05. Sama-sama dikhianati

Pukul sepuluh pagi di esok hari akhirnya kereta sampai di stasiun tujuan. Para penumpang lekas bergegas turun membawa barang masing-masing meninggalkan para crew yang masih sedikit berbenah, sekaligus Shella yang setia duduk di seat-nya seakan menunggu didatangi seseorang.

Begitu muncul sosok Sabir yang sengaja masuk gerbong eksekutif sebab tidak menemukan kekasihnya di luar, Shella tersenyum tipis.

"Ada barang yang bisa Mas bantu bawa?" Dan jujur, mendengar pertanyaan ini, Shella merasa sangat bersalah karena harus menyampaikan kabar yang menyakitkan untuknya.

"Mas, bisa kita bicara sebentar?" Sabir tentunya keheranan. Bicara yang seperti apa yang diinginkan Shella jika saat ini saja mereka sudah sama-sama bicara?

Sabir lantas mendudukkan diri di samping Shella. "Mau bicara soal apa?" Barangkali detik yang terlewati dalam hening adalah saat-saat menegangkan dalam hidup si masinis muda. Namun, begitu suara kekasihnya keluar juga dengan nada yang terlampau rendah, ia tahu kalau ketegangan sebelumnya bukanlah apa-apa dibandingkan yang sekarang.

"Aku hamil, Mas."

Demi Tuhan, Sabir tidak pernah menyentuh perempuan ini lebih dari sekadar pelukan dan cium kening. Setahun ia berusaha menjaga apa yang semestinya dijaga. Jadi, manakala informasi yang seperti ini Sabir dapatkan, kontan saja hatinya patah.

"Kok...?" Ucapannya tak sanggup dilanjutkan. Shella Anggraini yang ia tahu tidak mungkin macam-macam. Jadi siapa yang telah berbuat hal semacam itu kepadanya?

"Maafin aku ya, Mas. Aku udah nyelingkuhin kamu."

Alis si pria tertarik ke atas; merasa tidak percaya tentang apa yang ia dengar.

Sabir tidak pernah tahu kalau kursi eksekutif bisa sangat tidak nyaman seperti ini. Panas sekali, ya?

"Coba ulangi, aku rasa tadi salah dengar."

Dengan tenaga tak seberapa, Shella menuturkan segalanya, "Jujur aja udah sejak lama aku ingin bilang perasaan aku ke kamu udah nggak ada lagi." Mereka yang kurang dalam komunikasi membuat rasa itu entah ke mana. Shella kadangkala berpikir kalau Sabir bukanlah pacar saking jarangnya mereka bertemu. "Kamu sibuk. Makanya, aku sampai terpincut dengan orang lain yang mau meluangkan waktunya untukku di sela-sela kegiatannya yang padat. Kami berpacaran dan ... khilaf waktu itu."

Hanya dengan begitu, Sabir menyandarkan-ralat, menghempaskan bahu ke kursi. Nasib macam apa yang ia tanggung kini?

Kalau saja ada alat pendeteksi kecewa, maka alat itu akan meledak saking tidak kuat menampung perasaan Ananda Sabir Bachtiar akan kekecewaan kepada sang kekasih.

Apa tadi katanya?

Sabir sibuk dan itulah penyebabnya berselingkuh?

"Shell, selama ini aku bekerja keras supaya bisa setara dengan kamu. Waktu-waktu yang aku punya untuk memantaskan diri buat kamu." Dia adalah anak seorang pria berpangkat Marsekal. Apalah artinya jika disandingkan dengan Sabir yang ayahnya sekedar guru SMP. "Uang gajiku aku simpan supaya layak dan pantas untuk meminang kamu menjadi istriku, Shella. Aku bekerja nggak kenal lelah demi masa depan keluarga yang akan dibangun suatu hari nanti. Itu tujuanku."

Wajar kalau Sabir harus bekerja keras kalau yang akan dinikahi ialah perempuan ini. Dia dokter umum yang sedang mengenyam pendidikan spesialis anak. Ibunya pemilik rumah sakit swasta. Bapaknya pimpinan tertinggi sebuah Matra. Kakak-kakaknya polisi, diplomat, dan nahkoda. Dia bungsu perempuan satu-satunya dalam keluarga. Otomatis untuk mendapatkannya memerlukan banyak sekali tahapan yang Sabir yakin sukar untuk ia tempuh apabila dengan tangan kosong. Setidaknya ia butuh kecakapan finansial untuk diri sendiri lebih dahulu, baru bisa menjamin kecakapan hidup seorang istri.

