Bab 9 Nasi Berbentuk Hati

"Mbak Nisa!" panggil Raya.

Nisa yang saat itu tengah menyiapkan bekal untuknya pun menoleh. "Ada apa, sayang?"

Sempat ragu, tapi Raya memberanikan diri meminta sesuatu pada Nisa di hari pertamanya sekolah. "Boleh nggak, kalau hari ini Raya bawa dua bekal?"

Gadis kecil itu memainkan jari-jarinya. Antara takut, atau menyesal membuat Nisa repot. "Nggak jadi, deh, Mbak!" katanya, sebelum Nisa sempat menjawab.

Melihat tingkahnya yang lucu, Nisa pun tersenyum. Lalu mencubit pipi anak itu dan bertanya, "Kamu mau memberikan bekal itu untuk kakak yang sering memberimu kue, kan?"

"Ha?" Raya terkejut mendengar ucapan Nisa. "Mbak Nisa tahu?"

Nisa mengangguk pelan. "Tahu."

Lebih dari satu minggu Nisa tinggal di rumah Raya. Nisa tidak hanya menumpang atau membantu tetangga menyiapkan tahlilan.

Kebiasaan Raya, makanan favorit Raya, Nisa mencari tahu semuanya. Termasuk, kakak baik yang sering memberi Raya roti dari cerita tetangga.

Nisa pun menunjuk satu kotak berukuran besar yang sudah dia siapkan di meja. "Kamu lihat? Yang besar itu untuk kakak baik itu."

"Lalu yang di sebelahnya itu punya kamu," lanjut Nisa sembari menunjuk kotak bekal yang lain.

"Terimakasih, Mbak Nisa!" Raya terlihat sangat antusias. Dia pun tak ragu memeluk Nisa dan mencium pipinya. "Raya sayang sama Mbak Nisa!"

Mendengarnya, Nisa tersenyum lebar. Lalu mengambil bekal itu dan pergi mengantar Raya pergi ke sekolah. "Ayo, jangan sampai terlambat!"

.

.

.

Sementara itu, setengah jam lalu di rumah Abiyyu ...

"Pasti di sini!" Pagi itu, diam-diam Annisa menyelinap. Melanjutkan misinya untuk mencari foto perempuan yang mencuri hati kakaknya.

Sayangnya, Annisa tidak menemukannya meskipun sudah menghabiskan waktu selama seminggu.

Padahal, semua tempat sudah Annisa periksa. Termasuk ponsel Abiyyu yang dia cek puluhan kali. "Dimana sih Mas Abi menyembunyikan fotonya?"

Lelah, anak baru gede itu pun menyerah. Merebahkan dirinya di kasur sembari menunggu kakaknya menyelesaikan ritual mandinya.

Daripada capek-capek mencari seperti maling, tapi tidak menemukan hasilnya, bukankah lebih baik bertanya langsung pada yang bersangkutan?

Dan, beberapa menit kemudian ...

"Sudah ketemu?" tanya Abiyyu begitu keluar dari kamar mandi.

Annisa yang saat itu memasang wajah cemberut pun segera menoleh. Salah satu alisnya terangkat ke atas, sementara wajahnya memperlihatkan ekspresi bodoh. "Jadi, selama ini Mas Abi tahu?"

Abiyyu mengangguk, lalu mengambil mesin pengering rambut dari laci.

"Mas Abi?" Di belakang sana, tiba-tiba Annisa memperbaiki cara duduknya. Tak enak hati karena diam-diam menyelinap ke kamar kakaknya. "Boleh nggak Annisa lihat fotonya?"

Gadis itu tampak memohon, sementara Abiyyu mematikan mesin rambut yang akan dia gunakan.

Seminggu ini, Abiyyu tahu kalau Annisa sedang mencari sesuatu di kamarnya. Tapi pria itu tidak tahu kalau yang dicari Annisa adalah sebuah foto. "Foto siapa?" tanyanya dengan wajah polos tanpa dosa.

Pria itu pun berbalik arah. Melihat Annisa yang ternyata juga sedang melihatnya. Uniknya, dua anak yatim itu terlihat sama bingungnya. "Foto siapa yang mau kamu lihat?" ulang Abiyyu.

