Butuh lebih dari tiga-puluh menit sampai Serena menyelesaikan kegiatan perawatan malamnya. Sabir yang selesai mandi telah asyik berbaring di kasur sembari memainkan ponsel, mengabaikan bertumpuk-tumpuk kado pernikahan di samping ranjang.
"Eren, aku masih heran, kenapa kamu ngotot untuk menikah denganku."
"Menurut pendapat kamu dulu, kita enggak seharusnya terpuruk dalam kekecewaan. Makanya, aku berpikir kita harus pulih bareng-bareng dengan cara ini."
"Menikah?"
Serena mengangguk.
"Status kita sah, dan bisa satu rumah tanpa perlu dituding kumpul kebo sama tetangga."
"Tapi menikah enggak perihal lepas dari tudingan kumpul kebo aja, Eren. Pernikahan ini sakral."
"Iya, aku tau. Makanya dengan begitu, kita bikin perjanjian supaya pernikahan ini dijalankan tanpa main-main. Walaupun sekarang belum saling cinta, kita bisa belajar dan mempertahankan semuanya. Benar?"
Lamat-lamat, Sabir mengangguk juga. Sebenarnya belum bisa memahami kenapa ia mengiyakan ajakan nikah dari Serena. Namun, karena semuanya sudah terjadi, ia pikir menjalankan status barunya sebaik mungkin bukanlah sesuatu yang buruk.
Toh, menikahi perempuan seperti Serena juga tidak merugikan Sabir. Dia orangnya luwes dan tidak macam-macam. Selama di masa sekolah dulu, prestasinya unggulan, Sabir juga sama. Sudah hafal tabiat masing-masing membuat keduanya gampang berinteraksi, tidak kaku meski status pasutri masih asing untuk mereka. Jelas saja, hal ini tidak akan menjadi penyesalan di kemudian hari. Karena meskipun mereka akan selisih paham suatu saat, keduanya pasti akan menyelesaikan semua sebaik masa-masa pertemanan.
Menyingkirkan ponselnya, Sabir merogoh sesuatu dari dompet.
"Ini ATM. Urusan keuangan, kamu yang pegang. Itu gajiku dari awal kerja belum pernah aku pakai. Khusus aku tabung untuk istri."
Sabir tidak bohong. Selama ini, gajinya belum terpakai sama sekali. Untuk keperluannya sendiri, ia mengandalkan uang dari peternakan miliknya. Iya, pria ini punya peternakan; Sabir adalah masinis yang merangkap juragan bebek. Menurutnya, perlu cadangan pekerjaan kalau-kalau suatu hari nanti timbul kondisi di mana ia sudah tidak sanggup lagi mengendalikan Lokomotif kereta. Dan pekerjaan paling tepat adalah beternak. Dengan begitu, ia tidak perlu repot-repot karena tinggal mempercayai orang yang mengangon bebek-bebeknya.
"Transferan lancar tiap bulan?" Tanpa repot-repot menolak, Serena menyambut kartu pipih penambah kekayaan tersebut.
"Dipastikan aman, Ibu baker. Ibu bebas belanja sepuas hati."
"Oke, terima kasih kalau begitu, Pak."
Ngomong-ngomong soal panggilan. Ini terjadi sebab Serena sebenarnya lebih tua dari Sabir beberapa bulan, yang membuat pria ini iseng memanggilnya Ibu. Tidak terima, Serena lantas berbalik memanggil Sabir dengan sebutan Bapak. Dan begitulah, panggilan tersebut masih ada sampai sekarang.
"Eren…."
"Hm?"
"Aku cuma mau bilang, sebagai laki-laki yang enggak sempurna, pasti aku banyak kurangnya. Aku harap kamu bisa tahan-tahan, bisa mengingatkan aku saat aku lalai, tegur aku kalau nggak sesuai keinginan kamu. Nggak perlu ragu untuk marah kalau aku memang salah. Aku siap merubah diri jadi lebih baik dari sebelumnya."
