Bab 17 Mantan vs Masa Depan

"An, kamu udah minum obatnya?" Janda cantik bernama Nisa itu menyodorkan obat anti mabuk untuk Annisa. "Kamu mabuk perjalanan, kan?"

"Itu ... " Annisa diam, melirik obat itu. Bagaimana mengatakannya, ya?

Sebenarnya, hari ini Annisa tidak ingin minum obat anti mabuk lagi. Semalam Abiyyu dan Nisa bertengkar, mereka pasti tidak akan saling bicara dan itu membuat Abiyyu mengantuk.

"Mbak?" Annisa tersenyum canggung. Lalu menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Pas berangkat kemarin Annisa masuk angin. Dan sekarang udah sembuh. Jadi ... "

Tapi tiba-tiba ...

GLEK

"Ya Tuhan!" Annisa menelan ludah. Dia tidak berani melanjutkan kalimatnya karena Nisa sedang menatapnya sekarang. Dan itu mengingatkannya pada kejadian semalam.

"Maaf, Mas!" Gadis itu menggigit bibirnya. "Sepertinya aku akan tidur lagi sepanjang jalan. Kamu yang tabah, ya? Menghadapi Mbak Nisa yang galaknya melebihi mama," batinnya.

Annisa pun meraih obat itu. Tapi Nisa keburu memasukkannya ke dalam tas. "Sekarang kamu nggak masuk angin, kan?"

Anisa mengangguk. "Enggak!"

"Kalau gitu nggak usah minum, dong!" Anehnya, Nisa mendekat satu langkah dan bertanya, "Berapa usiamu, An?"

Belum sempat menjawab, Nisa sudah lebih dulu merapikan jilbab Annisa yang sedikit miring. "Lihat, kamu sudah sebesar ini. Tapi masih membutuhkan bantuanku untuk merapikan jilbabmu."

Setelah mengatakan itu, Nisa pun pergi. Meninggalkan Annisa yang tersipu malu dengan ucapan Nisa.

"Sayang, sini!" Nisa memanggil Raya yang saat itu sedang sibuk sendiri. Tangan mungilnya tak henti-hentinya memainkan daun putri malu yang akan mengatupkan daunnya ketika di sentuh.

"Mama, apa kita akan pulang sekarang?" Raya segera berdiri. Berlarian menuju arah Nisa. "Lain kali kita piknik lagi, ya?"

"Kamu mau piknik lagi?" tanya Nisa yang dijawab Raya dengan menganggukkan kepala. "Boleh, tapi saat kamu libur sekolah saja, ya?"

Sekali lagi, Raya mengangguk. Karena hari sudah semakin siang, Nisa pun meminta Raya memanggil Abiyyu karena pria itu tak kunjung keluar.

"Bisa nggak mama minta tolong?" Nisa menekuk lutut, memakaikan jaket Raya dan berkata, "Tolong bilang sama papa, kita harus segera pulang sekarang."

"Uhuk!" Seketika Annisa tersedak. "P-papa?"

Matanya memelotot, sementara mulutnya mengerucut membentuk huruf O. "Apa aku tidak salah dengar?" gumamnya pelan.

Kemarin, Nisa marah besar hanya karena Raya memanggil Abiyyu dengan sebutan papa. Annisa bahkan masih ingat bagaimana menyeramkannya suasana kemarin malam. Tapi apa-apaan sekarang?

Terkejut?

Tentu saja Annisa terkejut. Tapi ini masih belum seberapa karena kejutan besar sudah menunggunya. Tepatnya saat dalam perjalanan nanti.

Gadis itu menoleh ke kiri dan kanan. Memperhatikan Abiyyu yang terus berbicara dengan Nisa. Di sisi lain, Raya menghadap jendela. Melihat pemandangan indah yang tersaji di sepanjang jalan.

"Kapan mereka baikan?" Annisa tersenyum sinis. Lalu mendengarkan musik sembari memejamkan mata. "Kalau tahu akan jadi obat nyamuk begini, aku pasti memilih minum obat anti mabuk tadi."

.

.

.

"Kapan kamu bercerai dengan mantan suamimu, Nis?" Dengan santainya Abiyyu mengajukan pertanyaan mengerikan itu, tapi dengan santainya pula Nisa menjawab, "Mungkin hampir satu tahun."

