02. Pengkhianatan calon suami

Selesai menghadap komandan Jatmiko dengan segala canda tawa, Serena merasakan bulu kuduk meremang tatkala berhadapan dengan Panglima Kostrad yang kini menatap tajam.

Jika dengan letnan kolonel Jatmiko atau pun komandan batalyon Jatmiko tadi mereka bisa bertutur selayaknya keluarga, di depan letnan jenderal Syaifullah keduanya kompak meneguk ludah.

"Ini betulan calon istri kamu, Adrian?"

"Siap, betulan, Panglima!" Suara lantang Mas Ian berhasil membuat Serena tersentak kaget.

"Kok, beda dari yang sebelumnya? Kalau enggak salah kamu ini sama anak bungsunya Marsekal Hadiyanto itu, kan? Yang dokter itu?"

Hanya dengan ucapan ini, Serena praktis memandangi laki-laki di sampingnya. Di sana, wajah Mas Ian jauh lebih tegang dari sebelumnya. Yang dipikirkan Serena... dia tegang karena panglima menyeramkan atau pertanyaan tadi terlampau sulit untuk dijawab? Kalau kabar itu adalah gosip semata, apa susahnya mas Ian segera menyanggah?

"Izin, yang itu tidak benar. Saya sudah menjalin hubungan dengan calon istri sejak dua tahun yang lalu."

"Kalau begitu, apa kamu berselingkuh? Sebab bapak Hadiyanto memberitahu bahwa anaknya; Shella Anggraini sudah bersama kamu sejak beberapa bulan lalu."

Wajah Adrian berubah pias. Sebagai anak dari orang terpandang di matra ini, tentunya segala hal tentang Ian akan mudah sekali diketahui.

Demikianlah Serena yang dapat merasakan kekhawatiran mulai menjalar. Waktu-waktu untuk menyiapkan segala yang berhubungan dengan pengajuan nikah ini sudah memakan banyak energi. Apabila kabar ini benar, Serena tidak tahu bagaimana cara mengembalikan energi yang terkuras habis.

"Adrian, jangan berpikir untuk menjawab ini dengan kebohongan. Kamu seorang prajurit. Seharusnya paham bagaimana menjadi laki-laki sejati. Saya bicara seperti ini sama kamu supaya enggak memperburuk keadaan. Marsekal Hadiyanto adalah sahabat saya, otomatis anaknya sudah saya anggap anak saya juga. Kemudian, calon istri kamu ini barangkali baru pertama kali saya temui. Namun, saya dapat melihat ketulusan di matanya. Jadi, kalau niat kamu kepada-maaf, siapa namanya tadi?"

"Izin, nama saya Serena." Senyuman tipis ia layangkan kemudian.

"Nah, Serena. Kalau niat kamu kepada Serena untuk main-main belaka, lebih baik disudahi. Jangan mempermainkan hati wanita, Adrian. Kamu enggak tahu saja seberapa mengerikan sebuah karma."

Jika tadi sempat terpikir oleh Serena bahwa Panglima Kostrad terkesan dingin, sekarang ia tidak merasakan itu lagi; dia nampak mengayomi. Tapi, bukan di sini poin pentingnya. Melainkan, kenapa Mas Ian membisu? Wajahnya bahkan tertunduk dalam. Bahunya barangkali masih tegak, tapi semangatnya hilang entah ke mana.

"Sudah. Saya mau kalian yakin dulu. Terbuka satu sama lain lebih dulu, baru menghadap saya lagi. Sekarang, silakan pergi dan selesaikan urusan kalian sesegera mungkin. Saya harap kalian bisa bijak dalam bersikap."

Maka dengan ucapan inilah, Serena dan Adrian berakhir pindah ke dalam mobil lagi. Kendaraan roda empat ini masih terparkir di halaman Makostrad. Di saat yang laki-laki mengusap wajah; yang perempuan melepas gelungan rambut sehingga surai legam itu tergerai sempurna.

Serena merasa frustasi manakala calon suami yang tinggal menghitung hari akan resmi menjadi halal untuknya mengaku dengan suara bergetar,

"Aku memang berselingkuh." Luar biasa sekali informasi di siang bolong ini membuat Serena mendadak gila. "Tapi sungguh! Aku lebih cinta sama kamu, Eren. Aku cuma jadiin Shella sebagai pelampiasan karena kamu jarang ada waktu untuk aku."

