Angin bertiup sedikit kencang malam ini, seperti biasa membawa bunyi berisik dedaunan. Beberapa orang memantau pergerakan sejauh seratus meter dari atas ketinggian pagar batu. Ekspresinya tegang, ini yang sering mereka rasakan akhir-akhir ini.
Tak ada kedamaian yang tercipta meski ratusan orang telah terlelap dalam tidurnya masing-masing. Setiap saat serasa menegangkan, bahkan bunyi benda asing sekecil apapun akan dicurigai.
Rasa khawatir serta tegang itu memuncak seiring dengan kemunculan sosok bermata merah, bersayap panjang layaknya kelelawar. Jumlahnya yang mencapai ratusan mendekati ribuan itu datang menyerbu perkampungan.
“Para iblis datang menyerang!”
“Iblis datang!”
Suara teriakan itu datang dari beberapa orang penjaga gerbang. Suara yang dengan sengaja dilantangkan guna membangunkan seluruh penghuni sesaat perkampungan besar tersebut.
Benar saja, tak lama setelahnya orang-orang mulai bermunculan dengan pedang serta senjata lainnya telah mereka siapkan. Sebagian diantaranya segera melompat dan memperhatikan situasi dari atas atap.
Tetua Yang Di yang saat itu tengah mengelap mata pedang terkejut mendengar teriakan seseorang akan kedatangan iblis. Dia segera bergegas hendak membangunkan murid-murid sekte Teratai Awan. Namun setelah dirinya keluar kamar, beberapa orang telah terlihat dan bersiap bertarung, jumlahnya terus bertambah.
“Apakah ada yang belum keluar?” tanyanya pada murid-murid itu.
“Nona Shi belum keluar, Tetua!” Salah seorang yang merupakan senior menjawab, dia adalah Feng Tian.
‘‘Kalian segeralah keluar dan bantu orang-orang di perkampungan ini. Aku akan membangunkan Nona Shi.”
“Tetua, biar aku saja!” ucap Feng Tian. Lagipula dia sudah ditugaskan oleh patriark sekte untuk menjaga Shi Lin.
“Baiklah, yang lainnya ikuti aku!”
Mereka segera keluar, sedangkan Feng Tian segera menuju kamar Shi Lin.
“Nona Shi, apakah kau di dalam?”
Tidak ada jawaban. Feng Tian tidak menyerah, dia kembali mengetuk dan memanggil nama gadis itu. Tapi sejauh ini tidak ada jawaban dari dalam. Karena khawatir, dia segera membuka pintu.
Lelaki ini terkejut saat mendapati pintu tidak terkunci. Segera menyapu keseluruhan kamar, namun tidak ditemukan sosok Shi Lin di sini. Feng Tian jadi khawatir, segera dia melangkah keluar.
Iblis telah memenuhi langit, datang layaknya ribuan serangga. Pertarungan telah terjadi sana sini. Tampak lampion yang tergantung di rumah-rumah bergoyang tak karuan kala diterpa angin pertarungan itu. Ini membuat beberapa diantaranya terjatuh dan berakhir membakar rumah-rumah kayu.
“Sial, mereka sangat banyak. Mengapa informasi tentang jumlah para iblis ini tidak diberitahukan dengan jelas sebelumnya!” Feng Tian bersungut. Dia menarik pedang lalu menebas satu iblis yang datang ke arahnya.
Keahlian dalam bertarungnya begitu mumpuni, bahkan dalam sekali tebasan telah berhasil memotong seekor iblis. Dia berlalu, bergerak sembari membunuh. Dia melompat tinggi di atas atap demi mencari keberadaan Shi Lin. Tapi tidak ketemu, gadis itu entah menghilang kemana. Lelaki ini tampak khawatir, apalagi banyaknya pertarungan yang terjadi membuat beberapa titik tempat itu seperti tertutupi dari pandangannya.
Para iblis ini sebenarnya tidak cukup kuat, namun dengan jumlah yang sangat banyak itu, mereka bisa mendesak dengan sangat cepat. Ini cukup merepotkan.
Setelah membunuh satu iblis lagi, Feng Tian melompat cepat dan menyelematkan anggota Teratai Awan yang saat itu nyaris kehilangan nyawa. Tiga ekor iblis menyergap dari berbagai sisi, membuat murid itu kesusahan mengimbangi.
“Terima kasih, Senior!”
“Berhati-hatilah! Jangan ada lengah. Yang terpenting adalah kuatkan mental!” ucap Feng Tian sebelum berlalu pergi. Murid itu menatap kepergian Feng Tian, wajahnya cukup takjub. Perkataan seniornya itu benar, mentalnya tadi sempat jatuh saat melihat jumlah iblis ini. Murid ini mencengkeram erat gagang pedang, lalu kembali menghadapi iblis. Kali ini mentalnya semakin siap, namun entahlah apakah itu akan bertahan lama atau justru tidak. Jumlah mereka sangat banyak, dan lagi iblis-iblis ini sangat beringas, mereka seperti tengah mengejar mangsa dengan menggerogoti ganas.
***
Lin Hao memperhatikan iblis-iblis itu yang semakin menjauh dari sarangnya. Sebenarnya dia sedikit khawatir dengan rekan-rekan seperjalanannya yang ada di perkampungan. Dia tidak yakin mereka bisa mengalahkan para iblis ini. Terbesit niat untuk kembali dan membantu. Namun Lou Dou segera mencegah.
“Jangan berpikir untuk kembali. Kedatanganmu tidak akan membantu banyak. Perkampungan itu akan tetap hancur.”
Lin Hao terdiam sejenak.
“Hmm, setidaknya tugasku tidak berakhir sia-sia!”
