Farhana yang sesudah bertemu orang tua nya. Kini mendapat informasi bahwa ada beasiswa ke Mesir.
Kebetulan sekali di Universitas Alexandria yang dia impikan.Kini targetnya menjadi seorang dosen entah dosen bahasa inggris atau dosen Mata kuliah sastra arab.
Kini semangat Farhana semakin membara ingin belajar bahasa arab dengan serius beserta ilmu Nahwu (ilmu tentang kaidah bahasa arab).
"Neng Hana, Assalamu'alaikum" Ucap Fariha
"Wa'alaikum salam Fariha" Jawab Farhana
"mau kemana neng?" Tanya Fariha
"Eh Fariha ikut beasiswa ke Mesir yuk" Ajak Farhana
"erghhh ndak Neng saya ndak telaten join kelas Arabiyah" Ucap Fariha yang takut bila gagal tes mengingat orang tua nya dari kalangan menengah ke bawah
"Eh kenapa Fariha" Ucap Farhana
"orang tua saya bukan orang kaya Neng.Saya takut kalau nanti banyak biaya pas berangkat ke Mesir" Ucap Fariha ragu
"tenang aja, joinan aja uangnya sama aku. Aku nggak minta umi abi kok. Aku jadi dosen online dan dibayar lumayan kok. Cukup buat kita berangkat ke Mesir" Ucap Farhana penuh semangat
"gimana saya ngembaliin nya Neng" Ucap Fariha yang hampir putus asa
"ya ntar pas kamu udah bisa ngelunasin ya tinggal lunasin. Tanpa batas waktu." Ucap Farhana menyakinkan teman karibnya
"Neng percaya sama saya. Ntar kalo saya tiba tiba kabur ndak balikin uang Neng Hana nggak takut apa" Ucap Fariha
"gini aja kita bikin surat perjanjian di atas materai yang kita bikin dua. Nah ntar tinggal tanda tangani kalo kita sama sama deal" Ucap Farhana
"iya Neng Hana saya setuju" Ucap Fariha
Mereka pun segera menuju ke kelas Arabiyah dan mengisi formulir beasiswa ke Mesir.
Dengan beberapa persyaratan diantaranya :
Harus memiliki hafalan Al Qur'an minimal 5 Juz.
Harus bisa bahasa inggris dan lancar berbahasa arab
Harus dengan persetujuan orang tua.
Seluruh identitas diri baik Ktp dan KK harus disertakan dalam map.
Paling lambat diserahkan 19 Juni 2021
Farhana dan Fariha melihat persyaratan tersebut merasa sudah memenuhi persyaratan. Beberapa bulan terakhir dari mulai bulan April awal mereka sudah mengikuti kelas Arabiyah.
Fariha juga berguru langsung dengan temannya Farhana agar memahami semua yang berkaitan dengan bahasa Inggris karena Farhana sudah pernah berkuliah sampai S2 di Amerika.
Setiap mau tidur Fariha selalu menghafalkan kosa kata bahasa Inggris. Dengan sembari menghafalkan Al Qur'an.
Mereka terus berjuang gigih ingin menempuh pendidikan di Mesir. Fariha yang lulusan SMA pun tak kalah semangat dari Farhana yang sudah S2. Namun umur mereka sama sama 24 Tahun.
Saat hendak tidur Fariha selalu membayangkan wajah kedua orang tua nya yang bila berhasil bersekolah di sana pastilah bangga.
Fariha pun menulis surat dan mengirim formulir untuk bapak ibu nya di Desa. Tepatnya di Desa Karang Jati Ngawi.
Assalamu'alaikun Bapak ibu,
Ini Fariha , apa kabar panjenengan Pak Buk. Fariha mengirim surat ini berniat izin ke Mesir .Fariha ikut beasiswa lewat jalur hafalan Al Qur'an.
Kalau Bapak Ibuk setuju tolong balas surat Fariha dan segera kirimkan kembali lewat pos.
Maaf Fariha terkesan ndak memahami keadaan ibu. Tapi semua biayannya Fariha sudah ada. Dan bila sudah ada uang Fariha langsung lunasi kepada teman pondok Fariha namanya Farhana. Dia keponakan dari Kyai Faris Pak Buk.
Wassalamu'alaikum wr wb.
Surat yang Fariha tulis segera ia masukkan ke dalam amplop coklat berkancing disertai Formulir pendaftaran.
Fariha menjelang keberangkatannya selalu berdoa dan belajar dengan tekun. Juga selalu melakukan murojaah hafalannya.
Keesokan harinya Fariha segera izin ke pengurus untuk mengantarkan surat ke kantor pos.
Fariha masih teringat kalau orang tua nya tidak memiliki ponsel. Dan biasanya selalu pinjam kepada tetangganya.
Beberapa hari ini Fariha sudah tidak mendapat pesan dari ponsel milik pesantren. Jadi dirinya merasa ada masalah dengan orang tua nya kemudian mengirim surat kewat pos.
Dia hafal dengan tabiat tetangganya yang selalu meminta bayaran seusai meminjam barang barang miliknya.