"Nasi sudah jadi bubur, Mas. Sekali pun kamu datang ke rumah untuk melamar, nggak mungkin itu terjadi sebab anak dalam rahimku butuh ayah kandungnya." Shella juga tidak akan sekejam itu meminta pertanggungjawaban Sabir untuk hal yang tidak diperbuatnya. Makanya, begitu tahu jika ia tengah hamil, yang ia lakukan pertama kali adalah mencari keberadaan Adrian Jatmiko-pacar keduanya-yang ia ketahui dari teman sang ayah; sedang melakukan pengajuan untuk menikah.

Shella seperti ditikam hidup-hidup saat mendengarnya. Tanpa berpikir panjang, ia datang menuju Makostrad untuk sekadar melihat siapa calon istri Adrian. Dan yang ia dapatkan ialah Serena Awahita. Demi Tuhan, selama ini ia tidak pernah tahu kalau Eren-yang ia kenal sebagai sahabat Sabir-punya hubungan dengan Letnan Satu TNI AD tersebut. Sebab hubungan antara Eren dan Adrian tidak pernah tercium saking keduanya menjaga ketat privasi. Ia bahkan tidak tahu telah dijadikan selingkuhan oleh Bang Ian (begitu caranya memanggil sang pacar).

Tadi, selepasnya melihat Serena Awahita pergi dengan air mata berlinang tanpa amarah, yang terpikirkan oleh Shella hanya satu; ia telah menjadi duri di hidup perempuan baik itu. Namun, tidak ada yang dapat ia lakukan manakala janin dalam rahim ini akan terus tumbuh dan harus lahir dengan orang tua yang utuh.

Di hadapan Adrian Jatmiko, ia meminta pertanggungjawaban dengan rasa hormat dan laki-laki itu bersedia. Ah, kira-kira Shella yang jahat merebut calon suami orang, atau Adrian lah yang jahat mempermainkan dua perempuan?

"Mas, alasan kembalinya aku ke Malang adalah meminta restu keluarga besar untuk menikah. Maaf karena calonnya bukan kamu. Suatu hari nanti, kamu akan bertemu dengan perempuan yang jauh lebih baik."

Ternyata masih zaman kata-kata seperti: kamu pasti dapat pengganti yang lebih baik dari aku. Sabir pikir kalimat ini telah musnah bertahun-tahun yang lalu. Siapa yang melestarikannya?

Oh, ternyata Shella.

"Iya, aku akan bertemu perempuan yang jauh lebih baik. Itu sangat pasti, Shella. Sangat-sangat pasti aku temui." Dan cukup lah bagi Sabir untuk bersedih-ria. Mungkin ia akan merana beberapa lama. Tetapi suatu hari nanti, ia akan pulih dengan sendirinya. "Jaga diri kamu baik-baik. Semoga calon suamimu bisa membuat kamu menjadi perempuan yang dikasihi dan diistimewakan. Selamat tinggal."

Satu langkah penuh keyakinan ia ambil, meninggalkan Shella Anggraini duduk sendirian di gerbong eksekutif seat 2A.

Barangkali, Sabir butuh menenangkan diri beberapa saat; butuh istirahat sejenak; atau mungkin membutuhkan susu beruang.

"Virusnya bakal mati dibunuh sama beruangnya, Bapak ...."

Di depan mesin pendingin, Sabir memerhatikan sekaleng susu yang di kemasannya ada gambar beruang kutub. Dengan energi yang terkuras habis akibat terjaga semalaman, ia mengambil satu dan membayar kepada pemilik toko.

"Kalau itu virus patah hati, apa juga bisa dibunuh, Er?" Lantas kemudian, minuman yang diiklankan dengan animasi naga itu ditenggaknya tanpa pikir panjang.

***

Terpopuler

Comments

Mamaqilla2

Mamaqilla2

keren ceritanya baru mampir thor 🥰

2024-06-24

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!