Dikarenakan Sabir belum bisa menjadi imam perdana sebagai suami untuk Serena, ia berjalan pulang dari masjid terdekat dengan ditemani Cahyoko Ariyanto, sahabatnya. Juga Satya Manhuri atau yang akrab disapa Saman, adiknya.
"Sebenarnya aku masih enggak nyangka kamu berakhir sama Eren. Kayak... kok, bisa? Padahal kalian sendiri yang bilang nggak akan pernah jadi pasangan kecuali udah putus asa karena enggak ada yang mau. Nah, poinnya sekarang ialah... kalian berdua sama-sama enggak ada yang mau?"
Bertahun-tahun kerja di pertambangan nun jauh di sana, Cahyo sedikit kaget manakala pulang ke rumah Jakarta langsung dihadapkan dengan pernikahan antara sahabatnya dan sahabatnya. Iya, Serena temannya, Sabir juga temannya. Kebayang wajah bengong Cahyo begitu melihat foto prewedding dua orang itu terpajang di halaman rumah Serena? Pastinya heran sekali. Ya masa mereka mendadak romantis dalam foto tersebut?
Di antara tiga orang ini, yang aktif mengobrol sejak tadi hanya Cahyo dan Sabir saja. Saman? Jangan ditanya. Laki-laki yang baru saja berhasil menjadi karyawan salah satu Bank itu tengah bermain game online. Tidak peduli sarungnya hampir melorot dari pinggang. Biarlah jalan mengangkang daripada kalah dalam perang, begitu prinsipnya.
"Namanya nasib enggak ada yang tau, Cah." Hanya dengan begitu, Cahyo menyambar bahu Sabir menggunakan sarung. Ia paling tidak suka namanya disingkat "Cah" karena konotasinya mirip dengan "Bocah".
"Berapa kali dibilangin, panggil 'Ari' aja apa susahnya!"
Kadang Cahyo agak menyayangkan kenapa orang tua memberi nama lokal sekali, sehingga sulit menemukan panggilan yang keren. Cahyoko Ariyanto. Di mana letak gagahnya selain pada bagian "Ari"? Itu pun masih ada pula yang mempelesetkan namanya menjadi Ari-ari. Gila, kan? Bukan berarti Cahyo meledek orang yang bernama serupa, bukan! Yang ia bahas hanya namanya saja. Tolong garisbawahi.
"Eh, ngomong-ngomong, kamu cinta sama Eren, Sab? Ini enggak bermaksud ikut campur, tapi melihat kalian yang selama ini mengaku teman sejati tiba-tiba nikah, aku jadi agak heran sekaligus penasaran. Beneran cinta atau dia terlanjur..."
Sabir mendelik saat menangkap maksud pertanyaan Cahyo. "Enggak ada, ya. Aku enggak mengambil apa pun dari Serena kalau itu yang kamu pikirin."
"Kalau begitu, yang lain yang ngambil, terus kamu sebagai teman terbaik memilih bertanggungjawab karena orang yang berbuat malah kabur?"
Raut kesal Sabir tidak dapat ditahan. Bisa-bisanya Cahyo mengatakan secara tidak langsung kalau Serena gagal menjaga diri.
"Enggak usah mikir aneh-aneh. Aku sama dia nikah bukan karena putus asa atau sebagainya. Dia seharusnya menikah dengan pacarnya kalau saja orang itu enggak selingkuh, dan aku... seharusnya nikah sama pacarku kalau saja dia enggak jadi selingkuhan pacarnya Serena."
"Waduh, rumit juga asmara kalian," Cahyo geleng-geleng. "Terus, kenapa memutuskan nikah padahal baru patah hati?"
"Tujuannya supaya bisa lepas dari kekecewaan itu sendiri."
"Jadi kalian enggak saling cinta?"
"Belum, bukan enggak. Aku sama dia bertekad untuk pulih bareng-bareng. Dan jatuh cinta... adalah tujuan lain dari hubungan ini."
"Busetttt, ribet bener. Kenapa enggak PDKT aja dulu? Terus kalau udah cinta, baru nikah."
Dari tempatnya berjalan, Saman menyahuti, "Mending nikah dulu lah. Jadinya halal mau ngapa-ngapain aja. Kalau pacaran batasannya banyak, Bang. Mana bisa cium sana-cium sini. Iya, nggak?" Mendengar itu, Cahyo mengiyakan seraya tertawa, sedangkan Sabir geleng-geleng saja.
"Ini rumah lama Bu Yolan, kan? Tumben banget sudah pada rame pagi-pagi." Keheranan Cahyo disambut tatap penasaran oleh Sabir dan Saman.
Mereka lantas menilik ke arah rumah paling besar di komplek. Di sana banyak sekali orang. Ada yang menyapu, memotong rumput, juga sekadar ongkang-ongkang kaki.
Rumah milik Yolanda Retno tersebut sudah lama ditinggal sebab ia pindah ke rumah baru -tepat di sebelah rumah itu sendiri.
"Kalau enggak salah dengar dari Emak, anaknya yang gede pulang dari Aussie sebentar lagi."
Sabir menatap adiknya penuh tanya, "Janu Baskara?" Yang dibalas anggukan oleh Saman.
"Oh, masih mau balik ke Indo. Kirain udah betah jadi bule-bule-an." Bahu Cahyo mengedik setelah berkata begitu.
Selama perjalanan pulang ke rumah mertua, selepas mengetahui bahwa Janu akan datang tidak lama lagi, Sabir merenung: apa reaksi Serena kalau crush masa kecilnya kembali ke tanah air?
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments