Bab 19 Sepuluh Detik

Beberapa minggu kemudian ...

"Apa siang ini kamu sibuk?" Pagi-pagi sekali Abiyyu sudah menghubungi Nisa. "Kita makan siang di luar, yuk?"

"Aku sibuk," tolak Nisa.

Tak lama kemudian, Abiyyu mendengar dering ponsel Nisa yang lain. Sebuah ponsel khusus yang Nisa gunakan untuk menerima pesanan kue dan roti.

Nisa pun mengangkat telepon itu tanpa mematikan panggilan Abiyyu sehingga Abiyyu tahu betapa sibuknya Nisa.

Diam-diam, Abiyyu tersenyum bangga. Melihat Nisa mengingatkannya pada ibunya sendiri. Dua wanita luar biasa yang memiliki status dan usaha di bidang yang sama.

"Kamu bisa menolaknya kalau kewalahan." Abiyyu mulai menceramahi Nisa. "Bagaimana kalau kamu sakit?"

"Siapa yang kewalahan?" Tidak hanya menyangkal, sepertinya Nisa juga tersenyum di seberang sana. "Aku kan di bantu tiga orang?"

Memang, Nisa tidak akan bisa mengerjakan semuanya sendirian. Apalagi, semakin banyak pesanan dari hari ke hari. Untuk itulah Nisa mempekerjakan tiga orang tetangganya yang kebetulan memang membutuhkan pekerjaan.

"Bolehkah aku menutup teleponnya?" Nisa menghela nafas. "Aku harus pergi mengantar Raya ke sekolah. Lalu pergi berbelanja setelah itu."

"Baiklah!" Abiyyu pun bangkit. "Selamat bekerja, i love you!"

"Tolong jangan ucapkan itu lagi!" Nisa tampak protes. Tapi Abiyyu sedang tidak ingin berdebat. Nisa sedang sibuk, dirinya pun sangat sibuk. Jadi, Abiyyu memilih mengakhiri panggilannya.

Pria itu pun turun untuk sarapan, tak lupa mecium dua wanita kesayangannya yang lain. Tak ada yang aneh, semuanya berjalan seperti biasanya.

Hanum menemani anak-anaknya sarapan, meskipun terkadang harus melerai dua anak itu agar tidak bertengkar.

Tapi, setelah sarapan mereka habis, Hanum melarang Abiyyu untuk segera berangkat. "Bi, mama mau ngomong sebentar, boleh?"

"Boleh!" Abiyyu pun duduk ke tempat semula. Sementara Annisa pergi mengantongi beberapa bungkus roti.

Bukannya tidak penasaran, tapi karena Annisa sudah tahu apa yang ingin ibunya katakan. "Annisa berangkat dulu, ya?" katanya.

"Mama mau ngomongin apa?" tanya Abiyyu setelah adiknya pergi.

"Mama dengar, Nyonya Hanni dan Tuan Darmawan ingin sekali kamu menikah dengan putrinya." Hanum tak langsung melanjutkan kalimatnya, tapi melihat bagaimana reaksi Abiyyu. "Apa itu benar?"

"Ah, itu?" Abiyyu jadi salah tingkah. "Sepertinya mereka pernah bilang begitu, tapi Abi menolaknya."

"Sungguh?" Hanum memelotot. Wanita itu bahkan sampai meremas lengan Abiyyu. "Syukurlah!"

Di sisi lain, Abiyyu heran melihat reaksi ibunya. Padahal, dia sempat takut kalau-kalau Hanum memintanya menerima tawaran itu. "Mama setuju sama keputusan Abi, kan?"

"Tentu saja mama setuju." Hanum mengangguk senang, bahkan sampai mencium pipi Abiyyu berkali-kali.

Di mata Hanum, Darmawan dan Hanni adalah sepasang suami-istri yang baik. Hanum sangat tahu itu.

Tapi, untuk berbesan dengan mereka, Hanum tidak pernah membayangkannya. Sekalipun tidak pernah karena mereka adalah keluarga konglomerat.

"Kalau begitu, mau nggak nanti malam ikut mama?" Hanum memegang tangan Abiyyu. "Mama ada janji makan malam sama seseorang."

"Makan malam?" Satu alis Abiyyu terangkat ke atas.

Sebenarnya, Abiyyu tahu kalau Hanum ingin mengenalkannya pada seseorang. Itu karena Hanum sering membahas perempuan yang katanya sangat baik dan cantik. Hanya saja, Abiyyu selalu menolak.

