15. Ulangtahun yang menarik

"Terus kamu balas apa?"

"Cuma iya."

"Yaaaahhhh!" Jizzy berseru kecewa seraya menepuk meja.

Jam makan siang, Serena menghubungi 'sahabat sesat' yang satu ini. Entah Sukhoi mana yang dia curi untuk meloloskannya dari lalu-lintas yang padat. Intinya, dia muncul setelah Serena berkata bahwa Janu Baskara mengirimi pesan, tepat lima menit kemudian.

"Memangnya, aku harus balas kayak apa?"

"Bertahun-tahun hilang-kontak sama crush, apa enggak kangen? Bisalah basa-basi sedikit."

"Iya, kalau aku enggak ingat udah punya suami." Serena mau-mau saja bertanya banyak hal pada Janu, tapi saat menyadari cincin di jari manis, ia jadi enggan. "Lagian dia udah enggak berpengaruh. Biasa aja. Apalagi sejak dia lihat aku nyari rongsokan zaman SMP. Malunya sampai ke ubun-ubun. Mana bisa aku menaruh harap sama dia lagi."

"Jadi, udah cinta sama bapak suami?" Bahunya mengedik sebagai balasan. "Yakin sama orang kayak Sabir kamu belum cinta, Er?"

"Emang dia kayak apa?"

"Kayak merek rokok." Jizzy bersedekap. Serena ini buta atau bagaimana, sih? Masa berlian di depan mata tidak bisa dilihat sama dia? "Entah apa yang salah dengan otak kamu, Er. Sabir itu udah paket komplit. Gampang banget kalau cinta sama dia. Enggak bakal makan hati."

"Kalau gitu kamu cinta sama dia?" Hal ini praktis membuat Jizzy menggebrak meja, agak berang.

"Ya enggak lah! Kenapa jadi aku yang cinta?"

"Katamu dia gampang dicintai...."

"Maksudku itu buat kamu. Bukan buat aku, Er." Sabir boleh saja masuk daftar suami masa depan banyak perempuan di zaman SMA, tapi Jizzy tidak termasuk orang yang menulis nama dia di daftar calon suaminya. Entahlah kalau Serena. "Walaupun dia Mi Ayam favorit yang tampilannya menggugah selera, aku enggak bakal mau nyicip kalau udah dimakan orang lain."

"Enggak ada perumpamaan lain selain mie ayam?" Agak kesal, Serena menopang dagu. Masa' suaminya yang kata Jizzy mirip merek rokok—sempoerna, malah disamakan dengan Mi Ayam? Serena tidak terima lah! Walaupun Mi Ayam enak juga, sih.

"Perumpamaan itu enggak penting. Yang penting kamu dapat poin kalimat tadi. Aku enggak mungkin mau, dan enggak bakal mau merebut milik orang lain, apalagi milik sahabat sendiri."

"Oh... kamu sama adiknya Sabir tapi, kan?" Pemilik mata di depan sana melotot, keliatan sekali tidak senang. "Dengar-dengar dari Nana, kamu udah mulai PDKT sama Saman."

"Enggak, ya! Mulut adikmu perlu dikasih lakban. Berani-beraninya dia asal ngomong."

Serena geleng-geleng. Malas menyahuti tatkala mendengar lonceng di atas pintu masuk bakeri, berbunyi. Di sana, ada seorang kakek tua berpakaian lusuh, memandangi sekeliling ruang yang sepi siang ini.

"Sebentar...." Serena memberi kode agar Jizzy diam di tempat, ia kemudian bangkit.

"Selamat datang..." Wajah orang di depannya nampak letih. "Kakek butuh sesuatu?"

"Saya... mau beli kue ulang tahun untuk cucu saya, tapi yang... paling murah, ada?" Tangan si kakek bergetar mengulurkan selembar uang kertas. "Yang harganya dua-puluh ribu rupiah, Nak."

Di Memoria, sebenarnya tidak menjual kue untuk ulang tahun. Mereka hanya menyediakan roti. Tapi, tanpa pikir panjang, Serena mengangguk. "Tunggu sebentar, ya, Kek. Biar saya ambilkan." Ia berjalan menuju kulkas belakang. Di sana, ada satu kue yang paling istimewa karena baru tadi pagi Serena buat untuk ulang tahunnya sendiri nanti malam.

Segera ia bungkus bersama dengan lilin, kemudian dibawa ke depan. Si kakek masih berdiri di tempat semula dengan keadaan kaki telanjang tanpa sandal. Di depan toko, alas kaki satu itu sengaja ditinggalkannya.

"Ini ya, Kek. Semoga cucunya suka." Barangkali, cucu si kakek belum tentu bisa mencicipi kue di setiap pertambahan umurnya. Makanya, Serena tidak keberatan kalau kue untuknya sendiri ia berikan kepada kakek ini.