~ Di Desa Karang Jati~
Marsinah Ibu dari Fariha dan Junaidi Bapak dari Fariha sehari hari bekerja sebagai buruh tani di sawah milik orang orang di desanya.
Marsinah yang akan meminjam ponsel kepada tetangganya langsung di tolak mentah mentah karena keseringan pinjam hp dan membuat dirinya terhambat melakukan pesan dengan keluarganya di kota.
"Kulo nuwun (permisi) jeng Rahayu saya mau pinjam hp buat telpon Fariha boleh ndak. Saya bawa uang kok jeng." Ucap Marsinah yang penuh peluh sehabis dari sawah
"maaf ya dek hp ku baterainya habis masih tak cas. Pulsanya sudah habis . Pinjem yang lain saja ya" Ucap Rahayu yang nampak bohongnya
"sebentar kok jeng, karena sudah 5 tahun Fariha tidak balik rumah dan hanya bisa teleponan dan kirim pesan" Ucap Marsinah
"ya tinggal di jemput saja to dek Marsinah" Ucap Rahayu yang pura pura tak memahami kondisi hidup Marsinah yang serba kekurangan
"ya saya niatkan supaya dia menjadi anak yang paham agama bukan seperti saya jeng. Yang ndak diajarkan sedari kecil karena saking kekurangannya pemahaman agama di waktu dulu" Ucap Marsinah yang hampir meneteskan air mata
"Makannga kalau ndak mampu ndak usah neko neko mondokin di pondok besar" Ucap Rahayu penuh nada merendahkan
"yaudah kalau ndak bisa saya pergi dulu jeng, assalamu'alaikum" Ucap Marsinah
"Wa'alaikum salam" jawab Rahayu dengan muka jutek
Marsinah pun berjalan penuh dengan rasa kecewa karena ditolak mentah mentah oleh tetangganya Rahayu yang padahal dirinya bisa meminjamkan namun beralasan.
Padahal dirinya selalu mengganti uang pulsa seusai menelepon. Dirinya pun lantas menemui suaminya yang tengah duduk di depan teras rumah yang begitu kecil yang masih berlantaikan tanah.
"assalamu'alaikum pak" Ucap Marsinah sembari mengecup tangan suaminya yang masih basah seusai mencuci tangan
"wa'alaikum salam buk" jawab Junaidi
"pak , jeng Rahayu ndak bisa minjemin hp nya pak. Bagaimana kita tau kabar anak kita pak" Ucap Marsinah sembari meneteskan air mata
"buk, sabar ya buk pasti Allah memahami semua yang kita alami ini buk. Pasti ada bahagia setekah bertahun tahun kepayahan" Ucap Junaidi menenangkan istri tercintanya
"iya pak hiks , ibuk selalu husnudzon sama Allah" Ucap Marsinah sembari memeluk suaminya
"yaudah kita sholat dzuhur dulu. Nanti balik lagi ke sawah. Akhirat nomer satu meskipun kita mlaratpun ini hanya di dunia. Di akhirat kita akan merasakan nikmat yang luar biasa. Aamiin Ya Rob" Ucap Junaidi sembari meneteskan air mata di pundak istrinya
Mereka pun mengambil air wudhu dan Sholat di kamar mereka yang begitu kecil namun tenang karena penuh syukur dan sabar.
"Allahu Akbar Allahu Akbar .. Asalamu'alikum warohmatulloh Assalamu'alaikum warohmatulloh" Junaidi yang menjadi imam Sholat dzuhur empat rokaat dan berakhir salam
Marsinah pun mencium tangan suaminya dengan takdzim . Setelah itu mereka berdoa dalam hati dan segera makan makanan seadanya.
Ikan tongkol goreng dipadu dengan sambal terasi membuat perasaan mereka menjadi bahagia karena selama Fariha di pondok mereka jarang makan makanan enak. Biasanya hanya tempe goreng tanpa sambal. Dan minumannya air putih yang ia ambil dari sumber dekat rumah.
Setelah makan mereka segera keluar rumah dan datanglah tukang pos yang mengantar surat yang ditujukan untuk mereka.
"dengan Bapak Junaidi dan Ibu Marsinah?" Tanya tukang pos
"benar saya sendiri" Ucap Junaidi
"ini ada surat dari ponpes Khoirul Ikhsan Lamongan. Mohon tanda tangan di sini" Ucap tukang pos
"matursuwun (terimakasih) mas" Ucap Junaidi
"sami sami bapak ibuk monggo ( sama sama pak buk mari)" Ucap tukang pos sembari berlalu pergi menaiki motor
Mereka pun segera membukanya dan alangkah kagetnya putri mereka mengikuti beasiswa menuju mesir. Dan segera menulis surat balasan untuk menyetujui putri mereka berkuliah di sana demi mewujudkan cita citanya.
*
*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments
Werdi Kaboel
bahagia ibu dan bpk di kampung halaman . semoga fariha sukses kedepannya dan dapat mengangkat derajat orang tuanya .
2024-08-02
2