Bab 6 Ikhlas Melepasmu

Pagi itu cuaca sangat bersahabat. Cukup terik, tapi tidak membuat siapapun gerah. Nisa yang sudah pulih pun memanfaatkan kesempatan itu untuk mengunjungi satu tempat yang akhir-akhir ini menjadi tempat favoritnya.

Tempat itu adalah makam Ali, makam buah hatinya yang dikuburkan sebelum Nisa sempat melihat seperti apa wajahnya.

Ali sendiri memiliki arti berhati mulia, sangat baik atau seorang pemenang. Sesuai namanya, sepertinya malaikat kecil itu sangat baik. Terlalu baik sampai Yang Maha Kuasa lebih suka membiarkannya berkeliaran di surga daripada menitipkannya pada Nisa.

"Bagaimana kabarmu, sayang?" Suara Nisa terdengar lembut. "Apa yang sedang kamu lakukan di sana?"

Seulas senyum merekah, seiring jatuhnya bunga mawar yang Nisa hamburkan. Seandainya ada orang buta yang mendengar, orang itu pasti tak percaya bahwa Nisa sedang berbicara dengan sebongkah batu nisan.

"Biar mami tebak." Nisa tampak berpikir. Menebak apa yang kira-kira Ali lakukan di sana. "Pasti kamu sedang digendong nenekmu. Atau ... kamu menangis karena ingin minum susu. Iya, kan?"

Perempuan itu tertawa ringan. Terus mengoceh sembari mencabut rerumputan di sekitar makam yang jumlahnya tak seberapa. "Ngomong-ngomong, hari ini papamu menikah lagi."

Tiba-tiba, Nisa menghentikan aktifitasnya. Mengambil kain berukuran kecil untuk membersihkan batu nisan dari debu yang menempel di atasnya. "Mami ingin pergi mengucapkan selamat untuknya. Boleh, kan?"

"Selain itu, mami ingin berpamitan." Tanpa terasa, air mata mengalir di pipinya dan Nisa pun cepat-cepat menghapus air mata itu. "Oh iya. Mami berencana pindah keluar kota," lanjutnya.

Sebenarnya Nisa sudah memutuskan. Dia akan meninggalkan kota ini hari ini. Barang-barangnya yang tak seberapa sudah ia kemasi. Jadi, dia bisa langsung pergi setelah menemui Arman nanti.

"Tapi kamu tidak perlu sedih." Dengan lembut, Nisa membelai batu Nisan. "Mami janji akan sering-sering datang mengunjungi kamu dan nenek."

Puas bercerita, Nisa pun bangkit. Mencium batu nisan berwarna hitam mengkilat itu seperti mencium kening anaknya sendiri. Berat baginya meninggalkan makam Ali, tapi lebih berat baginya jika harus tinggal di kota ini.

Untuk itulah Nisa memilih pergi. Melanjutkan dan memulai hidupnya yang baru di kota lain. "Sampai jumpa, Al!"

Puas memandangi makam anaknya, Nisa pun pergi. Kali ini, tujuannya adalah rumah Arman. Rumah baru yang besar, megah dan penuh dengan perabotan mewah.

.

.

.

"Mas Arman, kamu kenal Nisa?" Sandra, sang mempelai wanita terkejut melihat Nisa datang menemui Arman. "Kok kamu nggak ngomong sama aku, Mas?"

Satu alisnya terangkat keatas. Sementara pandangan para tamu undangan tertuju pada mereka. Sama seperti Sandra, tampaknya mereka juga penasaran.

"Dia ... " Arman melirik Nisa. "Dia salah satu kerabat jauh dari keluarga papa, sayang. Mas Arman bawa Nisa masuk dulu, ya? Ada sesuatu yang mau mas omongin sama dia."

"Sesuatu?" Satu alis Sandra terangkat keatas. "Kenapa nggak di sini aja ngomongnya?"

