Mobil Abiyyu meluncur membelah kota. Tujuannya kali ini adalah tempat wisata yang tidak hanya menyajikan pemandangan indah, tapi juga menyediakan sarana edukasi yang cocok untuk anak-anak seperti Raya.
Dengan begitu, Raya memiliki banyak pilihan untuk membuat karangan nanti.
Beberapa menit berlalu. Abiyyu merasa ada yang aneh karena dua anak ceriwis itu tak bersuara. Pria itu pun melirik spion dan menunjuk ke belakang. "Apa yang mereka lakukan? Kenapa mereka diam saja?"
"Mereka tidur." Nisa menghela nafas. Lalu membuka sebungkus permen kopi dan menyerahkannya pada Abiyyu. "Mereka minum obat anti mabuk tadi," jelasnya.
"Terimakasih!" Abiyyu menerima permen itu. Kembali fokus menyetir karena perjalanan masih cukup panjang.
Tapi, tiba-tiba ...
"Aku yang seharusnya berterimakasih, Pak!" kata Nisa.
"Apa aku setua itu?" Abiyyu menghela nafas panjang lalu menghembuskannya ke udara. Sungguh, dia sangat tidak suka Nisa memanggilnya dengan sebutan itu. "Bisakah memanggilku dengan sebutan yang lain?"
Pria itu pun menoleh, melihat Nisa yang ternyata sedang melihatnya. "Lalu aku harus memanggil bagaimana?"
"Kamu kan bisa memanggilku ... " Ragu, Abiyyu menggantung kalimatnya. Sayangnya Nisa sudah terlanjur penasaran. "Memanggil apa?"
"Mas!" Abiyyu membasahi bibirnya yang kering, lalu menelan ludahnya. "Kamu bisa memanggilku dengan sebutan Mas Abiyyu, kan?"
Setelah mengatakan itu, Abiyyu melihat ke depan. Dia ingin Nisa memanggilnya dengan sebutan itu agar terlihat lebih akrab. Dan jika Yang Maha Kuasa mengijinkan, Abiyyu akan meminta Nisa meng-upgrade lagi nama panggilan untuknya dengan sebutan sayang suatu hari nanti.
Yah, menikah. Abiyyu sudah memutuskan untuk bergerak cepat agar bisa menikahi Nisa secepatnya.
Di sisi lain, Nisa jusru melirik kearah lain. Seumur hidup, hanya satu orang yang dia panggil dengan sebutan itu. Orang itu adalah Arman-mantan suaminya.
"Apa itu tidak berlebihan?" tanya Nisa. Wanita itu memutar kepalanya. Melihat Abiyyu yang terlihat kesal mendengar jawaban darinya. "Orang-orang bisa salah paham. Apalagi melihat aku dan kamu pergi membawa anak kecil. Mereka bisa berpikir kalau aku ibunya dan kamu ayahnya."
"Memangnya kenapa kalau salah paham?" Kali ini, giliran Abiyyu yang melihat Nisa. Lalu kembali melihat ke depan dan berkelakar, "Aku tak keberatan dengan itu, kok!"
"Dasar!" keluh Nisa.
Wanita itu tidak sedang marah. Dia hanya tak habis pikir dengan Abiyyu. Sementara itu, Abiyyu tersenyum tipis. Dia yakin Nisa akan menuruti permintaannya nanti.
Karena setelah dipikir-pikir, tidak ada panggilan lain yang lebih cocok dari itu. "Ngomong-ngomong, kenapa kamu tidak meneleponku?" tanya Abiyyu.
Sekali lagi, Nisa menoleh. Menatap Abiyyu dengan tatapan tak mengerti. "Untuk apa?"
"Meminta tolong untuk mengantar kalian piknik!" Abiyyu kembali menunjuk belakang. "Untung saja dia menelepon!"
"Kalau aku meminta tolong, apa kamu mau mengantar?" tanya Nisa.
"Tentu saja!" jawab Abiyyu.
Kali ini, Nisa tidak hanya tersenyum. Tapi tertawa sembari memijit dahinya. Dia tahu Abiyyu adalah pria yang baik. Bahkan sejak Abiyyu menjadi atasannya dulu.
Tapi, baru-baru ini Nisa menyadari sesuatu. Dari cara Abiyyu memandang dan memperlakukannya, Nisa tahu kalau Abiyyu menyukainya. "Bolehkah aku bertanya?"
"Silahkan!" kata Abiyyu.
"Kamu menyukaiku kan?" Tanpa basa-basi, Nisa menanyakan hal itu. Dan itu sangat sukses membuat Abiyyu terkejut.
Hampir gila rasanya. Apalagi Nisa sendiri yang menodongnya dengan pertanyaan seperti itu. Abiyyu pun menghela nafas. Menenangkan dirinya sebelum menjawab, "Bagaimana kalau iya?"
"Aku menolaknya!"
