Seperti yang pernah Serena pikirkan, tidak ada yang berubah antara ia dan Sabir meskipun keduanya telah menikah. Dalam bayangannya, mereka masih sama seperti bocah tujuh tahun yang mencuri rambutan tetangga dan terpaksa kabur akibat dikejar angsa.
Seribu tahun yang lalu—ah, terlalu lama—ralat, sekitar sembilan-belas tahun yang lalu, mama mempertemukan Serena dengan seorang anak laki-laki.
"Eren, ini namanya Sabir. Yang ini panggilnya Emak sama Ayah, terus itu adik kecil yang lagi digendong namanya Satya Manhuri, Saman panggilannya. Mereka ini saudara jauh kita. Temen dekat Mama-Papa sejak zaman sekolah. Baru pindah ke sini kemarin."
Sabir.
Radar Serena menangkap sosok anak ini sebagai orang yang tidak suka keramaian, ia yakin itu. Pasalnya, sedari tiba di rumah Serena, dia enggan bergaul dengan teman-teman lain. Padahal, Serena saat itu berulang tahun dan pastinya mengundang banyak sekali teman yang bisa diajak bermain bersama. Tapi, dia malah duduk sendiri di pojok ruangan, tidak jauh dari posisi Emak sama Ayah yang sibuk reuni dengan Mama-Papa.
Jiwa-jiwa peduli sesama yang ada dalam diri Serena pun mencuat. Tidak tega, ia mendekati.
"Nama kamu siapa tadi?"
"Sabir." Mulut Serena membentuk O lalu manggut-manggut.
"Aku Serena. Mau ikut aku, enggak?"
"Ke mana?" Senyuman penuh arti didapatkannya sebagai balasan.
Di depan pohon rambutan yang buahnya sudah merah matang, Serena melepas pegangan tangannya pada Sabir. Lalu menunjuk batang-batang tinggi itu.
"Aku mau ambil yang di ranting itu, pasti manis-manis. Kamu bisa manjat?" Di tempatnya, Sabir menggeleng. Serena menjatuhkan bahu kecewa. "Yahhh... aku pikir bisa. Soalnya aku juga enggak bisa. Makanya pengin minta tolong kamu."
"Kata Ayah, yang suka manjat pohon itu monyet, Serena. Sabir manusia, bukan monyet. Jadi enggak bisa manjat. Maaf, ya." Anak kecil yang sedang memperbaiki tali sepatu ini menatap Serena dengan raut bersalah. Baru saja berkenalan, ia telah membuat teman barunya kecewa. Sabir jelas merasa tidak enak jadinya. "Memangnya pohon ini punya siapa?"
"Punya orang rumah itu," tunjuk Serena ke arah yang dimaksud. "Aku sering minta, kok. Orangnya bolehin. Tapi sekarang mereka lagi pulang kampung, jadi enggak bisa minta tolong ambilin."
"Kalau orangnya enggak ada di rumah, kita enggak boleh ambil sembarangan, Serena. Kata Ayah, mengambil milik orang lain tanpa izin namanya mencuri, dan mencuri adalah perbuatan dosa. Nanti di akhirat memangnya Serena mau dipanggang di neraka? Kalau Sabir enggak mau."
"Kalau ngambilnya diam-diam?"
"Ya dosa!"
"Tapi aku mau rambutan yang matang itu, Sabir. Kamu gendong aku di pundak aja, kayak papa sering gendong aku. Nanti biar aku yang ambil buahnya, kamu tinggal makan."
"Enggak mau."
"Kenapa? Kamu enggak kuat gendong aku?"
"Kuat! Tapi enggak mau bantu Serena mencuri. Nanti Sabir juga kebagian dosanya."
"Kan diam-diam aja."
"Sabir enggak bisa, Serena. Nanti dimarahi Emak."
"Makanya enggak usah bilang-bilang Emak. Aku juga enggak bilang Mama."
Butuh lebih dari lima menit Sabir mondar-mandir di bawah pohon untuk sekadar berpikir. Apa yang harus ia lakukan? Menolong Serena sama saja berbuat dosa sebab pohon rambutan itu bukan miliknya. Tapi apabila ia tidak menolong, wajah temannya itu... kasihan sekali. Serena mulai berubah murung.
Hari ini kan hari ulangtahunnya, jadi... setelah dipertimbangkan, menuruti kemauannya bukanlah sesuatu yang buruk. Anggap itu hadiah untuknya, walaupun Sabir juga sudah memberi kado, tadi.
Sejurus kemudian, sehabis meyakinkan diri bahwa yang dosa cuma Serena, sebab Sabir tidak akan ikut makan rambutan, bahunya pun berhasil menjadi tempat duduk Serena yang tengah menggapai-gapai buah yang diinginkan.
"Sudah belum?"
"Dikit lagi. Kamu kurang tinggi, Sabir. Tanganku belum sampai."
"Kata Ayah, pertumbuhan itu bertahap, Serena. Sabir juga mau tinggi seperti Ayah, tapi belum bisa. Katanya harus tunggu remaja dulu, baru bisa tinggi. Masalahnya, Sabir juga enggak tahu remaja itu apa. Serena tahu enggak?" Mata penuh binar khas anak kecil yang polos itu mendongak, sekadar mendapati dagu Serena yang juga tengah mendongak menatap pohon rambutan.
"Remaja? Buah apa?" Yang ada di pikiran Serena saat ini cuma rambutan, rambutan, dan rambutan. Begitu mendengar remaja, ia jelas tidak paham.
"Bukan buah. Itu proses kehidupan manusia, kata Ayah. Tapi Sabir enggak tahu bentuk remaja kayak apa." Jemarinya mencengkram betis Serena tatkala merasakan temannya itu oleng sedikit. "Dapat enggak?"
"Enggak! Tukaran posisi aja, gimana? Biar kamu aku gendong, terus kamu ambil buahnya, ya."
"Mana bisa begitu! Kata Ayah, perempuan enggak boleh menggendong laki-laki."
"Oh ya? Kenapa?"
"Enggak tahu juga. Itu jawaban waktu Sabir nanyain kenapa Emak sering digendong Ayah ke kamar, tapi Emak enggak pernah melakukan sebaliknya."
"Karena Ayah kamu lebih berat, mungkin?"
"Bisa jadi. Pun juga, Ayah itu tulang punggung keluarga, sementara Emak itu tulang rusuk. Jadinya yang punggungnya lebih kokoh buat ngegendong ya punya Ayah. Emak kan tulang rusuknya yang kuat, bukan punggung. Begitu katanya."
Serena manggut-manggut. Mulai menanamkan dalam otak mengenai pengetahuan baru yang didapat dari Sabir hari ini, perihal gendong-menggendong. Sepulangnya ke rumah nanti, ia harus curhat sama Mama-Papa untuk menanyakan kebenaran ucapan Sabir.
"Serena, kalau enggak dapat, mending turun. Nanti minta tolong belikan aja sama Emak Sabir. Emak Sabir murah hati, kok. Pasti mau belikan Serena rambutan di pasar."
Cemberut.
Bibir Serena mengerucut; antara sedih dan kesal. Sedih karena tidak dapat buah yang dimau, kesal karena tangan terlalu pendek sehingga tidak bisa meraih ranting pohon rambutan. Namun, kasihan kepada Sabir yang telah membantu, Serena akhirnya memutuskan turun.
Tapi, karena berpikir percuma ia telah kabur diam-diam selagi Mama-Papa sibuk mengobrol, rasanya tidak rela pulang ke rumah dengan tangan kosong.
"Gimana kalau kita cari tangga?"
Sabir yang sudah lega sembari memijat bahu, melemaskan tubuh ke depan. Ternyata Serena belum juga mau berhenti. Padahal Sabir ingin kembali ke Emak sama Ayah untuk minta duit jajan. Tadi di jalan ke rumah Serena, ia sempat melihat gerobak sate di depan gerbang komplek. Sabir ingin beli. Sayangnya, hal itu harus ditunda sebab Serena merengek minta carikan tangga.
Alhasil, keduanya menyusuri jalanan untuk menilik adakah tangga yang ditinggalkan orang di halaman rumah atau di mana pun itu, yang memungkinkan bisa mereka pakai untuk mengambil rambutan.
"Kamu sekarang kelas berapa?"
"Dua, mau naik kelas tiga. Kalau Serena?"
"Sama. Sekolahnya di mana?"
"Kata Ayah, sebentar lagi mau pindah ke sekolah yang sama dengan Serena."
Selagi memperbaiki gaun ulang tahun ala-ala princess yang dikenakan, Serena manggut-manggut. Rasanya senang berteman dengan Sabir. Anak itu bisa asyik sekali kalau diajak mengobrol. Pendapat Serena mengenai dia yang anti keramaian nampaknya sedikit salah. Sabir hanya belum terbiasa dengan lingkungan baru.
"Besok kalau sudah masuk sekolah, kamu bawa bekal, ya. Biar nanti bisa tuker-tukeran lauk sama teman yang lain."
"Oke!"
Tidak terasa, mereka semakin jauh berjalan dan belum juga menemukan tangga. Di salah satu halaman rumah seseorang yang pagarnya terbuka, ada sebuah papan kayu. Kalau saja papan itu bersih, Serena mau mengambilnya. Sayangnya, dari tempat keduanya berdiri saja bau menyengat sudah tercium, bukti kalau papan itu kotor.
Kesal, Serena menendang botol kaleng yang ada di depan kaki, ke arah sana.
"Ya sudahlah, kita pulang aja. Tangganya enggak ketemu-ketemu."
"Tuh, kan... apa Sabir bilang. Seharusnya beli di pasar aja. Emak Sabir pasti juga mau kasih Serena rambutan. Gampang lah itu." Dengan senang hati, Sabir merangkul Serena untuk diajak berjalan pulang.