Dan hari ini, Abiyyu tidak tega jika harus menolak permintaan ibunya lagi. Toh, hanya makan malam saja, kan?

"Abi usahain ya, Ma?" Abiyyu tersenyum tipis. "Kalau nggak sibuk, Abi pasti ikut!"

Mendengar jawaban Abiyyu, Hanum pun sumringah. Dia bahkan langsung menghubungi 'orang itu' saat mobil Abiyyu baru saja keluar dari halaman rumah.

"Nisa, kamu nggak lupa kan, kalau kita ada janji makan malam hari ini?" tanya Hanum saat 'orang itu' mengangkat teleponnya.

"Nisa nggak lupa, Tante!" jawab Nisa, Althafunnisa. Wanita idaman Abiyyu yang diam-diam semakin dekat dengan Hanum sejak mengantar Hanum pergi ke rumah sakit waktu itu.

.

.

.

"Bagaimana, ya?" Matahari sudah di atas kepala, tapi Abiyyu masih sempat-sempatnya memeriksa jadwal.

Padahal, seharusnya dia tidak melakukan itu. Jelas hari ini dia senggang. Buktinya, pagi tadi dia menghubungi Nisa dan mengajaknya makan siang.

"Haruskah aku membawa Nisa?" Dahinya mengkerut, terpikir olehnya untuk membawa Nisa agar di masa depan ibunya tidak melakukan hal ini lagi.

"Tapi itu tidak mungkin!" Kesal, Abiyyu menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. "Dia pasti akan marah jika aku melakukan itu."

Di tengah pikirannya yang kalut, tiba-tiba ponselnya berdering. Seperti anak kecil yang diberi permen, bibirnya yang tipis tersenyum sangat lebar.

Tepatnya setelah melihat siapa yang menghubunginya. "Mungkinkah dia berubah pikiran?" gumamnya pelan.

Tanpa membuang waktu, Abiyyu pun menerima panggilan itu.

"Hallo, Nis?" Pria itu mulai menebak. "Aku tahu, kamu ingin makan siang denganku, kan?"

Sayangnya, bukan suara Nisa yang Abiyyu dengar. Melainkan wanita asing yang memberinya kabar kalau Nisa baru saja mengalami kecelakaan.

Sebuah mobil yang dikemudikan pria mabuk menabrak Nisa dan pejalan kaki yang saat itu tengah menyeberang.

Tanpa membuang waktu, Abiyyu pun bergegas ke rumah sakit. Dan, di sinilah Abiyyu sekarang. Berdiri di samping Nisa dan memberinya tatapan tajam sehingga membuatnya serba salah.

"Jangan melihatku seperti itu!" Janda cantik itu tersenyum, tapi buru-buru meringis karena kakinya terasa sakit. "Sial, padahal aku sudah meminta mereka agar tidak menghubungimu."

Menariknya, Abiyyu terlihat acuh. Jangankan menunjukkan wajah sedih, pria itu justru melirik Nisa seolah mengatakan, 'Lihat, inilah akibatnya kalau kamu tidak menurut!'

Melihat Abiyyu menunjukkan sikap yang tak biasa, Nisa pun takut juga. "Kamu marah?" tanyanya.

"Menurutmu?" Akhirnya, pria itu bergerak. Kali ini dia berlutut untuk melihat separah apa luka di kaki Nisa. "Dasar keras kepala, bukankah aku memintamu jangan berkeliaran sembarangan?"

"Siapa yang berkeliaran. Aku kan hanya pergi belanja?" sanggah Nisa.

"Ku rasa kamu tidak bisa berjalan untuk beberapa hari!" Pria itu hampir menyentuh kaki Nisa. Tapi Nisa menahannya. "Tunggu, kamu tidak boleh sembarangan menyentuh!"

"Apa itu penting sekarang?" Abiyyu menaikkan satu alisnya. "Kamu terluka. Aku hanya ingin melihat separah apa lukanya."

Tanpa mengindahkan peringatan Nisa, Abiyyu pun memeriksa luka itu. Uniknya, bukan hanya tangannya yang bergerak.

Mulutnya pun ikut bergerak karena dengan sangat sadar dia mengomel, "Kalau kamu keberatan disentuh olehku, maka ayo menikah sekarang. Dengan begitu tak masalah kalau aku menyentuhmu, kan?"

