Dorrr!
Dorrr!
Dorrr!
Suasana sangat mencengkam dan menegangkan. Banyak zombie yang terus menyerang pintu ruangan tersebut, membuat lemari yang berdiri di depan pintu terguncang, sebentar lagi akan segera roboh.
"Cepat tahan pintunya!" Titah Doni kepada orang-orang yang ada disana.
Ardi, Putra, Hilman, Amir, Tian, Farhan, dan Beni segera berlarian mendekati ke arah pintu. Mereka dengan sekuat tenaga mereka berusaha untuk menahan lemari yang sedang menahan pintu, jangan sampai zombie-zombie yang ada di koridor sana berhasil masuk.
Gerrr...
AAARGGKKHH!
AAARGGKKHH!
AAARGGKKHH!
Sementara zombie-zombie yang ada di luar gedung berlarian melewati tangga, jumlahnya semakin membludak.
Doni dan Alex segera mendorong meja yang ada disana, untuk bisa menahan pintu. Sementara ketujuh orang yang sedang menahan pintu, mereka sangat kewalahan sekali.
"Bagaimana ini? Jumlah mereka sepertinya semakin banyak?" keluh Hilman.
"Iya, aku sudah tidak kuat." Kini giliran Farhan yang mengeluh.
Dorrr!
Dorrr!
Dorrr!
Suara dobrakan pintu makin kian terasa. Liondra meminta keempat wanita yang ada disana untuk turut membantu, "Ayo kita bantu mereka. Kita harus menahan pintu."
Gina dan Riska menganggukkan kepalanya, "Ayo."
Tapi Amel dan Maudy menolak permintaan Liondra.
"Kalian saja, aku sangat lelah." Ucap Amel.
Begitu pula dengan Maudy, "Ya, aku capek banget."
Liondra sebenarnya sangat kesal mendengar penolakan Amel dan Maudy, padahal seharusnya mereka turut membantu demi keselamatan mereka semua. Sehingga Liondra memilih untuk segera membantu menahan pintu, dengan diikuti oleh Gina dan Riska.
Sementara Raka, Yoga, dan Sena, mereka bertiga lebih mementingkan keselamatan masing-masing. Saat ini mereka bertiga sedang berada di balkon, mereka sedang mencari ide bagaimana caranya agar mereka bertiga bisa selamat.
"Bagaimana kalau kita loncat ke balkon yang ada disana?" Tanya Sena kepada Yoga dan Raka, sambil menunjuk balkon yang ada disamping kiri.
"Iya, biarkan saja mereka. Yang penting kita bertiga bisa selamat." Yoga menyetujui usulan dari Sena.
Rupanya Raka, Sena, dan Yoga memiliki ambisi agar hanya mereka bertiga yang bisa selamat. Untuk meminimalisir persaingan. Karena di peraturan game ini, hanya ada satu orang pemenangnya. Itu artinya hanya satu orang yang akan selamat.
Raka terdiam sebentar, mungkin karena dia tidak tega meninggalkan Liondra.
Namun, Raka nampak terkejut ketika mendengar suara zombie di ruangan yang ada di seberangnya. "Ruangan itu terdapat zombie." Ucapnya dengan nada pelan.
Kemudian Raka memperhatikan Liondra yang sedang berusaha untuk menahan pintu bersama dengan kesebelas orang lainnya. Raka sangat kesal sekali, menurutnya kekasihnya itu memiliki sifat yang naif. Padahal saat ini nyawa mereka sedang terancam, seharusnya mereka harus memikirkan keselamatan diri mereka sendiri.
Amel pun berjalan mendekati Raka, dia memegang lengan pria itu. "Sayang..."
Raka memelototi Amel, kemudian dia menepis tangan wanita itu. Seolah-olah memberikan isyarat kepada Amel agar Amel berjaga sikap. Beruntung tidak ada yang mendengar perkataan Amel, karena mungkin semua orang yang ada disana sangat panik.
...****************...
Alex yang sedang membantu menahan pintu, matanya beredar mencari sesuatu di dalam ruangan tersebut, dia memperhatikan di ruangan tersebut terdapat banyak jendela yang ditutupi oleh gorden. "Lebih baik kita cabut semua gorden yang ada di jendela!"
"Untuk apa?" Tanya Liondra. Karena memang jarak Alex dekat sekali dengan Liondra.
"Kita bisa mengikat gorden-gorden itu untuk membantu kita pindah ke ruangan lain." Jawab Alex kembali.
Doni sangat menyetujui saran dari Alex. "Ide bagus. Ayo kita cabut semua gorden yang ada di ruangan ini!"
Alex, Doni, dan Liondra segera mencabut semua gorden jendela yang ada disana. Kemudian mereka dengan cepat mengikat gorden-gorden sehingga menjadi panjang.
"Siapa yang akan memeriksa ruangan yang ada disini? Itu sama saja dengan bunuh diri. Aku melihat di ruangan sebelah pun terdapat zombie." Raka sangat tidak menyetujui saran dari Alex.
"Biar aku saja." Jawab Alex sambil memandangi Raka dengan tatapan penuh kebencian. Mungkin karena masih terbayang-bayang ketika Raka yang dengan begitu teganya memenggal kepala Dion dihadapannya.
Apa yang dilakukan oleh Raka memang tepat. Tapi mungkin Raka bisa membunuh Dion dengan cara yang lebih manusiawi, tidak perlu sampai memenggal kepalanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
raa
kok dor
2024-06-24
0
Muh. Yahya Adiputra
astaghfirullah...kalian semua benar benar jahat sekali, semoga saja kalian yg akan menjadi zombie dan berakhir mengenaskan😡😡😡
2024-06-24
0
🎀
pemikiran buruk... mereka harusnya memperkuat tim 🤦🏻♀️
2024-06-19
0