Bab 13 Nyatakan Cintamu Sekali Lagi

"Kenapa diam saja?" Nisa menegur Abiyyu yang hanya berdiri di depan pintu. "Nggak mau masuk?"

"Mau, kok!" Abiyyu pun masuk dengan perasaan was-was. Takut kalau-kalau suami Nisa menyambutnya dengan senyum lebar di dalam rumah.

Karena kalau hal itu sampai terjadi, hati Abiyyu pasti akan layu seketika. "Syukurlah dia tidak ada!" gumam Abiyyu.

Pria itu pun menghempaskan bokongnya ke sofa, lalu memegang sepasang mulut yang sembarangan bicara. Sementara itu, Nisa yang baru saja memeriksa Annisa tampak menghampiri Abiyyu. "Annisa masih tidur. Pak Abiyyu mau minum teh atau kopi?"

"Terserah kamu saja!" Bagi Abiyyu, teh atau kopi bukanlah masalah. Bahkan meskipun Nisa tak memberinya minum juga tak mengapa.

Karena dengan begitu, Abiyyu bisa berbicara lebih lama dengan Nisa. Sayangnya, Nisa keburu pergi. Membuatkan secangkir minuman hangat untuk Abiyyu yang saat ini mulai memperhatikan setiap sudut rumah.

Rumah itu tidaklah besar. Hanya terdiri dari dua kamar dimana satu kamar digunakan Nisa dan satu lainnya untuk Raya. Untuk yang lain, semuanya normal seperti rumah pada umumnya.

Uniknya, tidak ada satu pun foto yang terpasang di dinding. Jika ada hiasan, itu hanyalah bunga hias berukuran mini dan satu wadah berisi ikan cupang milik Raya. Ikan cupang yang pasti akan lari terbirit-birit jika Raya menyentil wadahnya.

"Berapa usiamu sekarang, Nis?" Abiyyu terkekeh pelan. Mengira ikan-ikan kecil itu milik Nisa. "Kenapa kamu masih membeli ikan seperti itu di usiamu sekarang?"

"Maaf menunggu lama. Tidak ada air panas di dapur, jadi Nisa harus merebus air dulu." Setelah beberapa saat menunggu, Nisa pun muncul dengan membawa secangkir teh hangat. "Silahkan diminum!"

"Kenapa harus repot-repot?" Pria itu tersenyum tipis. "Kamu bisa memberiku air putih!"

"Baiklah!" Kali ini giliran Nisa yang tersenyum. "Lain kali Nisa akan menyajikan air putih untuk Pak Abiyyu."

"Lain kali?" Abiyyu memelotot saking kagetnya. Sementara Nisa lebih kaget lagi melihat ekspresi Abiyyu.

"Kenapa Pak Abiyyu melihatku seperti itu?" Nisa pun memperbaiki posisi duduknya. Lalu menggeser gelas teh ke arah Abiyyu agar pria itu meminumnya. "Bukankah mulai minggu depan Pak Abiyyu akan sering-sering datang kemari?"

Kalau boleh jujur, Abiyyu sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Nisa katakan. Di pikirannya, Nisa adalah wanita bersuami. Bukankah tidak sopan kalau Abiyyu sering datang?

Meskipun begitu, Abiyyu tak ragu menanyakan hal itu. "Apa aku boleh sering-sering datang kemari?"

"Bukan boleh, tapi harus!" Nisa tampak serius dan itu membuat Abiyyu semakin bingung. Untungnya Nisa segera menjelaskan sebelum Abiyyu salah paham.

"Annisa akan les matematika di sini jam 7 malam setiap hari." Sama seperti Abiyyu. Nisa pun menyeruput tehnya. "Jadi Pak Abiyyu harus menjemputnya setiap hari, kan?"

"Les?" Dahi Abiyyu mengkerut. "Siapa gurunya?"

"Saya!" jawab Nisa singkat.

Wow! Tentu saja Abiyyu terkejut. Pria itu bahkan mulai tersenyum seiring bertambahnya kekagumannya pada Nisa.

Tapi, sepertinya ada hal yang kurang pas di telinganya barusan. "Bisakah menggunakan kata aku dan kamu saat bicara denganku?"

Tanpa ragu Nisa mengangguk, lalu mengulang kembali jawabannya. "Ya, aku yang akan jadi guru les adikmu!"

Sayangnya, pembicaraan hangat itu terhenti karena Annisa langsung bangun setelah mendengar suara kakaknya.

"Mas Abi udah nyampe?" Gadis itu menenteng tas ranselnya, lalu duduk di samping Abiyyu. Demamnya sudah reda, tapi terlihat lemas karena belum sembuh total. "Kalau begitu ayo pulang!"