Lin Hao meminta Shin Dou untuk mengantarnya ke perkampungan, pasalnya, tujuannya datang kemari adalah untuk mencegah para iblis membantai perkampungan.
Awalnya jiwa pedang itu menolak, mengingat naga kunci adalah eksistensi penting. Namun pada akhirnya dia tetap setuju.
“Baiklah.”
Pedang Mata Jiwa kemudian melesat terbang meninggalkan lembah yang menjadi sarang iblis.
Lin Hao sampai di perkampungan beberapa menit kemudian. Tampak di sana sudah sangat ramai, pertarungan terjadi dimana-mana. Baik di dalam gerbang, maupun di luar, suasana sudah sangat kacau. Banyak rumah-rumah yang hancur, para warga gagal dieksekusi, mereka menjerit, menangis. Para kultivator yang mencoba melindungi pun bahkan tidak bisa untuk melindungi diri sendiri. Iblis-iblis ini sangatlah banyak, mereka menyerang dengan ganas. Satu dua kultivator bahkan sampai dibuat terbang di udara lalu dijatuhkan dalam kobaran api.
Lin Hao segera melompat turun dari atas pedang, melihat situasi ini, entah mengapa ingatannya kembali teringat pada malam itu. Dimana dia melihat pertarungan terjadi dimalam yang seharusnya hangat untuknya dan damai bagi keluarga kecilnya.
Dengan cengkraman pedang yang semakin diperkeras, lalu dia maju, menyambut iblis yang datang kearahnya dengan libasan tajam.
Slash…
Sayap iblis itu berhasil dipotong. Lin Hao mendoble tebasan dan berhasil memotong dua bagian iblis tersebut. Dia kembali maju dan membunuh dengan ganas.
Salah seorang kultivator tampak kesusahan kala iblis-iblis itu menyerang dari empat arah sekaligus. Dirinya memang bisa menahan dua diantaranya, namun tidak dengan duanya lagi. Cakar mereka tepat merobek punggungnya. Dia mengambil jarak, rasa perih muncul bersama dengan darah yang mulai membanjiri punggungnya. Laki-laki ini meringis tertahan.
Wajahnya kian memburuk kala melihat iblis-iblis itu maju dengan tatapan penuh akan nafsu membunuh. Kilat mata mereka memancarkan rasa haus akan darah, tidak sabar menyantap daging manusia yang ada di depannya ini.
Mereka semakin dekat, kukunya yang panjang terangkat, berniat mengoyak daging lelaki itu. Tapi sebelum itu benar-benar terjadi, terlebih dahulu kepala empat iblis itu terpotong. Darah hitam mencuat deras, keempatnya tumbang.
Lelaki tersebut dalam keadaan mata yang bergetar karena masih trauma. Lin Hao datang menghampiri, mengulurkan tangan berniat membantunya berdiri. Dia yang telah membunuh empat iblis tadi.
“Bangunlah!”
Lelaki itu perlahan mulai tenang, menatap tangan itu menerus hingga ke wajahnya.
“Kau!” ucapnya kala menyadari wajah lelaki yang menolongnya adalah orang sama yang membuatnya kepikiran beberapa jam yang lalu.
Lin Hao sendiri mengangkat sebelah alisnya.
“Bangunlah, jika kau terus bengong seperti ini, kau akan menjadi makanan Para iblis.”
Laki-laki itu akhirnya menerima uluran tangan Lin Hao, lalu berucap, “terima kasih, Saudara karena telah membantuku. Omong-omong, siapa namamu?”
“Lin Hao.”
Kedua mata lelaki itu membulat kala mendengar marga yang disebutkan pemuda ini.
“Kau bermarga Lin?” Dia mengulang kembali takut salah mendengar.
Lin Hao hanya mengangguk. Dia menjadi curiga. Ekspresi lelaki di hadapannya ini begitu menggambarkan satu hal, persis yang dia pikirkan sekarang.
“Kau mengetahuinya?” sebelah alis Lin Hao terangkat.
Lelaki itu tidak menjawab. Dia terdiam, tatapannya lurus menatap Lin Hao. Entah apa yang ada dalam pikirnya.
Tak lantas mendapatkan jawaban, Lin Hao memilih mengacuhkan lelaki itu.
“Berhati-hatilah, jangan terlalu berbengong. Kau hanya akan menyetor nyawamu.” Lin Hao berlalu pergi dari sana. Dia kembali memainkan pedang dan membunuh iblis yang mendatanginya, sekaligus mencari keberadaan Shi Lin. Dia sudah berjanji kepada patriark untuk menjaga gadis itu.
“Tunggu!” Lelaki tersebut hendak mencegah, namun terlambat, Lin Hao sudah sangat jauh.
Pemuda itu lalu mengayunkan pedangnya, melawan iblis yang datang. Pertemuannya dengan Lin Hao tadi sekaligus memberikannya info, bahwa sepupunya yang menghilang sepuluh tahun lalu masih hidup. Dia cukup senang, namun sedikit tidak percaya dengan postur tubuh pemuda tadi yang seolah dia berusia 14 atau 5 tahunan. Dan lagi, kekuatan pemuda tadi sangatlah mengerikan.
“Semoga saja kita bisa kembali bertemu!” harapnya, sekaligus ingin memastikan lebih jauh akan kebenarannya, bahwa Pemuda yang merupakan Lin Hao itu merupakan sepupunya yang menghilang sepuluh tahun lalu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
BankToso
sehat selalu Thor, semangat update trus thor 👍🏼🙏🏼
2024-06-18
1
Jimmy Avolution
up...up...up...
2024-06-17
0
Sarip Hidayat
waah bener sepertinya nie
2024-06-16
0