"Tolong jangan bercanda!" Nisa memberikan pukulan ringan. "Ayo, kita pulang sekarang!"

Abiyyu pun menurut. Pria itu mengambil kursi roda, membantu Nisa duduk di kursi itu dan mendorongnya hingga pintu utama.

Sejauh ini, semuanya masih aman. Sampai Nisa melihat begitu banyak anak tangga yang harus dia lalui untuk sampai ke mobil Abiyyu.

"Maaf!" Nisa tersenyum canggung. "Aku membutuhkan waktu untuk sampai sana."

"Enggak, kok!" Abiyyu menghela nafas, lalu tersenyum sembari menoleh ke arah Nisa. "Kamu hanya membutuhkan waktu sepuluh detik untuk sampai sana!"

Terus terang, Nisa tidak yakin tentang itu. Tapi, beberapa saat kemudian dia berubah pikiran. Nisa yakin, kurang dari sepuluh detik dirinya sudah ada di dalam mobil.

Mau tahu, karena apa? Jawabannya adalah, karena Abiyyu sudah menggendong tubuhnya sekarang.

"Ada apa?" Abiyyu melirik Nisa yang saat ini menatapnya dari jarak dekat. "Apa kamu jatuh cinta? Dengar, aku akan langsung membawamu ke pelaminan kalau kamu menembakku sekarang!"

"Jangan besar kepala!" Malu, Nisa mengalihkan pandangannya. "Aku baru menyadari kalau kamu memiliki satu jerawat di hidungmu!"