"Calon kakak iparku!" Annisa memalingkan wajahnya ke samping. Lalu menjelaskan alasannya dengan mulut maju ke depan. "Mas Abi kan mau menikah. Jadi Annisa mau lihat seperti apa orangnya!"

Sebenarnya, Annisa paling anti menyebut kata kakak ipar. Tapi demi melihat seperti apa rupanya, Annisa dengan berat hati mengucapkan dua kata terlarang itu.

Annisa ingin tahu perempuan itu. Wajahnya, kelakuannya, bahkan tinggi dan berat badannya.

"Oh, itu!" Abiyyu menanggapi dengan santai. Tapi tidak menunjukkan foto siapa-siapa. Dan itu membuat Annisa kesal. "Mas Abi!" katanya, sembari meremas bantal.

Di sisi lain, Abiyyu sebenarnya bingung. Memangnya foto siapa yang akan dia tunjukkan sementara foto Nisa saja dia tidak punya. Selain itu, tidak bagus menyimpan foto istri orang kan?

"Kamu nggak akan pernah bisa lihat," jawab Abiyyu.

"Kenapa nggak bisa?" tanya Annisa.

"Karena dia ada di dalam sini." Abiyyu menunjukkan letak hatinya, dan jawaban itu membuat Annisa ingin pingsan.

Pantas saja dia tidak pernah menemukannya, karena tempat itu tidak bisa dimasuki sembarang orang. Tapi, bukan Annisa namanya kalau kekurangan akal.

"Oke!" Tiba-tiba Annisa berdiri. Mendekati kakaknya dan berkata, "Kalau begitu, beri tahu Annisa siapa namanya dan dimana alamatnya."

Karena tidak melihat fotonya, maka Annisa ingin melihatnya secara langsung. Sayang, lagi-lagi jawaban Abiyyu mengecewakannya.

"Terlambat." Abiyyu mengambil tas kerjanya. Lalu membuka pintu kamar. "Kamu tidak akan bisa melihatnya lagi karena dia sudah pergi!"

"Pergi?" Otaknya berpikir keras. Memangnya kemana perginya wanita itu sehingga dirinya tidak bisa menemuinya?

"Mas?" Kali ini, Annisa memasang wajah sedih. Yang menyebalkan, dia malah mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat Abiyyu kesal. "Jangan-jangan, dia sudah mati?"

DUNG

Sebuah pukulan mendarat di kepalanya. Cukup sakit, tapi Annisa tak melayangkan protes. Yang dia lakukan hanyalah berdiri sembari memandangi kakaknya membuka pintu kamar.

"Jangan sembarangan bicara!" Sebelum pergi, Abiyyu menoleh. Lalu mengingatkan adiknya jam berapa sekarang. "Hanya tersisa sepuluh menit. Berangkat sana!"

Annisa pun segera pergi. Sayangnya pagar sekolah sudah tertutup rapat ketika dia sampai di sekolah. "Haruskah aku membolos?"

Annisa berdiri di depan gerbang. Menghitung kancing baju untuk memutuskan apa yang harus dia lakukan sekarang.

Tapi seorang satpam yang sangat dia kenal berbaik hati membuka gerbang itu untuknya. "Cepat masuk!"

"Ah!" Nisa terperanjat. "Terimakasih, Pak!"

Tak ingin membuang waktu, Annisa pun bergegas masuk ke kelas. Tapi lagi-lagi satpam barusan menghalanginya. "Ada titipan dari teman kecilmu!"

"Untukku?" Mata Annisa berbinar. "Raya sudah sekolah?"

Annisa senang mendengar Raya sudah sekolah. Dia pun menerima bungkusan itu lalu pergi ke kelasnya. Tak sabar menanti jam istirahat untuk menikmati bekal pemberian teman kecilnya.

.

.

.

"Apa ini?" Annisa terkejut melihat catatan kecil di atas bekalnya.

Isi catatan itu bukanlah catatan berisi pesan seindah kata mutiara, melainkan sebuah tulisan tangan Raya berisi ucapan selamat makan.