Tidak, Sandra tidak curiga bahwa Nisa adalah mantan istri Arman. Dia hanya takut Nisa mengadu pada Arman bagaimana kelakuannya saat dirinya masih menjadi atasan Nisa dulu.

"Nggak mungkin Mas Arman ngomongin masalah keluarga di sini, kan?" Arman melihat sekeliling. Memperbaiki ekspresinya agar Sandra tak curiga. "Lagian bukan hal penting, kok!"

Berhasil membujuk Sandra, Arman pun membawa Nisa menjauh. "Apa yang kamu lakukan di sini, Nisa?"

Pria itu beberapa kali menoleh, membawa Nisa masuk ke dalam sebuah ruangan. Tentu saja setelah memastikan tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka. "Ingin merusak hari pernikahanku?"

Nada bicaranya sangat dingin. Sedingin bagaimana caranya memperlakukan Nisa sebelum mereka bercerai dulu.

Arman, pria yang saat ini duduk di hadapan Nisa itu terlihat gagah dengan setelan jas terbaiknya. Sangat berbanding terbalik dengan penampilannya saat menikah dengan Nisa dulu.

Saat itu, Arman hanya mengenakan kemeja berwarna putih polos. Tanpa dasi, tanpa jas, apalagi memakai jam tangan mewah.

"Tidak." Nisa menggeleng, lalu menyodorkan sebuah map kepada Arman. "Aku kemari untuk memberimu ini, Mas!"

Map itu adalah map berisikan surat kepemilikan rumah yang Arman berikan pada Nisa saat Nisa diceraikan.

"Apa maksudnya ini?" tanya Arman.

"Aku ingin mengembalikannya padamu, Mas!" jawab Nisa.

"Kenapa?" Arman meletakkan map itu di meja. "Bukankah aku sudah bilang rumah itu untukmu?" tanyanya seraya melipat tangan.

"Tinggal di sana hanya akan membuatku mengingat kenangan kita. Jadi, akan lebih baik kalau aku tidak tinggal di sana." Nisa tersenyum tipis lalu melanjutkan, "Mas Arman bisa menjualnya kalau tidak membutuhkannya."

Mendengar jawaban Nisa, Arman tersenyum sinis. Seandainya hari itu bukan hari penting, sudah pasti pria itu merobek map itu dan melemparkannya kearah Nisa. Tapi Arman tidak melakukan itu karena tak ingin membuat keributan.

"Apa hanya ini yang ingin kamu bicarakan?" Arman menatap Nisa dengan tatapan merendahkan. "Kalau sudah tidak ada lagi, segera enyah dari hadapanku!"

Akad nikah akan dimulai setengah jam lagi. Arman tidak ingin acara sakral itu terganggu. Makanya dia mengusir Nisa.

Tak ada jawaban, Arman pun bangkit dari duduknya. Tak lupa mengambil map pemberian Nisa. Tapi tepat sebelum Arman melangkah, Nisa sudah lebih dulu memanggilnya. "Mas Arman, tunggu!"

Tiba-tiba, Nisa berdiri. Mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh wajah Arman. Tapi gerakannya terhenti mengingat Arman tak boleh lagi dia sentuh.

Akhirnya, Nisa pun membatalkan niatnya dan memilih memperbaiki dasi Arman yang sedikit miring. "Sampai detik ini aku masih mencintaimu, Mas!"

Nisa menghela nafas panjang. Memainkan jari jemarinya dengan terampil di dada Arman. "Tapi aku berjanji akan mengurangi rasa itu sampai habis tak tersisa."

Wanita itu terlihat tegar meskipun sangat berantakan. Mengabaikan Arman yang terus memandangnya saat dirinya membantu Arman memakai dasi untuk yang terakhir kali.

"Aku ikhlas kamu menikah dengannya, Mas! Semoga kalian bahagia." Sekali lagi, Nisa tersenyum manis. "Kalau kamu tidak sibuk, tolong sesekali jenguk Ali. Percayalah, dia anakmu!"

