"Aku gak mau turun, bagaimana kalau aku jatuh?" Ucap Amel dengan nada manja.
Liondra menimpali perkataan Amel. "Terserah kamu saja, aku akan tetap turun."
Walaupun Liondra sangat merasa ketakutan, tapi dia harus berani, dia mulai turun dengan menggunakan gorden-gorden yang telah disambung, Liondra terus berpegangan erat, jangan sampai dia lengah. Walaupun suara zombie di bawah sana sangat menakutkan untuknya.
Alex yang sedang berdiri di balkon lantai lima, dia segera membantu Liondra ketika Liondra hampir sampai ke balkon sana. Dia yang memegang erat gorden tersebut dari bawah, dan meraih tubuh Liondra, memangkunya dengan cepat.
"Kamu... kamu tidak apa-apa?" Tanya Alex, dia memang selalu gugup jika berhadapan dengan wanita yang sangat disukainya itu.
Alex adalah pengagum rahasia Liondra dari dulu, saat awal masuk kuliah. Bagi dia Liondra adalah wanita yang sangat jauh dari jangkauannya, karena Liondra berasal dari kalangan berada. Liondra memang sangat cocok dengan Raka yang sama-sama populer di kampus. Alex mengikuti game ini setelah mendapatkan informasi dari Dion bahwa jika di tim mereka ada yang menang, mereka akan mengadakan makan malam bersama.
Walaupun Alex tidak bisa memiliki Liondra, setidaknya Alex bisa memiliki kesempatan untuk makan malam dengan Liondra walaupun secara rame-rame bersama dengan anggota tim yang lainnya, bagi Alex hal tersebut cukup membuatnya merasa bahagia. Tapi sayangnya, game yang mereka mainkan malah menjadi malapetaka. Mereka terjebak di sebuah kota mati yang dipenuhi oleh jutaan zombie.
Liondra menganggukkan kepalanya, "Ya, aku tidak apa-apa. Terimakasih, berkat ide kamu, akhirnya kita semua memiliki kesempatan untuk selamat."
Alex hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, untuk pertama kalinya dia bisa berbicara seperti ini dengan Liondra. Tapi Alex menyadari ini bukanlah waktu yang tepat untuk memikirkan perasaannya. Harapan Alex saat ini adalah dia dan semua teman-temannya bisa selamat dan kembali ke dunia mereka yang sesungguhnya.
Walaupun para wanita yang ada disana sangat ketakutan, tapi mereka berusaha untuk bisa melawan rasa takutnya. Mereka satu persatu turun dari lantai keenam dengan menggunakan gorden. Sehingga kini kelima orang wanita yang ada disana telah berhasil turun ke balkon satu persatu.
"Terimakasih Alex, kamu sangat pintar sekali. Mengapa aku baru menyadarinya sekarang? Selain pintar, kamu juga sangat tampan." Ucap Maudy sambil memeluk lengan Alex, sepertinya wanita itu sudah jatuh hati kepada Alex.
Alex melepaskan tangan Maudy yang sedang memeluk lengannya, "Aku harus fokus membantu teman-teman yang lainnya untuk turun."
...****************...
Doorrr!
Doorrr!
Doorrr!
Suara dobrakan pintu semakin terdengar jelas, zombie-zombie yang ada di koridor sana meraung-raung kelaparan, jumlah mereka semakin bertambah banyak. Bisa dipastikan sebentar lagi pintu akan segera roboh.
Saat ini di lantai keenam hanya tersisa sebelas orang lagi. Mereka semua tidak ada yang mau mengalah, sama-sama ingin segera turun ke lantai enam.
"Biar aku duluan yang turun!" Pinta Tian.
"Gak bisa, harus aku, Sena, dan Raka duluan. Setelah itu kalian atur-atur saja." Yoga menolak permintaan Tian.
Yoga, Raka, dan Sena memang dari dulu selalu bersikap sok berkuasa di kampus. Sehingga membuat para mahasiswa pria sangat muak kepada mereka.
Putra yang sedari tadi diam saja, dia sudah tidak tahan lagi. Dengan emosi, dia menonjok wajah Yoga.
Bugh!
"Kalian sangat membuat aku muak. Saat ini kita harus kompak, jangan selalu bersikap sok berkuasa seperti ini." Putra berkata dengan penuh amarah.
Yoga menjadi emosi, dia merasa harga dirinya telah diinjak-injak, karena Putra tiba-tiba saja menonjok wajahnya. "Brengsek!"
Doni sebagai ketua tim, dia segera melerai mereka. "Sudah! Sudah! Jangan berkelahi seperti ini. Sebentar lagi pintu akan roboh, kita harus segera turun." Ucapnya sambil berusaha keras menahan pintu bersama dengan yang lainnya disana.
Raka pun tersenyum kecut, dia memandangi Doni dengan tatapan liciknya. "Karena kamu ketua tim, kamu yang harus mengalah. Apalagi hanya kamu satu-satunya orang yang memiliki pistol. Pasti kamu sangat mudah melawan zombie."