Dengan senyum lebar, Annisa pun membuka bekal itu. Sebuah bekal buatan Althafunnisa yang dibuat dengan penuh cinta. Nasinya berbentuk hati, lengkap dengan sayur dan lauk yang ditata sedemikian rupa.

Tentu saja, dilengkapi dengan potongan buah, snack ringan serta sekotak susu kemasan. "Tunggu, kalau setan kecil itu memberiku ini lalu dia makan apa?"

Awalnya, Annisa ragu. Tapi terlalu sayang jika tidak segera mencicipinya. Akhirnya Annisa pun memakan habis semua bekal itu tanpa ada sebutir nasi yang tersisa.

***

Terpopuler

Comments

Akbar Razaq

Akbar Razaq

bukankah Nissa sdh pergi jauh?.kenapa Raya yg notabennya anak asuh Nisa bs berteman dg Nisa adik Abiyyu.

2025-01-31

0

🌷💚SITI.R💚🌷

🌷💚SITI.R💚🌷

itu masakan calon kaka ipar kami annisa

2024-11-09

1

Merica Bubuk

Merica Bubuk

😁😁😁 ketauan deh

2024-06-26

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Putri Pelacur
2 Bab 2 Di Ujung Perceraian
3 Bab 3 Patah Hati
4 Bab 4 Selingkuh
5 Bab 5 Diceraikan
6 Bab 6 Ikhlas Melepasmu
7 Bab 7 Siapa Pencuri Itu?
8 Bab 8 Gadis Kecil Bernama Raya
9 Bab 9 Nasi Berbentuk Hati
10 Bab 10 Diceramahi Calon Mantu
11 Bab 11 Nisa dan Annisa
12 Bab 12 Ku Temukan Kau
13 Bab 13 Nyatakan Cintamu Sekali Lagi
14 Bab 14 Love Action
15 Bab 15 Upgrade Nama Panggilan
16 Bab 16 Tidak Ada Ciuman Untukku?
17 Bab 17 Mantan vs Masa Depan
18 Bab 18 Jadi, Ibunya adalah?
19 Bab 19 Sepuluh Detik
20 Pengumuman!
21 Bab 20 Ikatan Batin
22 Bab 21 Secercah Harapan
23 Bab 22 Anak Siapa Ini, Abiyyu?
24 Bab 23 Berandal Itu Aku
25 Bab 24 Aku Salah Apa?
26 Bab 25 Rindu Mantan Menantu
27 Bab 26 Penyesalan Arman
28 Bab 27 Kenangan Manis
29 Bab 28 Rujuk?
30 Bab 29 Tidur Denganku Malam Ini
31 Bab 30 OTW Ketemu Mama & Papa
32 Bab 31 Pulang ke Rumah
33 Bab 32 Bertindak Sebagai Ayah
34 Bab 33 Pulang Sekarang
35 Bab 34 Haruskah Unboxing?
36 Bab 35 Ayahmu Pria Brengsek, Nisa!
37 Bab 36 Jangan Potong Burungku, Pa!
38 Bab 37 Selamat Datang di Rumah!
39 Bab 38 Ngintip, Yuk!
40 Bab 39 Mau Lihat? Akan Kutunjukkan!
41 Bab 40 Tikus, Kecoak atau Belalai Abiyyu?
42 Bab 41 Bertengkar
43 Bab 42 Cemburu
44 Bab 43 Kau Bajingan!
45 Bab 44 Ayo Menikah
46 Bab 45 Sah
47 Bab 46 Only 21+
48 Bab 47 Berita Pagi
49 Bab 48 Jangan Curi Anakku
50 Bab 49 Adik & Kakak?
51 Bab 50 Anak yang Banyak dan Lucu
52 Bab 51 Saatnya Pensiun
53 Bab 52 Papa?
54 Bab 53 Hari Apes
55 Bab 54 Mati?
56 Bab 55 Kenapa Kalian Bau
57 Bab 56 Calon Ayah
58 Bab 57 Bukan Aku yang Nakal