Akhirnya, tak ada lagi yang ingin Nisa bicarakan. Nisa pun segera melepas Arman dan bergegas pergi. Meninggalkan cinta pertamanya beserta semua kenangan indah mereka.

***

Terpopuler

Comments

Akbar Razaq

Akbar Razaq

percayalah balasannya pasti lebih pedih dr rasa sakit yg mantan istri rasakan.
Sabar sabar butuh waktu mmg tp yg jelas penyesalanmu tiada akhir buat manusia biadab macam kau.demi hidup nyaman dan istri sederajad kau tak py hati ukt anakmu.

2025-01-31

0

Idahas 3105

Idahas 3105

ngapain pamit2 segala

2025-01-07

0

🌷💚SITI.R💚🌷

🌷💚SITI.R💚🌷

sedih bangeet de

2024-11-09

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Putri Pelacur
2 Bab 2 Di Ujung Perceraian
3 Bab 3 Patah Hati
4 Bab 4 Selingkuh
5 Bab 5 Diceraikan
6 Bab 6 Ikhlas Melepasmu
7 Bab 7 Siapa Pencuri Itu?
8 Bab 8 Gadis Kecil Bernama Raya
9 Bab 9 Nasi Berbentuk Hati
10 Bab 10 Diceramahi Calon Mantu
11 Bab 11 Nisa dan Annisa
12 Bab 12 Ku Temukan Kau
13 Bab 13 Nyatakan Cintamu Sekali Lagi
14 Bab 14 Love Action
15 Bab 15 Upgrade Nama Panggilan
16 Bab 16 Tidak Ada Ciuman Untukku?
17 Bab 17 Mantan vs Masa Depan
18 Bab 18 Jadi, Ibunya adalah?
19 Bab 19 Sepuluh Detik
20 Pengumuman!
21 Bab 20 Ikatan Batin
22 Bab 21 Secercah Harapan
23 Bab 22 Anak Siapa Ini, Abiyyu?
24 Bab 23 Berandal Itu Aku
25 Bab 24 Aku Salah Apa?
26 Bab 25 Rindu Mantan Menantu
27 Bab 26 Penyesalan Arman
28 Bab 27 Kenangan Manis
29 Bab 28 Rujuk?
30 Bab 29 Tidur Denganku Malam Ini
31 Bab 30 OTW Ketemu Mama & Papa
32 Bab 31 Pulang ke Rumah
33 Bab 32 Bertindak Sebagai Ayah
34 Bab 33 Pulang Sekarang
35 Bab 34 Haruskah Unboxing?
36 Bab 35 Ayahmu Pria Brengsek, Nisa!
37 Bab 36 Jangan Potong Burungku, Pa!
38 Bab 37 Selamat Datang di Rumah!
39 Bab 38 Ngintip, Yuk!
40 Bab 39 Mau Lihat? Akan Kutunjukkan!
41 Bab 40 Tikus, Kecoak atau Belalai Abiyyu?
42 Bab 41 Bertengkar
43 Bab 42 Cemburu
44 Bab 43 Kau Bajingan!
45 Bab 44 Ayo Menikah
46 Bab 45 Sah
47 Bab 46 Only 21+
48 Bab 47 Berita Pagi
49 Bab 48 Jangan Curi Anakku
50 Bab 49 Adik & Kakak?
51 Bab 50 Anak yang Banyak dan Lucu
52 Bab 51 Saatnya Pensiun
53 Bab 52 Papa?
54 Bab 53 Hari Apes
55 Bab 54 Mati?
56 Bab 55 Kenapa Kalian Bau
57 Bab 56 Calon Ayah
58 Bab 57 Bukan Aku yang Nakal
59 Bab 58 Butuh Obat
60 Bab 59 Abiyyu is Back
61 Bab 60 Dean Nathan & Zayn Nathan
62 Bab 61 Sampah yang Lucu