Lantas dengan begitu, Serena tersenyum simpul. "Begitupun dengan aku, ya. Sebagai seorang istri, aku juga pasti banyak salahnya. Namun, sebisa mungkin kita sama-sama berproses. Menjadi suami-istri yang sederhana aja, nggak perlu memaksa untuk jadi seperti yang lain."
"Bener. Kita sederhana aja, apa adanya."
"Ya, sederhana dan apa adanya dalam artian aku bisa keluar masuk store LV tiap bulan."
"Boleh, boleh. Apa yang enggak untuk istri."
Keduanya lantas tertawa.
Untuk selanjutnya, mereka saling diam. Mungkin tengah berperang dengan pikiran masing-masing. Sabir memilih membuka kado. Pasalnya, sejak tadi ia sudah dibombardir pesan beruntun sama Emak yang menyuruhnya melihat kado dengan bungkus paling menarik : koran yang bertuliskan berita kebakaran.
Menarik sekali, memang.
"Eren, nggak mau buka kado juga?"
Di tempatnya bersandar, Serena menggeleng. Ia terlalu sibuk membalas pesan Jizzy yang menggodanya habis-habisan.
Jizzy Elvina
Sebelum perang, harap pakai seragam dinas dulu ya, Mbak Eren. Suaminya wajib tergugah melihat anda. Jangan sampai baru naik ranjang, dia udah nggak selera karena anda cuma pakai piyama kelinci. Iyuhhh, nggak trendi sama sekali.
Serena Awahita
Yang kayak kamu begini wajib aku kasih siaran langsung, Jizz. Tolong angkat panggilanku, ya. Ini pelatihan beranak-pinak seperti yang kamu harapkan, bisa kamu dapatkan secara gratis karena punya privilege sebagai teman.
Lantas setelahnya, Serena memencet tombol panggilan. Sekadar bertanya-tanya apakah Jizzy akan nekat menerimanya atau langsung menolak. Karena ia yakin, temannya yang mengaku ahli berkembang biak itu cuma pandai di mulut saja. Urusan praktek, nol besar.
Panggilan ditolak.
Nah, kan! Apa Serena bilang.
Jizzy Elvina
Udah, deh.
Enggak usah mengotori mata suci paling kece se-alam semesta ini, Er.
Mending kamu buka kado dari aku.
Dengan begitu, Serena beringsut menuju tumpukan kado-kado di mana Sabir tengah termenung memandangi sesuatu.
Ia tidak peduli, yang ia perlukan hanya mencari kado atas nama Jizzy. Untungnya, temannya itu selalu khas sekali dalam memberi bingkisan. Dia menempelkan stiker fotonya dan Serena zaman SD pada tas kado, sehingga Serena langsung tahu.
Saat melihat isinya, yang ia temukan adalah gaun seksi merah menyala —yang katanya adalah seragam dinas paling terkemuka abad ini. Lingerie adalah hal biasa, sebab ia yakin rata-rata kado dari teman yang lain akan sama juga. Namun, ada satu yang tidak biasa dari pemberian Jizzy. Serena butuh waktu agak lama untuk mencerna, sebelum akhirnya mendelikkan mata.
Di tempatnya, Sabir pun melakukan hal yang sama. Matanya melotot manakala menyadari benda apa yang ia dapat dari dalam kado berbungkus koran:
Jamu herbal turun-temurun resep Emak Yuni dan Ayah Siwan. Sekali minum, dijamin tokcer dalam sekali tembak.
Di lain sisi, Serena terpekur memandangi buku yang baru kali pertama ia baca dan diyakini tidak akan dibaca lagi, di genggaman tangan, berjudul:
101 Gaya Kamasutra Yang Cocok Untuk Pemula
Oleh: Jizzy Elvina
"Sabir…." Panggilan ini praktis membuat bapak masinis muda menoleh dengan wajah yang nampak merah. Serena tanpa ba-bi-bu melempar buku ke arahnya. Dengan begitu, Sabir membaca apa yang tertera, bersamaan dengan Serena yang berkata, "Malam ini, mau coba gaya yang mana?"
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments