Bab 4

Kini tinggal tersisa sembilan belas orang lagi, yaitu Dion (level 5), Liondra (level 3), Raka (level 6), Doni (level 7), Riska (level 1), Ardi (level 5), Maudy (level 4), Gina (level 3), Tian (level 2), Amel (level 2), Farhan (level 2), Yoga (level 6), Putra (level 5), Seno (level 2), Hilman (level 4), Amir (level 3), Cevi (level 2), Beni (level 5), dan Alex (level 1). Diantara mereka yang berhasil menaikkan level adalah Dion, Alex, dan Farhan.

Yang level 1, mereka memiliki senjata semacam pisau kecil. Yang level 2, mereka memiliki senjata semacam pisau besar. Yang level 3, mereka memiliki senjata semacam pipa besi. Yang memiliki level 4, mereka memiliki senjata semacam pedang berukuran kecil. Yang level level 5, mereka memiliki senjata semacam pedang berukuran sedang. Yang level 6, mereka memiliki senjata semacam pedang berukuran besar. Dan yang level 7, mereka memiliki senjata semacam sebuah pistol.

Saat ini kesembilan belas orang tersebut sedang bersembunyi di sebuah ruangan yang ada di gedung. Walaupun sayangnya pintu tidak dapat dikunci, karena sudah rusak. Tapi Alex, Doni, dan Tian sudah menahan pintu tersebut dengan sebuah lemari yang berukuran besar.

Aarrggkkhh!

Aarrggkkhh!

Aarrggkkhh!

Terdengar suara raungan zombie-zombie yang ada di koridor, mereka berjalan melewati ruangan tempat kesembilan belas orang tersebut bersembunyi. Suasana begitu sangat menegangkan.

"Jangan ada yang bersuara sedikit pun. Jangan sampai zombie itu tahu bahwa kita sedang bersembunyi di ruangan ini." Doni sebagai ketua tim mencoba memberikan instruksi kepada semua orang yang ada disana.

Mereka semua hanya menganggukkan kepala, dari raut wajah mereka, mereka sangat terlihat tegang sekali. Bahkan mereka masih sangat merasa bersalah kepada Atta, karena mereka terpaksa harus meninggalkan Atta yang sedang dikerumuni oleh banyak zombie.

"Aku sangat takut." Bisik Riska kepada Liondra dan Gina.

Liondra walaupun sangat ketakutan dan dihantui merasa bersalah kepada Atta, tapi dia berusaha untuk bersikap tegar, dia memeluk tubuh Riska yang nampak menggigil.

"Jangan takut, kita pasti akan selamat. Kita harus bisa kembali ke dunia kita." Ucap Liondra dengan nada pelan, matanya nampak berkaca-kaca.

Sementara itu Alex, dia sedang duduk sendirian di salah satu sudut ruangan tersebut. Dia masih terbayang-bayang ketika melihat Atta yang sedang berteriak-teriak kesakitan karena tubuhnya telah digerogoti oleh para zombie. Alex sangat berharap ini semua hanyalah mimpi. Dia sangat berharap bisa kembali ke dunia dia yang sebenarnya.

Alex memang tidak pernah akrab dengan siapapun selain Dion. Hanya Dion satu-satunya teman yang dia miliki. Saat ini Dion sedang berada di kamar mandi, sehingga dia hanya sendirian di ruangan tersebut. Sama sekali tidak ada yang ingin mengajaknya bergabung.

Tian nampak ingin memberikan sesuatu kepada Riska untuk menenangkannya. Tapi dia tidak jadi melakukannya, mungkin karena dia tahu pasti Riska akan menolak pemberian darinya. Sebenarnya Alex lebih beruntung, karena dia memiliki teman sebaik Dion. Sementara Tian tidak memiliki teman sama sekali.

Sementara itu, Raka sedang berdiri di sebuah balkon gedung tersebut. Dia memperhatikan banyak sekali zombie yang berada di jalan raya. Sepertinya hampir di berbagai sudut kota mati itu telah dipenuhi oleh zombie.

"Ka, bagaimana caranya kita bisa selamat dari sini?" Tanya Yoga kepada sahabatnya, Raka. Yoga berbicara dengan nada pelan.

Raka menggelengkan kepalanya, "Aku juga tidak tahu. Dunia ini benar-benar mengerikan."

Kemudian Seno ikut berbicara, "Apa kalian ingat dengan peraturan di game ini?"

Mereka berbicara dengan suara yang sangat pelan.

"Peraturan yang mana?" Tanya Yoga kepada Seno.

Seno pun menjawab pertanyaan dari Yoga. "Di game ini hanya akan ada satu saja pemenangnya, itu artinya hanya satu orang yang memiliki kesempatan untuk keluar dari dunia yang mengerikan ini."

Raka masih terdiam, perkataan Seno membuat dia menyadarkan suatu hal. Apakah mungkin itu artinya jika seandainya semua orang yang ada disana mati kecuali dirinya, apakah itu artinya dia memiliki kesempatan untuk selamat dari dunia yang mengerikan ini?

Sementara itu di dalam kamar mandi, terlihat Dion yang sedang menutup luka bekas gigitan di lengannya. Pria itu nampak terengah-engah, nafasnya tidak beraturan. Bahkan dadanya sangat terasa sesak dan panas. Entah mengapa dia sangat merasakan haus yang luar biasa, tapi sepertinya bukan air yang dia inginkan.

"Mmmhhh!"

"Mmmhhh!"

Dion menyumpal mulutnya sendiri dengan lengannya, sampai dia mengigit lengannya sendiri. Dia merasakan bahwa saat ini seakan ada sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya.

Tok!

Tok!

Tok!

"Dion, udah belum?" Terdengar suara Cevi mengetuk pintu dengan pelan. Sepertinya pria itu kebelet ingin segera buang air kecil.

Terpopuler

Comments

raa

raa

Peluru nya unlimited kan :v

2024-06-24

1

raa

raa

doni kok gak nai level kan senjata nya paling bagus🤔

2024-06-24

1

Muh. Yahya Adiputra

Muh. Yahya Adiputra

ya Allah... ternyata Dion terkena Gigitan 😰😰😰apa dia akan berubah jadi zombie Yach 🤔🤔🤔aku jadi takutttttt😱😱😱

2024-06-24

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!