Bab 10 Diceramahi Calon Mantu

"Pastikan adonan kuenya tercampur rata!" Hanum tampak memperhatikan adonan setiap orang yang hadir di kelasnya dengan teliti. Ya, itulah kesibukan Hanum. Di usia yang tidak lagi muda, wanita itu masih sangat bersemangat.

Waktunya tidak hanya dia habiskan untuk menerima pesanan, tapi membantu siapapun yang membutuhkan bimbingan dalam membuat berbagai jenis kue. Membagikan berbagai macam tips dan trik untuk meminimalisir kegagalan.

Tentu saja semuanya diadakan secara gratis. Karena Hanni sudah memberikan semua fasilitas sebagai bentuk dukungannya. Mulai dari gedung, alat, bahkan bahan-bahannya sekalian.

Konglomerat seperti Hanni, dia bebas ingin menghabiskan uangnya dengan cara apa, kan?

Tapi tiba-tiba ...

"Tunggu!" Hanum menghampiri seseorang yang berada tidak jauh dari tempatnya. "Kenapa alatnya bergoyang? Apa mesinnya rusak?"

Nisa. Perempuan yang Hanum hampiri adalah Nisa yang baru hari ini mengikuti kelas.

"Tidak!" Meskipun pemula, tapi Nisa masih bisa membedakan apakah mesin pengaduknya rusak atau tidak.

Meskipun begitu, Nisa mematikan mesin itu. Lalu menyalakannya kembali hanya untuk memastikan.

Benar saja, bukan alatnya yang rusak, melainkan Hanum yang kurang sehat. Karena Hanum merintih sembari memegangi kepalanya sebelum oleng ke arah Nisa.

.

.

.

Hari itu harusnya Nisa berhasil membuat kue yang selalu gagal dia buat. Tapi nyatanya, hari ini pun dia gagal lagi.

Dengan kesadaran penuh, Nisa menawarkan diri untuk mengantar Hanum ke rumah sakit. Dan ... Di sinilah Nisa sekarang. Berdiri di samping Hanum yang terbaring lemah di ruang perawatan.

"Apa kata dokter barusan?" Hanum memegangi kepalanya yang masih pusing. "Apa aku sakit parah?"

"Tidak," jawab Nisa sembari meletakkan sekantong makanan yang baru saja dia beli dari luar. "Ibu hanya lapar."

"L-lapar?" Kali ini, Hanum menoleh. Reaksinya tampak berubah. Jika diingat-ingat, akhir-akhir ini dia hanya makan sedikit karena sedang menjalani diet ketat.

"Setelah makan, ibu tidak akan pusing lagi!" Nisa pun menyodorkan sekotak makanan kepada Hanum. Tentu saja Hanum memakannya. Tapi, wanita itu berhenti makan setelah menghabiskan seperempat porsi.

"Berapa usia Anda, Bu?" tanya Nisa.

Wanita itu memperhatikan Hanum sebentar, lalu melihat kotak nasi yang baru saja Hanum letakkan di pangkuannya.

Di sisi lain, dahi Hanum mengkerut mendengar pertanyaan Nisa. "Kenapa kamu menanyakan hal itu?"

"Bukankah seharusnya ibu tidak melakukan diet ketat di usia ini?" Matanya yang bulat sedikit membesar. Dan itu membuat Hanum terkejut.

Hari ini adalah pertemuan pertama mereka dan Nisa sudah berani mengkritiknya. Dan yang lebih mengejutkan, Nisa merebut kotak makan yang dia pegang.

"Bu, tolong habiskan makanannya!" Nisa tampak menyuapi Hanum dan Hanum menolaknya. Tapi Nisa sedang tidak ingin berkompromi. "Ayolah, Bu! Saya harus segera pulang."

"Kamu bisa pulang sekarang,-"

"Bagaimana kalau ibu pingsan lagi ketika saya pulang?" Nisa mengomel lagi. "Ibu tidak gendut, kenapa harus diet?"

Hanum pun terdiam seketika. Di rumah, tidak ada yang berani membantah ucapannya. Siapa yang menyangka hari ini dia kalah dari seorang wanita keras kepala yang bahkan belum dia tahu siapa namanya.