Mendengar jawaban itu, Abiyyu menggangguk. Lalu mengajukan pertanyaan yang lain. "Kalau boleh tahu, kenapa kalian bercerai?"

Nisa yang awalnya melihat layar ponselnya pun mengangkat wajahnya. Berpikir sejenak sebelum mengatakan, "Mas Arman menuduhku selingkuh."

"Arman?" Dahi Abiyyu mengkerut. "Itu nama mantan suamimu?"

Nisa mengangguk, lalu menceritakan kejadian malam itu secara singkat. Saat dirinya mengganti sprei, saat dirinya nyaris diperkosa dan saat Arman memergokinya keluar dari kamar itu.

Ya, hanya itulah yang Nisa ceritakan. Tanpa menyebut nama Sandra yang malam itu memaksanya masuk ke kamar Freddy.

"Kenapa?" Tiba-tiba Nisa menoleh. Dia heran karena sepertinya Abiyyu sedang memikirkan sesuatu. "Kenapa wajahmu begitu? Ada yang lucu?"

"Enggak." Abiyyu menggelengkan kepalanya.. "Hanya saja ... nama Arman tidak asing untukku."

"Bukankah itu wajar?" Nisa tersenyum tipis. "Bukan hanya mantan suamiku saja yang memiliki nama Arman. Di dunia ini pasti banyak sekali orang yang memiliki nama itu, kan?"

Kali ini Abiyyu tertawa mendengarnya. Ya, apa yang di katakan Nisa memang benar. Karena dia sendiri pun memiliki seorang kenalan bernama Arman.

"Oh iya, Nis!" kata Abiyyu lagi. "Apa kamu masih ingat dengan Sandra?"

Tiba-tiba, Abiyyu menyebut nama Sandra. Lalu memberikan sebuah informasi yang sebenarnya sudah Nisa ketahui. "Beberapa bulan setelah kamu resign, dia menikah. Nama suaminya juga Arman."

Abiyyu pikir, Nisa akan terkejut. Sebaliknya, justru dialah yang dibuat terkejut.

"Ngomong-ngomong, aku belum memberitahumu sesuatu." Nisa tersenyum canggung, lalu memberitahu satu rahasia yang belum sempat dia ceritakan. "Mas Arman menceraikan aku karena dia ingin menikahi Sandra. Padahal, aku baru saja keguguran setelah mengalami kecelakaan."

"Apa?" Ekspresi Abiyyu berubah seketika. "J-jadi Arman yang sekarang menjadi suami Sandra itu, dulu pernah jadi suamimu?" tanya Abiyyu.

Nisa tersenyum dan mengangguk. "Iya!"

"Aku bisa gila," gumam Abiyyu pelan. "Sesempit itukah dunia ini?"

Abiyyu merasa dirinya berpindah ke dimensi lain. Mengingat kembali momen demi momen saat dirinya menghadiri pernikahan Sandra waktu itu.

Itulah pertama kalinya Abiyyu bertemu dengan Arman. Dan di acara itulah Abiyyu berkenalan dengannya.

Dari perkenalan singkat itu, mereka akhirnya tahu kalau ternyata mereka memiliki minat dan hobi yang sama. Perlahan tapi pasti, hubungan mereka pun semakin dekat. Bahkan tak jarang mereka akan janjian untuk sekedar ngopi bareng di akhir pekan.

"Kenapa?" Nisa tertawa ringan. "Tidak perlu kasihan padaku. Aku baik-baik saja."

"Tidak!" Abiyyu tersenyum tanpa arti. "Aku hanya tidak menyangka pria bernama Arman itu tega melakukan hal seperti itu."

"Apa yang kamu katakan. Kenapa kamu bicara seolah kamu mengenalnya?" Nisa pun menoleh, lalu mengatakan, "Atau ... jangan-jangan kamu memang kenal dengannya?"

"Aku?" Terus terang, Abiyyu sangat gugup. Untung otaknya yang cemerlang berfungsi dengan sangat baik hari itu. "Tentu saja aku kenal. Aku kan mendapat undangan dari Sandra?"

Meskipun sudah berusaha menutupi, tapi tetap saja perilaku Abiyyu sedikit aneh di mata Nisa. Beruntung Nisa tidak mempermasalahkan hal sepele seperti itu.

Tapi, tiba-tiba Nisa menoleh.

"Lalu, apa yang kamu lakukan di sana?" Wanita itu melihat Abiyyu dengan tatapan menyelidik. "Apa kamu datang untuk mengucapkan selamat kepada mereka saat aku menangis?"

