Bab 14

"Mumpung masih malam, kita hanya memiliki waktu dua hari lagi untuk bertahan hidup. Kita harus segera keluar dari sini, untuk mencari tempat yang lebih aman." Ucap Raka.

"Tapi bagaimana caranya?" Tanya Hilman kepada Raka.

Raka pun menjawab pertanyaan dari Hilman. "Tentu saja kita harus keluar dari gedung ini, melewati koridor. Kemudian kita keluar menggunakan lift. Asalkan kita jangan bersuara."

Alex sangat tidak menyetujui ide dari Raka. "Kalau kita langsung pergi begitu saja, itu akan sulit. Walaupun zombie-zombie itu tidak bisa melihat kita di malam hari, tapi mereka bisa mendengar suara langkah kita."

Putra membenarkan perkataan Alex, "Apa yang dikatakan oleh Alex sangat benar. Jika kita langsung keluar saja tanpa memiliki strategi apapun, itu saja saja dengan bunuh diri."

Raka sangat kesal dengan Alex, karena pria itu seakan merasa hebat darinya. Padahal Raka adalah ketua tim, dia yang paling berhak memberikan aturan.

Alex segera menjelaskan strategi yang harus dilakukan. "Kita harus memanfaatkan kelemahan zombie. Pada malam hari rupanya zombie akan menjadi buta, tapi mereka akan mengejar suara yang menarik perhatian mereka. Karena itulah harus ada orang yang bisa menarik perhatian mereka."

"Bagaimana caranya?" Tanya Liondra, sangat penasaran.

Alex pun menjawab pertanyaan dari Liondra. "Dengan melempar barang. Kita harus gunakan barang-barang yang ada disini untuk menarik perhatian zombie. Sementara itu, kelompok yang lainnya keluar melewati jalur utama."

Yoga malah mentertawakan ide dari Alex, "Lalu siapa yang mau dijadikan tumbal untuk menarik perhatian zombie heuh?"

Alex mempertegas ucapannya. "Bukan tumbal, tapi berkorban untuk menyelamatkan banyak nyawa. Dan aku siap untuk melakukannya. Bukan berarti aku akan menyerah, tapi aku juga pasti akan keluar dari sini setelah memastikan kalian semua selamat."

Putra mengangkat tangannya, "Aku akan ikut dengan Alex."

Begitu juga dengan Tian, "Aku juga."

...****************...

Prang!

Prang!

Prang!

Terlihat ada tiga orang pemuda yang sedang melempar barang apapun yang ada di gedung tersebut ke bawah. Semacam vas bunga, gelas, piring, dan barang yang lainnya.

Mereka melempar barang-barang tersebut ke satu arah, agar semua zombie berkumpul di satu tempat.

AARRGGKKHH!

AARRGGKKHH!

AARRGGKKHH!

Sehingga terdengar suara gemuruh para zombie berlarian ke arah sumber suara, tepatnya ke sebelah kanan gedung. Bahkan zombie-zombie yang berada di dalam gedung pun sama, mereka berlarian ke luar, menghampiri sumber suara, tempat barang-barang pecah tersebut berjatuhan.

Setelah merasa aman dan tidak mendengar suara zombie di koridor, Raka dan dua belas orang lainnya segera keluar dari ruangan tersebut. Sementara Alex, Putra, dan Tian masih standby di balkon. Mereka memilih untuk menarik perhatian zombie, mereka terus melempar barang ke sebelah kanan gedung, karena jalan menuju ke mini market ada di sebelah kiri gedung, sehingga jalan yang ada disebelah kiri gedung harus dipastikan aman.

Sebenarnya Liondra sangat merasa tidak enak hati. Dia tidak tega untuk meninggalkan Alex, Putra, dan Tian. Tapi dia yakin Alex adalah pria yang sangat cerdik, Alex pasti memiliki cara untuk melindungi dirinya sendiri dan tidak akan membiarkan teman-temannya mati dibunuh oleh zombie.

"Ayo!" Ucap Raka sambil memegang tangan sang kekasih.

Tapi Liondra malah melepaskan tangannya Raka, mungkin karena dia sangat kecewa kepada Raka. Liondra merasa sikap Raka sangat asing. Entah mungkin memang seperti itulah kepribadian Raka yang sebenarnya. Selama ini Raka berpura-pura bersikap baik di depannya.

Raka hanya menghela nafas dengan penolakan Liondra. Dia segera berjalan cepat agar dia yang berada di depan rombongan itu. "Kita harus berjalan dengan pelan, jangan sampai ada yang mendengar langkah kaki kita."

Setelah sampai di luar gedung, ketiga belas orang tersebut nampak sangat ketakutan melihat banyak sekali zombie yang sedang berlarian mengejar suara barang-barang dilempar oleh tiga orang pemuda dari balkon.

Terlihat Tian melambaikan tangannya kepada Riska yang sedari tadi memperhatikannya. "Akhirnya Riska menerima coklat pemberian dariku. Dia bilang kalau seandainya kami bisa selamat dari sini, dia akan mentraktir aku makan malam." Seru Tian.

Alex dan Putra hanya tertawa kecil mendengar curhatan hati Tian.

"Karena itulah kita harus semangat untuk bisa keluar dari sini. Perjuangkan cintamu, bro!" Putra menepuk-nepuk pundak Tian. Kemudian Putra segera melempar barang ke jalan raya yang ada disebelah kanan gedung.

Prang!

Setelah itu, Putra menepuk pundak Alex yang sedang melempar barang ke arah yang sama. "Kamu juga, aku tahu dari tadi kamu mencuri-curi pandang memandangi sang primadona kampus. Setelah keluar dari sini, kamu harus berjuang untuk mendapatkannya. Si Raka gak pantas menjadi kekasihnya Liondra."

"Aku tak yakin Liondra menyukaiku." Jawab Alex, dia melempar kembali barang ke satu arah.

"Kamu sama zombie saja pantang menyerah. Masa sama Liondra menyerah begitu saja. Jangan sampai terjadi peperangan zombie vs zomblo abadi." Putra sengaja bercanda untuk menghangatkan suasana. Karena sejujurnya dia pun sangat ketakutan, dia tidak tahu apakah dia, Alex, dan Tian bisa selamat.

Ketiganya pun tertawa bersama. Padahal sebelumnya mereka tidak pernah akrab, bertegur sapa pun tidak. Tapi kini mereka telah menjadi sahabat.

"Setelah ini, bagaimana nasib kita?" Tanya Tian kepada Alex.

"Kamu tenang saja. Nanti setelah kita memastikan mereka semua selamat dan berhasil masuk ke dalam mini market. Kita baru atur strategi bagaimana caranya untuk keluar dari gedung ini." Jawab Alex.

Alex adalah manusia normal. Dia pun sebenarnya sangat ketakutan. Tapi dia harus berusaha mungkin bersikap tenang, untuk menguatkan teman-temannya.

...****************...

Tiga belas orang yang dipimpin oleh Raka sedang berjalan dengan pelan dan hati-hati, jangan sampai menimbulkan kegaduhan. Mereka sedikit merasakan aman, karena perhatian zombie fokus pada barang-barang yang dilempar oleh ketiga pemuda itu.

Akan tetapi, entah disengaja atau tidak, pedang yang dipegang oleh Yoga terjatuh mengenai aspal.

Prang!

Suara dentingan pedang sangat terdengar begitu jelas. Sehingga suara gemuruh pun terdengar hebat, rupanya semua zombie yang ada di jalan raya tersebut sedang berlarian ke arah ketiga belas orang itu.

Gerrr...

AARRGGKKHH!

AARRGGKKHH!

AARRGGKKHH!

"Aaaaahhhh!" Sontak semua orang yang ada disana menjerit histeris.

Kejadian malam ini sungguh sangat mengerikan. Padahal sebentar lagi ketiga belas orang itu akan sampai ke mini market, tapi usaha mereka sia-sia gara-gara zombie-zombie yang ada disana mendengar suara dentingan pedang Yoga yang jatuh mengenai aspal.

Terpopuler

Comments

Muh. Yahya Adiputra

Muh. Yahya Adiputra

astaghfirullah...apa yoga sengaja atau tdk Yach..tapi.. semoga saja liodra dan yg lain bisa selamat yaaa Allah 🤲

2024-06-24

0

Hasbi Asidiqi

Hasbi Asidiqi

euuuuuuuch yoga kamu ceroboh banget sich ...
ikut tegang bacanya ....takut klo zombie nya nyerang alex

2024-06-20

1

Miss Typo

Miss Typo

Yogaaaa bener² deh, Alex Tama Tian dan berkorban biar kalian 13 orang bisa selamat, mlh tuh pedang pake jatuh apa sengaja dijatuhkan 😤

2024-06-20

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!