"Baiklah, ibu akan memakan semuanya agar kamu bisa segera pulang." Hanum pun mengambil sendoknya dan mulai makan lagi.

Sore itu, dia tidak hanya menghabiskan satu porsi makanan. Tapi juga semangkuk sup, sepiring buah serta sebotol jus buah.

"Maaf, kalau saya lancang, tapi saya sedang buru-buru!" Dengan cekatan, Nisa membereskan sampah daur ulang. Lalu mengambil tasnya dan pamit pulang. "Adik saya bisa menangis kalau tidak ada yang menjemput."

"Tunggu!" Hanum menghalangi Nisa yang hendak pergi. "Kamu mau pulang sekarang?"

"Iya." Nisa mengangguk, lalu melihat jam yang melingkar di tangannya. "Bukankah putramu akan datang? Seharusnya dia akan sampai sebentar lagi."

"Darimana kamu tahu?" tanya Hanum kebingungan.

"Ibu yang meneleponnya tadi." Nisa mencoba mengingatkan. "Ibu tidak lupa, kan?"

"Ah, ibu lupa!" Hanum tampak geli menyadari betapa pikunnya dia. "Kalau begitu cepatlah pergi menjemput adikmu. Dia pasti cemas!"

Akhirnya Nisa pun pergi. Tapi dia menabrak seseorang pria di lobi karena kurang hati-hati. "Aduh, maaf!"

Nisa membantu pria itu mengambil barangnya yang jatuh. Terlalu fokus sampai tidak memperhatikan wajahnya. Saat itulah Nisa dikejutkan oleh suara yang akrab di telinganya.

"Nisa?" sapa pria itu.

Ya. Pria itu adalah Abiyyu. Pria yang datang ke rumah sakit untuk menjemput ibunya.

"Pak Abiyyu?" Nisa terkejut melihat siapa yang berdiri di depannya. "Apa yang bapak lakukan di sini?" tanyanya sembari menyerahkan barang milik Abiyyu yang baru saja dia ambil.

"Itu ... Ibuku sakit!" Jujur saja, tiba-tiba bertemu Nisa membuat Abiyyu grogi. Dia pun menerima barang pemberian Nisa dan bertanya, "Kamu sendiri, apa yang kamu lakukan di sini?"

"Saya kemari untuk ... " Belum selesai bicara, tiba-tiba Nisa menutup mulutnya. Sepertinya dia baru ingat kalau dia harus menjemput Raya. "Maaf, Pak! Nisa sedang buru-buru. Nisa akan menelepon bapak nanti!"

"Tunggu, Nis!" Abiyyu mencoba menahan Nisa, tapi wanita itu keburu berlari dan naik taksi. Padahal, ada banyak sekali pertanyaan yang ingin Abiyyu tanyakan padanya.

Apa yang Nisa lakukan di kota ini, apa jenis kelamin anaknya, dan yang paling penting adalah, bagaimana cara Nisa meneleponnya sementara Nisa tidak memiliki nomor teleponnya.

"Sial!" Abiyyu mengumpat. Menyesal karena pertemuannya dengan Nisa berlangsung sangat singkat. Karena Nisa sudah pergi, Abiyyu pun memutuskan untuk segera menemui ibunya.

Abiyyu tahu ibunya sedang diet. Makanya dia mampir membeli banyak makanan. Itulah yang membuatnya terlambat datang.

"Berapa kali Abiyyu melarang mama diet, Ma?" Begitu membuka tirai, Abiyyu langsung menceramahi ibunya. "Lihat, mama jadi sakit, kan?"

Abiyyu pun meletakkan bungkusan makanan yang dia bawa di meja. Kaget melihat sampah daur ulang yang lupa Nisa buang.

"Ini?" Abiyyu melihat ibunya sambil menunjuk bungkusan itu. "Mama yang makan semua ini?"

Hanum mengangguk. "Mulai hari ini mama berhenti diet."

Abiyyu tertawa sinis mendengar celotehan ibunya. Maklum, ini bukan pertama kalinya Hanum bicara seperti itu.

Sedang ditertawakan, Hanum pun memberikan pukulan ringan untuk anaknya. "Tidak percaya?" tanyanya.

