14. Pesan singkat dari mantan crush

Dari empat keinginan Sabir, yang belum bisa dikabulkan ialah urusan beternak walet dan keliling Indonesia. Pada poin pertama, impian mengenai rumah sudah direalisasikan. Bahkan hal itu dijadikan salah satu mas-kawin untuk Serena. Memang tidak besar-besar amat, tapi cukup untuk menampung keluarga kecilnya, terlebih jika nanti punya anak.

"Tolong taruh di sebelah sana, Pak. Terima kasih...." Serena tersenyum puas memandangi ruangan yang sudah disulapnya menjadi lebih hidup. Sejak dikabari oleh suaminya akan segera pindah dari rumah Mama-Papa, ia langsung gerak-cepat memesan berbagai furnitur manakala mengetahui hunian itu masih kosong-melompong.

"Kursi-kursi tolong diletakkan di dekat sudut itu. Nah, iya begitu. Terima kasih, Pak."

Jangan tanya siapa yang sejak tadi dipanggil oleh perempuan itu dengan sebutan 'Pak', karena Saman akan langsung memberengut, sedangkan Sabir tertawa-tawa.

"Bang, istrimu dikasih tau lah, aku masih muda, mana cocok dipanggil bapak." Memastikan televisi sudah terletak di tempat seharusnya, ia memerhatikan kakak ipar yang hari ini jadi mandor dadakan. Kalau tidak ingat dia adalah istri sang kakak yang terkenal baik hati, sepertinya Saman tidak akan mau melakukan pekerjaan ini dan lebih memilih push rank di minggu pagi yang sejuk.

Dari tempatnya, Sabir pun menatap ke arah Serena yang tengah memasang gorden warna hijau tosca di salah satu jendela. Lantas, menepuk-nepuk pundak Saman seraya berbisik, "Dibiasakan aja, Abang juga dipanggil bapak sama dia." Kemudian kembali ke halaman rumah untuk mengangkut barang-barang lain.

Hari berikutnya, setelah membiasakan diri dengan hunian baru, Serena bangun lebih pagi karena tahu bahwa Sabir sudah mulai berdinas lagi. Biar berkutat dengan peralatan dapur di subuh buta plus mata masih separuh menyala, tidak menyurutkan semangatnya untuk menyiapkan bekal suami.

Seperti yang sudah ia janjikan di atas materai, ia akan menjadi istri yang pantas untuk Ananda Sabir Bachtiar.

"Eren, lihat celanaku enggak?" Dan begitu pagi tiba, pertanyaan ini yang pertamakali menyapanya.

"Celana yang mana?"

"Celana kerja. Warnanya hitam."

"Coba lihat di laci lemari." Sabir tergesa-gesa menaiki tangga untuk kembali ke kamar. Tak kunjung mendapatkan sahutan, Serena sedikit meninggikan suara, "Ketemu nggak...?!"

"Di mana kamu bilang tadi?"

"Laci lemari!"

"Udah dicari, tapi enggak ada...."

"Diperhatiin lagi, deh. Ada itu."

"Di mana...?!"

Geregetan. Serena melepas pegangannya pada tangkai sapu kemudian menuju kamar, untuk sekadar melihat Sabir yang cuma berdiri di depan lemari dengan mata seperti tengah memindai.

"Enggak ketemu, Er."

Hanya dalam sekali menengok saja, Serena sudah berhasil menemukan celananya. "Ini apa namanya?" Seragam masinis itu diserahkan pada sang suami. "Lain kali dicek lagi, ya, Pak."

"Oh iya, ada ternyata." Dalam hati, Sabir mengherankan kenapa istrinya mudah sekali menemukan benda tersebut dibanding ia yang sudah bolak-balik mengecek. Mata Serena ada turunan Elang kali, ya? "Terima kasih, Ibu."

Serena mendengus dengan senyum tipis seraya merapikan tempat tidur. "Nanti bakal menginap di rumah dinas apa gimana?"

"Tergantung situasi dan kondisi." Di depan cermin, Sabir mengancingkan seragamnya. "Emang kenapa?"

Oh, dia lupa.

Sejujurnya, Serena ingin mengatakan bahwa besok ia berulang-tahun dan mau merayakannya bersama Sabir tengah malam nanti. Tapi, mengingat suaminya harus dinas dan mungkin lupa dengan hari ulangtahun Serena, tidak apa-apa.

"Kalau pulang, aku bisa siapkan makan malam. Kalau enggak, kayaknya aku mau makan di luar aja."

"Nanti aku kabarin segera setelah tau pilihannya. Aku juga penginnya pulang, tapi kalau kereta enggak memungkinkan, otomatis menginap di rumdin."

"Enggak cuma kereta yang jadi pertimbangan pulang. Kondisi tubuh juga harus dipertimbangkan. Kalau kamu enggak fit, jangan memaksakan pulang. Lagian, di sini juga enggak ada yang dicari, kan?"

Tidak ada yang dicari? Sabir kira keberadaan Serena di rumah adalah alasan yang tepat untuk pulang.

"Kamu enggak nyariin aku kalau enggak pulang?"

"Aku tahu kamu lagi dinas, buat apa dicari?" Kecuali kalau suaminya hilang tanpa kabar kayak Bang Toyib, baru Serena wajib menyebarkan selebaran dengan wajah Ananda Sabir Bachtiar lengkap dengan kalimat: 'Dicari! Orang hilang'.

"Oh... benar juga." Selama berteman dulu pun Serena bukan tipe yang senang berkabar. Jadi Sabir mengerti jika istrinya masih orang yang sama.

