuhan, Sabir saat ini hanya mau pulang. Ia mengaku suka matahari, memang. Tapi tidak dengan matahari yang menyinari manusia bernama Janu Baskara yang sejak tadi dipuji-puji Serena.

"Tuh! Ganteng banget! Lihat keringatnya yang turun dari kening ke alis, terus diseka pakai tangan. Ya ampun, kok bisa ada manusia seganteng itu?"

"Aku juga ganteng, Er. Kamu aja yang buta kalau ngelihat aku."

"Ibaratnya tuh gini, sejak dulu aku udah lihat kamu terus, ya bosan lah! Mana bisa lihat kegantengan kamu yang diakui ibu-ibu komplek ini karena aku terlanjur terbiasa. Sedangkan Bang Janu, aku jarang lihat dia, kan. Baru kenal beberapa hari, itu pun cuma bisa ketemu bentar karena habis ini dia harus ke pondok pesantren lagi."

Benar juga. Sabir tahu laki-laki yang beda usia dua tahun dari mereka itu tidak akan berlama-lama di sini. Jadi, ia tidak akan terus-menerus menemani Serena yang kerap mengintili Janu ke mana pun dia pergi.

"Bang Janu, aku suka sama kamu."

Duar!!!

Sabir pikir Serena berhenti di masa SD saja dalam menyukai pria itu. Ternyata... ini tahun ke-tiga SMP, dan remaja itu masih juga naksir Janu. Sekarang, dia tengah berlatih untuk menyatakan perasaan ke laki-laki kelas dua SMA yang kebetulan sudah kembali ke komplek ini lagi selepas pindah dari ponpes.

"Revisi atau enggak, Sab?"

Tanpa beban, Sabir yang lagi menikmati keripik pisang buatan Mama Serena, menyahuti, "Revisi!"

"Bilang apa, dong?"

"Bang Janu, aku Serena Awahita mengaku benci banget sama kamu, gitu." Sejurus kemudian, tanduk setan muncul di kepala Serena bersamaan dengan melayangnya botol air mineral yang sejak tadi digunakan sebagai mikrofon ala-ala.

Dalam sekali tendang, botol tersebut berhasil berbalik ke wajah Serena dan malangnya: tutup botol itu longgar sehingga air yang masih sisa seperempatnya, tumpah-ruah.

"ANANDA SABIR BACHTIAR!"

Semakin meledak lah amarah Serena. Aksi kejar-kejaran di dalam rumah pun terjadi begitu saja. Serena membawa sendal kulit milik Papa yang apabila menimpuk kepala Sabir, pasti bunyi gedebuknya akan mantap sekali.

Sedangkan Sabir dengan tangan kosong berlari tunggang-langgang tatkala sendal melayang dan lewat sejengkal di samping telinga, lalu mengenai vas bunga Mama.

Tak pelak lagi, bunyi prangggg menggema di ruangan. Lantas kemudian, hanya butuh waktu lima detik sampai Mama yang kebetulan lagi menjemur pakaian di halaman samping masuk ke rumah dengan gaya morat-marit.

"Eren! Sabir! Proyek apa yang kalian buat?!"

Aksi tunjuk-menunjuk dan mengelak tidak ingin disalahkan pun dilakukan dua anak SMP. Serena tidak mau mengaku telah melempar sendal, dan Sabir tidak mau mengaku telah menjahili Serena.

Menurut Sabir, "Aku kan cuma menyarankan ucapan yang pantas dia kasih ke Panu itu."

"Janu!" Tidak terima nama crush-nya dipelesetkan, Serena memiting kepala Sabir. "Nama bagus-bagus, enggak boleh diubah, Sabir! Mau nama kamu aku ganti jadi Tapir?!"

"Kalau gitu nama Serena aku ganti juga jadi... jadi apa, ya?" Otak Sabir sulit berkonsentrasi manakala Sulastri masih memperhatikan dengan tatap tajam. Lantas Sabir memelas, "Mama... maafin Sabir sama Serena. Janji enggak akan lari-lari lagi. Nanti vas bunga Mama Sabir belikan yang baru, deh."

"Bener, ya?" Mama sebenarnya tidak marah yang gimana-gimana. Tapi mengingat dua anak ini wajib diberi pelajaran supaya kapok, lantas ia berkata, "Belinya enggak boleh minta uang sama Emakmu ya, Sabir. Harus uang hasil cari sendiri dan enggak boleh maling! Terserah mau gimana kamu cari uangnya."

Serena terkikik di tempat, lanjut berbisik, "Mampus." Sebelum kemudian dikagetkan oleh ucapan Mama yang melanjutkan,

"Serena juga! Ini ulah kalian berdua, jadi tanggungjawab sama-sama."

"Lah?!"

Dalam keadaan yang sama, giliran Sabir balas berbisik, "Mampus!"

Hari-hari berikutnya, demi mendapatkan maaf dari Mama Sulastri, Sabir dan Serena kompak mulung sampah. Sayangnya, selagi Serena mencari-cari rongsokan, muncullah crush sejak SD yang tiba-tiba menyeletuk,

"Ya ampun, Serena kok lucu banget kotor-kotoran begitu. Mau Abang bantuin nggak? Kalau mau cari sampah yang lebih banyak, di belakang rumah Abang ada. Coba cek ke sana."

Walaupun itu bukan hinaan, tapi harga diri Serena tercoreng sudah. Maka habislah perasaan kagum Serena pada Janu Baskara, berganti menjadi rasa malu bertubi-tubi sehingga ia tidak mau lagi bertemu Janu di hari esok.

"Jadi, sudah move on dari Janu dan mau mencintai Sabir aja, nih?" cibir Sabir dengan nada meledek. Merasa kasihan sekaligus gembira melihat Serena galau berat.

"Sab... harusnya aku kemarin pakai baju yang bersih gitu, ya. Biar kalau lewat depan rumah Bang Janu enggak malu-malu banget. Bukannya pakai baju kotor sehabis jatuh ke got!"

Tawa terbahak Sabir kumandangkan sebagai tanggapan.

"Sekarang gimana aku mau naruh muka kalau ketemu Bang Janu lagi?"

"Ya taruh di kepala lah, Er. Masa di pantat?"

"Sabir!"

"Apa, Serena...?"

"Kalau sampai habis ini aku enggak ada yang suka, gimana? Pasti Bang Janu cerita-cerita ke orang lain tentang kocaknya aku yang mulung sampah pakai baju compang-camping. Argh! Aku berbakat jadi gelandangan."

Masih sulit menahan tawa, Sabir menyahuti, "Ya sudah, biar aku aja yang suka sama kamu. Nanti, kalau sampai saat kita dewasa kamu beneran enggak ada yang suka karena Janu bilang-bilang ke orang lain tentang hari kemarin, aku yang akan dengan sukarela jadi pasangan kamu."

"Beneran?"

"Bener."

"Tapi aku rasanya enggak bisa sukarela jadi pasangan kamu, Sabir. Nama kamu mirip Tapir soalnya."

Sejurus kemudian, aksi timpuk-timpukan bantal terjadi. Lari keliling rumah pun terulang lagi, sampai vas yang baru dibeli dari hasil mengumpulkan rongsokan pun pecah lagi.

Dan terjadi lagi... kisah lama yang terulang kembali.

"Sabir! Serena! Ganti rugi vas bunga Mama!"

Sabir dewasa bergidik mengingat-ingat hari itu. Sedikit terkekeh pula. Rasanya lucu sekali masa-masa kecil antara mereka, selain masa di mana Serena naksir Si Panu. Ah, yang satu itu menjengkelkan.

Namun, kejengkelan Sabir sontak sirna saat ia mendapatkan satu notifikasi dari media sosial. Serena mengunggah foto baru dan menyebut akunnya dalam unggahan itu.

Di sana, ada foto-foto pernikahan mereka. Saat Sabir dan Serena sama-sama tersenyum memegang bunga untuk dilempar kepada tamu undangan; saat Serena mencium punggung tangan Sabir sebagai bentuk baktinya kepada suami; saat mereka bertukar cincin; dan saat mereka memamerkan buku nikah.

Kebetulannya, saat ini Sabir memasuki gudang di mana Serena masih mengumpulkan album foto-foto lama.

"Er,"

"Ya?" Serena berbalik.

"Ada yang bilang, ucapan iseng sekali pun bisa jadi do'a. Coba kamu baca caption ini." Layar ponsel yang masih dalam beranda Instagram ia perlihatkan.

Serena tersenyum. Itu postingannya tadi. Tanpa sungkan, ia melafalkan, "No Worry, I will be with you forever, My hubby."

"Aamiin dulu, ya," senyumnya. "Aku enggak pandai main sosial media, enggak pernah posting apa pun di sana. Jadi, balasannya aku ucapin langsung aja."

Mata Serena berkedip, geli memandangi Sabir yang tiba-tiba serius. Seringnya memang serius, sih. Tapi sebagai teman sejak lama, Serena akan mudah tertawa melihatnya begitu.

"No worry, I will never leave you. Until death do us part, My Eren."

"Ok, thank you!"

Kemudian tawa keduanya pun pecah. Menertawai keisengan masing-masing. Tapi tidak masalah. Katanya, ucapan iseng pun bisa jadi do'a. Yang mereka katakan juga bukan suatu keburukan. Jadi... ya sudah. Biar waktu yang menjawab.

***

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!