Nada bicaranya sedikit meninggi. Pertanda bahwa Hanum sedang tidak bercanda. Tak ingin membuat ibunya kesal, Abiyyu pun mengiyakannya saja.

"Baiklah, Abi percaya kok!" Pria itu kembali melirik sampah makanan itu. "Mama sendiri yang melakukan pesan antar?"

"Enggak." Hanum menggeleng dengan cepat. "Tadi ada perempuan baik hati yang mengantar mama ke rumah sakit. Dia juga yang membelikan makanan itu untuk mama. Kalau tidak salah namanya ... "

Hanum menggantung ucapannya. Lalu memukul tangan Abiyyu begitu ingat bahwa dia melupakan sesuatu yang penting.

"Ada apa, Ma?" tanya Abiyyu.

"Mama lupa nanya siapa namanya," jawab Hanum

***

Terpopuler

Comments

🌷💚SITI.R💚🌷

🌷💚SITI.R💚🌷

🤣🤣😍udh sepuh bu jd ga usah diet krn laper lupa de tanya nama nisa

2024-11-09

0

Jumli

Jumli

biasa, udah pikun😂

2024-06-26

1

Ila Lee

Ila Lee

Nisa mama Hanum calon mantu tu

2024-06-19

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Putri Pelacur
2 Bab 2 Di Ujung Perceraian
3 Bab 3 Patah Hati
4 Bab 4 Selingkuh
5 Bab 5 Diceraikan
6 Bab 6 Ikhlas Melepasmu
7 Bab 7 Siapa Pencuri Itu?
8 Bab 8 Gadis Kecil Bernama Raya
9 Bab 9 Nasi Berbentuk Hati
10 Bab 10 Diceramahi Calon Mantu
11 Bab 11 Nisa dan Annisa
12 Bab 12 Ku Temukan Kau
13 Bab 13 Nyatakan Cintamu Sekali Lagi
14 Bab 14 Love Action
15 Bab 15 Upgrade Nama Panggilan
16 Bab 16 Tidak Ada Ciuman Untukku?
17 Bab 17 Mantan vs Masa Depan
18 Bab 18 Jadi, Ibunya adalah?
19 Bab 19 Sepuluh Detik
20 Pengumuman!
21 Bab 20 Ikatan Batin
22 Bab 21 Secercah Harapan
23 Bab 22 Anak Siapa Ini, Abiyyu?
24 Bab 23 Berandal Itu Aku
25 Bab 24 Aku Salah Apa?
26 Bab 25 Rindu Mantan Menantu
27 Bab 26 Penyesalan Arman
28 Bab 27 Kenangan Manis
29 Bab 28 Rujuk?
30 Bab 29 Tidur Denganku Malam Ini
31 Bab 30 OTW Ketemu Mama & Papa
32 Bab 31 Pulang ke Rumah
33 Bab 32 Bertindak Sebagai Ayah
34 Bab 33 Pulang Sekarang
35 Bab 34 Haruskah Unboxing?
36 Bab 35 Ayahmu Pria Brengsek, Nisa!
37 Bab 36 Jangan Potong Burungku, Pa!
38 Bab 37 Selamat Datang di Rumah!
39 Bab 38 Ngintip, Yuk!
40 Bab 39 Mau Lihat? Akan Kutunjukkan!
41 Bab 40 Tikus, Kecoak atau Belalai Abiyyu?
42 Bab 41 Bertengkar
43 Bab 42 Cemburu
44 Bab 43 Kau Bajingan!
45 Bab 44 Ayo Menikah
46 Bab 45 Sah
47 Bab 46 Only 21+
48 Bab 47 Berita Pagi
49 Bab 48 Jangan Curi Anakku
50 Bab 49 Adik & Kakak?
51 Bab 50 Anak yang Banyak dan Lucu
52 Bab 51 Saatnya Pensiun
53 Bab 52 Papa?
54 Bab 53 Hari Apes
55 Bab 54 Mati?
56 Bab 55 Kenapa Kalian Bau
57 Bab 56 Calon Ayah