Huh, ia tidak sabar untuk beli sate di gerbang komplek. Namun, belum ada sepuluh langkah mereka berjalan, sayup-sayup terdengar suara riuh.
Oang! Oang! Oang!
Secara kompak, wajah mungil keduanya menoleh ke belakang. Seakan punya kabel kehidupan yang sama, mata Sabir dan Serena melotot bersamaan.
"Angsa!" teriak Serena. Ketakutan membuatnya memandang sekeliling. Saluran air, pagar beton rumah orang-orang, tanaman perdu yang rimbun, lalu berhenti di satu titik. Botol kaleng yang tadi ditendang ke arah papan kayu... itu pintu kandang angsa!
Sekarang... skala satu sampai seratus, seratus-satu adalah level kemarahan hewan itu akibat rumahnya dilempar kaleng.
Gawat!
"Lari!!!"
Sebagai anak yang telah diajarkan menjadi lelaki sejati, Sabir membiarkan Serena berlari lebih dulu. Harapannya, temannya itu akan sampai ke rumah lebih cepat selagi Sabir melemparkan ranting-ranting pohon di jalanan, ke arah angsa yang mengejar. Sayangnya, tidak bisa mengharapkan Serena selamat sebab anak perempuan itu sejak awal memakai sandal ber-hak lima senti (kan niatnya mau ala-ala princess di hari ulang tahun). Mana dia tahu kalau ternyata niat tersebut membawa petaka sebab sulit berlari dari kejaran angsa.
"Mama!!! Papa!!! Aku dikejar angsa!!!"
Nangis.
Bukannya rambutan yang didapat, malah pantatnya berpotensi dipatuk hewan laknat.
Dalam kegamangan yang mendalam, pasrah akan keadaan, Serena merasakan tangannya ditarik.
Sabir.
Teman barunya itu memberi kode agar Serena naik ke punggungnya. Tanpa pikir panjang, dalam sekali melompat, Serena memeluk leher Sabir dari belakang.
"Lari, Sabir! Lari lebih kencang!" Sikap peduli sesama yang biasanya ada dalam diri Serena, mendadak hilang. Tidak peduli kaki Sabir pegal karena berlari sembari menggendongnya; tidak peduli napasnya sudah ngos-ngosan, sebab yang ia takutkan saat ini adalah belasan angsa.
"Dikit lagi! Dikit lagi sampai rumah! Sebentar lagi sampai, Sabir!!!"
"Aduh! Pantatku dipatuk!" Sabir memekik. Tapi karena memikirkan keselamatan Serena, ia menahan tangis dan terus berlari hingga sampai ke tujuan.
Pada halaman rumah Serena yang luas dan asri, ia menurunkannya seraya bergegas menutup pagar. Detik-detik menjelang angsa itu sampai, terasa seperti momen paling menegangkan dalam hidup Ananda Sabir Bachtiar. Untungnya, gerak tangannya lebih cepat dari angsa-angsa yang berakhir berhenti di depan pagar.
Syukurlah. Serena menarik napas berkali-kali, lalu memandangi Sabir yang menunduk dalam-dalam.
"Serena baik-baik saja?" Yang ditanya, mengangguk. Sabir pun lega. "Sabir juga aman, cuma sakit sedikit dipatuk angsa." Ia mengusap-usap bagian belakang paha.
"Maaf ya, Sabir." Air muka bersalah tidak dapat Serena sembunyikan. Tapi temannya itu malah tersenyum menenangkan.
"Enggak apa-apa. Kata Ayah, kita diwajibkan menolong sesama kalau mau masuk surga. Makanya, Sabir bantuin Serena yang kesusahan larinya tadi. Karena Sabir mau masuk surga."
"Aku juga mau."
"Kalau Serena juga mau, lain kali enggak boleh berniat mencuri rambutan lagi, ya." Lamat-lamat, ucapan ini diangguki Serena.
Kemudian terdengar seruan lantang dari luar pagar, "Sulastri! Arifin! Anakmu bikin angsaku kabur!!!"
O-ow... Sabir dan Serena kompak saling lirik, lalu lari terbirit-birit memasuki rumah.
Itulah hal yang paling diingat Serena dari masa kecilnya bersama Ananda Sabir Bachtiar.
Dia lucu, baik, dan seseorang yang ia duga akan menjadi lelaki sejati di masa depan. Semua benar menjadi kenyataan. Sabir dewasa betulan seorang gentleman. Makanya, ia tidak menyesal telah meminta dinikahi sahabat sendiri.
Jadi, saat di mana Serena merenung di sudut gudang setelah bereuforia dengan album-album masa kanak-kanak yang hendak dibawa ke rumah baru, ia memilah foto pernikahan untuk diunggah ke media sosial. Setelah dapat, sebait caption ia cantumkan sebagai pelengkap: "No Worry, I will be with you forever, My hubby."
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments