Ch. 3 ~ Reaksi Mata Dewa

Lin Hao terus berlari tanpa henti. Hingga gelapnya malam membuat anak itu terjatuh saat kakinya tidak sengaja tersandung akar pepohonan. Anak itu menarik kembali pedang pemberian ibunya yang tergeletak tidak jauh darinya, beranjak melanjutkan pelarian. 

Hujan saat itu sangat deras, bahana guntur beberapa kali terdengar menggelegar. Angin bertiup kencang, sesekali akan menjatuhkan ranting kayu pepohonan. Petir juga tidak kalah berpartisipasi dalam menciptakan amukan badai yang mengerikan. 

Anak itu terus berlari, hingga langkahnya terhenti saat belasan orang menghadang di depan. Mereka mengenakan pakaian persis seperti yang dikenakan oleh tetua Jin. 

Lin Hao mengacungkan pedang, siap untuk bertarung. 

“Hanya untuk mengurus anak kecil ini, biar aku saja!” Seseorang maju hendak menangkap Lin Hao.

Anak kecil itu mengayunkan pedang. Teknik dasar berpedang yang dia kuasai dari pelatihannya selama ini diperagakan. Gerakannya cukup tajam, pedang berat itu sama sekali tidak menyulitkannya. 

Lelaki yang menyombongkan diri tadi mulai ciut. Dirinya kalah dalam pertarungan fisik. Selama ini dia hanya mengandalkan kekuatan dari energi spiritual serta basis kultivasinya dibanding dengan mengasah kemampuan pertarungan senjata. Sehingga saat bertarung dengan Lin Hao, dirinya kalah telak. 

Melihat celah terbuka lebar, Lin Hao segera mengayunkan pedangnya, tepat di lengan lelaki itu.

Slash…

“Bocah Sialan, akan ku bunuh kau!” Lelaki itu geram, lengangnya telah terluka oleh sayatan dalam. Dia lantas memusatkan energi Qi pada pedangnya. Energi yang terkumpul kemudian diubah menjadi vitalitas angin tajam yang membaluti pedang. Setelah itu melepaskan pedang tersebut ke udara.

Whush…

Pedang menghunjam tajam ke arah Lin Hao, bergerak sendiri layaknya memiliki seutas jiwa didalamnya. 

Lin Hao bergerak mundur, pedangnya diarahkan ke depan secara horizontal, menahan ujung runcing pedang yang datang ke arahnya. Akan tetapi, intensitas energi angin tajam pada sekitaran pedang lawan merambat, hingga menyentuh pergelangan tangan hingga lengannya, meninggalkan sayatan perih yang membuat tangan Lin Hao bergetar. 

Lelaki itu terjatuh dalam genangan air hujan. Pedang lawan tadi kembali ke tangan pemiliknya. 

“Bocah Sialan… Aku tidak akan membunuhmu hanya karena kau begitu istimewa dimata Tuan,” ucap lelaki tadi dengan geram, maju mendekat ke arah Lin Hao.

“Cepat tangkap dia!” 

Lin Hao tidak bisa mengelak saat dua tangan perkasa mengangkat paksa tubuhnya. Dia memberontak, mencoba untuk melepaskan diri. Naas, tubuhnya terlalu kecil, dia bisa dikendalikan dengan mudah. 

“Lepaskan aku, aku ingin bertemu ayah dan ibuku!” Lin Hao memukul bahu orang yang menggendongnya itu. Tapi, bahkan lelaki berbadan kekar itu bergeming tanpa merasakan rasa sakit barang sedikitpun. 

“Anak baik, lebih baik kau diam. Kau hanya berisik dari tadi. Jangan sampai orang-orang kekaisaran ini mengetahui keberadaan kita!” 

Mendengar perkataan lelaki itu, Lin Hao sedikit banyak telah mengerti akan situasinya. Otaknya lebih cepat mencerna dibandingkan dengan anak lain seumurannya. 

Segera dia berteriak keras, guna didengar oleh orang-orang kekaisaran Zhang ini.

“Tolong aku… Orang kekaisaran lain telah datang tanpa izin. Siapapun tolong laporkan mereka. Desa-desa serta kota-kota yang ada di sekitaran sini sedikit lagi akan dihancurkan!” Besar sekali suaranya. Lelaki tadi panik, bagaimana jika benar-benar ada yang datang dan menangkap mereka? Selesai sudah.

“Bocah Sialan!” Lelaki itu kemudian membungkam mulut Lin Hao dengan sepenggal kain. Ini berhasil membuat anak itu berhenti bersuara.

“Bocah, kau diam begini lebih tampan. Dan ya, kau bilang ingin bertemu dengan ayah serta ibumu, bukan? Mereka sudah dibunuh oleh tetua Jin dan tetua Feng. Jadi, kau patuh lah ikut bersama kami!” 

Mendengar itu, seketika jantung Lin Hao  berdegup kencang. Tubuhnya bergetar hebat, kedua pupil matanya melebar. 

“Ayah… Ibu!” Lin Hao menjerit dalam diam. Emosinya naik hingga ke puncak, memicu lonjakan energi internal yang ada pada tubuhnya. Kedua pupil matanya bercahaya emas. Orang-orang yang berniat membawa Lin Hao itu mendadak menghentikan langkah, tekanan berat bisa mereka rasakan. 

Orang yang menggendong Lin Hao seketika ciut, tubuhnya ambruk saat merasakan tubuh Lin Hao yang beratnya melebihi material apapun yang pernah dia angkat. 

Lin Hao berdiri dengan tatapan mata kosong. Pikirannya saat itu hanyalah tentang ayah serta ibunya. Dendam seketika menguak hebat dalam hatinya, menciptakan aura mengerikan yang memaksa belasan orang itu dalam keadaan berlutut. 

Lin Hao mengambil pedang pemberian ibunya. Pedang itu mengeluarkan reaksi, cahaya merah tampak bersinar pada bilahnya. 

Pedang dicengkraman tangan Lin Hao mendadak melepaskan diri. Detik berikutnya, belasan orang itu seketika ambruk dengan keadaan kepala yang terpotong. Tak ada yang tersisa. 

Setelah membunuh belasan orang itu, Lin Hao masih belum merasa tenang. Jantungnya semakin memompa cepat. Saat ini sosok lain muncul dan perlahan menguasai kesadarannya. 

Mata Dewa itu semakin liar, cahayanya semakin terang hingga menimbulkan efek panas yang membakar pepohonan. Hujan. Badai ini tidak cukup mampu mematikan api. Bahkan semakin menjalar, hingga pohon dalam radius jarak lima puluh meter darinya terbakar tanpa sisa. 

“Ayah … ibu!” Lin Hao berteriak putus asa

Hingga pada akhirnya dia kehilangan kesadaran sepenuhnya. Tubuhnya dikendalikan oleh sosok lain. Senyum sinis terukir di wajah Lin Hao.

"Hahah... Akhirnya setelah menunggu selama ribuan tahun, aku kembali mendapati tubuh manusia."

Suara ini tampak lain, terdengar seperti orang tua dengan suara bass khas.

Namun, sejenak ekspresinya berubah ketakutan kala merasakan adanya sosok jiwa yang terpanggil dalam pedang.

Pedang itu bergetar semakin hebat, desingan yang timbul semakin kuat. Pedang itu melayang dengan memancarkan aura yang semakin hebat.

"Tidak... Jangan!" Sosok itu berteriak ketakutan. Hingga suaranya tertelan dan menghilang sepenuhnya. Tubuh Lin Hao ambruk, jatuh tak sadarkan diri. Pedang itu juga mulai mereda, jatuh perlahan tepat di sebelah Lin Hao.

Terpopuler

Comments

saniscara patriawuha.

saniscara patriawuha.

slebewwwww mangg linnn haoooo...