59 Bab 58 Butuh Obat
60 Bab 59 Abiyyu is Back
61 Bab 60 Dean Nathan & Zayn Nathan
62 Bab 61 Sampah yang Lucu
63 Bab 62 Bukan Salah Abimanyu
64 Bab 63 Kenapa Zayn Berbeda?
65 Bab 64 Kembar Identik
66 Bab 65 Jempol Dean Nathan
67 Bab 66 Kelakuan Nakal Zayn
68 Bab 67 Testpack Milik Siapa?
69 Bab 68 Nggak Mau Punya Adik
70 Bab 69 4 Tahun Kemudian
71 Bab 70 Proyek Pembuatan Adik (Gagal)
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Bab 1 Putri Pelacur
2
Bab 2 Di Ujung Perceraian
3
Bab 3 Patah Hati
4
Bab 4 Selingkuh
5
Bab 5 Diceraikan
6
Bab 6 Ikhlas Melepasmu
7
Bab 7 Siapa Pencuri Itu?
8
Bab 8 Gadis Kecil Bernama Raya
9
Bab 9 Nasi Berbentuk Hati
10
Bab 10 Diceramahi Calon Mantu
11
Bab 11 Nisa dan Annisa
12
Bab 12 Ku Temukan Kau
13
Bab 13 Nyatakan Cintamu Sekali Lagi
14
Bab 14 Love Action
15
Bab 15 Upgrade Nama Panggilan
16
Bab 16 Tidak Ada Ciuman Untukku?
17
Bab 17 Mantan vs Masa Depan
18
Bab 18 Jadi, Ibunya adalah?
19
Bab 19 Sepuluh Detik
20
Pengumuman!
21
Bab 20 Ikatan Batin
22
Bab 21 Secercah Harapan
23
Bab 22 Anak Siapa Ini, Abiyyu?
24
Bab 23 Berandal Itu Aku
25
Bab 24 Aku Salah Apa?
26
Bab 25 Rindu Mantan Menantu
27
Bab 26 Penyesalan Arman
28
Bab 27 Kenangan Manis
29
Bab 28 Rujuk?
30
Bab 29 Tidur Denganku Malam Ini
31
Bab 30 OTW Ketemu Mama & Papa
32
Bab 31 Pulang ke Rumah
33
Bab 32 Bertindak Sebagai Ayah
34
Bab 33 Pulang Sekarang
35
Bab 34 Haruskah Unboxing?
36
Bab 35 Ayahmu Pria Brengsek, Nisa!
37
Bab 36 Jangan Potong Burungku, Pa!
38
Bab 37 Selamat Datang di Rumah!
39
Bab 38 Ngintip, Yuk!
40
Bab 39 Mau Lihat? Akan Kutunjukkan!
41
Bab 40 Tikus, Kecoak atau Belalai Abiyyu?
42
Bab 41 Bertengkar
43
Bab 42 Cemburu
44
Bab 43 Kau Bajingan!
45
Bab 44 Ayo Menikah
46
Bab 45 Sah
47
Bab 46 Only 21+
48
Bab 47 Berita Pagi
49
Bab 48 Jangan Curi Anakku
50
Bab 49 Adik & Kakak?
51
Bab 50 Anak yang Banyak dan Lucu
52
Bab 51 Saatnya Pensiun
53
Bab 52 Papa?
54
Bab 53 Hari Apes
55
Bab 54 Mati?
56
Bab 55 Kenapa Kalian Bau
57
Bab 56 Calon Ayah
58
Bab 57 Bukan Aku yang Nakal
59
Bab 58 Butuh Obat
60
Bab 59 Abiyyu is Back
61
Bab 60 Dean Nathan & Zayn Nathan
62
Bab 61 Sampah yang Lucu
63
Bab 62 Bukan Salah Abimanyu
64
Bab 63 Kenapa Zayn Berbeda?
65
Bab 64 Kembar Identik
66
Bab 65 Jempol Dean Nathan
67
Bab 66 Kelakuan Nakal Zayn
68
Bab 67 Testpack Milik Siapa?
69
Bab 68 Nggak Mau Punya Adik
70
Bab 69 4 Tahun Kemudian
71
Bab 70 Proyek Pembuatan Adik (Gagal)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!