58 Bab 57 Bukan Aku yang Nakal
59 Bab 58 Butuh Obat
60 Bab 59 Abiyyu is Back
61 Bab 60 Dean Nathan & Zayn Nathan
62 Bab 61 Sampah yang Lucu
63 Bab 62 Bukan Salah Abimanyu
64 Bab 63 Kenapa Zayn Berbeda?
65 Bab 64 Kembar Identik
66 Bab 65 Jempol Dean Nathan
67 Bab 66 Kelakuan Nakal Zayn
68 Bab 67 Testpack Milik Siapa?
69 Bab 68 Nggak Mau Punya Adik
70 Bab 69 4 Tahun Kemudian
71 Bab 70 Proyek Pembuatan Adik (Gagal)
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Bab 1 Putri Pelacur
2
Bab 2 Di Ujung Perceraian
3
Bab 3 Patah Hati
4
Bab 4 Selingkuh
5
Bab 5 Diceraikan
6
Bab 6 Ikhlas Melepasmu
7
Bab 7 Siapa Pencuri Itu?
8
Bab 8 Gadis Kecil Bernama Raya
9
Bab 9 Nasi Berbentuk Hati
10
Bab 10 Diceramahi Calon Mantu
11
Bab 11 Nisa dan Annisa
12
Bab 12 Ku Temukan Kau
13
Bab 13 Nyatakan Cintamu Sekali Lagi
14
Bab 14 Love Action
15
Bab 15 Upgrade Nama Panggilan
16
Bab 16 Tidak Ada Ciuman Untukku?
17
Bab 17 Mantan vs Masa Depan
18
Bab 18 Jadi, Ibunya adalah?
19
Bab 19 Sepuluh Detik
20
Pengumuman!
21
Bab 20 Ikatan Batin
22
Bab 21 Secercah Harapan
23
Bab 22 Anak Siapa Ini, Abiyyu?
24
Bab 23 Berandal Itu Aku
25
Bab 24 Aku Salah Apa?
26
Bab 25 Rindu Mantan Menantu
27
Bab 26 Penyesalan Arman
28
Bab 27 Kenangan Manis
29
Bab 28 Rujuk?
30
Bab 29 Tidur Denganku Malam Ini
31
Bab 30 OTW Ketemu Mama & Papa
32
Bab 31 Pulang ke Rumah
33
Bab 32 Bertindak Sebagai Ayah
34
Bab 33 Pulang Sekarang
35
Bab 34 Haruskah Unboxing?
36
Bab 35 Ayahmu Pria Brengsek, Nisa!
37
Bab 36 Jangan Potong Burungku, Pa!
38
Bab 37 Selamat Datang di Rumah!
39
Bab 38 Ngintip, Yuk!
40
Bab 39 Mau Lihat? Akan Kutunjukkan!
41
Bab 40 Tikus, Kecoak atau Belalai Abiyyu?
42
Bab 41 Bertengkar
43
Bab 42 Cemburu
44
Bab 43 Kau Bajingan!
45
Bab 44 Ayo Menikah
46
Bab 45 Sah
47
Bab 46 Only 21+
48
Bab 47 Berita Pagi
49
Bab 48 Jangan Curi Anakku
50
Bab 49 Adik & Kakak?
51
Bab 50 Anak yang Banyak dan Lucu
52
Bab 51 Saatnya Pensiun
53
Bab 52 Papa?
54
Bab 53 Hari Apes
55
Bab 54 Mati?
56
Bab 55 Kenapa Kalian Bau
57
Bab 56 Calon Ayah
58
Bab 57 Bukan Aku yang Nakal
59
Bab 58 Butuh Obat
60
Bab 59 Abiyyu is Back
61
Bab 60 Dean Nathan & Zayn Nathan
62
Bab 61 Sampah yang Lucu
63
Bab 62 Bukan Salah Abimanyu
64
Bab 63 Kenapa Zayn Berbeda?
65
Bab 64 Kembar Identik
66
Bab 65 Jempol Dean Nathan
67
Bab 66 Kelakuan Nakal Zayn
68
Bab 67 Testpack Milik Siapa?
69
Bab 68 Nggak Mau Punya Adik
70
Bab 69 4 Tahun Kemudian
71
Bab 70 Proyek Pembuatan Adik (Gagal)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!