Rombongan Lin Hao telah sampai di perbatasan antara Kekaisaran Zhang dan Kekaisaran Liu. Banyak sekali terlihat tebing tinggi di sini. Semuanya, menembus awan, hanya satu dua tebing yang masih terlihat puncaknya.
Kapal melaju pelan, meski belum sampai di sarang para iblis, namun ini sudah cukup membuat mereka merinding.
“Sekitaran sini seharusnya terdapat sebuah desa besar. Ini tepat berada diantara dua kekaisaran. Kita akan singgah di sana!” tebak salah satu murid yang mengingat kembali gambaran peta, sempat dia lihat sebelum berangkat.
Shi Lin dan Lin Hao tidak sengaja mendengar itu. Shi Lin segera mendekati mereka. “Apakah masih jauh?” tanyanya dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Hmm, seharusnya setelah kita melewati tebing-tebing tinggi ini,” jawab salah satunya dengan penuh semangat. Bisa mengajak Shi Lin berbicara adalah satu dari impiannya. Gadis itu sangat cantik, terlepas dari basis kultivasi ranah Petarung tahap 1—nya yang dicapai hanya dalam kurun waktu sepuluh tahun, gadis itu juga menjadi topik pembicaraan orang-orang sekte karena berhasil mengalahkan seniornya yang terpaut 1 sampai 2 tingkat diatasnya. Permainan pedangnya sangat mengerikan.
“Oh!” Gadis itu hanya mengangguk sekali lalu pergi, mengacuhkan mereka. Tentu saja ini cukup menyakitkan bagi mereka. Bahkan dia tidak mengucapkan kata terima kasih.
Lin Hao yang melihat itu hanya menggelengkan kepala. Sepertinya gadis ini memang perlu diberi pengajaran tentang adab, selain daripada teknik berpedang.
“Saudara Hao, kita akan segera sampai! Ahh, akhirnya, aku jadi tidak sabar untuk berendam di air hangat.” Shi Lin mengepal tangan dengan penuh semangat. Ekspresinya dibuat senatural mungkin demi menarik perhatian Lin Hao.
Tapi, Lin Hao tidak menanggapi, bahkan menoleh pun tidak. Ini membuat Shi Lin merasa tersinggung. Tapi dia tidak langsung menyerah, mungkin sikapnya tadi terlalu berlebihan menurut Lin Hao.
“Saudara Hao, aku tidak jadi berendam. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama dengan Saudara Hao. Aku ingin selalu disamping Saudara. Aku yakin akan selalu aman jika bersamamu.” Shi Lin memegang lengan Lin Hao.
Lelaki itu hanya menoleh sekilas, tatapannya seakan menunjukkan rasa tidak percaya. Lalu memilih melepaskan tangan Shi Lin dengan pelan dan pergi ke sisi lain kapal, meninggalkan gadis itu sendirian.
Ini membuat Shi Lin merasa sakit hati. Namun, dia segera sadar, perkataannya barusan sangatlah tidak sopan. Dia masih kecil, Lin Hao juga. Dan lagi lelaki itu adalah gurunya, bagaimana dia bisa bersikap tidak sopan seperti ini?
Shi Lin lantas mengejar Lin Hao.
“Saudara Hao, maafkan aku!” Dia menggoyang-goyangkan lengan Lin Hao. Berharap mendapatkan maaf dari lelaki itu. Namun nihil, Lin Hao bahkan tidak menganggapnya. Pandangannya lurus menatap tebing-tebing tinggi.
“Saudara Hao, aku berjanji tidak akan mengatakan itu lagi.”
Kali ini dia berhasil membuat Lin Hao menoleh. Shi Lin memasang wajah senang.
“Apakah kau sudah mengetahui apa salahmu?”
Gadis itu mengangguk cepat.
“Termasuk dengan dua pria itu?” Lin Hao menunjuk dua orang pria tadi dengan wajahnya.
Shi Lin ikut menoleh. Dua pria itu masih bercengkrama normal, sejenak sebelah alisnya terangkat.
“Mengapa?” Dia lupa akan kesalahannya dengan dua orang itu sehingga bertanya demikian.
“Kau benar-benar tidak tahu, atau memang tidak peduli?” Lin Hao mengangkat sebelah alisnya.
Shi Lin bingung.
“Nona Shi, kau benar-benar tidak berpikir untuk berterima kasih pada mereka?” Tatapan lelaki itu tajam, ini membuat Shi Lin sedikit bergetar. Selama ini tidak ada yang berani menatapnya seperti itu padanya. Kalau saja bukan Lin Hao, mungkin gadis itu akan berlari dan melapor untuk memukul atau paling parahnya membunuh orang itu.
“Nona Shi, di dunia ini, kau tidak akan bertahan hidup hanya dengan mengandalkan dirimu sendiri. Kau tidak boleh egois hanya karena statusmu tinggi dimata orang-orang. Boleh-boleh saja mementingkan perasaan sendiri, tapi lihat juga perasaan orang lain.”
Kini taulah gadis itu akan penyebab dirinya dicuekin Lin Hao. Shi Lin tidak menyangka Lin Hao akan berani bersikap demikian hanya karena membela dua orang itu.
"Saudara Hao, ini hanyalah masalah kecil. Mengapa kau jadi seperti ini?"
"Kau memang benar-benar tidak mengerti arti dari kata terima kasih!"
Shi Lin terdiam membisu. Dia masih ingin menyangkal, dirinya benar-benar tidak terima. Namun ini adalah fakta. Selama ini dia memang sangat sulit untuk mengucapkan kata itu. Akan tetapi ketika Lin Hao menyinggungnya, entah mengapa dirinya memang merasa tidak terima. Ya, begitulah jika orang berhati keras saat disinggung dengan fakta, akan jadi seperti ini.
Pada akhirnya Shi Lin tertunduk kesal. Kedua tangannya terkepal, wajahnya memerah, menahan emosi. Air matanya telah menetes membasahi pipi.
“Maafkan aku, Saudara Hao!” lirihnya.
“Seharusnya itu kau tujukan pada mereka!” Lin Hao menunjuk dua orang tadi.
Shi Lin mengangkat wajah, menoleh ke arah dua orang tersebut dengan malas. Menghapus air matanya, lalu meracau, “baiklah!” Dia lantas meninggalkan Lin Hao menuju dua orang itu.
“Terima kasih!” ucapnya singkat tanpa menoleh, lalu kembali ke Lin Hao.
Lelaki itu kembali menggeleng, tidak habis pikir dengan jalan pikir gadis ini. Dia sudah terbiasa dengan gengsi dan hidup tanpa bantahan, sehingga hal kecil ini begitu enggan dia lakukan. Ekspresinya tadi begitu terpaksa, rasa malu serta gengsinya masih terlalu besar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Sofandsyah
Up..up...yg banyak thoor
2024-06-28
0
Jimmy Avolution
lanjut
2024-06-17
0
y@y@
👍🏿🌟👍🌟👍🏿
2024-06-12
1