Annisa pun mengambil ancang-ancang, tapi tak sanggup berdiri karena Abiyyu menahan tangannya tanpa sepengetahuan Nisa. "Kamu yakin mau pulang sekarang?"

Tujuh belas tahun menjadi adik Abiyyu, Annisa jelas tahu maksud ucapan kakaknya. Lucunya, Annisa sempat-sempatnya melihat ke arah Abiyyu dan Nisa secara bergiliran.

"Aduh!" Tiba-tiba Annisa berteriak. Lalu memegangi kepalanya yang sudah tak pusing lagi.

"Kamu kenapa, An?" Panik, Nisa pun segera bangkit dan mendekati Annisa. "Bagaimana kalau kita pergi ke rumah sakit saja?"

"Nggak perlu!" Annisa buru-buru melambai-lambaikan tangannya. "Annisa cuma mau istirahat sebentar. Annisa numpang istirahat di kamar Mbak Nisa lagi, ya?"

Tanpa menunggu jawaban, Annisa segera berlari menuju kamar. Tentu saja dengan menyimpan sejuta pertanyaan di otaknya yang kecil.

"Apa tidak apa-apa membiarkannya begitu?" Merasa tidak takin, Nisa pun meminta pendapat Abiyyu. Dan pria itu hanya menjawab dengan anggukan kepala.

"Ngomong-ngomong, mana anak dan suamimu, Nis?" Abiyyu kembali menyeruput tehnya yang tersisa separuh. "Suamimu mungkin masih belum pulang dari tempat kerja, tapi kemana anakmu? Apa dia sedang tidur?"

Sebenarnya, Abiyyu ingin menanyakan hal ini sejak tadi. Tapi dia menahannya.

Berhubung Abiyyu melihat tak ada satupun alas kaki pria di rak sepatu, Abiyyu pun tak bisa menahan keingintahuannya.

"Aku keguguran." Nisa menghela nafas panjang. Lalu meniup teh yang dia pegang sebelum meminumnya dengan elegan. "Selain itu, sekarang ini aku sudah tidak punya suami," lanjutnya.

"Apa?" Sebagai manusia normal, tentu Abiyyu merasa prihatin. Abiyyu sedih mendengar Nisa kehilangan calon buah hatinya.

Tapi kalau boleh jujur, Abiyyu senang saat mengetahui Nisa sudah menjadi janda. Karena itulah satu-satunya jalan yang akan menuntunnya mengejar cinta Nisa. "Maaf, aku tidak tahu kamu mengalami semua itu, Nis!"

"Tidak apa-apa!" Senyum Nisa yang sampat hilang kembali merekah. "Aku baik-baik saja sekarang!"

Untuk beberapa saat, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Abiyyu sibuk dengan dunianya sendiri sementara Nisa terus memperhatikannya.

Dan setelah Abiyyu mengingat pertemuannya dengan Nisa di lobi rumah sakit minggu lalu, barulah pria itu mulai bicara. "Bukankah kamu berjanji akan meneleponku hari itu?"

Kali ini, Abiyyu lebih leluasa menatap Nisa. "Seharusnya kamu tidak mengatakan itu!"

"Kenapa tidak boleh?" tanya Nisa.

Abiyyu mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu melihat ke arah lain. "Karena aku menunggu telepon darimu. Padahal aku tahu kamu tidak mungkin meneleponku karena tidak punya nomorku."

Menariknya, Nisa justru tertawa. Sementara Abiyyu melirik ke arahnya dengan wajah ditekuk. "Kamu masih sempat tertawa? Seharusnya kamu meminta maaf!"

"Kenapa aku harus meminta maaf?" Akhirnya, Annisa meletakkan gelas yang selalu dia pegang. Lalu memandang Abiyyu dan berkata, "Aku sudah meneleponmu malam itu, Pak! Tapi tidak tersambung. Aku bahkan meneleponmu sebanyak tiga kali!"

"Benarkah?" Sekali lagi, dahi Abiyyu mengkerut. Saat itulah Nisa mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Abiyyu sekali lagi. "Kamu lihat, kan?"

Mendadak, perasaan Abiyyu mulai tak enak. Dia pun meminta nomor Nisa dan mengecek daftar kontak yang dia blokir.

Benar saja, nomor Nisa masuk di dalamnya bahkan Abiyyu sempat menyimpan nomornya dan memberi nama 'Jangan Diangkat'.

"Jadi, kamu memblokir nomorku?" Nisa melongo. Tak percaya dengan apa yang dia lihat barusan.