2024-07-02

2

Jimmy Avolution

Jimmy Avolution

ayo thor

2024-06-10

0

y@y@

y@y@

👍👍🏿👍🏻👍🏿👍

2024-06-09

0

lihat semua
Episodes
1 Ch. 1 ~ Pupil Mata Emas
2 Ch. 2 ~ Kematian Sepasang Pedang Walet
3 Ch. 3 ~ Reaksi Mata Dewa
4 Ch. 4 ~ Manifestasi Mata Dewa
5 Ch. 5 ~ Kembali Setelah 3 Tahun
6 Ch. 6 ~ Sekte Teratai Awan
7 Ch. 7 ~ Bertarung Melawan Kun Lun
8 Ch. 8 ~ Dijebak
9 Ch. 9 ~ Bertarung Melawan Kun Fan
10 Ch. 10 ~ Berniat Mengajari
11 Ch. 11 ~ Berlatih
12 Ch. 12 ~ Menjalankan Misi Berbahaya
13 Ch. 13 ~ Sikap Shi Lin
14 Ch. 14 ~ Sarang Iblis
15 Ch. 15 ~ Serangan Iblis
16 Ch. 16 ~ Jumlah Yang Semakin Berkurang
17 Ch. 17 ~ Kekuatan Besar
18 Ch. 18 ~ Pembersihan Iblis
19 Ch. 19 ~ Ujian Naga Langit
20 Ch. 20 ~ Orang Yang Dicari
21 Ch. 21 ~ Ujian Dimulai
22 Ch. 22 ~ Tahap Kedua Penguasaan Pedang
23 Ch. 23 ~ Aksi Kejar-kejaran
24 Ch. 24 ~ Lorong Petir
25 Ch. 25 ~ Menuju Ujian Berikutnya
26 Ch. 26 ~ Ujian Tahap Ke–3
27 Ch. 27 ~ Rantai
28 Ch. 28 ~ Bertarung Melawan Lou Dou
29 Ch. 29 ~ Menyelesaikan Ujian dan Kembali
30 Ch. 30 ~ Kembalinya Sang Legenda
31 Ch. 31 ~ Mendadak Terlibat Masalah
32 Ch. 32 ~ Dia Penipu?
33 Ch. 33 ~ Rahasia.
34 Ch. 34 ~ Klan Lu
35 Ch. 35 ~ Masalah Sekte Teratai Awan
36 Ch. 36 ~ Menyelesaikan Masalah
37 Ch. 37 ~ Masalah Awal Kekaisaran Liu
38 Ch. 38 ~ Kanibal
39 Ch. 39 ~ Menyandera Seseorang Bermarga Lu
40 Ch. 40 ~ Pasar Gelap
41 Ch. 41 ~ Klan Wen
42 Ch. 42 ~ Bertarung Melawan Penatua Pertama Klan Wen
43 Bab 43 ~ Rencana Satu Tahun Ke Depan
44 Ch. 44 ~ Peningkatan Dengan Penyatuan
45 Ch. 45 ~ Satu Tahun Telah Berlalu
46 Ch. 46 ~ Kabar Yang Menyebar Cepat
47 Ch. 47 ~ Generasi Terakhir
48 Ch. 48 ~ Menyerang
49 Ch. 49 ~ Menyerang II
50 Ch. 50 ~ Menyerang III
51 Ch. 51 ~ Menyerang IV
52 Ch. 52 ~ End (Ssn)
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Ch. 1 ~ Pupil Mata Emas
2
Ch. 2 ~ Kematian Sepasang Pedang Walet
3
Ch. 3 ~ Reaksi Mata Dewa
4
Ch. 4 ~ Manifestasi Mata Dewa
5
Ch. 5 ~ Kembali Setelah 3 Tahun
6
Ch. 6 ~ Sekte Teratai Awan
7
Ch. 7 ~ Bertarung Melawan Kun Lun
8
Ch. 8 ~ Dijebak
9
Ch. 9 ~ Bertarung Melawan Kun Fan
10
Ch. 10 ~ Berniat Mengajari
11
Ch. 11 ~ Berlatih
12
Ch. 12 ~ Menjalankan Misi Berbahaya
13
Ch. 13 ~ Sikap Shi Lin
14
Ch. 14 ~ Sarang Iblis
15
Ch. 15 ~ Serangan Iblis
16
Ch. 16 ~ Jumlah Yang Semakin Berkurang
17
Ch. 17 ~ Kekuatan Besar
18
Ch. 18 ~ Pembersihan Iblis
19
Ch. 19 ~ Ujian Naga Langit
20
Ch. 20 ~ Orang Yang Dicari
21
Ch. 21 ~ Ujian Dimulai
22
Ch. 22 ~ Tahap Kedua Penguasaan Pedang
23
Ch. 23 ~ Aksi Kejar-kejaran
24
Ch. 24 ~ Lorong Petir
25
Ch. 25 ~ Menuju Ujian Berikutnya
26
Ch. 26 ~ Ujian Tahap Ke–3
27
Ch. 27 ~ Rantai
28
Ch. 28 ~ Bertarung Melawan Lou Dou
29
Ch. 29 ~ Menyelesaikan Ujian dan Kembali
30
Ch. 30 ~ Kembalinya Sang Legenda
31
Ch. 31 ~ Mendadak Terlibat Masalah
32
Ch. 32 ~ Dia Penipu?
33
Ch. 33 ~ Rahasia.
34
Ch. 34 ~ Klan Lu
35
Ch. 35 ~ Masalah Sekte Teratai Awan
36
Ch. 36 ~ Menyelesaikan Masalah
37
Ch. 37 ~ Masalah Awal Kekaisaran Liu
38
Ch. 38 ~ Kanibal
39
Ch. 39 ~ Menyandera Seseorang Bermarga Lu
40
Ch. 40 ~ Pasar Gelap
41
Ch. 41 ~ Klan Wen
42
Ch. 42 ~ Bertarung Melawan Penatua Pertama Klan Wen
43
Bab 43 ~ Rencana Satu Tahun Ke Depan
44
Ch. 44 ~ Peningkatan Dengan Penyatuan
45
Ch. 45 ~ Satu Tahun Telah Berlalu
46
Ch. 46 ~ Kabar Yang Menyebar Cepat
47
Ch. 47 ~ Generasi Terakhir
48
Ch. 48 ~ Menyerang
49
Ch. 49 ~ Menyerang II
50
Ch. 50 ~ Menyerang III
51
Ch. 51 ~ Menyerang IV
52
Ch. 52 ~ End (Ssn)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!