Pernah lihat buaya? Persis muncul dalam diri seorang Adrian Jatmiko saat ini. Serena memijat pelipis menahan pening seraya berpikir; bisa-bisanya ia telah dipermainkan.

"Alasan konyol macam apa ini, Mas? Sudah jelas kamu yang sulit dihubungi untuk sekedar berkabar, kenapa jadi aku yang salah? Aku sering meluangkan waktu berkunjung ke kantor kamu. Kamu yang jarang ada buat aku." Serena bahkan sering membawakan makan siang untuk Mas Ian, apa yang diberi itu bukan waktu namanya?

"Kamu tahu waktuku untuk negara, kan?"

"-dan untuk selingkuh." Sehebat itu satu kata-sembilan huruf ini menyayat hati Serena. S-e-l-i-n-g-k-u-h. Adakah kata lain yang jauh lebih membuat pedih? Tolong katakan. Sebab Serena pikir; ini satu-satunya.

"Eren, aku bersumpah enggak mencintai Shella. Aku cuma mau kamu yang jadi istri aku, Sayang. Bukan Shella tapi kamu." Buaya zaman sekarang memang pandai bersilat lidah, Serena sampai tercengang. Pria ini serius diberi nyawa?

"Masih bisa kamu panggil aku 'sayang' setelah pengakuan perselingkuhan tepat di hari kita pengajuan untuk menikah, Mas?"

Selama ini, Serena tidak pernah macam-macam. Dan dengan begitu ia hanya berharap punya pacar yang sama-sama tidak bertingkah maupun bermain belakang. Tetapi nyatanya malah yang seperti ini yang ia dapat.

"Kamu bilang aku harus siap menjadi yang kedua, aku siap, Mas. Aku siap kalau yang pertama benar-benar negara yang kamu pilih. Tapi, kalau dia-Shella yang entah siapa ini masuk di hubungan kita, aku enggak bisa terima. Sebaiknya kita enggak usah menikah. Batalin aja semuanya."

Lupakan pesan panglima Kostrad yang mengatakan keduanya harus bijak dalam bersikap. Serena tidak bisa bertindak bijaksana dalam keadaan ini. Ucapannya boleh saja terdengar tenang, tapi tidak dengan isi hati. Makanya, ia menepuk-nepuk pundak pria itu sekuat mungkin. Barangkali ia hendak meremukkan otot-otot yang ada di sana. Sayangnya, tenaga Serena tidak seberapa dibanding laki-laki yang selalu ada kegiatan kebugaran jasmani seperti lari tiga-ribu meter setiap bulan, dilengkapi push-up, dan antek-anteknya.

"Eren, Eren, tenang dulu. Dengerin aku dulu. Aku sama Shella sudah berakhir dan aku beneran serius sama kamu. Kalau enggak serius, mana mungkin aku bawa kamu ke orang tuaku. Enggak mungkin juga aku minta kamu secara resmi ke mama dan papa kamu, Er. Cuma kamu yang aku mau."

Maka buaya mana lagi yang harus Serena tampar? Silakan maju, gantikan Adrian yang sekarang jadi samsak tinju.

"Kalau memang cuma aku, enggak mungkin ada Shella, Mas. Dia enggak mungkin masuk ke hidup kamu kalau enggak diberi akses. Jadi sudah pasti kamu enggak serius sama aku." Sekali pun katanya mereka sudah putus, Serena tidak bisa memaafkan begitu saja. Sudah cukup beberapa bulan terakhir mata dan telinganya tertutup sehingga tidak tahu perihal Mas Ian yang mendua. Sekarang tidak lagi, ia tidak mau dibodohi lagi. "Mas Ian, kamu ingat apa yang terucap dari mulut kamu begitu melamar aku di depan mama-papa dulu?"

Yang laki-laki otomatis terhenyak. Hanya dengan begitu, Serena semakin yakin kalau dia tidak pantas dipertahankan. Adakah palu atau kayu di mobil ini? Tangan Serena sudah kebas dan harus diganti pemukul besi supaya laki-laki ini sadar diri.

