"An, kamu udah minum obatnya?" Janda cantik bernama Nisa itu menyodorkan obat anti mabuk untuk Annisa. "Kamu mabuk perjalanan, kan?"
"Itu ... " Annisa diam, melirik obat itu. Bagaimana mengatakannya, ya?
Sebenarnya, hari ini Annisa tidak ingin minum obat anti mabuk lagi. Semalam Abiyyu dan Nisa bertengkar, mereka pasti tidak akan saling bicara dan itu membuat Abiyyu mengantuk.
"Mbak?" Annisa tersenyum canggung. Lalu menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Pas berangkat kemarin Annisa masuk angin. Dan sekarang udah sembuh. Jadi ... "
Tapi tiba-tiba ...
GLEK
"Ya Tuhan!" Annisa menelan ludah. Dia tidak berani melanjutkan kalimatnya karena Nisa sedang menatapnya sekarang. Dan itu mengingatkannya pada kejadian semalam.
"Maaf, Mas!" Gadis itu menggigit bibirnya. "Sepertinya aku akan tidur lagi sepanjang jalan. Kamu yang tabah, ya? Menghadapi Mbak Nisa yang galaknya melebihi mama," batinnya.
Annisa pun meraih obat itu. Tapi Nisa keburu memasukkannya ke dalam tas. "Sekarang kamu nggak masuk angin, kan?"
Anisa mengangguk. "Enggak!"
"Kalau gitu nggak usah minum, dong!" Anehnya, Nisa mendekat satu langkah dan bertanya, "Berapa usiamu, An?"
Belum sempat menjawab, Nisa sudah lebih dulu merapikan jilbab Annisa yang sedikit miring. "Lihat, kamu sudah sebesar ini. Tapi masih membutuhkan bantuanku untuk merapikan jilbabmu."
Setelah mengatakan itu, Nisa pun pergi. Meninggalkan Annisa yang tersipu malu dengan ucapan Nisa.
"Sayang, sini!" Nisa memanggil Raya yang saat itu sedang sibuk sendiri. Tangan mungilnya tak henti-hentinya memainkan daun putri malu yang akan mengatupkan daunnya ketika di sentuh.
"Mama, apa kita akan pulang sekarang?" Raya segera berdiri. Berlarian menuju arah Nisa. "Lain kali kita piknik lagi, ya?"
"Kamu mau piknik lagi?" tanya Nisa yang dijawab Raya dengan menganggukkan kepala. "Boleh, tapi saat kamu libur sekolah saja, ya?"
Sekali lagi, Raya mengangguk. Karena hari sudah semakin siang, Nisa pun meminta Raya memanggil Abiyyu karena pria itu tak kunjung keluar.
"Bisa nggak mama minta tolong?" Nisa menekuk lutut, memakaikan jaket Raya dan berkata, "Tolong bilang sama papa, kita harus segera pulang sekarang."
"Uhuk!" Seketika Annisa tersedak. "P-papa?"
Matanya memelotot, sementara mulutnya mengerucut membentuk huruf O. "Apa aku tidak salah dengar?" gumamnya pelan.
Kemarin, Nisa marah besar hanya karena Raya memanggil Abiyyu dengan sebutan papa. Annisa bahkan masih ingat bagaimana menyeramkannya suasana kemarin malam. Tapi apa-apaan sekarang?
Terkejut?
Tentu saja Annisa terkejut. Tapi ini masih belum seberapa karena kejutan besar sudah menunggunya. Tepatnya saat dalam perjalanan nanti.
Gadis itu menoleh ke kiri dan kanan. Memperhatikan Abiyyu yang terus berbicara dengan Nisa. Di sisi lain, Raya menghadap jendela. Melihat pemandangan indah yang tersaji di sepanjang jalan.
"Kapan mereka baikan?" Annisa tersenyum sinis. Lalu mendengarkan musik sembari memejamkan mata. "Kalau tahu akan jadi obat nyamuk begini, aku pasti memilih minum obat anti mabuk tadi."
.
.
.
"Kapan kamu bercerai dengan mantan suamimu, Nis?" Dengan santainya Abiyyu mengajukan pertanyaan mengerikan itu, tapi dengan santainya pula Nisa menjawab, "Mungkin hampir satu tahun."
Mendengar jawaban itu, Abiyyu menggangguk. Lalu mengajukan pertanyaan yang lain. "Kalau boleh tahu, kenapa kalian bercerai?"
Nisa yang awalnya melihat layar ponselnya pun mengangkat wajahnya. Berpikir sejenak sebelum mengatakan, "Mas Arman menuduhku selingkuh."
"Arman?" Dahi Abiyyu mengkerut. "Itu nama mantan suamimu?"
Nisa mengangguk, lalu menceritakan kejadian malam itu secara singkat. Saat dirinya mengganti sprei, saat dirinya nyaris diperkosa dan saat Arman memergokinya keluar dari kamar itu.
Ya, hanya itulah yang Nisa ceritakan. Tanpa menyebut nama Sandra yang malam itu memaksanya masuk ke kamar Freddy.