"Ini saya punya dua-puluh ribu. Apa cukup untuk kuenya?"

"Kebetulan, besok pun saya berulang tahun. Sejak hari ini hingga besok, roti-roti di sini digratiskan untuk siapa pun, Kek. Jadi, kakek tidak usah bayar."

"Ah, begitu? Betulan?" Serena mengangguk. "Terima kasih, ya, Nak. Semoga berkah usiamu, sehat, dan jalan rezekinya dilancarkan. Sudah menikah?"

"Sudah, Kek."

"Semoga rumah tangganya diberkahi Tuhan. Sudah punya anak?" Eng? Serena menggeleng kikuk. "Ah, kalau begitu semoga segera diberi momongan." Yang kemudian di-aamiin-kan oleh si kakek, dan Serena mengikuti dengan senyum tertahan.

"Kenapa tadi?" Jizzy tidak kuat menahan rasa penasaran. Jadi saat Serena kembali, ia langsung mencecar dengan banyak pertanyaan, "Dengar-dengar bilang soal momongan, ya? Momongan siapa? Kamu dan Pak Suami?" Agak malas, Serena memberi deham singkat.

Jizzy kontan tertawa-tawa.

"Gimana mau punya, kalau dicoblos aja belum. Eh, atau udah?" Sedetik kemudian, dia sukses mendapatkan cubitan di lengan. "Aw! Semut rangrang! Panas banget kulitku, Tuhan...!"

Kalau tidak berlebihan, bukan Jizzy Elvina namanya. Serena hanya mencubit gemas, tidak kasar, tapi reaksinya seperti adegan kena tembak dari drama prindavan.

"Eh, tapi tadi kamu kasih kakeknya kue, ya?" Serena mengiyakan. "Siapa yang ulang tahun?"

"Cucunya."

"Besok bukannya kamu juga?"

"Ya, jangan lupa kadonya, Mbak Banker." Serena menyorot wajah Jizzy pada kartu identitas khas salah satu Bank yang dikenakannya. Di sana dia nampak anggun. Lewat foto itu, orang lain tidak akan sadar bahwa dia simpanse yang lepas dari habitatnya.

"Kado apa ya enaknya...? Kutang satu lusin aja, gimana? Enggak yang ecek-ecek, kok. Aku belikan yang premium. Lembut dan kualitas terjamin. Supaya kalau si bapak meraba-raba, kerasa tekstur halusnya. Bahhh... mantap banget itu." Tuh, kan! Coba beritahu Serena, kebun binatang mana yang kehilangan monyet satu? Sini, langsung angkut Jizzy Elvina.

"Coba install filter sama akhlak dulu sana, Jizz." Ia muak mendengar kata-kata penuh sensor tersebut. "Barangkali, kalau udah dipasang filternya, kamu langsung dilamar pangeran Arab."

"Skip dulu, mau yang kebarat-baratan aja. Kata orang, itunya pada gede-gede."

Gila, memang gila. Orang yang tidak kuat iman, jangan coba-coba dekat Jizzy. Bisa-bisa numpuk dosa bersama.

"Eh, tapi ya... balik lagi pembahasan ulang tahun, kamu besok nambah umur tapi Pak Suami lagi dinas, kan, ya? Enggak ngerayain bareng, dong? Atau dia pulang nanti malam?"

Ah, untuk hal itu... Serena juga tidak tahu. Kemungkinan besarnya, ia akan melewati pergantian hari dan bertambahnya usia tanpa suami.

Tidak apa-apa.

Ya, tidak apa-apa.

Apanya yang tidak apa-apa?!

Pukul sebelas malam, belum juga mendapatkan kabar dari Sabir. Apakah dia menginap atau pulang, Serena tidak tahu. Argh! Mana dia belum ada tanda-tanda mengucapkan selamat ulang tahun, lagi!

"Sebenarnya dia lagi berbuat apa, coba?" Tidak salah kalau Serena mengharapkan orang yang pertama mengucapkan ulang tahun adalah suaminya, kan? Biar bagaimana pun, Sabir adalah imamnya. Orang pertama yang wajib Serena hormati sejak menikah.

"Masa' enggak ada waktu sebentar aja buka WA?"

Tadi, sekitar jam sembilan malam, Serena telah menanyakan dia di mana. Namun, tidak kunjung mendapat balasan.

Detik berlalu, hari semakin larut dan tidak terasa... sudah pukul sebelas lebih lima-sembilan. Kemudian saat itulah, pesan yang sejak tadi Serena pandangi, menunjukkan centang biru.

"Baru dibaca!" Kesal. Serena jelas memberengut masam. Ia melempar ponsel ke kasur lalu menuju kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi sebelum tidur. Terserah suaminya membalas pesan tadi atau tidak. Sekarang ia tidak butuh jawaban karena sudah menebak bahwa dia tidak akan pulang malam ini.