"Maksud kamu apa?" Tanya Doni, tidak paham.
"Sebagai ketua tim, kamu harus mementingkan keselamatan anggotanya. Itu artinya kamu yang terakhir menahan pintu." Jawab Raka. Mungkin karena dia memang berambisi ingin menjadi ketua tim di permainan ini.
Putra tidak menyetujui permintaan Raka, "Aku tidak setuju..."
Doni menghela nafas sebentar, kemudian dia memotong perkataan Putra, "Sebagai ketua tim, aku memang harus bertanggung jawab terhadap keselamatan para anggota. Biar aku yang menjadi orang terakhir yang menahan pintu. Kalian harus segera turun."
Putra sangat keberatan dengan keputusan Doni. Karena memang dia dan Doni adalah sahabat dekat. "Tapi Doni..."
"Pergilah! Aku juga pasti akan berusaha untuk menyelamatkan diriku sendiri." Doni berusaha untuk meyakinkan sahabatnya itu.
Satu persatu dari kesebelas orang itu pun mulai turun ke lantai lima, dengan menggunakan gorden-gorden yang telah disambung menjadi satu.
Sehingga kini hanya menyisakan Raka, Putra, dan Doni, mereka berusaha keras untuk menahan pintu dengan sekuat tenaga mereka.
"Cepat kamu segera turun!" Titah Doni kepada kedua Putra.
"Tapi..." Putra sangat ragu untuk meninggalkan Doni.
"Aku bilang cepat!" Teriak Doni.
Putra pun terpaksa harus turun. Sehingga hanya menyisakan Raka dan Doni.
"Sekarang giliran aku yang turun. Tolong jaga baik-baik pintunya." Ucap Raka sambil menepuk pundak Doni.
Doni hanya diam, dia sama sekali tidak ingin menanggapi perkataan Raka.
Raka segera berlari ke balkon. Kemudian dia turun ke bawah dengan berpegangan kuat pada gorden, dan segera turun ke bawah.
BRAAAKKKK!
Pintu yang sedari tadi ditahan oleh Doni akhirnya roboh. Sehingga segerombolan zombie secara membabi buta menyerangnya.
Zdor!
Zdor!
Zdor!
Doni masih ingin bertahan hidup, dia segera melepaskan tembakan tepat pada bagian dada dan kepala zombie. Sementara Raka sudah sampai ke balkon di lantai lima.
"Ayo cepat turun, Doni!" Teriak Alex. Begitu pula dengan Putra dan orang-orang yang ada disana.
Doni segera turun ke bawah, dia berpegangan erat pada gorden. Tapi sialnya gorden tersebut tiba-tiba saja putus.
Sreekk!
Membuat Doni terjatuh, tubuhnya terjun ke bawah. "Arrrghhh!"
"Doniiii!" Teriak semua orang yang ada disana. Kecuali Raka, Yoga, dan Sena. Karena ini semua sudah masuk ke dalam rencana mereka.
Raka terpaksa harus merobek sedikit gorden yang sedang dia pegang dengan pedang miliknya. Walaupun hasilnya fifty-fifty, antara Doni akan jatuh atau tidak. Tapi rupanya gorden yang telah sedikit sobek tersebut tidak bisa menahan beban Doni yang bergerak sangat cepat berpegangan erat pada gorden. Membuat sobekan di gorden tersebut semakin melebar dan akhirnya terputus.
Buuukkk!
Doni pun terjatuh ke bawah, tepatnya ke jalan raya yang berada di dibawah gedung. Sehingga zombie-zombie yang ada jumlahnya tak terhitung itu berlarian, menyerang Doni.
"Doniiii!"
"Doniiii!"
Putra berteriak histeris, Alex segera menahan tubuh Putra. Dia harus menenangkannya. Kehilangan seorang sahabat memang sangat menyakitkan.
Doni merasakan tubuhnya remuk, dia telah mengalami patah tulang. Bahkan kepalanya telah mengeluarkan banyak darah. Sehingga dia nampak pasrah ketika semua zombie yang ada jalan raya sana berebutan untuk menggerogoti tubuhnya.
Aarrggkkhh!
Aarrggkkhh!
Aarrggkkhh!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Aishnina(✿ ♥‿♥)
pdahal kalo ga dijahatin kan bs saling bantu di level berikutnya
si raka nih agak laen emang
2025-01-26
0
Muh. Yahya Adiputra
innalillahi...kasian sekali Doni yg menjadi korban dari kekejaman Raka dan kawan kawan😭😭😭
semoga saja kalian yg jahat bisa secepatnya mendapatkan karma yg dibayar tunai😡😡😡
2024-06-24
0
🍁Naura❣️💋👻ᴸᴷ
teganya raka km semoga setelah ini giliran km yg mati
2024-06-19
1