JLEB
Sumpah, rasanya seperti tertusuk sembilu. Bagaimana mungkin Nisa menolaknya bahkan saat dirinya belum menyatakan cinta.
"Kenapa kamu sangat tidak berperasaan, Nis?" Tiba-tiba Abiyyu menepi, lalu mematikan mesin mobil untuk melakukan protes. "Bukankah seharusnya kamu memberiku kesempatan untuk menyatakan perasaanku dulu?"
"Kalau begitu katakan saja sekarang!" Tak mau kalah, Nisa pun menantang Abiyyu. "Kamu bisa menyatakan perasaanmu sekarang. Tapi, sebaiknya kamu tidak melakukan itu karena aku akan tetap menolaknya."
"Astaga, Nisa!" Abiyyu sangat tak habis pikir. Tapi pria itu belum menyerah.
Dia berharap Nisa memberinya kesempatan. Kesempatan untuk menyatakan cinta dan kesempatan untuk membuktikan betapa besar rasa cintanya.
Sayangnya Nisa menutup rapat pintu itu. Wanita itu tetap kukuh pada pendiriannya. Menolak cinta Abiyyu tanpa memberinya alasan kenapa dirinya menolak.
Cukup lama mereka berdebat. Sampai Annisa terbangun mendengar suara ribut-ribut yang berasal dari Nisa dan Abiyyu. "Kenapa kalian bertengkar?"
"Enggak!" Nisa berdehem pelan, merubah ekspresinya seolah tak terjadi apa-apa. "Siapa yang bertengkar?"
Di sisi lain, Annisa menguap, lalu melihat sekeliling. "Lalu, kenapa kita berhenti di sini? Jangan bilang bannya kempes!"
Kali ini, giliran Abiyyu yang menjawab. Pria itu menoleh dan berkata, "Mas Abi kebelet pipis tadi," jawabnya asal.
Mobil pun kembali melaju. Raya yang tertidur selama perjalanan juga sudah di bangunkan. Tak berselang lama. Mereka pun sampai di tempat tujuan mereka.
Tiga orang dewasa itu terlihat sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Annisa sibuk dengan peralatan makan dan Nisa sibuk menyiapkan buah, sayur serta daging.
Sementara itu, Abiyyu sibuk dengan alat pemanggang. Lalu, ratu kecil bernama Raya sibuk bermain dengan kucing yang tersesat di sekitar penginapan.
"Apa kamu marah?" tanya Nisa saat dirinya berbalik arah dan tak sengaja menabrak Abiyyu. "Katakan saja kalau kamu marah!"
"Ya, aku sangat marah!" Abiyyu memalingkan wajah, tapi tangannya meraih nampan berisi daging yang sedang Nisa pegang. "Karena aku marah, aku tidak akan memberimu daging panggang."
Setelah mengatakan itu, Abiyyu pun mulai memanggang daging. Sementara Nisa tertawa melihat tingkahnya. Karena saat Abiyyu ngambek seperti itu, dia terlihat lucu sekali.
"Bukan masalah." Nisa pun mendekat. Berdiri di samping Abiyyu dan mengambil penjepit yang lain. "Aku bisa memanggang daging sendiri."
Akhirnya, mereka pun memanggang daging bersama. Terlalu fokus sampai tidak tahu kalau Annisa dan Raya sudah duduk manis di atas tikar menanti makan malam mereka.
Tapi, sepertinya mereka harus bersabar. Karena saat dagingnya matang, Abiyyu tidak langsung memberikan daging itu pada mereka.
Abiyyu meniup daging itu. Memastikan suhunya tidak terlalu panas sebelum menyodorkannya kepada Nisa. "Bagaimana? Apa itu enak?"
"Enak." Nisa mengangguk. "Mungkin karena kamu yang membuatnya."
"Kalau begitu, mulai sekarang aku akan memanggang daging untukmu selamanya," kata Abiyyu.
Dua anak manusia itu pun tertawa. Sementara Annisa dan Raya hanya melihat dengan tatapan curiga. "Apa mereka sedang berkencan?" tanya Annisa.
"Apa itu, kencan?" tanya Raya.
"Kencan itu ..." Annisa berpikir sejenak. "Saat pria dewasa dan wanita dewasa berduaan seperti mereka, itu namanya kencan."
Annisa menunjuk ke arah Abiyyu dan Nisa. Tapi, begitu melihat Nisa memberikan sesuap daging untuk Abiyyu, mulutnya yang nakal kembali berkelakar, "Raya kecil, sepertinya mulai sekarang kamu harus belajar memanggil om itu dengan sebutan papa!"
"Papa?" Mata Raya membesar. "Jadi sekarang Raya punya papa?"
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
🌷💚SITI.R💚🌷
annisa bisa banget de jd propokator buat rays
2024-11-09
1
Ila Lee
cepat raya suruh papa Abi lamar mama nisa
2024-06-19
0