Begitu kembali dengan wajah segar, ia menemukan sebuah pesan baru dari—tidak-lain-dan-tidak-bukan—suaminya sendiri.

Eh, sebentar. Itu bukan pesan teks melainkan sebuah video. Penasaran, Serena membukanya.

"Musikkkkkk... on!"

Serena melongo. Ada lebih dari lima orang laki-laki berseragam masinis berada di satu ruangan. Salah satunya memegang kerincing, ada pula yang memegang gitar mainan, kemudian sebuah meja dijadikan kendang.

"Selamat ulang tahun, kami ucapkan! Selamat panjang umur, kita akan doakan! Selamat sejahtera, sehat, sentosa...! Selamat panjang umur dan bahagia!"

"Teng-teng-tereng teng-teng-tereng. Hey! Hey!"

Kemudian lagu berganti menjadi lagu ulangtahun dalam bahasa Inggris.

"Happy birthday to you. Happy birthday to you. Happy birthday, happy birthday, happy birthday to you... yeayy!!!"

"Selamat ulang tahun, Mbak Serena. Semoga selalu sehat dan dilimpahkan rezekinya."

"Semoga senantiasa bahagia."

"Langgeng bersama Mas Sabir!"

"Akur-akur sama suami ya, Mbak."

"Oh iya, Mas Sabir sebenarnya pengin pulang, tapi lokomotif ada masalah. Jadi menginap di rumah dinas. Padahal udah kangen berat katanya, Mbak." Dalam sekejap, laki-laki yang bicara itu ditepuk pakai topi oleh Sabir.

Masih tidak terganggu, orang tadi melanjutkan, "Ponakan unyu kami tunggu. Kalau bisa, tiga sekaligus." Hal ini langsung disambut keriuhan oleh yang lain.

"Mbak, Mas Sabir dari tadi muter lagu Armada terus, lho. Konon katanya pergi pagi pulang pagi betulan rela ia lakukan demi Mbak Serena seorang."

"Acieeee, musikkkk!!!" Nampak wajah suaminya yang syok saat rekan-rekannya malah lanjut menyanyi, "Mas Sabir rela! Pergi pagi pulang pagi~ hanya untuk Embakkk Serena~ doakan saja suaminya pergi... semoga pulang dompetnya terisi, tereng-tereng-teng!"

"Udah, woi! Enggak ada di briefing itu!" protes Sabir.

"Eren, jangan terlalu didengerin. Harap maklumi, semuanya jomblo ngenes." Sekarang, giliran Sabir yang dilempar topi oleh rekan-rekannya.

Semua orang dalam video tertawa-tawa.

Termasuk Serena. Hilang segala kekesalan akibat pesannya terabaikan tadi. Tidak pernah menyangka kalau Sabir ternyata ingat hari ulang tahunnya dan menyiapkan kejutan sederhana yang berhasil bikin terharu

Sejurus kemudian, panggilan video pun masuk. Serena tersenyum lebar saat menerimanya.

Dalam posisi yang nampak seperti di dalam selimut, Sabir tersenyum. "Maaf, ya, udah mengabaikan pesan kamu."

"Enggak apa-apa pa-pa. Makasih videonya. Itu gimana caranya ngumpulin mereka?"

Sabir terkekeh, "Kebetulan aja mereka di rumah dinas dan rata-rata juniorku. Jadi gampang lah buat disuruh." Ah, menyalahgunakan jabatan, ternyata. Tapi tidak apa. Toh, keliatannya orang-orang itu tidak tertekan.

"Bilang makasih juga buat yang udah nyanyi-nyanyi itu, ya. Oh, aku baru tahu suara kamu bagus."

Serena merebahkan diri ke kasur.

"Kamu enggak pernah denger aku nyanyi, sih. Padahal aku berbakat banget."

"Iya-iya... berbakat," cibir Serena.

Sabir menguap di seberang sana, nampak sekali sangat kelelahan dan mengantuk. "Selamat ulang tahun, ya, Er. Mau kasih doa yang banyak, tapi itu urusannya nanti sama Tuhan aja, biar yang di langit merestui. Kalau ke kamu, aku intinya pengin kamu selalu bahagia."

"Penginnya kita bahagia sama-sama."

Sabir tersenyum.

"Maaf karena enggak di sana."

"Enggak apa-apa pa-pa. Istirahat, ya. Udah larut banget. Besok pulang, kan?" Di sana, Sabir mengangguk, dan dengan begitu saja, keduanya pun tersenyum lalu memutus sambungan setelah saling mengucap selamat tidur.

***

Terpopuler

Comments

Nining Chili

Nining Chili

senengnx 🥰

2024-07-08

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!