***

Terpopuler

Comments

🌷💚SITI.R💚🌷

🌷💚SITI.R💚🌷

nisa ngga banget ya becanday

2024-11-09

0

Ila Lee

Ila Lee

lucu mereka 🤣🤣🤣

2024-06-19

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Putri Pelacur
2 Bab 2 Di Ujung Perceraian
3 Bab 3 Patah Hati
4 Bab 4 Selingkuh
5 Bab 5 Diceraikan
6 Bab 6 Ikhlas Melepasmu
7 Bab 7 Siapa Pencuri Itu?
8 Bab 8 Gadis Kecil Bernama Raya
9 Bab 9 Nasi Berbentuk Hati
10 Bab 10 Diceramahi Calon Mantu
11 Bab 11 Nisa dan Annisa
12 Bab 12 Ku Temukan Kau
13 Bab 13 Nyatakan Cintamu Sekali Lagi
14 Bab 14 Love Action
15 Bab 15 Upgrade Nama Panggilan
16 Bab 16 Tidak Ada Ciuman Untukku?
17 Bab 17 Mantan vs Masa Depan
18 Bab 18 Jadi, Ibunya adalah?
19 Bab 19 Sepuluh Detik
20 Pengumuman!
21 Bab 20 Ikatan Batin
22 Bab 21 Secercah Harapan
23 Bab 22 Anak Siapa Ini, Abiyyu?
24 Bab 23 Berandal Itu Aku
25 Bab 24 Aku Salah Apa?
26 Bab 25 Rindu Mantan Menantu
27 Bab 26 Penyesalan Arman
28 Bab 27 Kenangan Manis
29 Bab 28 Rujuk?
30 Bab 29 Tidur Denganku Malam Ini
31 Bab 30 OTW Ketemu Mama & Papa
32 Bab 31 Pulang ke Rumah
33 Bab 32 Bertindak Sebagai Ayah
34 Bab 33 Pulang Sekarang
35 Bab 34 Haruskah Unboxing?
36 Bab 35 Ayahmu Pria Brengsek, Nisa!
37 Bab 36 Jangan Potong Burungku, Pa!
38 Bab 37 Selamat Datang di Rumah!
39 Bab 38 Ngintip, Yuk!
40 Bab 39 Mau Lihat? Akan Kutunjukkan!
41 Bab 40 Tikus, Kecoak atau Belalai Abiyyu?
42 Bab 41 Bertengkar
43 Bab 42 Cemburu
44 Bab 43 Kau Bajingan!
45 Bab 44 Ayo Menikah
46 Bab 45 Sah
47 Bab 46 Only 21+
48 Bab 47 Berita Pagi
49 Bab 48 Jangan Curi Anakku
50 Bab 49 Adik & Kakak?
51 Bab 50 Anak yang Banyak dan Lucu
52 Bab 51 Saatnya Pensiun
53 Bab 52 Papa?
54 Bab 53 Hari Apes
55 Bab 54 Mati?
56 Bab 55 Kenapa Kalian Bau
57 Bab 56 Calon Ayah
58 Bab 57 Bukan Aku yang Nakal
59 Bab 58 Butuh Obat
60 Bab 59 Abiyyu is Back
61 Bab 60 Dean Nathan & Zayn Nathan
62 Bab 61 Sampah yang Lucu
63 Bab 62 Bukan Salah Abimanyu
64 Bab 63 Kenapa Zayn Berbeda?
65 Bab 64 Kembar Identik
66 Bab 65 Jempol Dean Nathan
67 Bab 66 Kelakuan Nakal Zayn
68 Bab 67 Testpack Milik Siapa?
69 Bab 68 Nggak Mau Punya Adik
70 Bab 69 4 Tahun Kemudian
71 Bab 70 Proyek Pembuatan Adik (Gagal)
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Bab 1 Putri Pelacur
2
Bab 2 Di Ujung Perceraian
3
Bab 3 Patah Hati
4
Bab 4 Selingkuh
5
Bab 5 Diceraikan
6
Bab 6 Ikhlas Melepasmu
7
Bab 7 Siapa Pencuri Itu?
8
Bab 8 Gadis Kecil Bernama Raya
9
Bab 9 Nasi Berbentuk Hati
10
Bab 10 Diceramahi Calon Mantu
11
Bab 11 Nisa dan Annisa
12
Bab 12 Ku Temukan Kau
13
Bab 13 Nyatakan Cintamu Sekali Lagi
14
Bab 14 Love Action
15
Bab 15 Upgrade Nama Panggilan
16
Bab 16 Tidak Ada Ciuman Untukku?
17
Bab 17 Mantan vs Masa Depan
18
Bab 18 Jadi, Ibunya adalah?
19
Bab 19 Sepuluh Detik
20
Pengumuman!
21
Bab 20 Ikatan Batin
22
Bab 21 Secercah Harapan
23
Bab 22 Anak Siapa Ini, Abiyyu?
24
Bab 23 Berandal Itu Aku
25
Bab 24 Aku Salah Apa?
26
Bab 25 Rindu Mantan Menantu
27
Bab 26 Penyesalan Arman
28
Bab 27 Kenangan Manis
29
Bab 28 Rujuk?
30
Bab 29 Tidur Denganku Malam Ini
31
Bab 30 OTW Ketemu Mama & Papa
32
Bab 31 Pulang ke Rumah
33
Bab 32 Bertindak Sebagai Ayah
34
Bab 33 Pulang Sekarang
35
Bab 34 Haruskah Unboxing?
36
Bab 35 Ayahmu Pria Brengsek, Nisa!
37
Bab 36 Jangan Potong Burungku, Pa!
38
Bab 37 Selamat Datang di Rumah!
39
Bab 38 Ngintip, Yuk!
40
Bab 39 Mau Lihat? Akan Kutunjukkan!
41
Bab 40 Tikus, Kecoak atau Belalai Abiyyu?
42
Bab 41 Bertengkar
43
Bab 42 Cemburu
44
Bab 43 Kau Bajingan!
45
Bab 44 Ayo Menikah
46
Bab 45 Sah
47
Bab 46 Only 21+
48
Bab 47 Berita Pagi
49
Bab 48 Jangan Curi Anakku
50
Bab 49 Adik & Kakak?
51
Bab 50 Anak yang Banyak dan Lucu
52
Bab 51 Saatnya Pensiun
53
Bab 52 Papa?
54
Bab 53 Hari Apes
55
Bab 54 Mati?
56
Bab 55 Kenapa Kalian Bau
57
Bab 56 Calon Ayah
58
Bab 57 Bukan Aku yang Nakal
59
Bab 58 Butuh Obat
60
Bab 59 Abiyyu is Back
61
Bab 60 Dean Nathan & Zayn Nathan
62
Bab 61 Sampah yang Lucu
63
Bab 62 Bukan Salah Abimanyu
64
Bab 63 Kenapa Zayn Berbeda?
65
Bab 64 Kembar Identik
66
Bab 65 Jempol Dean Nathan
67
Bab 66 Kelakuan Nakal Zayn
68
Bab 67 Testpack Milik Siapa?
69
Bab 68 Nggak Mau Punya Adik
70
Bab 69 4 Tahun Kemudian
71
Bab 70 Proyek Pembuatan Adik (Gagal)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!