"Sial!" Abiyyu menggigit bibirnya sendiri. "Seharusnya aku tidak mengatakan kalau aku kenal dengan Arman," ucapnya dalam hati.

Canggung, pria itu pun tersenyum. Lalu memberikan jawaban yang sangat tidak masuk akal.

"Tidak," kata Abiyyu. Pria itu menggeleng dengan cepat. "Siapa juga yang mengucapkan selamat. Aku pergi kesana kan hanya untuk makan."

Mendengar jawaban itu, Nisa pun tertawa. Bahkan sampai memukul lengan Abiyyu. "Aduh!" rintih Abiyyu.

"Kenapa?" Nisa kaget. "Aku kan tidak memukulmu dengan keras?"

"Tetap saja rasanya sakit." Abiyyu melirik lengannya, lalu merubah ekspresinya menjadi cemberut. "Aku nggak mau tau, pokoknya kamu harus bertanggungjawab dengan cara menikah denganku!"

Sekali lagi, Nisa tertawa. Abiyyu pun ikut tertawa melihat Nisa tertawa dan di saat itulah seseorang bernama Arman meneleponnya.

"Dari siapa? Kenapa tidak diangkat?" tanya Nisa

***

Terpopuler

Comments

🌷💚SITI.R💚🌷

🌷💚SITI.R💚🌷

Aditya cari penyakit de

2024-11-09

0

Jumli

Jumli

udah kayak selingkuhan nggak sih😂🤣

2024-06-26

1

Ila Lee

Ila Lee

mantan kamu nisa yg Talipon

2024-06-19

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Putri Pelacur
2 Bab 2 Di Ujung Perceraian
3 Bab 3 Patah Hati
4 Bab 4 Selingkuh
5 Bab 5 Diceraikan
6 Bab 6 Ikhlas Melepasmu
7 Bab 7 Siapa Pencuri Itu?
8 Bab 8 Gadis Kecil Bernama Raya
9 Bab 9 Nasi Berbentuk Hati
10 Bab 10 Diceramahi Calon Mantu
11 Bab 11 Nisa dan Annisa
12 Bab 12 Ku Temukan Kau
13 Bab 13 Nyatakan Cintamu Sekali Lagi
14 Bab 14 Love Action
15 Bab 15 Upgrade Nama Panggilan
16 Bab 16 Tidak Ada Ciuman Untukku?
17 Bab 17 Mantan vs Masa Depan
18 Bab 18 Jadi, Ibunya adalah?
19 Bab 19 Sepuluh Detik
20 Pengumuman!
21 Bab 20 Ikatan Batin
22 Bab 21 Secercah Harapan
23 Bab 22 Anak Siapa Ini, Abiyyu?
24 Bab 23 Berandal Itu Aku
25 Bab 24 Aku Salah Apa?
26 Bab 25 Rindu Mantan Menantu
27 Bab 26 Penyesalan Arman
28 Bab 27 Kenangan Manis
29 Bab 28 Rujuk?
30 Bab 29 Tidur Denganku Malam Ini
31 Bab 30 OTW Ketemu Mama & Papa
32 Bab 31 Pulang ke Rumah
33 Bab 32 Bertindak Sebagai Ayah
34 Bab 33 Pulang Sekarang
35 Bab 34 Haruskah Unboxing?
36 Bab 35 Ayahmu Pria Brengsek, Nisa!
37 Bab 36 Jangan Potong Burungku, Pa!
38 Bab 37 Selamat Datang di Rumah!
39 Bab 38 Ngintip, Yuk!
40 Bab 39 Mau Lihat? Akan Kutunjukkan!
41 Bab 40 Tikus, Kecoak atau Belalai Abiyyu?
42 Bab 41 Bertengkar
43 Bab 42 Cemburu
44 Bab 43 Kau Bajingan!
45 Bab 44 Ayo Menikah
46 Bab 45 Sah
47 Bab 46 Only 21+
48 Bab 47 Berita Pagi
49 Bab 48 Jangan Curi Anakku
50 Bab 49 Adik & Kakak?
51 Bab 50 Anak yang Banyak dan Lucu
52 Bab 51 Saatnya Pensiun