"Katamu; aku akan menjaga kamu sebagaimana papa kamu selama ini. Jika ia telah merawat sedari kecil sampai tumbuh dewasa, maka aku yang akan melanjutkan sampai kamu tutup usia. Rupanya ini kebohongan belaka, ya?" Serena berdecih. Benar-benar sulit mempercayai jika ia telah dikhianati. Kalau sudah seperti ini, rasa-rasanya ia memang akan tutup usia sebentar lagi.

Sementara di balik kemudi, Adrian menunjukkan wajah memelas. Kepada siapa pun yang mau membela, ia akan berterima kasih sedalam-dalamnya. Sungguh, ia tidak bermaksud mengecewakan Serena.

"Er, tolong maafin aku. Aku khilaf. Di bulan-bulan itu kamu sendiri sedang sibuk dengan kegiatan di toko sampai-sampai aku-"

"Cukup! Enggak perlu banyak alasan." Telinga Serena terlalu suci untuk dinodai dengan omong-kosong semacam ini. "Aku bisa mentolerir kesalahan apapun selain perselingkuhan, Mas. Karena kamu sudah begitu, enggak ada alasan lagi untuk mempertahankan hubungan kita. Terima kasih dua tahunnya. Jujur, ini sangat seru sampai mengalahkan drama favoritku." Setelah menumpahkan kata-kata penuh kecewa, Serena lantas keluar dari mobil.

Kepada nasib yang sepertinya hendak menjahili Serena tahun ini, maka ia sampaikan bahwasanya kamu menang! Serena tidak sanggup lagi dengan gelitikan nasib yang perlahan-lahan menjadi cubitan. Ini sungguh menyesakkan untuk diterima.

Di sisi lain, Adrian bergegas mengejar. Tidak akan ia biarkan calon istri paling potensial seperti Serena Awahita lepas begitu saja. Terlepas dari segala khilaf, ia ingin mengulang semua dari awal. Namun, keberuntungan tidak mau memihak manakala ia temui keberadaan Shella Anggraini tengah berdiri di hadapan Serena.

Perempuan dengan jins dan mantel itu tertegun tatkala berhadapan dengan seseorang berseragam hijau pupus. Mulutnya terbuka, nampak kaget, lalu mengatup lagi. Seperti ingin bicara, tapi tidak jadi.

Mata kelam milik Serena menyorotnya setajam katana. Menilik dari ekspresi terkejut gadis berambut coklat, potongan puzzle pun mulai tertata rapi di dalam benak; menunjukkan suatu kejelasan dari abu-abunya kekecewaan.

"Shella Anggraini, ternyata kamu orangnya." Mungkin yang bernama sama, ada banyak di dunia. Tapi Serena yang sudah mengenal perempuan ini serta melihat perubahan ekspresi Mas Ian begitu melihatnya, jelas sudah mengerti bahwa inilah wanita yang menjadi orang ketiga di hubungan mereka.

Kata panglima Kostrad tadi, yang dekat dengan Adrian adalah anak dari seorang Marsekal. Terlambat menyadari, Serena ingat bahwasanya Shella memang anak dari petinggi TNI AU. Profesinya pun seorang dokter. Jadi, ia tidak mungkin salah menebak.

"Luar biasa, ya, Shell. Kamu sudah mengecewakan aku, dan Sabir sekaligus. Keren sekali." Biarpun air mata sudah menggenang, Serena memberikan senyuman termanis yang ia punya. Berjalan mendekat untuk sekedar menepuk pelan bahu perempuan itu, lalu berlalu tanpa berkata-kata lagi.

Ia tahu Adrian tengah linglung. Pria itu memanggil-manggil namanya tapi tak kunjung menggapai lengannya. Bukan berarti Serena berharap ia ditahan, bukan! Ia hanya menyayangkan kenapa harus jatuh pada orang seperti Adrian yang senang mempermainkan hati perempuan.

***

Terpopuler

Comments

Sriza Juniarti

Sriza Juniarti

kereenn, saya suka ,alur dan penggalan ktanya bagus

2024-08-08

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!