"Kenapa?" Tiba-tiba Nisa menoleh. Dia heran karena sepertinya Abiyyu sedang memikirkan sesuatu. "Kenapa wajahmu begitu? Ada yang lucu?"
"Enggak." Abiyyu menggelengkan kepalanya.. "Hanya saja ... nama Arman tidak asing untukku."
"Bukankah itu wajar?" Nisa tersenyum tipis. "Bukan hanya mantan suamiku saja yang memiliki nama Arman. Di dunia ini pasti banyak sekali orang yang memiliki nama itu, kan?"
Kali ini Abiyyu tertawa mendengarnya. Ya, apa yang di katakan Nisa memang benar. Karena dia sendiri pun memiliki seorang kenalan bernama Arman.
"Oh iya, Nis!" kata Abiyyu lagi. "Apa kamu masih ingat dengan Sandra?"
Tiba-tiba, Abiyyu menyebut nama Sandra. Lalu memberikan sebuah informasi yang sebenarnya sudah Nisa ketahui. "Beberapa bulan setelah kamu resign, dia menikah. Nama suaminya juga Arman."
Abiyyu pikir, Nisa akan terkejut. Sebaliknya, justru dialah yang dibuat terkejut.
"Ngomong-ngomong, aku belum memberitahumu sesuatu." Nisa tersenyum canggung, lalu memberitahu satu rahasia yang belum sempat dia ceritakan. "Mas Arman menceraikan aku karena dia ingin menikahi Sandra. Padahal, aku baru saja keguguran setelah mengalami kecelakaan."
"Apa?" Ekspresi Abiyyu berubah seketika. "J-jadi Arman yang sekarang menjadi suami Sandra itu, dulu pernah jadi suamimu?" tanya Abiyyu.
Nisa tersenyum dan mengangguk. "Iya!"
"Aku bisa gila," gumam Abiyyu pelan. "Sesempit itukah dunia ini?"
Abiyyu merasa dirinya berpindah ke dimensi lain. Mengingat kembali momen demi momen saat dirinya menghadiri pernikahan Sandra waktu itu.
Itulah pertama kalinya Abiyyu bertemu dengan Arman. Dan di acara itulah Abiyyu berkenalan dengannya.
Dari perkenalan singkat itu, mereka akhirnya tahu kalau ternyata mereka memiliki minat dan hobi yang sama. Perlahan tapi pasti, hubungan mereka pun semakin dekat. Bahkan tak jarang mereka akan janjian untuk sekedar ngopi bareng di akhir pekan.
"Kenapa?" Nisa tertawa ringan. "Tidak perlu kasihan padaku. Aku baik-baik saja."
"Tidak!" Abiyyu tersenyum tanpa arti. "Aku hanya tidak menyangka pria bernama Arman itu tega melakukan hal seperti itu."
"Apa yang kamu katakan. Kenapa kamu bicara seolah kamu mengenalnya?" Nisa pun menoleh, lalu mengatakan, "Atau ... jangan-jangan kamu memang kenal dengannya?"
"Aku?" Terus terang, Abiyyu sangat gugup. Untung otaknya yang cemerlang berfungsi dengan sangat baik hari itu. "Tentu saja aku kenal. Aku kan mendapat undangan dari Sandra?"
Meskipun sudah berusaha menutupi, tapi tetap saja perilaku Abiyyu sedikit aneh di mata Nisa. Beruntung Nisa tidak mempermasalahkan hal sepele seperti itu.
Tapi, tiba-tiba Nisa menoleh.
"Lalu, apa yang kamu lakukan di sana?" Wanita itu melihat Abiyyu dengan tatapan menyelidik. "Apa kamu datang untuk mengucapkan selamat kepada mereka saat aku menangis?"
"Sial!" Abiyyu menggigit bibirnya sendiri. "Seharusnya aku tidak mengatakan kalau aku kenal dengan Arman," ucapnya dalam hati.
Canggung, pria itu pun tersenyum. Lalu memberikan jawaban yang sangat tidak masuk akal.
"Tidak," kata Abiyyu. Pria itu menggeleng dengan cepat. "Siapa juga yang mengucapkan selamat. Aku pergi kesana kan hanya untuk makan."
Mendengar jawaban itu, Nisa pun tertawa. Bahkan sampai memukul lengan Abiyyu. "Aduh!" rintih Abiyyu.
"Kenapa?" Nisa kaget. "Aku kan tidak memukulmu dengan keras?"
"Tetap saja rasanya sakit." Abiyyu melirik lengannya, lalu merubah ekspresinya menjadi cemberut. "Aku nggak mau tau, pokoknya kamu harus bertanggungjawab dengan cara menikah denganku!"
Sekali lagi, Nisa tertawa. Abiyyu pun ikut tertawa melihat Nisa tertawa dan di saat itulah seseorang bernama Arman meneleponnya.
"Dari siapa? Kenapa tidak diangkat?" tanya Nisa
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
🌷💚SITI.R💚🌷
Aditya cari penyakit de
2024-11-09
0
Jumli
udah kayak selingkuhan nggak sih😂🤣
2024-06-26
1
Ila Lee
mantan kamu nisa yg Talipon
2024-06-19
0