Di sisi lain, Abiyyu sedang mengingat kejadian satu tahun lalu. Jadi, Abiyyu pernah mendapatkan pesan dari nomor tak di kenal.

Pesan itu berisi pernyataan cinta dari pegawai hotel. Abiyyu mengabaikan pesan itu, tapi keesokan harinya pegawai itu menemui Abiyyu dan menyatakan perasaannya secara langsung.

Pegawai itu bukan Nisa, tapi rekannya yang saat itu juga bekerja sebagai resepsionis. Karena alasan itulah Abiyyu memblokir nomornya.

"Pak, kamu belum menjawab pertanyaanku!" Nisa melambaikan tangannya di depan wajah Abiyyu. "Kenapa kamu memblokir nomorku?"

Abiyyu pun buru-buru membuka blokirannya. Lalu memperlihatkan satu pesan yang belum dia hapus kepada Nisa. "Karena kamu menembakku!"

Tentu saja itu hanyalah candaan. Abiyyu tahu bukan Nisa pelakunya, Abiyyu hanya ingin menggoda janda cantik itu saja.

"Jangan bercanda!" Nisa merampas ponsel Abiyyu. "Kapan aku menembakmu?"

"Setahun yang lalu. Aku menolaknya karena kamu sudah bersuami." Abiyyu berpura-pura memajang wajah serius, lalu semakin menggoda Nisa dan mengatakan, "Karena kamu sudah bercerai, aku akan menerimanya jika kamu menembakku sekali lagi!"

Wajah Nisa merah padam mendengarnya. Sementara Annisa yang sejak tadi menguping pembicaraan mereka hanya bisa meringkuk memeluk bantal di balik pintu. "Perempuan yang Mas Abi suka itu, mungkinkah Mbak Nisa orangnya?"