"Tapi… kan, tadi aku bilangnya kalau kamu enggak fit. Kalau dirasa kuat, dan keretanya juga aman, mending pulang ke rumah." Karena bagaimana pun, Serena ingin menikmati hari bertambahnya usia dengan seseorang yang berharga. Sabir sudah termasuk orang berharga itu, jauh sebelum mereka menikah.

"Aku usahain pulang."

Serena mengangguk.

Sejurus kemudian, keduanya telah menyelesaikan kegiatan sarapan. Selagi Serena mengumpulkan alat makan yang kotor, Sabir tengah memasang sepatu kerja. Manakala pria itu menunduk, bagian punggung seragamnya nampak kencang. Hal itu membuat Serena menaikkan alis, sedikit mengagumi Pak Suami.

Serena bukan perempuan yang gila seragam, tapi jujur saja saat melihat Sabir dengan seragam dinasnya, ia merasa sangat tertarik, bahkan dia lebih menarik dibandingkan 'si kacang hijau' alias mantan yang kabarnya sudah menikah kemarin.

Bagaimana ya mendeskripsikan suaminya ini? Dia memang tidak terlalu tinggi, tapi sudah sangat pas apabila berdiri di samping Serena. Dia punya bahu lebar dan kokoh, golongan pria yang tidak terlalu terlihat ototnya, tapi aslinya dia kuat.

"Serena...."

"Hm? Kenapa?"

"Andaikan waktu masih cukup banyak, aku mau bantuin. Tapi sekarang sudah mepet banget." Apa maksudnya? Serena mengerjap. Kebingungan membuatnya memandangi tangan. Oh, ternyata ia masih memegang alat-alat makan yang kotor "Dari tadi aku ngerasa kamu lihatin aku terus. Aku pikir kamu butuh bantuan. Maaf, ya, sedang buru-buru. Di lain waktu, biar aku yang bertugas cuci piring."

"Eh, siapa yang minta bantuan?" Serena kan hanya mengagumi suami sendiri.

"Terus kenapa lihatin terus?"

"Suka aja, sih."

Dahi Sabir mengernyit. Bagian mana yang dikerjakan Sabir barusan yang disukai oleh istrinya? Rasanya Sabir sekadar memasang sepatu. Meski begitu, ia tersenyum lebar.

"Pamit ya, jaga diri baik-baik."

"Kamu juga, hati-hati dan semangat!"

Kata sebagian orang, hidup akan lebih menyenangkan kalau sudah menikah. Sekarang Sabir percaya. Hanya karena ucapan semangat, yang biasa Serena katakan saat masih berteman, Sabir sudah sangat senang.

***

Pojok kiri, ada rak buku paling besar di Memoria Bakery. Ini adalah tempat yang disukai Serena. Selain lebih sejuk karena dekat AC, juga lebih tertutup dibanding bagian lain.

Buku-buku yang ada di rak adalah koleksi dari zaman kakeknya dulu. Berkat Papa yang gemar membaca, segala jenis bacaan berhasil disimpan dengan baik. Begitu bakery ini dibuka pertama-kali sekitar empat tahun yang lalu, Serena mempunyai ide untuk menjadikan toko rotinya sebagai tempat baca dengan nuansa vintage.

Karena keunikan ini, banyak sekali pelanggan yang mampir, untuk sekadar membeli bluder—roti paling favorit dari Memoria Bakery—kemudian duduk berjam-jam membaca buku.

Pagi ini, di saat Ningsih—asisten Serena—yang sudah kembali selepas cuti dua pekan itu menata roti-roti ke dalam etalase, Serena memilih menikmati kesendirian dengan secangkir teh tawar hangat.

Yang ia lakukan adalah memeriksa postingan instagram kemarin. Sempat menduga-duga bahwa notifikasinya akan ramai karena foto yang diunggah dengan caption tertera. Ternyata benar.

Yang lucu adalah, ketika komentar para sahabat masuk ke notifikasi, semenit kemudian ia menemukan postingan terbaru dari Adrian. Ya, pria ini belum diblokir. Kalau saja tidak melihat postingan kemarin dan barusan ini, Serena sudah lupa kalau mereka masih saling mengikuti.

"Mau bersaing apa gimana ini orang?"

Foto yang diunggah Adrian ialah foto pernikahannya dan Shella. Dengan segala kebanggaannya memakai PDU sesuai protap untuk prosesi pedang pora, ia menuliskan caption yang nyaris serupa dengan milik Serena: "I Will be with you, without any doubt, my wife!".

Serena berdecih. Ini yang katanya mencintainya waktu itu? Dasar buaya!

"Oke, lupakan." Serena mengacak-acak rambut. Mana bisa! Ia masih tidak rela telah diselingkuhi. "Adrian sialan!"

Shella juga sialan. Senyumnya dalam foto yang diunggah Adrian keliatan gembira sekali seolah ia tidak pernah menyakiti hati seorang laki-laki. Dalam hal ini, laki-laki yang dimaksud Serena adalah suaminya.

"Kenapa kamu bisa cinta sama perempuan kayak dia, ya, Sab?" Perempuan itu memang cantik. Tapi selain itu, apa yang dilihat oleh Sabir?

"Apa karena dia dokter...?" Kalau sudah begini, ia akan mulai berpikir berlebihan. Merasa takut kalau saja Sabir merasa tidak bahagia telah menikahi Serena yang bukan anak kesehatan seperti Shella.

Memutuskan untuk tidak peduli, walaupun aslinya masih sangat penasaran, Serena beranjak dari kursi untuk menuju bagian dapur toko. Di saat yang sama, ada pesan yang masuk ke ponselnya.

Lho, tumben di Instagram?

@jn.bskra

Hai, ini Janu.

Apa kabar, Serena?

Kudengar kamu sudah menikah, ya.

***

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!