63 Bab 62 Bukan Salah Abimanyu
64 Bab 63 Kenapa Zayn Berbeda?
65 Bab 64 Kembar Identik
66 Bab 65 Jempol Dean Nathan
67 Bab 66 Kelakuan Nakal Zayn
68 Bab 67 Testpack Milik Siapa?
69 Bab 68 Nggak Mau Punya Adik
70 Bab 69 4 Tahun Kemudian
71 Bab 70 Proyek Pembuatan Adik (Gagal)
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Bab 1 Putri Pelacur
2
Bab 2 Di Ujung Perceraian
3
Bab 3 Patah Hati
4
Bab 4 Selingkuh
5
Bab 5 Diceraikan
6
Bab 6 Ikhlas Melepasmu
7
Bab 7 Siapa Pencuri Itu?
8
Bab 8 Gadis Kecil Bernama Raya
9
Bab 9 Nasi Berbentuk Hati
10
Bab 10 Diceramahi Calon Mantu
11
Bab 11 Nisa dan Annisa
12
Bab 12 Ku Temukan Kau
13
Bab 13 Nyatakan Cintamu Sekali Lagi
14
Bab 14 Love Action
15
Bab 15 Upgrade Nama Panggilan
16
Bab 16 Tidak Ada Ciuman Untukku?
17
Bab 17 Mantan vs Masa Depan
18
Bab 18 Jadi, Ibunya adalah?
19
Bab 19 Sepuluh Detik
20
Pengumuman!
21
Bab 20 Ikatan Batin
22
Bab 21 Secercah Harapan
23
Bab 22 Anak Siapa Ini, Abiyyu?
24
Bab 23 Berandal Itu Aku
25
Bab 24 Aku Salah Apa?
26
Bab 25 Rindu Mantan Menantu
27
Bab 26 Penyesalan Arman
28
Bab 27 Kenangan Manis
29
Bab 28 Rujuk?
30
Bab 29 Tidur Denganku Malam Ini
31
Bab 30 OTW Ketemu Mama & Papa
32
Bab 31 Pulang ke Rumah
33
Bab 32 Bertindak Sebagai Ayah
34
Bab 33 Pulang Sekarang
35
Bab 34 Haruskah Unboxing?
36
Bab 35 Ayahmu Pria Brengsek, Nisa!
37
Bab 36 Jangan Potong Burungku, Pa!
38
Bab 37 Selamat Datang di Rumah!
39
Bab 38 Ngintip, Yuk!
40
Bab 39 Mau Lihat? Akan Kutunjukkan!
41
Bab 40 Tikus, Kecoak atau Belalai Abiyyu?
42
Bab 41 Bertengkar
43
Bab 42 Cemburu
44
Bab 43 Kau Bajingan!
45
Bab 44 Ayo Menikah
46
Bab 45 Sah
47
Bab 46 Only 21+
48
Bab 47 Berita Pagi
49
Bab 48 Jangan Curi Anakku
50
Bab 49 Adik & Kakak?
51
Bab 50 Anak yang Banyak dan Lucu
52
Bab 51 Saatnya Pensiun
53
Bab 52 Papa?
54
Bab 53 Hari Apes
55
Bab 54 Mati?
56
Bab 55 Kenapa Kalian Bau
57
Bab 56 Calon Ayah
58
Bab 57 Bukan Aku yang Nakal
59
Bab 58 Butuh Obat
60
Bab 59 Abiyyu is Back
61
Bab 60 Dean Nathan & Zayn Nathan
62
Bab 61 Sampah yang Lucu
63
Bab 62 Bukan Salah Abimanyu
64
Bab 63 Kenapa Zayn Berbeda?
65
Bab 64 Kembar Identik
66
Bab 65 Jempol Dean Nathan
67
Bab 66 Kelakuan Nakal Zayn
68
Bab 67 Testpack Milik Siapa?
69
Bab 68 Nggak Mau Punya Adik
70
Bab 69 4 Tahun Kemudian
71
Bab 70 Proyek Pembuatan Adik (Gagal)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!