***

Terpopuler

Comments

🌷💚SITI.R💚🌷

🌷💚SITI.R💚🌷

nah an kamu ga usah cari foto lg krn orang sdh ktmu

2024-11-09

0

Ila Lee

Ila Lee

abiyyu ckp pada Nisa aku sudah lama cinta sama kamu nisa

2024-06-19

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Putri Pelacur
2 Bab 2 Di Ujung Perceraian
3 Bab 3 Patah Hati
4 Bab 4 Selingkuh
5 Bab 5 Diceraikan
6 Bab 6 Ikhlas Melepasmu
7 Bab 7 Siapa Pencuri Itu?
8 Bab 8 Gadis Kecil Bernama Raya
9 Bab 9 Nasi Berbentuk Hati
10 Bab 10 Diceramahi Calon Mantu
11 Bab 11 Nisa dan Annisa
12 Bab 12 Ku Temukan Kau
13 Bab 13 Nyatakan Cintamu Sekali Lagi
14 Bab 14 Love Action
15 Bab 15 Upgrade Nama Panggilan
16 Bab 16 Tidak Ada Ciuman Untukku?
17 Bab 17 Mantan vs Masa Depan
18 Bab 18 Jadi, Ibunya adalah?
19 Bab 19 Sepuluh Detik
20 Pengumuman!
21 Bab 20 Ikatan Batin
22 Bab 21 Secercah Harapan
23 Bab 22 Anak Siapa Ini, Abiyyu?
24 Bab 23 Berandal Itu Aku
25 Bab 24 Aku Salah Apa?
26 Bab 25 Rindu Mantan Menantu
27 Bab 26 Penyesalan Arman
28 Bab 27 Kenangan Manis
29 Bab 28 Rujuk?
30 Bab 29 Tidur Denganku Malam Ini
31 Bab 30 OTW Ketemu Mama & Papa
32 Bab 31 Pulang ke Rumah
33 Bab 32 Bertindak Sebagai Ayah
34 Bab 33 Pulang Sekarang
35 Bab 34 Haruskah Unboxing?
36 Bab 35 Ayahmu Pria Brengsek, Nisa!
37 Bab 36 Jangan Potong Burungku, Pa!
38 Bab 37 Selamat Datang di Rumah!
39 Bab 38 Ngintip, Yuk!
40 Bab 39 Mau Lihat? Akan Kutunjukkan!
41 Bab 40 Tikus, Kecoak atau Belalai Abiyyu?
42 Bab 41 Bertengkar
43 Bab 42 Cemburu
44 Bab 43 Kau Bajingan!
45 Bab 44 Ayo Menikah
46 Bab 45 Sah
47 Bab 46 Only 21+
48 Bab 47 Berita Pagi
49 Bab 48 Jangan Curi Anakku
50 Bab 49 Adik & Kakak?
51 Bab 50 Anak yang Banyak dan Lucu
52 Bab 51 Saatnya Pensiun
53 Bab 52 Papa?
54 Bab 53 Hari Apes
55 Bab 54 Mati?
56 Bab 55 Kenapa Kalian Bau
57 Bab 56 Calon Ayah
58 Bab 57 Bukan Aku yang Nakal
59 Bab 58 Butuh Obat
60 Bab 59 Abiyyu is Back
61 Bab 60 Dean Nathan & Zayn Nathan
62 Bab 61 Sampah yang Lucu
63 Bab 62 Bukan Salah Abimanyu
64 Bab 63 Kenapa Zayn Berbeda?
65 Bab 64 Kembar Identik
66 Bab 65 Jempol Dean Nathan
67 Bab 66 Kelakuan Nakal Zayn
68 Bab 67 Testpack Milik Siapa?
69 Bab 68 Nggak Mau Punya Adik
70 Bab 69 4 Tahun Kemudian
71 Bab 70 Proyek Pembuatan Adik (Gagal)
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Bab 1 Putri Pelacur
2
Bab 2 Di Ujung Perceraian
3
Bab 3 Patah Hati
4
Bab 4 Selingkuh
5
Bab 5 Diceraikan
6
Bab 6 Ikhlas Melepasmu
7
Bab 7 Siapa Pencuri Itu?
8
Bab 8 Gadis Kecil Bernama Raya
9
Bab 9 Nasi Berbentuk Hati
10
Bab 10 Diceramahi Calon Mantu
11
Bab 11 Nisa dan Annisa
12
Bab 12 Ku Temukan Kau
13
Bab 13 Nyatakan Cintamu Sekali Lagi
14
Bab 14 Love Action
15
Bab 15 Upgrade Nama Panggilan
16
Bab 16 Tidak Ada Ciuman Untukku?
17
Bab 17 Mantan vs Masa Depan
18
Bab 18 Jadi, Ibunya adalah?
19
Bab 19 Sepuluh Detik
20
Pengumuman!
21
Bab 20 Ikatan Batin
22
Bab 21 Secercah Harapan
23
Bab 22 Anak Siapa Ini, Abiyyu?
24
Bab 23 Berandal Itu Aku
25
Bab 24 Aku Salah Apa?
26
Bab 25 Rindu Mantan Menantu
27
Bab 26 Penyesalan Arman
28
Bab 27 Kenangan Manis
29
Bab 28 Rujuk?
30
Bab 29 Tidur Denganku Malam Ini
31
Bab 30 OTW Ketemu Mama & Papa
32
Bab 31 Pulang ke Rumah
33
Bab 32 Bertindak Sebagai Ayah
34
Bab 33 Pulang Sekarang
35
Bab 34 Haruskah Unboxing?
36
Bab 35 Ayahmu Pria Brengsek, Nisa!
37
Bab 36 Jangan Potong Burungku, Pa!
38
Bab 37 Selamat Datang di Rumah!
39
Bab 38 Ngintip, Yuk!
40
Bab 39 Mau Lihat? Akan Kutunjukkan!
41
Bab 40 Tikus, Kecoak atau Belalai Abiyyu?
42
Bab 41 Bertengkar
43
Bab 42 Cemburu
44
Bab 43 Kau Bajingan!
45
Bab 44 Ayo Menikah
46
Bab 45 Sah
47
Bab 46 Only 21+
48
Bab 47 Berita Pagi
49
Bab 48 Jangan Curi Anakku
50
Bab 49 Adik & Kakak?
51
Bab 50 Anak yang Banyak dan Lucu
52
Bab 51 Saatnya Pensiun
53
Bab 52 Papa?
54
Bab 53 Hari Apes
55
Bab 54 Mati?
56
Bab 55 Kenapa Kalian Bau
57
Bab 56 Calon Ayah
58
Bab 57 Bukan Aku yang Nakal
59
Bab 58 Butuh Obat
60
Bab 59 Abiyyu is Back
61
Bab 60 Dean Nathan & Zayn Nathan
62
Bab 61 Sampah yang Lucu
63
Bab 62 Bukan Salah Abimanyu
64
Bab 63 Kenapa Zayn Berbeda?
65
Bab 64 Kembar Identik
66
Bab 65 Jempol Dean Nathan
67
Bab 66 Kelakuan Nakal Zayn
68
Bab 67 Testpack Milik Siapa?
69
Bab 68 Nggak Mau Punya Adik
70
Bab 69 4 Tahun Kemudian
71
Bab 70 Proyek Pembuatan Adik (Gagal)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!