53 Bab 52 Papa?
54 Bab 53 Hari Apes
55 Bab 54 Mati?
56 Bab 55 Kenapa Kalian Bau
57 Bab 56 Calon Ayah
58 Bab 57 Bukan Aku yang Nakal
59 Bab 58 Butuh Obat
60 Bab 59 Abiyyu is Back
61 Bab 60 Dean Nathan & Zayn Nathan
62 Bab 61 Sampah yang Lucu
63 Bab 62 Bukan Salah Abimanyu
64 Bab 63 Kenapa Zayn Berbeda?
65 Bab 64 Kembar Identik
66 Bab 65 Jempol Dean Nathan
67 Bab 66 Kelakuan Nakal Zayn
68 Bab 67 Testpack Milik Siapa?
69 Bab 68 Nggak Mau Punya Adik
70 Bab 69 4 Tahun Kemudian
71 Bab 70 Proyek Pembuatan Adik (Gagal)
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Bab 1 Putri Pelacur
2
Bab 2 Di Ujung Perceraian
3
Bab 3 Patah Hati
4
Bab 4 Selingkuh
5
Bab 5 Diceraikan
6
Bab 6 Ikhlas Melepasmu
7
Bab 7 Siapa Pencuri Itu?
8
Bab 8 Gadis Kecil Bernama Raya
9
Bab 9 Nasi Berbentuk Hati
10
Bab 10 Diceramahi Calon Mantu
11
Bab 11 Nisa dan Annisa
12
Bab 12 Ku Temukan Kau
13
Bab 13 Nyatakan Cintamu Sekali Lagi
14
Bab 14 Love Action
15
Bab 15 Upgrade Nama Panggilan
16
Bab 16 Tidak Ada Ciuman Untukku?
17
Bab 17 Mantan vs Masa Depan
18
Bab 18 Jadi, Ibunya adalah?
19
Bab 19 Sepuluh Detik
20
Pengumuman!
21
Bab 20 Ikatan Batin
22
Bab 21 Secercah Harapan
23
Bab 22 Anak Siapa Ini, Abiyyu?
24
Bab 23 Berandal Itu Aku
25
Bab 24 Aku Salah Apa?
26
Bab 25 Rindu Mantan Menantu
27
Bab 26 Penyesalan Arman
28
Bab 27 Kenangan Manis
29
Bab 28 Rujuk?
30
Bab 29 Tidur Denganku Malam Ini
31
Bab 30 OTW Ketemu Mama & Papa
32
Bab 31 Pulang ke Rumah
33
Bab 32 Bertindak Sebagai Ayah
34
Bab 33 Pulang Sekarang
35
Bab 34 Haruskah Unboxing?
36
Bab 35 Ayahmu Pria Brengsek, Nisa!
37
Bab 36 Jangan Potong Burungku, Pa!
38
Bab 37 Selamat Datang di Rumah!
39
Bab 38 Ngintip, Yuk!
40
Bab 39 Mau Lihat? Akan Kutunjukkan!
41
Bab 40 Tikus, Kecoak atau Belalai Abiyyu?
42
Bab 41 Bertengkar
43
Bab 42 Cemburu
44
Bab 43 Kau Bajingan!
45
Bab 44 Ayo Menikah
46
Bab 45 Sah
47
Bab 46 Only 21+
48
Bab 47 Berita Pagi
49
Bab 48 Jangan Curi Anakku
50
Bab 49 Adik & Kakak?
51
Bab 50 Anak yang Banyak dan Lucu
52
Bab 51 Saatnya Pensiun
53
Bab 52 Papa?
54
Bab 53 Hari Apes
55
Bab 54 Mati?
56
Bab 55 Kenapa Kalian Bau
57
Bab 56 Calon Ayah
58
Bab 57 Bukan Aku yang Nakal
59
Bab 58 Butuh Obat
60
Bab 59 Abiyyu is Back
61
Bab 60 Dean Nathan & Zayn Nathan
62
Bab 61 Sampah yang Lucu
63
Bab 62 Bukan Salah Abimanyu
64
Bab 63 Kenapa Zayn Berbeda?
65
Bab 64 Kembar Identik
66
Bab 65 Jempol Dean Nathan
67
Bab 66 Kelakuan Nakal Zayn
68
Bab 67 Testpack Milik Siapa?
69
Bab 68 Nggak Mau Punya Adik
70
Bab 69 4 Tahun Kemudian
71
Bab 70 Proyek Pembuatan Adik (Gagal)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!